Wednesday, April 6, 2022

M3 KB 2.a.3.6 Analisis Penerapan Materi

Analisis penerapan materi dalam kehidupan nyata secara kontekstual pada Kelas X Jurusan Teknik Komputer Jaringan di SMK Al Husna Cisaga

Nama Mahasiswa      : Ari Nugraha

Nomor Peserta          : 201503280480

 

Pembelajaran apresiasi sastra merupakan bentuk seni yang bersifat apresiatif. Oleh karena itu, pembelajaran sastra hendaknya lebih ditekankan pada segi apresiasinya. Apresiasi sastra meliputi apresiasi prosa, puisi, dan drama. Pembelajaran apresiasi puisi merupakan salah satu pembelajaran apresiasi sastra. Materi yang harus diberikan kepada siswa, adalah materi yang bertujuan agar siswa lebih mengenal, memahami, menghayati kepribadian, sikap, wawasan, serta peningkatan pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi maupun berbahasa. Pembelajaran apresiasi puisi memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan manusia. Pembelajaran puisi sangat penting bagi siswa karena dapat membentuk sikap manusia yang memiliki pengetahuan luas, memiliki moral, dan kepribadian. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran puisi kurang begitu optimal. Kondisi seperti ini mengakibatkan tingkat apresiasi siswa dan aktualisasi diri siswa terhadap puisi masih rendah. Penyebab rendahnya pembelajaran apresiasi puisi adalah kurang aktifnya siswa dalam memahami puisi, selain itu kurangnya buku – buku tentang sastra yang ada di sekolah.

Karena guru merupakan faktor dominan terhadap keberhasilan pembelajaran apresiasi puisi di sekolah khususnya di kelas yang diampunya. Seorang guru dituntut mampu membuat perencanaan pembelajaran dengan baik, memilih materi pelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar, menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan kegiatan belajar mengajar, menggunakan media pembelajaran dengan tepat, membuat skenario pembelajaran, mengetahui hambatan-hambatan yang muncul dalam pembelajaran apresiasi puisi, dapat mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapinya serta melaksanakan evaluasi ataupun penilaian.

Hasil analisis yang ditemui di kelas X TKJ di SMK Al Husna Cisaga antara lain sebagai berikut :

1.       Tujuan pembelajaran apresiasi puisi di kelas X TKJ di SMK Al Husna Cisaga dikaitkan dengan aspek-aspek pengetahuan, pemahaman, dan penggunaan bahasa puisi pada khususnya dan bahasa keseharian pada umumnya.

2.       Bahan pembelajaran apresiasi puisi di kelas X TKJ di SMK Al Husna Cisaga mengacu pada bahan pembelajaran apresiasi puisi tak langsung dan bahan pembelajaran apresiasi langsung.

3.       Media pembelajaran apresiasi puisi di kelas X TKJ di SMK Al Husna Cisaga belum dapat menstimulasi pengalaman buatan, pengalaman aktual dan pengalaman sosial- emosional intelektual siswa.

4.       Penilaian kemampuan berapresiasi puisi siswa selama pembelajaran dilakukan secara acak untuk memberi nilai lebih kepada siswa yang menonjol apresiasi puisinya.

M2 KB 2.a.2.6 Analisis Penerapan Materi

Analisis penerapan materi dalam kehidupan nyata secara kontekstual pada Kelas X Jurusan Farmasi Klinis dan Komunitas di SMK Al Husna Cisaga

Nama Mahasiswa      : Ari Nugraha

Nomor Peserta          : 201503280480

 

Berdasarkan analisis saya sebagai guru pada siswa kelas X Farmasi Klinis dan Komunitas tentang kemampuan berbicara dengan pendekatan pragmatic. Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada pembelajaran ini guru menggunakan pendekatan pragmatik untuk meningkatkan kemampuan kemampuan berbicara. Siswa cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari, disebabkan penjelasan guru yang sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan dari guru bersimpang-siur, tidak ada fokus masalahnya. Hal ini tentu saja dicarikan solusinya. Jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapa tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, siswa terlihat antusias dan memiliki motivasi belajar yang baik.

Penerapan pendekatan pragmatik di kelas X Farmasi Klinis dan Komunitas dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Penggunan pendekatan pragmatik membantu peserta didik lebih didekatkan dengan kondisi praktis berbicara baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, mengingatkan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali budaya termasuk di dalamnya bahasa, dengan pendekatan pragmatis dalam pembelajaran bahasa, sedikit banyak kendala yang muncul akan terakomodir. Terlebih lagi didukung dengan suatu kurikulum yang sebagian besar kebijakannya diserahkan pada masing-masing tingkat satuan pendidikan, pembelajaran (khususnya bahasa) yang muncul akan lebih mampu mengakomidasi kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran keterampilan berbicara dengan pendekatan pragmatik ini sangat efektif dalam menciptakan pembelajaran yang aktif terutama dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa di dalam kelas maupun diluar kelas.

Respon siswa terhadap pembelajaran berbicara menggunakan pendekatan pragmatik meningkat. Hal tersebut tampak dari antusias siswa mengikuti pembelajaran dan mengikuti langkah pendekatan pragmatik dengan baik. Setelah dilakukan wawancara, sebagian besar siswa menjawab senang dengan pembelajaran berbicara menggunakan pendekatan pragmatik. Maka dapat disimpulkan bahwa siswa senang dengan pembelajaran berbicara menggunakan pendekatan pragmatik.

 

 

M1 KB 2.a.1.6 Analisis Penerapan Materi

Analisis penerapan materi dalam kehidupan nyata secara kontekstual pada Kelas X Asisten Keperawatan di SMK Al Husna Cisaga

Nama Mahasiswa      : Ari Nugraha

Nomor Peserta          : 201503280480

 

Analisis ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk kesalahan berbahasa dalam karangan eksposisi siswa kelas X Asisten Keperawatan di SMK Al Husna Cisaga serta menjelaskan dan mendeskripsikan penyebab adanya kesalahan berbahasa dan upaya yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa agar kesalahan berbahasa Indonesia dalam karangan eksposisi siswa X Asisten Keperawatan di SMK Al Husna Cisaga dapat diminimalisasi. Adapun permasalahan yang sering terjadi adalah (1) bentuk kesalahan berbahasa meliputi kesalahan penggunaan huruf kapital, kesalahan penggunaan tanda baca, kesalahan penggunaan partikel, kesalahan penulisan kata ulang, kesalahan akibat tipografi, dan kesalahan penulisan kata baku; (2) bentuk kesalahan berbahasa pada bidang morfologi meliputi kesalahan penulisan kata depan, kesalahan penulisan kata bentukan, dan kesalahan akibat pleonasme; (3) bentuk kesalahan berbahasa pada bidang sintaksis meliputi kesalahan struktur frasa-struktur kalimat.

Berbahasa pada bidang fonologi yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.       Perlukah ketegasan Hukum Bagi pengguna Narkoba di Indonesia?

Kalimat di atas adalah kalimat yang digunakan untuk penulisan judul. Kata “ketegasan” di dalam judul seharusnya diawali dengan huruf kapital. Kata “bagi” dalam judul tidak diawali dengan huruf kapital karena merupakan preposisi yang bermakna “untuk”. Dan kata “pengguna” dalam judul seharusnya diawali dengan huruf kapital.

2.       Apalagi, sekarang, Indonesia sudah mempunyai lembaga khusus yang menangani kasus narkoba, yaitu BNN (Badan Narkotika Nasional).

Pada kalimat di atas, penggunaan tanda koma dalam kalimat di atas terlalu banyak dan seharusnya tanda koma cukup digunakan sesudah frasa “apalagi sekarang”.

Kesalahan berbahasa pada bidang morfologi yang ditemukan sebagai berikut:

1.       Masyarakat banyak yang tidak setuju jika pengguna narkoba hanya di rehabilitasi karena setelah rehabilitasi tidak ada jaminan bahwa mereka telah merasa jera.

Dalam kalimat di atas, kata rehabilitasi merupakan kata benda (noun) sehingga preposisi di tidak perlu dipisah dengan kata tersebut.

2.       Hukum yang cukup ketat seharusnya mampu mensadarkan masyarakat akan pentingnya menjauhi narkoba.

Dalam kalimat di atas, kata mensadarkan adalah salah karena penulisannya tidak sesuai dengan kaidah ejaan yang benar.

Kata yang benar adalah menyadarkan karena kata bentukan tersebut berasal dari kata sadar yang mendapat awalan me- dan akhiran -kan. Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, afiks meyang bertemu dengan kata dasar berawalan huruf K, T, S, dan P maka huruf tersebut akan hilang atau melebur.

Kesalahan berbahasa pada bidang sintaksis yang ditemukan adalah sebagai berikut:

Kesalahan penggunaan struktur frasa

1.       Apabila pemerintah semakin memperkuat aparat dan mempertegas sanksi hukum maka tidak dibutuhkan terlalu banyak waktu untuk berhasil menangkap seluruh jaringan narkoba yang berhasil masuk ke Indonesia.

Pada kalimat di atas, frasa terlalu banyak waktu berasal dari terjemahan bahasa Inggris yaitu too many time. Frasa yang lebih tepat digunakan agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia adalah waktu terlalu banyak.

Kesalahan Penggunaan Struktur Kalimat yang ditemukan adalah sebagai berikut:

1.       Jika kasus tersebut tidak segera ditangani oleh pihak yang berwajib.

Dalam kalimat di atas, kata „jika‟ merupakan konjungsi subordinatif yang berfungsi untuk menghubungkan dua klausa atau lebih dengan status yang tidak sama derajatnya guna menjelaskan suatu hubungan syarat. Maka dari itu sebuah klausa saja tidak boleh diawali kata „jika‟ karena maknanya akan menjadi tidak jelas.