Thursday, October 20, 2011

KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH YANG SITUASIONAL DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN KINERJA GURU


A. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian ini, tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai variabel yang berhubungan dengan kinerja guru, kepemimpinan situasional, dan motivasi berprestasi. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah :
1)      Untuk mengetahui hubungan kepemimpinan situasional dengan kinerja guru SMA Negeri se-Kabupaten Ciamis.
2)      Untuk mengetahui hubungan motivasi berprestasi dengan kinerja guru SMA Negeri se-Kabupaten Ciamis.
3)      Untuk mengetahui hubungan antara kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi secara bersama-sama dengan kinerja guru SMA Negeri se-Kabupaten Ciamis.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik korelasional. Variabel penelitian meliputi dua variabel bebas yaitu Kepemimpinan situasional (X1), motivasi berprestasi (X2) dan variable terikat kinerja guru (Y). Hubungan antara variabel penelitian tersebut dapat digambarkan dalam konstelasi masalah sebagai berikut :
Variabel bebas (X)                              Variabel terikat (Y)
Gambar  1: Konstelasi Hubungan antara Variabel Penelitian
 










Keterangan :
Y         = Kinerja
X1        = Kepemimpinan situasional
X2        = Motivasi berprestasi
C. Populasi dan Sampling
Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMA Negeri se-Kabupaten Ciamis berjumlah 329 dari 7 sekolah. Mengenai jumlah guru pada masing-masing sekolah dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1 : Jumlah Guru SMA Negeri se-Kabupaten Ciamis, Tahun Pelajaran 2010/2011
NO
NAMA SEKOLAH
JUMLAH GURU
1
SMA NEGERI 1
64
2
SMA NEGERI 2
52
3
SMA NEGERI 3
55
4
SMA NEGERI 4
63
5
SMA NEGERI 5
59
6
SMA NEGERI 6
25
7
SMA NEGERI 7
11
JUMLAH
329
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Menurut Suharsimi Arikunto menyatakan: “Apabila subyeknya kurang dari 100, diambil semua sekaligus sehingga penelitiannya penelitian populasi. Jika jumlah subyek besar maka diambil 10-15%, atau 20-25%  atau lebih”.
Dalam penelitian ini penulis mengambil 20% dari 329 jumlah guru, yaitu 66 orang. Adapun teknik pengambilan sampel sejumlah 66 orang tersebut menggunakan teknik proportional random sampling dengan memperhatikan proporsi jumlah populasi pada masing-masing sekolah. Tujuan utamanya adalah agar semua populasi terwakili. Jika pengambilan contoh tidak secara acak, maka tidak dapat dijamin bahwa keseluruhan populasi dapat terwakili.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengambil sampel adalah sebagai berikut : 1) Menetapkan populasi yaitu seluruh guru pada ketujuh SMA Negeri se-Kabupaten Ciamis, 2) Membuat nomor untuk jumlah guru sebanyak 329 orang, yaitu dengan cara menulis nomor urut 1 sampai 329; dan 3) Memilih 66 orang sampel penelitian yang ditetapkan secara acak dari 329 orang yang ada.
Tabel 2 : Jumlah Sampel Guru SMA Negeri se-Kabupaten Ciamis, Tahun Pelajaran 2010/2011
NO
NAMA SEKOLAH
JUMLAH GURU
1
SMA NEGERI 1
13
2
SMA NEGERI 2
10
3
SMA NEGERI 3
11
4
SMA NEGERI 4
13
5
SMA NEGERI 5
12
6
SMA NEGERI 6
5
7
SMA NEGERI 7
2
JUMLAH
66



D. Data Kinerja Guru (Y)
Mengenai data dari hasil penelitian mengenai variabel terikat yaitu Kinerja Guru (Y) yang dijaring melalui penyebaran kuesioner, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 18 butir instrumen dengan penggunaan skala pilihan jawaban skala lima (5 opsi), mempunyai skor teoretik antara 18 sampai 90. Sedangkan skor empirik menyebar dari skor terendah 29 sampai dengan skor tertinggi 78, dengan skor total yaitu 4155, rata-rata (M) 62,95. simpangan baku (SD) 7,515, modus (Mo) 65,25 median (Me) 64,20 dan varians 56,47. Sebaran data variabel kepuasan kerja (Y) sebagai berikut :
Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Skor Kinerja Guru (Y)
NO
INTERVAL KELAS
FREKUENSI ABSOLUT
FREKUENSI RELATIF
1
29-35
1
1,52
2
36-42
1
1,52
3
43-49
1
1,52
4
50-56
5
7,58
5
57-63
22
33,33
6
64-70
30
45,45
7
71-78
6
9,09
JUMLAH
66
100
Berdasarkan tabel di atas, dapat disusun histogram Kinerja Guru (Y) sebagai berikut :
Gambar 1. Histogram Frekuensi Skor Kinerja Guru (Y)
E. Data Kepemimpinan Situasional (X1)
Data dari hasil penelitian mengenai variabel bebas pertama yaitu Kepemimpinan Situasional (X1) yang dijaring melalui penyebaran kuesioner, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 18 butir instrumen dengan penggunaan skala pilihan jawaban skala lima (5 opsi), mempunyai skor teoretik antara 18 sampai 90. Sedangkan skor empirik menyebar dari skor terendah 30 sampai dengan skor tertinggi 78, dengan skor total yaitu 4233, rata-rata (M) 64,14, simpangan baku (SD) 8,39, modus (Mo) 65,24, median (Me) 64,50 dan varians 70,40.
Sebaran data variabel Kepemimpinan Situasional (X1) dapat dilihat pada daftar distribusi frekuensi di bawah ini :

Tabel 4 : Distribusi Frekuensi Skor Kepemimpinan Situasional (X1)
NO
INTERVAL KELAS
FREKUENSI ABSOLUT
FREKUENSI RELATIF
1
30-36
2
3,03
2
37-43
9
0,00
3
44-59
1
1,52
4
51-57
7
10,61
5
58-64
23
34,85
6
65-71
25
37,88
7
72-78
8
12,12
JUMLAH
66
100
Berdasarkan tabel di atas, dapat disusun histogram Kepemimpinan Situasional (X1) sebagai berikut :
Gambar .2. Histogram Frekuensi Skor Kepemimpinan Situasional (X1)
F. Data Motivasi Berprestasi (X2)
Data dari hasil penelitian mengenai variabel bebas kedua yaitu Motivasi Berprestasi (X2) melalui penyebaran kuesioner, dengan jumlah pertanyaan sebanyak 20 butir instrumen dengan penggunaan skala pilihan jawaban skala lima (5 opsi), mempunyai skor teoretik antara 20 sampai 100. Sedangkan skor empirik menyebar dari skor terendah 34 sampai dengan skor tertinggi 82 dengan skor total yaitu 4625 rata-rata (M) 70,08, simpangan baku (SD) 9,157, modus (Mo) 73,17, median (Me) 71,17 dan varians 83,86 Sebaran data variabel Motivasi Berprestasi (X2) dapat dilihat pada daftar distribusi frekuensi di bawah ini :
Tabel 5 : Distribusi Frekuensi Skor Motivasi Berprestasi (X2)
NO
INTERVAL KELAS
FREKUENSI ABSOLUT
FREKUENSI RELATIF
1
34-40
1
1,52
2
41-47
0
0,00
3
48-54
3
4,55
4
55-61
2
3,03
5
62-68
19
28,79
6
69-75
21
31,82
7
76-82
20
30,30
JUMLAH
66
100

Berdasarkan tabel di atas, dapat disusun histogram Motivasi Berprestasi (X2) sebagai berikut:
Gambar 3. Histogram Frekuensi Skor Motivasi Berprestasi (X2)
Dari data tersebut dapat direkapitulasi angka statistik dari variable Kinerja Guru (Y), Kepemimpinan Situasional (X1) dan Motivasi Berprestasi (X2) sebagai berikut :
Tabel 6 : Rangkuman Perhitungan Statistisk Dasar.
STATISTIK
KINERJA GURU (Y)
KEPEMIMPINAN SITUASIONAL (X1)
MOTIVASI BERPERSTASI (X2)
Skor Terendah
29
30
34
Skor Tertinggi
78
48
82
Rentang Nilai
49
48
48
Rata-rata (M)
62,95
64,14
70,08
Simpangan Baku
7,51
8,39
9,15
Modus
65,25
65,24
73,17
Median
64,20
64,50
71,17
Varians
56,47
70,40
83,86
G. Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian persyaratan analisis tersebut menunjukkan bahwa skor setiap variabel penelitian telah memenuhi syarat untuk dilakukan pengujian statistik lebih lanjut, yaitu pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dalam penelitian bertujuan untuk menguji tiga hipotesis yang telah dirumuskan yaitu : (1) Terdapat hubungan positif antara kepemimpinan situasional dengan kinerja guru (2) Terdapat hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan kinerja guru; (3) Terdapat hubungan yang positif secara bersama-sama antara kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi dengan kinerja guru.
Teknik statistik yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel tersebut adalah teknik statistik korelasi product moment dan regresi, baik secara sederhana dan ganda. Teknik ini digunakan untuk menguji besarnya kontribusi dari variabel (X) terhadap variabel (Y).
1.  Hubungan antara Kepemimpinan Situasional (X1) dengan Kinerja (Y)
Hipotesis pertama dalam penelitian ini berbunyi Terdapat hubungan positif antara kepemimpinan situasional dengan kinerja guru. Untuk pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi dan korelasi sederhana terhadap dua variabel kepemimpinan situasional atas kinerja menghasilkan arah regresi b sebesar 0,780 dan konstanta atau a sebesar 12,952. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut oleh persaman regresi Yˆ = 12,952 + 0,780 X1. Selanjutnya untuk mengetahui derajat keberartian dilakukan Uji F, yang hasilnya dapat dirangkum pada tabel berikut ini :
Tabel 7 : Daftar untuk Uji Signifikansi dan Linieritas Regresi
Sumber
Varians
Dk
JK
RJK
F hitung
F tabel
0,05
0,01
Total
66
265247
265247



Regresi (a)
Regresi (b/a)
Sisa
1
1
64
261576,1
2782,579
888,2845
261576,1
2782,579
13,880

200,482**

3,99

7,04
Tuna Cosok (k-2)
Galat (n-k)
23
41
359,84
528,448
22,98
12,890
1,78ns
1,84
2,37
Keterangan :
**        =  Regresi Sangat Signifikan dimana F hitung (200,482) > F tabel (7,04) pada α = 0,01
ns         = Regresi berbentuk linier (F hitung (1,78) < F tabel (1,84) pada α = 0,05 atau 2,37                   pada α = 0,01
dk        = Derajat Kebebasan
JK        = Jumlah Kuadrat
RJK     = Rata-Rata Jumlah Kuadrat
Kesimpulan :
Uji Keberartian Regresi
Dari tabel harga F hitung = 200,482 lebih dari harga F tabel = 3,99 pada taraf 0,05 dengan dk pembilang 1 dan penyebut 64 (n-2). Dengan demikian regresi Y atas X1 disimpulkan “koefisien arah regresi berarti”
• Uji Linieritas
Dari tabel harga F hitung = 1,78 kurang dari harga F tabel = 1,84 pada taraf 0,05 dengan dk pembilang 23 (k-2) dan penyebut 41 (n-k). Dengan demikian disimpulkan bahwa bentuk regresi Y atas X1 adalah “regresi linier”
Model hubungan antara variabel supervisi Kepala Sekolah (X1) dengan Kepuasan Kerja (Y) dengan menggunakan model persamaan regresi Yˆ = 12,952 + 0,780 X1 dapat digambarkan dalam grafik berikut ini.




Y
 
X1
 
Y = 12,952+0,780 X1
 
Gambar 4 : Garis Regresi Hubungan Antara Kepemimpinan Situasional (X1) dengan Kinerja (Y)
Persamaan regresi Yˆ = 12,952 + 0,780 X1 tersebut dapat untuk menjelaskan ramalan (forecasting). Dengan hasil pengujian tersebut, maka dinyatakan bahwa persamaan regresi Yˆ = 12,952 + 0,780 X1 sangat signifikan dan linier, artinya setiap peningkatan satu skor supervisi kepala sekolah (X1) akan diikuti oleh kenaikan kepuasan kerja (Y) sebesar 0,780 dan pada konstanta 12,952.
Tingkat keeratan hubungan antara Kepemimpinan Situasional (X1) dengan Kinerja (Y) ditunjukkan oleh Koefisien Korelasi (ry1) sebesar 0,870. Selanjutnya dilakukan uji signifikansi menggunakan uji-t yang hasilnya sebagai berikut :
Tabel 8 : Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Antara Kepemimpinan Situasional (X1) dengan Kinerja (Y).
N
Koefisien Korelasi (ry1)
t hitung
t tabel
0,05
0,01
66
0,870
14,145**
2,00
2,66
Keterangan :
**        = Koefisien sangat signifikan t hitung (14,145) > t tabel (2,66) pada α = 0,01
ry1       = Korelasi X1 dengan Y
Berdasarkan tabel 8 tersebut dapat diketahui bahwa koefisien korelasi sangat signifikan. Hal ini karena t hitung 14,145 > daripada t tabel 2,66 pada α = 0,01 dengan dk = 64.
Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara Kepemimpianan Situasional (X1) dengan Kinerja Guru (Y) sangat signifikan. Temuan ini menyimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif antara Kepemimpinan Situasional dengan Kinerja Guru. Berarti makin baik kepemimpinan situasional yang ditunjukkan oleh Kepala Sekolah kepada guru akan membuat Guru meningkat dalam melaksanakan pekerjaan, hal ini disebabkan kepemimpinan situasional mampu untuk memecahkan hambatan yang terjadi dalam hubungan antara pemimpin dengan bawahan atau Kepala Sekolah dengan guru.
Koefisien determinasi dari korelasi antara X1 dengan Y yaitu (ry1)² = 0,580² = 0,758 berarti bahwa 75,8% variasi kinerja (Y) dapat dijelaskan oleh kepemimpinan situasional (X1) melalui regresi Yˆ = 12,952 + 0,780 X1.
Kekuatan hubungan antara variabel kepemimpinan situasional (X1) dengan Kinerja (Y) apabila dilakukan pengontrolan terhadap Motivasi Berprestasi (X2), diperoleh koefisien korelasi parsial antara kepemimpinan situasional (X1) dengan kinerja (Y) sebesar 0,635 Pengujian signifikansi koefisien korelasi parsial dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 9 : Uji Signifikansi Koefisien Parsial Antara Kepemimpinan Situasional (X1) dengan Kinerja (Y) dengan mengontrol variabel Motivasi Berprestasi (X2).
N
Koefisien Korelasi Parsial (ry1.2)
t hitung
t tabel
0,05
0,01
ry1.2 = 0,635
6,531**
2,00
2,66
Keterangan :
**        =  Koefisien korelasi parsial ry1.2 sangat signifikan t hitung (6,531) > t tabel (2,66)                   pada α = 0,01.
Jadi uji signifikansi koefisien korelasi parsial dapat disimpulkan bahwa dengan mengontrol Motivasi Berprestasi (X2) tetap terdapat hubungan positif antara Kepemimpinan Situasional (X1) dengan Kinerja (Y).
2.  Hubungan Antara Motivasi Berprestasi (X2) dengan Kinerja Guru (Y)
Hipotesis kedua dalam penelitian ini berbunyi Terdapat hubungan positif antara motivasi berprestasi dengan kinerja guru. Untuk pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi dan korelasi sederhana terhadap dua variabel motivasi berprestasi atas kinerja guru menghasilkan arah regresi b sebesar 0,665 dan konstanta atau a sebesar 16,373. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut oleh persaman regresi Yˆ = 16,373 + 0,665 X2. Untuk mengetahui derajat keberartian dilakukan Uji F, yang hasilnya pada tabel berikut ini :
Tabel 10 : Daftar untuk Uji Signifikansi dan Linieritas Regresi
Sumber
Varians
Dk
JK
RJK
F hitung
F tabel
0,05
0,01
Total
66
216724
216724



Regresi (a)
Regresi (b/a)
Sisa
1
1
68
261576,1
2409,446
1261,418
261576,1
2409,446
19,710

122,247**

3,99

7,04
Tuna Cosok (k-2)
Galat (n-k)
24
40
438,451
822,967
34,290
20,574
1,61ns
1,79
2,29
Keterangan :
**        = Regresi Sangat Signifikan dimana F hitung (122,247) > F tabel (7,04) pada α= 0,01
Ns        = Regresi berbentuk linier F hitung (1,67) < F tabel (1,79) pada α = 0,05
dk        = Derajat Kebebasan
JK        = Jumlah Kuadrat
RJK     = Rata-Rata Jumlah Kuadrat
Dari tabel analisis varian tersebut diatas maka hasil pengujian signifikansi dan linieritas dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi Yˆ = 16,373 + 0,665 X2, dengan F hitung (122,247) > F tabel (7,04) pada α= 0,01 dan F hitung (1,617 < F tabel (1,79) pada α = 0,05 adalah sangat signifikan dan linier.
Model hubungan antara variabel Motivasi Berprestasi (X2) dengan Kinerja Guru(Y) dengan menggunakan model persamaan regresi Yˆ = 16,373 + 0,665 X2 dapat digambarkan dalam grafik berikut ini :
Y = 16,373+0,665 X2
 
X1
 
Y
 
Gambar 5 : Garis Regresi Hubungan Antara Motivasi Berprestasi (X1) Dengan Kinerja Guru (Y) .
Persamaan regresi  Yˆ = 16,373 + 0,665 X2 tersebut dapat untuk menjelaskan ramalan (forecasting) yang menyatakan bawa peningkatan satu unit Motivasi Presati akan diikuti dengan peningkatan kinerja guru sebesar 0,665 unit pada konstanta 16,373.
Tingkat keeratan hubungan antara Motivasi Berprestasi (X2) dengan Kinerja (Y) ditunjukkan oleh Koefisien Korelasi (ry2) sebesar 0,810. Selanjutnya dilakukan uji signifikansi menggunakan uji-t yang hasilnya sebagai berikut :
Tabel 11: Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Antara Motivasi Berprestasi (X2) dengan Kinerja (Y).
N
Koefisien Korelasi (ry2)
t hitung
t tabel
0,05
0,01
66
0,810
11,050**
2,00
2,66


Keterangan :
**        = Koefisien sangat signifikan t hitung (11,050) > t tabel (2,66) pada α = 0,01
ry1        = Korelasi X2 dengan Y
Berdasarkan tabel 11 tersebut dapat diketahui bahwa koefisien korelasi sangat signifikan. Hal ini karena t hitung 11,050 > daripada t tabel 2,66 pada α=0,01 dengan dk = 64.
Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara Motivasi Berprestasi (X2) dengan Kinerja Guru (Y) sangat signifikan. Temuan ini menyimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif antara Motivasi berprestasi dengan Kinerja Guru. Berarti makin baik guru dalam berprestasi maka akan membuat guru meningkat dalam melaksanakan pekerjaan, hal ini disebabkan adanya motivasi berprestasi merupakan dorongan dari dalam diri guru itu sendiri untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin untuk mencapai prestasi yang baik seperti kenaikan pangkat, memperoleh jabatan tambahan.
Koefisien determinasi dari korelasi antara X2 dengan Y yaitu (ry2)² = 0,810² = 0,565 berarti bahwa 56,5% variasi kinerja guru (Y) dapat dijelaskan oleh adanya Motivasi berprestasi (X2) melalui regresi Yˆ =  16,373 + 0,665 X2
Kekuatan hubungan antara variabel Motivasi Berprestasi (X2) dengan Kinerja (Y) apabila dilakukan pengontrolan terhadap kepemimpinan situasional (X1), diperoleh koefisien korelasi parsial antara Motivasi Berprestasi (X2) dengan kinerja (Y) sebesar ry1.2= 0,3923.
Pengujian signifikansi koefisien korelasi parsial dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 12 : Uji Signifikansi Koefisien Parsial Antara Motivasi Berprestasi (X2) dengan Kinerja Guru (Y) dengan mengontrol variabel Kepemimpinan Situasional (X1).
N
Koefisien Korelasi Parsial (ry2.1)
t hitung
t tabel
0,05
0,01
Ry2.1 = 0,3923
3,385**
2,00
2,66
Keterangan :
**        = Koefisien korelasi parsial ry1.2 sangat signifikan t hitung (3,385) > t tabel (2,66)                    pada α = 0,01.
Jadi uji signifikansi koefisien korelasi parsial dapat disimpulkan bahwa dengan mengontrol kepemimpinan situasional (X1) tetap terdapat hubungan positif antara Motivasi presatsi (X2) dengan kinerja guru (Y).
3.  Hubungan Antara Kepemimpinan Situasional (X1) dan Motivasi Berprestasi (X2) Secara Bersama-sama dengan Kinerja Guru (Y)
Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan positif secara bersama-sama antara kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi dengan kinerja guru. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makin baik pelaksanaan kepemimpinan situasional seorang Kepala Sekolah dan makin tinggi Motivasi berprestasi Guru, maka akan semakin meningkat pula kinerja guru.
Hasil penghitungan ternyata diperoleh hubungan antara kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi secara bersama-sama dengan kinerja, hal ini dapat dinyatakan melalui persamaan regresi Yˆ = 9,197 + 0,552X1 + 0,262X 2.
Untuk mengetahui derajat keberartian persamaan regresi ganda, dilakukan uji F yang hasilnya dicantumkan dalam tabel di bawah ini :
Tabel 13 : Daftar Uji Keberartian Regresi Linear Ganda Yˆ = 9,197 + 0,552X1 + 0,262X2.
Sumber
Varians
dk
JK
RJK
F hitung
F tabel
α=0,05
α=0,01
Total
Regresi
Sisa
65
2
63
3670,86
2918,49
752,369

1459,248
11,942

122,121**

3,15

4,98
Keterangan :
**        = Regresi Sangat Signifikan, F hitung (122,121) > F tabel (4,98) pada α = 0,01
dk        = Derajat Kebebasan
JK        = Jumlah Kuadrat
RJK     = Rata-rata Jumlah Kuadrat
Berdasarkan hasil pengujian signifikansi persamaan regresi sebagaimana divantumkan dalam tabel tersebut di atas, diperoleh F hitung (122,121) > F tabel (4,98) pada α = 0,01 dengan dk = 63, maka dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi ganda Yˆ = 9,197 + 0,552X1 + 0,262X2 sangat signifikan, berarti terdapat hubungan positif antara kepemimpinan situasional (X1) dan motivasi berprestasi (X2) secara bersama-sama dengan kinerja guru (Y).
Korelasi ganda antara variabel kepemimpianan situasional (X1) dan motivasi berprestasi (X2) secara bersama-sama dengan kinerja guru (Y), diperoleh harga koefisien korelasi sebesar ry1.2= 0,892.
Uji keberartian koefisien korelasi ganda dengan menggunakan Uji F diperoleh sebesar F hitung = 122,121. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 14 : Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Ganda
Cacah Observasi
Koefisien Korelasi (ry1.2)
f hitung
f tabel
0,05
0,01
66
0,892
122,121**
3,15
4,98
Keterangan :
**        = Koefisien Korelasi Ganda sangat signifikan F hitung (122,121) > F tabel (4,98)                    pada α =0,01.
Dari hasil penghitungan uji signifikansi korelasi ganda diperoleh F hitung (122,121) > F tabel (4,98) pada α = 0,01, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa koefisien korelasi antara kepemimpinan situasional (X1), dan motivasi berprestasi (X2) secara bersama-bersama dengan Kinerja (Y) sangat signifikan, dengan ry1.2=0,892.
Besarnya koefisien determinasi adalah ry1.2² =0,892² = 0,795. Ini menunjukkan bahwa 79,5% variasi kinerja guru (Y) dapat dijelaskan oleh kepemimpinan situasional (X1), dan motivasi berprestasi (X2) secara bersama-sama melalui persamaan regresi Yˆ = 9,197 + 0,552X1+ 0,262X2.
Mengenai peringkat pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dapt dilihat berdasarkan urutan besarnya koefisien korelasi parsial, seperti berikut :
Tabel 15 : Urutan Peringkat Menurut Besarnya Koefisien Korelasi Parsial.
Nomor
Koefisiensi Korelasi Parsial
Peringkat
1
2
ry1.2 = 0,6354
ry2.1 = 0,3923
Pertama
Kedua
Berdasarkan tabel tersebut ternyata koefisien korelasi parsial variable kepemimpinan situasional (X1) dengan ry1.2 = 0,6354 merupakan peringkat pertama, sedangkan koefisien korelasi parsial variabel motivasi berprestasi (X2) dengan ry1.2 = 0,3923 merupakan peringkat kedua.
Ini berarti kepemimpinan situasional kepala sekolah lebih kuat pengaruhnya daripada motivasi berprestasi terhadap kinerja guru. Dengan demikian kepemimpinan situasional lebih dikedepankan untuk mempengaruhi peningkatan kinerja guru, setelah itu adalah berupa peningkatan motivasi berprestasi.

No comments: