Semua pasti setuju & meyakini bahwa pendidikan merupakan gerakan untuk membangkitkan bangsa & negara supaya mampu berdiri tegak, kokoh, maju dan terpandang dalam pergaulan di dunia internasional. Untuk membangun bangsa tentunya harus memiliki sumber manusia yang produktif, bermutu, disiplin dan bermartabat (human dignity). My Chanel : https://www.youtube.com/c/AriTeacherBahasa atau Join me in Facebook http://facebook.com/shinobi.ari.csg atau Follow me in twitter: @AriTeacher24
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Monday, October 17, 2022
Monday, December 16, 2013
ADAT ISTIADAT BUDAYA SUNDA
1. Teori
(1) Neundeun Omong : yaitu kunjungan orang tua jejaka kepada orang tua si gadis untuk bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak anak gadisnya akan dilamar.
(2) Ngalamar : nanyaan atau nyeureuhan yaitu kunjungan orang tua jejaka untuk meminang/melamar si gadis, dalam kunjungan tersebut dibahas pula mengenai rencana waktu penikahannya. Sebagai acara penutup dalam ngalamar ini si pelamar memberikan uang sekedarnya kepada orang tua si gadis sebagai panyangcang atau pengikat, kadang-kadang dilengkapi pula dengan sirih pinang selengkapnya disertai kue-kue & buah-buahan. Mulai saat itu si gadis telah terikat dan disebut orang bertunangan.
(3) Seserahan: yaitu menyerahkan si jejaka calon pengantin pria kepada calon mertuanya untuk dikawinkan kepada si gadis. Pada acara ini biasa dihadiri oleh para kerabat terdekat, di samping menyerahkan calon pengantin pria juga barang-barang berupa uang, pakaian, perhiasan, kosmetik dan perlengkapan wanita, dalam hal ini tergantung pula pada kemampuan pihak calon pengantin pria. Upacara ini dilakukan 1 atau 2 hari sebelum hari perkawinan atau adapula yang melaksanakan pada hari perkawinan sebelum akad nikah dimulai.
(4) Ngeuyeuk Seureuh: artinya mengerjakan dan mengatur sirih serta mengait-ngaitkannya. Upacara ini dilakukan sehari sebelum hari perkawinan, yang menghadiri upacara ini adalah kedua calon pengantin, orang tua calon pengantin dan para undangan yang telah dewasa. Upacara dipimpin oleh seorang pengetua, benda perlengkapan untuk upacara ini seperti sirih beranting, setandan buah pinang, mayang pinang, tembakau, kasang jinem/kain, elekan, dll semuanya mengandung makna/perlambang dalam kehidupan berumah tangga. Upacara ngeuyeuk seureuh dimaksudkan untuk menasihati kedua calon mempelai tentang pandangan hidup dan cara menjalankan kehidupan berumah tangga berdasarkan etika dan agama, agar bahagia dan selamat. Upacara pokok dalam adat perkawinan adalah ijab kabul atau akad nikah .
Adat Istiadat adalah tata
kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai
warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat Pada umumnya
menyangkut tentang unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara keramaian
anak negeri, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka
kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan
penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung.
Adat istiadat semacam ini sangat tergantung pada
situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik biasanya megah
meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya. Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai
kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang
lazim dilakukan di suatu daerah.
Suku Sunda
adalah suatu suku etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa,
Indonesia, dari Ujung Kulon yang berada di ujung barat pulau Jawa sampai
sebagian
Jawa Tengah. Suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat.
Jawa Tengah. Suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat.
Kebudayaan
Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi
bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Maka
dari
itu saya akan mendeskripsikan kebudayaan tersebut.
2. Kasus/Artikel
Dari teori yang ada maka kasus dari masalah ini adalah
bagaimana adat istiadat pernikahan yang berlaku dikeluarga saya yaitu
menggunakan adat sunda (jawa barat).
3. Analisis
Adat istiadat timbul dari suatu kebiasaan yang dilakukan
secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Sehingga kemudian kebiasaan tersebut
ditetapkan menjadi suatu adat istiadat. Adat istiadat bisa menjadi norma,
sehingga bisa menjadi tatanan atau aturan – aturan yang tertulis maupun tidak
tertulis yang mengikat meski tidak sekuat hukum. Namun sangsinya adalah dikucilkan
dari masyarakat tersebut.
Dalam hal ini saya ingin mengamati bahwa dalam kehidupan
di keluarga saya lebih mendominasi adat sunda yaitu dari keluarga ayah dan ibu
saya. Contohnya pernikahan kakak saya seperti :
1. Upacara
sebelum akad nikah
Pada upacara ini biasanya
dilaksanakan adat :
(1) Neundeun Omong : yaitu kunjungan orang tua jejaka kepada orang tua si gadis untuk bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak anak gadisnya akan dilamar.
(2) Ngalamar : nanyaan atau nyeureuhan yaitu kunjungan orang tua jejaka untuk meminang/melamar si gadis, dalam kunjungan tersebut dibahas pula mengenai rencana waktu penikahannya. Sebagai acara penutup dalam ngalamar ini si pelamar memberikan uang sekedarnya kepada orang tua si gadis sebagai panyangcang atau pengikat, kadang-kadang dilengkapi pula dengan sirih pinang selengkapnya disertai kue-kue & buah-buahan. Mulai saat itu si gadis telah terikat dan disebut orang bertunangan.
(3) Seserahan: yaitu menyerahkan si jejaka calon pengantin pria kepada calon mertuanya untuk dikawinkan kepada si gadis. Pada acara ini biasa dihadiri oleh para kerabat terdekat, di samping menyerahkan calon pengantin pria juga barang-barang berupa uang, pakaian, perhiasan, kosmetik dan perlengkapan wanita, dalam hal ini tergantung pula pada kemampuan pihak calon pengantin pria. Upacara ini dilakukan 1 atau 2 hari sebelum hari perkawinan atau adapula yang melaksanakan pada hari perkawinan sebelum akad nikah dimulai.
(4) Ngeuyeuk Seureuh: artinya mengerjakan dan mengatur sirih serta mengait-ngaitkannya. Upacara ini dilakukan sehari sebelum hari perkawinan, yang menghadiri upacara ini adalah kedua calon pengantin, orang tua calon pengantin dan para undangan yang telah dewasa. Upacara dipimpin oleh seorang pengetua, benda perlengkapan untuk upacara ini seperti sirih beranting, setandan buah pinang, mayang pinang, tembakau, kasang jinem/kain, elekan, dll semuanya mengandung makna/perlambang dalam kehidupan berumah tangga. Upacara ngeuyeuk seureuh dimaksudkan untuk menasihati kedua calon mempelai tentang pandangan hidup dan cara menjalankan kehidupan berumah tangga berdasarkan etika dan agama, agar bahagia dan selamat. Upacara pokok dalam adat perkawinan adalah ijab kabul atau akad nikah .
2.
Upacara adat akad nikah
Upacara
perkawinan dapat dilaksanakan apabila telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang
telah digariskan dalam agama Islam dan adat. Ketentuan tersebut adalah: adanya
keinginan dari kedua calon mempelai tanpa paksaan, harus ada wali nikah yaitu
ayah calon mempelai perempuan atau wakilnya yang sah, ada ijab kabul, ada saksi
dan ada mas kawin. Yang memimpin pelaksanaan akad nikah adalah seorang Penghulu
atau Naib, yaitu pejabat KUA.
Upacara akad nikah biasa dilaksanakan di Mesjid atau di rumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya adalah kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang tua kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para undangan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai pria disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai pria membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita.
Upacara akad nikah biasa dilaksanakan di Mesjid atau di rumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya adalah kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang tua kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para undangan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai pria disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai pria membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita.
3.
Upacara adat
sesudah akad nikah
- Munjungan / sungkeman : yaitu kedua mempelai sungkem kepada kedua orang tua mempelai untuk meminta doa restu.
- Upacara sawer (nyawer) : perlengkapan yang diperlukan adalah sebuah bokor yang berisi beras kuning, uang kecil (receh) /logam, bunga, dua buah tektek (lipatan sirih yang berisi ramuan untuk menyirih), dan permen. Pada pelaksanaannya kedua mempelai duduk di halaman rumah di bawah cucuran atap (panyaweran), upacara dipimpin oleh juru sawer. Juru sawer menaburkan isi bokor tadi kepada kedua pengantin dan para undangan sebagai selingan dari syair yang dinyanyikan olehnya sendiri. Adapun makna dari upacara nyawer tersurat dalam syair yang ditembangkan juru sawer, intinya adalah memberikan nasehat kepada kedua mempelai agar saling mengasihani, dan mendo’akan agar kedua mempelai mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya, hidup rukun sampai diakhir hayatnya.
- Upacara Nincak Endog : setelah upacara nyawer kedua mempelai mendekati tangga rumah , di sana telah tersedia perlengkapan seperti sebuah ajug/lilin, seikat harupat (sagar enau) berisikan 7 batang, sebuah tunjangan atau barera (alat tenun tradisional) yang diikat kain tenun poleng, sebuah elekan, sebutir telur ayam mentah, sebuah kendi berisi air, dan batu pipisan, semua perlengkapan ini mempunyai perlambang. Dalam pelaksanaannya lilin dinyalakan, mempelai wanita membakar ujung harupat selanjutnya dibuang, lalu mempelai pria menginjak telur, setelah itu kakinya ditaruh di atas batu pipisan untuk dibasuh air kendi oleh mempelai wanita dan kendinya langsung dihempaskan ke tanah hingga hancur. Makna dari upacara ini adalah menggambarkan pengabdian seorang istri kepada suaminya.
- Upacara Buka Pintu : upacara ini dilaksanakan setelah upacara nincak endog, mempelai wanita masuk ke dalam rumah sedangkan mempelai pria menunggu di luar, hal ini menunjukan bahwa mempelai wanita belum mau membukakan pintu sebelum mempelai pria kedengaran mengucapkan sahadat. Maksud upacara ini untuk meyakinkan kebenarannya beragama Islam. Setelah membacakan sahadat pintu dibuka dan mempelai pria dipersilakan masuk. Tanya jawab antara keduanya dilakukan dengan nyanyian (tembang) yang dilakukan oleh juru tembang.
- Upacara Huap Lingkung : Kedua mempelai duduk bersanding, yang wanita di sebelah kiri pria, di depan mempelai telah tersedia adep-adep yaitu nasi kuning dan bakakak ayam (panggang ayam yang bagian dadanya dibelah dua). Mula-mula bakakak ayam dipegang kedua mempelai lalu saling tarik menarik hingga menjadi dua. Siapa yang mendapatkan bagian terbesar dialah yang akan memperoleh rejeki besar diantara keduanya. Setelah itu kedua mempelai huap lingkung , saling menyuapi. Upacara ini dimaksudkan agar kedua mempelai harus saling member tanpa batas dengan tulus dan ikhlas sepenuh hati. Setelah upacara huap lingkung kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan diapit oleh kedua orang tua mempelai untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Kesimpulannya Adat
Istiadat adalah segala aturan, ketentuan, tindakan, dan sebagainya
yang menjadi kebiasaan secara turun temurun. Adat istiadat pernikahan
dikeluarga saya adalah menggunakan adat sunda. Karena adat sunda lebih ke dalam
sikap dan perilaku sehari-hari yaitu sopan santun dan ramah.
4.
Referensi :
Tuesday, October 30, 2012
Kebijakan yang Memihak Kaum Miskin bagi Pembangunan
DEKLARASI
MILLENNIUM PBB menempatkan pengurangan
kemiskinan ditengah-tengah proses pengembangan. Benar adanya, oleh karena itu,
sangatlah penting untuk diketahui bagi strategi pengembangan nasional yang
menerima jaminan, penopangan, dan perkembangan manusia yang wajar dan yang
memberi kuasa orang-orang. Pada Deklarasi Millennium yang dikeluarkan oleh
Majelis umum PBB di tahun 2000, lebih dari 160 kepala negara dan pemerintahan
mengikrarkan komitmen mereka untuk menerima Tujuan-tujuan Perkembangan
Millennium (MDGs). Yang pertama dari tujuan-tujuan ini adalah mengurangi
meluasnya kemiskinan global hingga (dibandingkan pada tingkat ditahun 1990)
tahun 2015. Tujuan lainnya seperti pemberantasan kelaparan, akses internasional
ke pendidikan yang utama, pengurangan kematian, dan persamaan gender yang
keseluruhannya mendukung tujuan dari pengentasan kemiskinan.
Perhatian
bagi kebijakan yang memihak pada kemiskinan adalah konsekuensi dari kekecewaan
yang telah berakar dengan pola pengembangan yang menempatkan perhatian eksklusif pada pengejaran
pertumbuhan ekonomi. Selama tahun 1950an dan 1960an, tujuan utama mencapai
tingkat investasi negara-negara berkembang,ditandai oleh bantuan luar negeri,
dalam hal ini menerima pertumbuhan yang cepat. Harapannya adalah bahwa sedikit
sebab, secara luas melalui jabatan yang tinggi dan upah nyata, akan mengurangi
kemiskinan. Pada pola ini, tidak ada kebijakan bagi kemiskinan yang tegas,
hanya kebijakan bagi pertumbuhan yang akhirnya akan membawa ke pengurangan
kemiskinan. Bagaimanapun juga, dibanyak situasi, proses pertumbuhan tidak
merata seperti sedikit efek yang juga lemah atau ketidak adaan.
Berikan
kegagalan ini pada pertumbuhan untuk mengurangi kemiskinan, pemusatan
digeserkan pada rancangan yang ditujukan pada campur tangan anti kemiskinan didalam bentuk jaringan
keamanan sosial untuk menjegal kemiskinan. Tujuan dari strategi ini adalah
untuk mencapai kelompok-kelompok tersebut yang tidak dimasukkan atau
dipinggirkan oleh proses dari pertumbuhan. Ini adalah filosofi lengkap
dibelakang Dokumen Strategi Pengentasan Kemiskinan oleh negara berkembang untuk
keringanan keuangan oleh institusi
keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Kerangka ekonomi makro
diwujudkan dalam dokumen berlanjut untuk fokus pada stabilisasi yang membawa
kepertumbuhan, dengan tujuan campur tangan yang sangat menentukan untuk
mengatur kegagalan yang negative dari strategi pada kaum miskin. Bagaimanapun
juga, masalah dasar adalah jika strategi pertumbuhan negara menyebarkan
kemiskinan, program kemiskinan terpisah bisa sedikit melakukan trend
sebaliknya. Kebutuhan untuk melebihi keuntungan kenyaman sosial dan fokus
secara langsung pada penyediaan pekerjaan dan mencapai pemasukan dari kaum
miskin melalui campur tangan yang tegas dikenali secara luas. Pengalaman
menyarankan bahwa, secara umum, negara yang sukses dalam mengurangi kemiskinan
mengkombinasikan promosi kebijakan yang wajar dan pertumbuhan. Kebijakan publik
perlu untuk mempengaruhi generasi dan distribusi dari pemasukan diberbagai
jalan untuk keuntungan yang tak seimbang bagi kaum miskin dengan kata lain,
fokus sekarang adalah pertumbuhan bagi si miskin.
Pentingnya
pertumbuhan, bagaimanapun juga, tidak bisa dilupakan. Strategi yang secara umum
memfokuskan pada pengurangan ketidak merataan melalui distribusi ulang dari
asset atau pemasukan tapi membiarkan atau mengorbankan pertumbuhan yang memungkinkan tidak membawa
ke pengurangan terus menerus dari kemiskinan. Sebagai tambahan, absensi dari
pertumbuhan yang dipaksakan untuk mencari kebutuhn sumber daya untuk keuangan
yang ditujukan untuk campur tangan anti kemiskinan akan timbul.
Oleh
karena itu, kebutuhan menjadi cukup cepat yang secara signifikan memperbaiki
kondisi absolute dari kaum miskin sebagaimana posisi relatif mereka. Hal ini
juga bisa diterima dengan memastikan kewajaran yang lebih baik pada awal proses
pertumbuhan, sebagai contoh, melalui perubahan lahan (seperti di
Korea&Jepang), atau hal itu juga bisa diterima oleh penurunan ketidak
merataan selama proses pertumbuhan (seperti membuat pekerjaan yang tidak
terlalu membutuhkan keahlian yang lebih siap sedia dan dengan demikian menekan
upah diantara simiskin, yang telah dicapai oleh perekonomian Asia timur seperti
Thailand, karena dan Malaysia melalui pertumbuhan ekspor pada buruh pabrik
intensif). Bagaimanapun juga, usaha untuk memperbaiki asset atau pemasukan
distribusi tidak harus memperlambat pertumbuhan aktifitas ekonomi yang salah
tempat atau secara merugikan mempengaruhi iklim investasi atau mengubah
pengalokasian sumber daya.
Wednesday, October 24, 2012
Beberapa Masalah Globalisasi
Meskipun
demikian, globalisasi tidak memberi keuntungan pada semua negara secara
otomatis, tidak juga membuahkan keuntungan tanpa biaya. Semua kegagalan pasar
yang dapat terjadi dalam perekonomian domestik juga nampak di di perekonomian
global. Dalam kenyataan, pasar tidak selalu beroperasi seperti yang
tergambarkan secara teori. Ketika mereka menyimpang dari prinsip-prinsip
fundamental, kegagalan pasar dapat menghasilkan konsekuensi yang secara ekomomi
dan sosial tidak diharapkan. Kegagalan pasar nampak ketika konsumen dan
produsen tidak menanggung seluruh dana dari tindakan mereka, ketika harga tidak
merefleksikan harga dan keuntungan sosial, ketika konsumen dan produsen
dimanipulasi oleh iklan atau tidak memiliki akses yang tepat untuk membuat
keputusan yang ekonomi yang baik, dan ketika praktik perdagangan yang tidak
jujur mencegah harga yang ditetapkan oleh rambu-rambu pasar. Selebihnya, penyesuaian
dalam ekonomi pasar dapat menghasilkan siklus kemunduran ekonomi, krisis
finansial, tekanan, menempatkan masyarakat dalam kemiskinan. Perbedaan yang
kuat dalam distribusi income dapat menempatkan masyarakat pada kerugian
ekonomi, mencegah mereka dari partisipasi dan keuntungan proses pasar. Beberapa
segmen populasi – tanpa keahlian, secara mental dan fisik cacat, berumur, dan
mereka yang menderita ganguan kesehatan serius sebagai contoh – mungkin tidak
mampu menghasilkan income yang memadai untuk berpartisipasi. Firma-firma
yang bertindak dalam kepentingan sendiri mungkin mengeksploitasi sumber daya
alam atau umum atau aturan pembuangan limbah berbahaya mereka bagi lingkungan
tanpa memperhatikan kesehatan atau kesejahteraan manusia dan tanpa memperhatikan
nilai kerusakan terhadap lingkungan, dengan cara demikian laju globalisasi juga
membebani masyarakat.
Tetapi apa yang sering disebut ‘kegagalan pasar’ sebenarnya adalah
‘kegagalan kebijakan’; masalahnya dihasilkan dari keengganan atau
ketidakmampuan pemerintah untuk membuat dan mengimplementasikan kebijakan yang
membantu dan mendukung sistem ekonomi yang efektif dan mencegah negara dari
partisipasi dalam investasi dan perdagangan dunia. Satu contoh kegagalan
kebijakan sering dihubungkan dengan kompetisi ekonomi dunia, yang menghasilkan
tingkat kemiskinan. UNDP Human Development Report mencatat bahwa
setidaknya 3 milyar orang hidup dalam kemiskinan yang relatif dengan income
kurang dari $2 perhari dan lebih dari 1.1 milyar orang hidup dalam kemiskinan
yang absolut dengan income kurang dari $1 perhari. Dampak sosial dari
kemiskinan yang absolut ini sangat melemahkan. Di beberapa negara miskin
sekitar 20 persen anak-anak meninggal sebelum kelahiran mereka, hampir
setengahnya dari yang selamat hidup, berada pada nutrisi rendah, presentase
populasi di negara-negara miskin tidak memiliki akses untuk membersihkan air,
sanitasi, pelayanan kesehatan, atau pendidikan yang setara. Kebanyakan mereka
yang hidup dalam kemiskinan, tidak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi
secara efektif dalam ekonomi pasar atau mengambil keuntungan darinya.
Apakah globalisasi adalah penyebab kemiskinan? Para ekonom Bank
Dunia berpendapat secara kontras bahwa ‘gelombang globalisasi yang dimulai
sekitar tahun 1980, sebenarnya telah memajukan persamaan ekonomi dan mengurangi
kemiskinan.’ Bank Dunia berpendapat bahwa kemiskinan tidak dikarenakan oleh
globalisasi, tetapi sebaliknya dikarenakan oleh ketidakmampuan dan keengganan
pemerintah untuk menciptakan jaringan institusi dan kebijakan yang diperlukan
dalam berpartisipasi secara efektif dalam interaksi ekonomi global. Dari 1990
samapi 2000, selama laju globalisasi yang cepat dari perekonomian yang
terencana secara terpusat ke pasar kompetitif, jumlah orang yang hidup dalam
kemiskinan dengan income kurang dari $1 perhari menurun dari 1.3 milyar
menjadi 1.1 milyar – atau dari 29 persen menjadi 23 persen populasi di negara
berkembang. – selama periode yang sama ketika populsi dunia tumbuh dengan
cepat. Sebagian populasi yang hidup dalam tingkat kemiskina rendah menurun di
beberapa negara dan wilayah dengan partisipasi terbesar dalam ekonomi global
dan pertumbuhan ekonomi yang kuat rata-rata di Asia Timur dan Pasifik, Asia
Selatan, dan Amerika Latin serta Karibia. Kemiskinan absolut menurun setidaknya
di beberapa negara (Timur Tengah dan Afrika Utara, Sub-Sahara Afrika, da Eropa
Timur) dengan pertumbuhan ekonomi terlemah.
Secara konsisten studi telah menemukan sebuah hubungan antara
partisipasi pertumbuhan ekonomi global dan nasional. Selama tahun 1990an
ekonomi beberapa negara berkembang yang lebih global tumbuh lebih cepat dari
pada negara-negara dengan income tinggi, dan keduanya tumbuh lebih cepat
daripada negara-negara yang kurang terglobal. Asian Development Bank
menyatakan bahwa ‘pengalaman Asia
menunjukkan bahwa pertumbuhan adalah senjata paling dasyat melawan kemiskinan.’
Ketika pertumbuhan terus melaju, penempatan tenaga kerja sektor swasta menjadi
sumber utama untuk mendukung ekonomi mayoritaas pekerja dan keluarga mereka.
Kebijakan pemerintah yang memfasilitasi keikutsertaan dalam
pertumbuhan ekonomi global dan menstimulasi ekonomi nasional membuat kerja
pasar bagi rakyat miskin dengan memperkuat aset mereka sehingga mereka dapat
berpartsisipas dengan lebih efektif dalam aktifitas ekonomi. Beberapa kebijakan
memberikan pelayanan jasa dan sosial – pendidikan, kesehatan, fasilitas air
bersih dan sanitasi – yang mengurangi kemiskinan dan jasa serta infrastruktur
yang membantu perusahaan besar dan menengah. Mendorong investasi swasta yang
efektif meningkatkan sejumlah pekerjaan dan income tenaga kerja. Dengan
memperluas pasar internasional, beberapa negara di Asia Timur dan Tenggara dan
Amerika Latin mengurangi kemiskinan dengan membuka beberapa kesempatan baru
bagi perdagangan agrikultur dan barang-barang industri dan jasa. Dengan
mendapat infrastruktur dan pengetahuan bagi masyarakat miskin di kota-kota dan
daerah pinggiran, dan menciptakan sistem administrasi publik, pemerintah di
daerah ini telah membantu pertumbuhan dan persamaan dan telah mengurai masalah
perbedaan gender, ras, kelompok etnik, dan kelas sosial untuk mengurangi
kemiskinan relatif dan absolut.
KEMUNCULAN MASYARAKAT GLOBAL
Sejak awal tahun
1980an ekonomi telah mengglobal dengan cepat – pasar-pasar barang dan jasa
telah meluas ke dunia internasional, negara-negara telah membentuk hubungan
regional dan global, dan kerja sama telah meluas dan melakukan bisnis di
seluruh penjuru dunia. Sedikit saja pemerintahan yang masih kurang peduli
dengan globalisasi dan mengabaikan pentingnya dan tantangan masyarakat global.
Globalisasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Dalam pasar
global, para individu, rumah tangga, dan bisnis dagang selalu ada di dalam dan
luar negeri. Meskipun ekonomi global merupakan subjek dorongan yang siklis bagi
pertumbuhan dan kecenderungan yang menurun secara periodik (seperti siklus
ekonomi domestik), ekonomi dunia telah tumbuh dengan cepat sejak 1960an.
Kemunduran regional di Amerika Latin pada awal 1980an, Afrika di tahun 1980an
dan 1990an, Asia di akhir 1990an – dan penurunan dunia mulai pada 2000 – untuk
sementara mengurangi laju globalisasi ekonomi. Karena penurunan siklis ini,
globalisasi mengedalikan pertumbuhan perekonomian dunia sampai 140 persen (US$)
antara 1970 dan 1998, sampai mendekati $40 triliun pengeluaran per tahun untuk
barang dan jasa.
Hal yang paling mengejutkan bagi globalisasi ekonomi, mulai pada
akhir perang dunia II dan mengalami percepatan pada awal 1980an, yang pertama
kali dipelopori oleh perdagangan (ekspor dan impor), kemudian oleh investasi
luar negeri secara langsung (pembelian masuk dan keluar aset produktif), dan
saat ini dikendalikan oleh perdagangan dan investasi yang menyeluruh karena
didukung oleh kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dan transportasi. Perdagangan
internasional tumbuh secara substansial selama setengah abad dua puluh
terakhir. Nilai ekspor barang dagang dunia berlipat sedikit demi sedikit lebih
dari $2 triliun pada 1980, sampai lebih dari $4 triliun pada 1994 dan meningkat
sampai $6 triliun pada 2001. Rasio ekspor barang dagang untuk pendapatan bruto
produksi domestik (GDP) meningkat dari sekitar 8 persen di tahun 1960, ke 13
persen di thaun 1990, dan mendekati 18 persen di tahun 1998. Selanjutnya, nilai
ekspor jasa komersial dunia meningkat dari $402 milyar di thaun 1980 menjadi
lebih dari 1.4 triliun di tahun 2001.
Tren ini secara general berlaku bagi ekonomi pasar negara-negara
berkembang dan maju. Antara tahun 1990 dan 2000, perdagangan barang sebagai
persentase dunia GDP meningkat dari 32 persen menjadi 40 persen. Negara-negara
pada semua tingkatan income, rata – rata meningkatkan partispasi mereka
dalam perdangangan internasional dan investasi langsung luar negeri (foreign
direct investment/FDI). FDI bruto juga meningkat sebagai pesentase GDP dari
2.7 persen menjadi 8.8 persen. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara berkembang
telah diasosiasikan dengan pergeseran strategi perkembangan para penganut
proteksionisme yang melihat kesempatan kedalam untuk melihat strategi
perdagangan liberal yang berorientasikan ekspor keluar. Negara-negara tersebut
telah membuat variasi ekspor mereka dan membuka ekonominya ke impor dan
investasi telah berkembang lebih cepat dibanding negara-negara yang
mempertahankan kebijakan penganut proteksionisme atau yang terus mengekspor
komoditi dasar dan barang-barang mentah.
Meskipun negara-negara berkembang cukup sibuk dalam perdagangan yang
lebih kecil dibanding negara-negara kaya, nilai ekspor mereka mencapai dua kali
lipat lebih dari 1980 sampai 1994. Ekspor perusahaan negara-negara berkembang
meningkat sekitar 5 persen pada 1913, sampai mendekati 25 persen pada 1994.
Sampai pada 2000, mereka mencatat untuk 30 persen ekspor dagangan. Dan semua
wilayah di dunia melihat perkembangan tersebut di dalam ekspor perusahaan, meskipun
negara-negara di beberapa wilayah berbeda secara drastis pada rata – rata
perkembangannya.
Sampai pada 1990an, globalisasi ekonomi telah dikendalikan lebih
banyak oleh FDI daripada oleh perdagangan. Pemasukan dan pengeluaran total FDI
dunia meningkat dari 10 persen GDP dunia pada 1980 menjadi 31 persen pada 1999.
Stok pemasukan FDI yang terakumulasikan meningkat dari sekitar $14 milyar di
tahun 1914 menjadi sekitar $2.5 triliun di tahun 1995 dan lebih dari $6.8
triliun di tahun 2001. Perdagangan dan investasi dikendalikan oleh ekspansi
beberapa korporasi transaksional (transaction corporation/TNC). Antara
tahun 1996 dan 2001 jumlah perusahaan induk TNC meningkat dari 44.000 sampai
mencapai lebih dari 65.000 dan jumlah cabang luar negeri mereka (perusahaan
yang memiliki 10 persen atau lebih investasi) meningkat dari 280.000 menjadi
850.000. Penjualan perusahaan ini berlipat selama masa itu pula dari $6.4
triliun sampai $18.5 triliun, meningkat dua kali lipat dari ukuran ekspor
dunia. Aset total perusahaan TNC meningkat dari $8.3 triliun di tahun 1996
mendekati $25 triliun di tahun 2000. Produksi bruto (nilai pengeluaran)
perusahaan induk TNC dan perusahaan lainnya meningkat sampai $8 triliun di
tahun 1999, yang mencatat sekitar 25 persen GDP dunia. Perusahaan asing TNC
saat ini mempekerjakan lebih dari 53 juta orang.
Keuntungan Globalisasi
Kebanyakan studi
ekonomi internasional menyimpulkan bahwa laju menuju sebuah perekonomian global
yang kompetitif dan cepat terjadi di awal tahun 1990an, dan terbukanya beberapa
pasar negara ke perdagangan dunia dan investasi selama lebih dari lima puluh
tahun, memberi keuntungan bukan hanya bagi negara-negara yang lebih kaya,
tetapi juga negara-negara berkembang yang meliberalkan perekonomian mereka dan
transisi mereka dari perekonomian yang terkontrol oleh pemerintah ke sistem
pasar yang berbasis khusus. Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD) menyimpulkan bahwa negara-negara yang membuka pasar
mereka untuk perdagangan dan investasi dunia telah mencapai dua kali lipat
rata-rata pertumbuhan ekonomi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Beberapa
studi yang lebih luas menyimpulkan bahwa perekonomian negara yang membuka pasar
dan berpartisipasi dalam perdagangan dan investasi dunia tumbuh lebih cepat
dari mereka yang membatasi pasar domestiknya dan membatasi partisipasi mereka
dalam perdagangan dunia. Pertumbuhan di GDP secara positif terasosiasi dengan
meningkatnya ekspor. Rata-rata pertumbuhannya secara general lebih tinggi untuk
semua kelompok-ekspoter barang utama kecil maupun besar dan eksporter
manufaktur kecil dan besar. Ekonomi pasar terbuka memiliki rasio investasi
lebih tinggi, keseimbangan makro-ekonomi yang lebih baik, dan peranan sektor
swasta yang lebih kuat dalam perkembangan ekonomi dariapada negara-negara
non-pasar.
Kecaman bahwa globalisasi menghargai kekompetitifan ekonomi pada
peningkatan kerugian sosial sering memandang peningkatan tersebut secara
substansial dalam kondisi sosial dunia selama periode pertumbuhan populasi dan
integrasi ekonomi yang cepat. Secara keseluruhan kondisi sosial dan indikator
kualitas hidup meningkat tajam di beberapa negara berkembang selama setengah
abad dua puluh terakhir. United Food and Agriculture Organization (FAO)
melaporkan bahwa sampai 2000, produksi agrikultur global meningkat 1.6 kali
lebih besar daripada tingkat produksi total di tahun 1950, dimana tahun
tersebut adalah pencapaian tertinggi dalam 10.000 tahun sejarah agrikultur.
Antara tahun 1970 dan 2000, kemungkinan angka kematian bayi yang baru lahir
(per 1.000 kelahiran yang hidup) menurun di Sahara, Afrika dari 132 menjadi 92,
di Asia Timur dan Pasifik dari 77 menjadi 35, di sia Selatan dari 138 menjadi
75, dan Amerika Latin dan Karibia dari 82 menjadi 31.
United Nations Development programme (UNDP)
Human Development Report mengindikasikan bahwa sejak 1990, 800 juta
orang mendapat suplai air yang meningkat dan 750 juta orang mendapat akses
sanitasi yang baik. Pendaftaran anak – anak sekolah tingkat dasar meningkat
dari 80 persen di tahun 1990 menjadi 84 persen di tahun 1998. Negara-negara
memiliki setengah populasi dunia telah mengurangi kelaparan sampai dengan 50
persen atau lebih. Sekitar delapan puluh satu negara menjadi negara demokrasi
secara signifikan, dan beberapa negara yang lebih bayak dari sebelumnya – 140
sampai 200an negara di dunai – mengadakan pemilihan multi partai. Analisis
hubungan antara peningkatan ekonomi dan ‘kebebasan ekonomi’ berdasarkan
tingkatan karaketeristik pasar – keterbukaan akan kebijakan perdagangan beban fiskal
pemerintah, dan lain-lain – telah menemukan sebuah hubungan positif yang kuat
antara kedua kumpulan indikator. Negara-negara dengan tingkat kebebasan
perekonomian memiliki lebih tinggi income per kapitanya, sementara
mereka yang terkarateristikkan sebagai ‘tidak bebas’ dan ‘tertekan’ memiliki income
rendah per kapitanya.
Studi OECD juga mengindikasikan bahwa ekonomi pasar yang lebih bebas
dan terbuka dapat membawa keuntungan ekonomi dan sosial untuk negara-negara
pada semua tingkatan perkembangan. Diantara keuntungannya ialah:
- kebebasan memilih yang lebih besar bagi para individu tentang apa yang harus dibeli dan dijual dengan harga tertentu, dimana mendapat input, dimana dan bagaimana berinvestasi, dan keahlian apa yang dibutuhkan;
- keuntungan kooperatif di dunia perdagangan yang memberi kesempatan pada individu dan bisnis untuk berhasil dengan menggunakan sumber daya mereka untuk berkompetisi dengan lainnya secara sehat;
- income yang lebih tinggi bagi mereka yang dipekerjakan dalam bidang yang memproduksi barang dan jasa bagi pasar internasional;
- kebebasan yang lebih besar bagi individu untuk ikut serta dalam spesialisasi dan pertukaran;
- harga-harga yang lebih rendah dan ketersediaan barang dan jasa yang lebih banyak;
- kesempatan untuk membedakan resiko dan sumber-sumber investasi dimana keuntungannya menjadi paling tinggi;
- akses untuk kapital pada harga terendah;
- alokasi sumber daya yang lebih efisien dan produktif;
- kesempatan yang lebih besar bagi firma-firma untuk mendapat akses sumber daya material dan input yang kompetitif; dan
- transfer teknologi kedalam dan tahu penggunaannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)