Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts

Monday, December 16, 2013

ADAT ISTIADAT BUDAYA SUNDA

1.    Teori
Adat Istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat Pada umumnya menyangkut tentang unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara keramaian anak negeri, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung.
Adat istiadat semacam ini sangat tergantung pada  situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik biasanya megah meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya. Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah.
Suku Sunda adalah suatu suku etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, dari Ujung Kulon yang berada di ujung barat pulau Jawa sampai sebagian
Jawa Tengah. Suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat.
Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Maka dari itu saya akan mendeskripsikan kebudayaan tersebut.
            2.    Kasus/Artikel
Dari teori yang ada maka kasus dari masalah ini adalah bagaimana adat istiadat pernikahan yang berlaku dikeluarga saya yaitu menggunakan adat sunda (jawa barat).
          3.    Analisis
Adat istiadat timbul dari suatu kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Sehingga kemudian kebiasaan tersebut ditetapkan menjadi suatu adat istiadat. Adat istiadat bisa menjadi norma, sehingga bisa menjadi tatanan atau aturan – aturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengikat meski tidak sekuat hukum. Namun sangsinya adalah dikucilkan dari masyarakat tersebut.
Dalam hal ini saya ingin mengamati bahwa dalam kehidupan di keluarga saya lebih mendominasi adat sunda yaitu dari keluarga ayah dan ibu saya. Contohnya pernikahan kakak saya seperti :
1.     Upacara sebelum akad nikah
Pada upacara ini biasanya dilaksanakan adat :

(1) Neundeun Omong : yaitu kunjungan orang tua jejaka kepada orang tua si gadis untuk bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak anak gadisnya akan dilamar.
(2) Ngalamar : nanyaan atau nyeureuhan yaitu kunjungan orang tua jejaka untuk meminang/melamar si gadis, dalam kunjungan tersebut dibahas pula mengenai rencana waktu penikahannya. Sebagai acara penutup dalam ngalamar ini si pelamar memberikan uang sekedarnya kepada orang tua si gadis sebagai panyangcang atau pengikat, kadang-kadang dilengkapi pula dengan sirih pinang selengkapnya disertai kue-kue & buah-buahan. Mulai saat itu si gadis telah terikat dan disebut orang bertunangan.
(3) Seserahan: yaitu menyerahkan si jejaka calon pengantin pria kepada calon mertuanya untuk dikawinkan kepada si gadis. Pada acara ini biasa dihadiri oleh para kerabat terdekat, di samping menyerahkan calon pengantin pria juga barang-barang berupa uang, pakaian, perhiasan, kosmetik dan perlengkapan wanita, dalam hal ini tergantung pula pada kemampuan pihak calon pengantin pria. Upacara ini dilakukan 1 atau 2 hari sebelum hari perkawinan atau adapula yang melaksanakan pada hari perkawinan sebelum akad nikah dimulai.
(4) Ngeuyeuk Seureuh: artinya mengerjakan dan mengatur sirih serta mengait-ngaitkannya. Upacara ini dilakukan sehari sebelum hari perkawinan, yang menghadiri upacara ini adalah kedua calon pengantin, orang tua calon pengantin dan para undangan yang telah dewasa. Upacara dipimpin oleh seorang pengetua, benda perlengkapan untuk upacara ini seperti sirih beranting, setandan buah pinang, mayang pinang, tembakau, kasang jinem/kain, elekan, dll semuanya mengandung makna/perlambang dalam kehidupan berumah tangga. Upacara ngeuyeuk seureuh dimaksudkan untuk menasihati kedua calon mempelai tentang pandangan hidup dan cara menjalankan kehidupan berumah tangga berdasarkan etika dan agama, agar bahagia dan selamat. Upacara pokok dalam adat perkawinan adalah ijab kabul atau akad nikah .
2.      Upacara adat akad nikah  
Upacara perkawinan dapat dilaksanakan apabila telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam agama Islam dan adat. Ketentuan tersebut adalah: adanya keinginan dari kedua calon mempelai tanpa paksaan, harus ada wali nikah yaitu ayah calon mempelai perempuan atau wakilnya yang sah, ada ijab kabul, ada saksi dan ada mas kawin. Yang memimpin pelaksanaan akad nikah adalah seorang Penghulu atau Naib, yaitu pejabat KUA.
Upacara akad nikah biasa dilaksanakan di Mesjid atau di rumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya adalah kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang tua kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para undangan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai pria disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai pria membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita.
3.     Upacara adat sesudah akad nikah
  • Munjungan / sungkeman : yaitu kedua mempelai sungkem kepada kedua orang tua mempelai untuk meminta doa restu.
  • Upacara sawer (nyawer)  : perlengkapan yang diperlukan adalah sebuah bokor yang berisi beras kuning, uang kecil (receh) /logam, bunga, dua buah tektek (lipatan sirih yang berisi ramuan untuk menyirih), dan permen. Pada pelaksanaannya kedua mempelai duduk di halaman rumah di bawah cucuran atap (panyaweran), upacara dipimpin oleh juru sawer. Juru sawer menaburkan isi bokor tadi kepada kedua pengantin dan para undangan sebagai selingan dari syair yang dinyanyikan olehnya sendiri. Adapun makna dari upacara nyawer tersurat dalam syair yang ditembangkan juru sawer, intinya adalah memberikan nasehat kepada kedua mempelai agar saling mengasihani, dan mendo’akan agar kedua mempelai mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya, hidup rukun sampai diakhir hayatnya.
  • Upacara Nincak Endog     : setelah upacara nyawer kedua mempelai mendekati tangga rumah , di sana telah tersedia perlengkapan seperti sebuah ajug/lilin, seikat harupat (sagar enau) berisikan 7 batang, sebuah tunjangan atau barera (alat tenun tradisional) yang diikat kain tenun poleng, sebuah elekan, sebutir telur ayam mentah, sebuah kendi berisi air, dan batu pipisan, semua perlengkapan ini mempunyai perlambang. Dalam pelaksanaannya lilin dinyalakan, mempelai wanita membakar ujung harupat selanjutnya dibuang, lalu mempelai pria menginjak telur, setelah itu kakinya ditaruh di atas batu pipisan untuk dibasuh air kendi oleh mempelai wanita dan kendinya langsung dihempaskan ke tanah hingga hancur. Makna dari upacara ini adalah menggambarkan pengabdian seorang istri kepada suaminya.
  • Upacara Buka Pintu         : upacara ini dilaksanakan setelah upacara nincak endog, mempelai wanita masuk ke dalam rumah sedangkan mempelai pria menunggu di luar, hal ini menunjukan bahwa mempelai wanita belum mau membukakan pintu sebelum mempelai pria kedengaran mengucapkan sahadat. Maksud upacara ini untuk meyakinkan kebenarannya beragama Islam. Setelah membacakan sahadat pintu dibuka dan mempelai pria dipersilakan masuk. Tanya jawab antara keduanya dilakukan dengan nyanyian (tembang) yang dilakukan oleh juru tembang.
  • Upacara Huap Lingkung  : Kedua mempelai duduk bersanding, yang wanita di sebelah kiri pria, di depan mempelai telah tersedia adep-adep yaitu nasi kuning dan bakakak ayam (panggang ayam yang bagian dadanya dibelah dua). Mula-mula bakakak ayam dipegang kedua mempelai lalu saling tarik menarik hingga menjadi dua. Siapa yang mendapatkan bagian terbesar dialah yang akan memperoleh rejeki besar diantara keduanya. Setelah itu kedua mempelai huap lingkung , saling menyuapi. Upacara ini dimaksudkan agar kedua mempelai harus saling member tanpa batas dengan tulus dan ikhlas sepenuh hati. Setelah upacara huap lingkung kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan diapit oleh kedua orang tua mempelai untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Kesimpulannya Adat Istiadat adalah segala aturan, ketentuan, tindakan, dan sebagainya yang menjadi kebiasaan secara turun temurun. Adat istiadat pernikahan dikeluarga saya adalah menggunakan adat sunda. Karena adat sunda lebih ke dalam sikap dan perilaku sehari-hari yaitu sopan santun dan ramah.
4.     Referensi        :

Tuesday, October 30, 2012

Kebijakan yang Memihak Kaum Miskin bagi Pembangunan


DEKLARASI MILLENNIUM PBB  menempatkan pengurangan kemiskinan ditengah-tengah proses pengembangan. Benar adanya, oleh karena itu, sangatlah penting untuk diketahui bagi strategi pengembangan nasional yang menerima jaminan, penopangan, dan perkembangan manusia yang wajar dan yang memberi kuasa orang-orang. Pada Deklarasi Millennium yang dikeluarkan oleh Majelis umum PBB di tahun 2000, lebih dari 160 kepala negara dan pemerintahan mengikrarkan komitmen mereka untuk menerima Tujuan-tujuan Perkembangan Millennium (MDGs). Yang pertama dari tujuan-tujuan ini adalah mengurangi meluasnya kemiskinan global hingga (dibandingkan pada tingkat ditahun 1990) tahun 2015. Tujuan lainnya seperti pemberantasan kelaparan, akses internasional ke pendidikan yang utama, pengurangan kematian, dan persamaan gender yang keseluruhannya mendukung tujuan dari pengentasan kemiskinan.
Perhatian bagi kebijakan yang memihak pada kemiskinan adalah konsekuensi dari kekecewaan yang telah berakar dengan pola pengembangan yang menempatkan  perhatian eksklusif pada pengejaran pertumbuhan ekonomi. Selama tahun 1950an dan 1960an, tujuan utama mencapai tingkat investasi negara-negara berkembang,ditandai oleh bantuan luar negeri, dalam hal ini menerima pertumbuhan yang cepat. Harapannya adalah bahwa sedikit sebab, secara luas melalui jabatan yang tinggi dan upah nyata, akan mengurangi kemiskinan. Pada pola ini, tidak ada kebijakan bagi kemiskinan yang tegas, hanya kebijakan bagi pertumbuhan yang akhirnya akan membawa ke pengurangan kemiskinan. Bagaimanapun juga, dibanyak situasi, proses pertumbuhan tidak merata seperti sedikit efek yang juga lemah atau ketidak adaan.
Berikan kegagalan ini pada pertumbuhan untuk mengurangi kemiskinan, pemusatan digeserkan pada rancangan yang ditujukan pada campur tangan  anti kemiskinan didalam bentuk jaringan keamanan sosial untuk menjegal kemiskinan. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mencapai kelompok-kelompok tersebut yang tidak dimasukkan atau dipinggirkan oleh proses dari pertumbuhan. Ini adalah filosofi lengkap dibelakang Dokumen Strategi Pengentasan Kemiskinan oleh negara berkembang untuk keringanan keuangan  oleh institusi keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Kerangka ekonomi makro diwujudkan dalam dokumen berlanjut untuk fokus pada stabilisasi yang membawa kepertumbuhan, dengan tujuan campur tangan yang sangat menentukan untuk mengatur kegagalan yang negative dari strategi pada kaum miskin. Bagaimanapun juga, masalah dasar adalah jika strategi pertumbuhan negara menyebarkan kemiskinan, program kemiskinan terpisah bisa sedikit melakukan trend sebaliknya. Kebutuhan untuk melebihi keuntungan kenyaman sosial dan fokus secara langsung pada penyediaan pekerjaan dan mencapai pemasukan dari kaum miskin melalui campur tangan yang tegas dikenali secara luas. Pengalaman menyarankan bahwa, secara umum, negara yang sukses dalam mengurangi kemiskinan mengkombinasikan promosi kebijakan yang wajar dan pertumbuhan. Kebijakan publik perlu untuk mempengaruhi generasi dan distribusi dari pemasukan diberbagai jalan untuk keuntungan yang tak seimbang bagi kaum miskin dengan kata lain, fokus sekarang adalah pertumbuhan bagi si miskin.
Pentingnya pertumbuhan, bagaimanapun juga, tidak bisa dilupakan. Strategi yang secara umum memfokuskan pada pengurangan ketidak merataan melalui distribusi ulang dari asset atau pemasukan tapi membiarkan atau mengorbankan  pertumbuhan yang memungkinkan tidak membawa ke pengurangan terus menerus dari kemiskinan. Sebagai tambahan, absensi dari pertumbuhan yang dipaksakan untuk mencari kebutuhn sumber daya untuk keuangan yang ditujukan untuk campur tangan anti kemiskinan akan timbul. 
Oleh karena itu, kebutuhan menjadi cukup cepat yang secara signifikan memperbaiki kondisi absolute dari kaum miskin sebagaimana posisi relatif mereka. Hal ini juga bisa diterima dengan memastikan kewajaran yang lebih baik pada awal proses pertumbuhan, sebagai contoh, melalui perubahan lahan (seperti di Korea&Jepang), atau hal itu juga bisa diterima oleh penurunan ketidak merataan selama proses pertumbuhan (seperti membuat pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan keahlian yang lebih siap sedia dan dengan demikian menekan upah diantara simiskin, yang telah dicapai oleh perekonomian Asia timur seperti Thailand, karena dan Malaysia melalui pertumbuhan ekspor pada buruh pabrik intensif). Bagaimanapun juga, usaha untuk memperbaiki asset atau pemasukan distribusi tidak harus memperlambat pertumbuhan aktifitas ekonomi yang salah tempat atau secara merugikan mempengaruhi iklim investasi atau mengubah pengalokasian sumber daya.

Wednesday, October 24, 2012

Beberapa Masalah Globalisasi


Meskipun demikian, globalisasi tidak memberi keuntungan pada semua negara secara otomatis, tidak juga membuahkan keuntungan tanpa biaya. Semua kegagalan pasar yang dapat terjadi dalam perekonomian domestik juga nampak di di perekonomian global. Dalam kenyataan, pasar tidak selalu beroperasi seperti yang tergambarkan secara teori. Ketika mereka menyimpang dari prinsip-prinsip fundamental, kegagalan pasar dapat menghasilkan konsekuensi yang secara ekomomi dan sosial tidak diharapkan. Kegagalan pasar nampak ketika konsumen dan produsen tidak menanggung seluruh dana dari tindakan mereka, ketika harga tidak merefleksikan harga dan keuntungan sosial, ketika konsumen dan produsen dimanipulasi oleh iklan atau tidak memiliki akses yang tepat untuk membuat keputusan yang ekonomi yang baik, dan ketika praktik perdagangan yang tidak jujur mencegah harga yang ditetapkan oleh rambu-rambu pasar. Selebihnya, penyesuaian dalam ekonomi pasar dapat menghasilkan siklus kemunduran ekonomi, krisis finansial, tekanan, menempatkan masyarakat dalam kemiskinan. Perbedaan yang kuat dalam distribusi income dapat menempatkan masyarakat pada kerugian ekonomi, mencegah mereka dari partisipasi dan keuntungan proses pasar. Beberapa segmen populasi – tanpa keahlian, secara mental dan fisik cacat, berumur, dan mereka yang menderita ganguan kesehatan serius sebagai contoh – mungkin tidak mampu menghasilkan income yang memadai untuk berpartisipasi. Firma-firma yang bertindak dalam kepentingan sendiri mungkin mengeksploitasi sumber daya alam atau umum atau aturan pembuangan limbah berbahaya mereka bagi lingkungan tanpa memperhatikan kesehatan atau kesejahteraan manusia dan tanpa memperhatikan nilai kerusakan terhadap lingkungan, dengan cara demikian laju globalisasi juga membebani masyarakat.
Tetapi apa yang sering disebut ‘kegagalan pasar’ sebenarnya adalah ‘kegagalan kebijakan’; masalahnya dihasilkan dari keengganan atau ketidakmampuan pemerintah untuk membuat dan mengimplementasikan kebijakan yang membantu dan mendukung sistem ekonomi yang efektif dan mencegah negara dari partisipasi dalam investasi dan perdagangan dunia. Satu contoh kegagalan kebijakan sering dihubungkan dengan kompetisi ekonomi dunia, yang menghasilkan tingkat kemiskinan. UNDP Human Development Report mencatat bahwa setidaknya 3 milyar orang hidup dalam kemiskinan yang relatif dengan income kurang dari $2 perhari dan lebih dari 1.1 milyar orang hidup dalam kemiskinan yang absolut dengan income kurang dari $1 perhari. Dampak sosial dari kemiskinan yang absolut ini sangat melemahkan. Di beberapa negara miskin sekitar 20 persen anak-anak meninggal sebelum kelahiran mereka, hampir setengahnya dari yang selamat hidup, berada pada nutrisi rendah, presentase populasi di negara-negara miskin tidak memiliki akses untuk membersihkan air, sanitasi, pelayanan kesehatan, atau pendidikan yang setara. Kebanyakan mereka yang hidup dalam kemiskinan, tidak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara efektif dalam ekonomi pasar atau mengambil keuntungan darinya.
Apakah globalisasi adalah penyebab kemiskinan? Para ekonom Bank Dunia berpendapat secara kontras bahwa ‘gelombang globalisasi yang dimulai sekitar tahun 1980, sebenarnya telah memajukan persamaan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.’ Bank Dunia berpendapat bahwa kemiskinan tidak dikarenakan oleh globalisasi, tetapi sebaliknya dikarenakan oleh ketidakmampuan dan keengganan pemerintah untuk menciptakan jaringan institusi dan kebijakan yang diperlukan dalam berpartisipasi secara efektif dalam interaksi ekonomi global. Dari 1990 samapi 2000, selama laju globalisasi yang cepat dari perekonomian yang terencana secara terpusat ke pasar kompetitif, jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan dengan income kurang dari $1 perhari menurun dari 1.3 milyar menjadi 1.1 milyar – atau dari 29 persen menjadi 23 persen populasi di negara berkembang. – selama periode yang sama ketika populsi dunia tumbuh dengan cepat. Sebagian populasi yang hidup dalam tingkat kemiskina rendah menurun di beberapa negara dan wilayah dengan partisipasi terbesar dalam ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi yang kuat rata-rata di Asia Timur dan Pasifik, Asia Selatan, dan Amerika Latin serta Karibia. Kemiskinan absolut menurun setidaknya di beberapa negara (Timur Tengah dan Afrika Utara, Sub-Sahara Afrika, da Eropa Timur) dengan pertumbuhan ekonomi terlemah.
Secara konsisten studi telah menemukan sebuah hubungan antara partisipasi pertumbuhan ekonomi global dan nasional. Selama tahun 1990an ekonomi beberapa negara berkembang yang lebih global tumbuh lebih cepat dari pada negara-negara dengan income tinggi, dan keduanya tumbuh lebih cepat daripada negara-negara yang kurang terglobal. Asian Development Bank menyatakan  bahwa ‘pengalaman Asia menunjukkan bahwa pertumbuhan adalah senjata paling dasyat melawan kemiskinan.’ Ketika pertumbuhan terus melaju, penempatan tenaga kerja sektor swasta menjadi sumber utama untuk mendukung ekonomi mayoritaas pekerja dan keluarga mereka.
Kebijakan pemerintah yang memfasilitasi keikutsertaan dalam pertumbuhan ekonomi global dan menstimulasi ekonomi nasional membuat kerja pasar bagi rakyat miskin dengan memperkuat aset mereka sehingga mereka dapat berpartsisipas dengan lebih efektif dalam aktifitas ekonomi. Beberapa kebijakan memberikan pelayanan jasa dan sosial – pendidikan, kesehatan, fasilitas air bersih dan sanitasi – yang mengurangi kemiskinan dan jasa serta infrastruktur yang membantu perusahaan besar dan menengah. Mendorong investasi swasta yang efektif meningkatkan sejumlah pekerjaan dan income tenaga kerja. Dengan memperluas pasar internasional, beberapa negara di Asia Timur dan Tenggara dan Amerika Latin mengurangi kemiskinan dengan membuka beberapa kesempatan baru bagi perdagangan agrikultur dan barang-barang industri dan jasa. Dengan mendapat infrastruktur dan pengetahuan bagi masyarakat miskin di kota-kota dan daerah pinggiran, dan menciptakan sistem administrasi publik, pemerintah di daerah ini telah membantu pertumbuhan dan persamaan dan telah mengurai masalah perbedaan gender, ras, kelompok etnik, dan kelas sosial untuk mengurangi kemiskinan relatif dan absolut.

KEMUNCULAN MASYARAKAT GLOBAL



Sejak awal tahun 1980an ekonomi telah mengglobal dengan cepat – pasar-pasar barang dan jasa telah meluas ke dunia internasional, negara-negara telah membentuk hubungan regional dan global, dan kerja sama telah meluas dan melakukan bisnis di seluruh penjuru dunia. Sedikit saja pemerintahan yang masih kurang peduli dengan globalisasi dan mengabaikan pentingnya dan tantangan masyarakat global.

Globalisasi dan Pertumbuhan Ekonomi


Dalam pasar global, para individu, rumah tangga, dan bisnis dagang selalu ada di dalam dan luar negeri. Meskipun ekonomi global merupakan subjek dorongan yang siklis bagi pertumbuhan dan kecenderungan yang menurun secara periodik (seperti siklus ekonomi domestik), ekonomi dunia telah tumbuh dengan cepat sejak 1960an. Kemunduran regional di Amerika Latin pada awal 1980an, Afrika di tahun 1980an dan 1990an, Asia di akhir 1990an – dan penurunan dunia mulai pada 2000 – untuk sementara mengurangi laju globalisasi ekonomi. Karena penurunan siklis ini, globalisasi mengedalikan pertumbuhan perekonomian dunia sampai 140 persen (US$) antara 1970 dan 1998, sampai mendekati $40 triliun pengeluaran per tahun untuk barang dan jasa.
Hal yang paling mengejutkan bagi globalisasi ekonomi, mulai pada akhir perang dunia II dan mengalami percepatan pada awal 1980an, yang pertama kali dipelopori oleh perdagangan (ekspor dan impor), kemudian oleh investasi luar negeri secara langsung (pembelian masuk dan keluar aset produktif), dan saat ini dikendalikan oleh perdagangan dan investasi yang menyeluruh karena didukung oleh kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dan transportasi. Perdagangan internasional tumbuh secara substansial selama setengah abad dua puluh terakhir. Nilai ekspor barang dagang dunia berlipat sedikit demi sedikit lebih dari $2 triliun pada 1980, sampai lebih dari $4 triliun pada 1994 dan meningkat sampai $6 triliun pada 2001. Rasio ekspor barang dagang untuk pendapatan bruto produksi domestik (GDP) meningkat dari sekitar 8 persen di tahun 1960, ke 13 persen di thaun 1990, dan mendekati 18 persen di tahun 1998. Selanjutnya, nilai ekspor jasa komersial dunia meningkat dari $402 milyar di thaun 1980 menjadi lebih dari 1.4 triliun di tahun 2001.
Tren ini secara general berlaku bagi ekonomi pasar negara-negara berkembang dan maju. Antara tahun 1990 dan 2000, perdagangan barang sebagai persentase dunia GDP meningkat dari 32 persen menjadi 40 persen. Negara-negara pada semua tingkatan income, rata – rata meningkatkan partispasi mereka dalam perdangangan internasional dan investasi langsung luar negeri (foreign direct investment/FDI). FDI bruto juga meningkat sebagai pesentase GDP dari 2.7 persen menjadi 8.8 persen. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara berkembang telah diasosiasikan dengan pergeseran strategi perkembangan para penganut proteksionisme yang melihat kesempatan kedalam untuk melihat strategi perdagangan liberal yang berorientasikan ekspor keluar. Negara-negara tersebut telah membuat variasi ekspor mereka dan membuka ekonominya ke impor dan investasi telah berkembang lebih cepat dibanding negara-negara yang mempertahankan kebijakan penganut proteksionisme atau yang terus mengekspor komoditi dasar dan barang-barang mentah. 
Meskipun negara-negara berkembang cukup sibuk dalam perdagangan yang lebih kecil dibanding negara-negara kaya, nilai ekspor mereka mencapai dua kali lipat lebih dari 1980 sampai 1994. Ekspor perusahaan negara-negara berkembang meningkat sekitar 5 persen pada 1913, sampai mendekati 25 persen pada 1994. Sampai pada 2000, mereka mencatat untuk 30 persen ekspor dagangan. Dan semua wilayah di dunia melihat perkembangan tersebut di dalam ekspor perusahaan, meskipun negara-negara di beberapa wilayah berbeda secara drastis pada rata – rata perkembangannya.
Sampai pada 1990an, globalisasi ekonomi telah dikendalikan lebih banyak oleh FDI daripada oleh perdagangan. Pemasukan dan pengeluaran total FDI dunia meningkat dari 10 persen GDP dunia pada 1980 menjadi 31 persen pada 1999. Stok pemasukan FDI yang terakumulasikan meningkat dari sekitar $14 milyar di tahun 1914 menjadi sekitar $2.5 triliun di tahun 1995 dan lebih dari $6.8 triliun di tahun 2001. Perdagangan dan investasi dikendalikan oleh ekspansi beberapa korporasi transaksional (transaction corporation/TNC). Antara tahun 1996 dan 2001 jumlah perusahaan induk TNC meningkat dari 44.000 sampai mencapai lebih dari 65.000 dan jumlah cabang luar negeri mereka (perusahaan yang memiliki 10 persen atau lebih investasi) meningkat dari 280.000 menjadi 850.000. Penjualan perusahaan ini berlipat selama masa itu pula dari $6.4 triliun sampai $18.5 triliun, meningkat dua kali lipat dari ukuran ekspor dunia. Aset total perusahaan TNC meningkat dari $8.3 triliun di tahun 1996 mendekati $25 triliun di tahun 2000. Produksi bruto (nilai pengeluaran) perusahaan induk TNC dan perusahaan lainnya meningkat sampai $8 triliun di tahun 1999, yang mencatat sekitar 25 persen GDP dunia. Perusahaan asing TNC saat ini mempekerjakan lebih dari 53 juta orang.


Keuntungan Globalisasi


Kebanyakan studi ekonomi internasional menyimpulkan bahwa laju menuju sebuah perekonomian global yang kompetitif dan cepat terjadi di awal tahun 1990an, dan terbukanya beberapa pasar negara ke perdagangan dunia dan investasi selama lebih dari lima puluh tahun, memberi keuntungan bukan hanya bagi negara-negara yang lebih kaya, tetapi juga negara-negara berkembang yang meliberalkan perekonomian mereka dan transisi mereka dari perekonomian yang terkontrol oleh pemerintah ke sistem pasar yang berbasis khusus. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menyimpulkan bahwa negara-negara yang membuka pasar mereka untuk perdagangan dan investasi dunia telah mencapai dua kali lipat rata-rata pertumbuhan ekonomi yang belum pernah tercapai sebelumnya. Beberapa studi yang lebih luas menyimpulkan bahwa perekonomian negara yang membuka pasar dan berpartisipasi dalam perdagangan dan investasi dunia tumbuh lebih cepat dari mereka yang membatasi pasar domestiknya dan membatasi partisipasi mereka dalam perdagangan dunia. Pertumbuhan di GDP secara positif terasosiasi dengan meningkatnya ekspor. Rata-rata pertumbuhannya secara general lebih tinggi untuk semua kelompok-ekspoter barang utama kecil maupun besar dan eksporter manufaktur kecil dan besar. Ekonomi pasar terbuka memiliki rasio investasi lebih tinggi, keseimbangan makro-ekonomi yang lebih baik, dan peranan sektor swasta yang lebih kuat dalam perkembangan ekonomi dariapada negara-negara non-pasar.
Kecaman bahwa globalisasi menghargai kekompetitifan ekonomi pada peningkatan kerugian sosial sering memandang peningkatan tersebut secara substansial dalam kondisi sosial dunia selama periode pertumbuhan populasi dan integrasi ekonomi yang cepat. Secara keseluruhan kondisi sosial dan indikator kualitas hidup meningkat tajam di beberapa negara berkembang selama setengah abad dua puluh terakhir. United Food and Agriculture Organization (FAO) melaporkan bahwa sampai 2000, produksi agrikultur global meningkat 1.6 kali lebih besar daripada tingkat produksi total di tahun 1950, dimana tahun tersebut adalah pencapaian tertinggi dalam 10.000 tahun sejarah agrikultur. Antara tahun 1970 dan 2000, kemungkinan angka kematian bayi yang baru lahir (per 1.000 kelahiran yang hidup) menurun di Sahara, Afrika dari 132 menjadi 92, di Asia Timur dan Pasifik dari 77 menjadi 35, di sia Selatan dari 138 menjadi 75, dan Amerika Latin dan Karibia dari 82 menjadi 31.
United Nations Development programme (UNDP) Human Development Report mengindikasikan bahwa sejak 1990, 800 juta orang mendapat suplai air yang meningkat dan 750 juta orang mendapat akses sanitasi yang baik. Pendaftaran anak – anak sekolah tingkat dasar meningkat dari 80 persen di tahun 1990 menjadi 84 persen di tahun 1998. Negara-negara memiliki setengah populasi dunia telah mengurangi kelaparan sampai dengan 50 persen atau lebih. Sekitar delapan puluh satu negara menjadi negara demokrasi secara signifikan, dan beberapa negara yang lebih bayak dari sebelumnya – 140 sampai 200an negara di dunai – mengadakan pemilihan multi partai. Analisis hubungan antara peningkatan ekonomi dan ‘kebebasan ekonomi’ berdasarkan tingkatan karaketeristik pasar – keterbukaan akan kebijakan perdagangan beban fiskal pemerintah, dan lain-lain – telah menemukan sebuah hubungan positif yang kuat antara kedua kumpulan indikator. Negara-negara dengan tingkat kebebasan perekonomian memiliki lebih tinggi income per kapitanya, sementara mereka yang terkarateristikkan sebagai ‘tidak bebas’ dan ‘tertekan’ memiliki income rendah per kapitanya.
Studi OECD juga mengindikasikan bahwa ekonomi pasar yang lebih bebas dan terbuka dapat membawa keuntungan ekonomi dan sosial untuk negara-negara pada semua tingkatan perkembangan. Diantara keuntungannya ialah:
  • kebebasan memilih yang lebih besar bagi para individu tentang apa yang harus dibeli dan dijual dengan harga tertentu, dimana mendapat input, dimana dan bagaimana berinvestasi, dan keahlian apa yang dibutuhkan;
  • keuntungan kooperatif di dunia perdagangan yang memberi kesempatan pada individu dan bisnis untuk berhasil dengan menggunakan sumber daya mereka untuk berkompetisi dengan lainnya secara sehat;
  • income yang lebih tinggi bagi mereka yang dipekerjakan dalam bidang yang memproduksi barang dan jasa bagi pasar internasional;
  • kebebasan yang lebih besar bagi individu untuk ikut serta dalam spesialisasi dan pertukaran;
  • harga-harga yang lebih rendah dan ketersediaan barang dan jasa yang lebih banyak;
  • kesempatan untuk membedakan resiko dan sumber-sumber investasi dimana keuntungannya menjadi paling tinggi;
  • akses untuk kapital pada harga terendah;
  • alokasi sumber daya yang lebih efisien dan produktif;
  • kesempatan yang lebih besar bagi firma-firma untuk mendapat akses sumber daya material dan input yang kompetitif; dan
  • transfer teknologi kedalam dan tahu penggunaannya.