Thursday, April 15, 2021

MATERI SANLAT ONLINE PART 10

Bacaan Dzikir Sesudah Shalat Fardhu

1. Astagfirullaahal ‘azhiim, alladzi laa ilaaha ilaa huwal hayyul qayyuum, wa atuubu ilaihi.3x Artinya :
“Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Besar, tiada Tuhan melainkan Dia, yang senantiasa hidup lagi mengurus segala sesuatu dengan sendiri-Nya, dan saya bertobat kepada-Nya."

2. Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa alaa kulli syai'in qadiir.
Artinya : “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji-pujian yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”

3. Allaahumma antas-salaamu wa minkas-salaamu wa ilaika ya’uduus-salaamu fa hayyinaa rabbanaa bis-salaami wa adkhinal- jannata daaras-salaami tabaarakta rabbanaa wa ta'aalaita yaa dzal- jalaali wal –ikram.
Artinya : “Ya Allah Engkau adalah Dzat yang mempunyai kesejahteraan dan daripada- Mulah kesejahteraan itu dan kepada- Mulah akan kembali lagi segala kesejahteraan itu. Ya Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan sejahtera. Dan masukkanlah kami ke dalam surga kampung kesejahteraan. Engkaulah yang kuasa memberiberkah yang banyak dan Engkaulah Yang Maha Tinggi, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

4. Baca Surat Al Fatihah.
5. Wa ilaahukum ilaahuw waahidun laa ilaaha ilaa huwar-rahmaanur- rahiim.
Artinya : “Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
6. Baca Ayat Kursi

7. Allaahumma laa maani'a limaa a’thaita wa laa mu'thiya limaa mana'ta wa laa radda limaa qadhaita wa laa yanfa'u dzal-jaddi minkal-jaddu.
Artinya : “Ya Allah, tidak ada yang menghalangi segala apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan segala yang Engkau larang. Dan tidak ada yang menolak segala apa yang Engkau putuskan. Dan tidak bermanfaat kepada orang yang kaya di sisi Engkau segala kekayaannya.”

8. Ilaahii yaa rabbii.
Artinya : “Ya Tuhan kami.”
9. Subhaanallaahi 33x
Artinya : “Maha Suci Allah."33x .

10. Al-hamdu lillaaahi 33x.
Artinya :“Segala puji bagi Allah.33x.

11.Allaaahu akbar 33x
Artinya : “Allah Maha Besar.”33x

12. Allaahu akbar kabiiraw wal-hamdu lillaahi katsiiraw wa subhaanallahi bukrataw wa ashiila. Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa'alaa kulli syai'in qadiir.
Artinya : “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan puji yang banyak. Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji- pujian yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”

13. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil ‘azhiim. Astagfirullaahal-‘azhiim.
Artinya : “Dan tidak ada daya upaya dan kekuataan melainkan dengan pertolongan Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

MATERI SANLAT ONLINE PART 9

Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Al-quran

  

29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

30. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri[1259].

 (Q.S. Faathir:29-30).

 Dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

 Masih dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, tetapi dalam redaksi yang agak berbeda, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Dalam dua hadits di atas, terdapat dua amalan yang dapat membuat seorang muslim menjadi yang terbaik di antara saudara-saudaranya sesama muslim lainnya, yaitu belajar Al-Qur`an dan mengajarkan Al-Qur`an.  Tentu, baik belajar ataupun mengajar yang dapat membuat seseorang menjadi yang terbaik di sini, tidak bisa lepas dari keutamaan Al-Qur`an itu sendiri.  Al-Qur`an adalah kalam Allah, firman-firman-Nya yang diturunkan kepada Nabi-Nya melalui perantara Malaikat Jibril Alaihissalam. Al-Qur`an adalah sumber pertama dan acuan utama dalam ajaran Islam.  Karena keutamaan yang tinggi inilah, yang membuat Abu Abdirrahman As-Sulami –salah seorang yang meriwayatkan hadits ini– rela belajar dan mengajarkan Al-Qur`an sejak zaman Utsman bin Affan hingga masa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.

            Hadis ini menunjukkan akan keutamaan membaca Alquran. Suatu ketika Sufyan Tsauri ditanya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Alquran? Ia berkata, membaca Alquran, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain”. Imam Abu Abdurrahman As-Sulami tetap mengajarkan Alquran selama empat puluh tahun di mesjid agung Kufah disebabkan karena ia telah mendengar hadis ini. Setiap kali ia meriwayatkan hadis ini, selalu berkata: “Inilah yang mendudukkan aku di kursi ini”.

            Al Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: [Maksud dari sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain" adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

            DariAbdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Bacakan Alquran kepadaku. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku harus membacakan Alquran kepada baginda, sedangkan kepada bagidalah Alquran diturunkan? Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku senang bila mendengarkan dari orang selainku. Kemudian aku membaca surat An-Nisa'. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi: {Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (umatmu).} Aku angkat kepalaku atau secara mendadak ada seseorang berada di sampingku. Dan ketika aku angkat kepalaku, aku melihat beliau mencucurkan air mata. Sahih Muslim No: 1332

            Imam Nawawi berkata [Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari hadis ini, di antaranya: sunat hukumnya mendengarkan bacaan Alquran, merenungi, dan menangis ketika mendengarnya, dan sunat hukumnya seseorang meminta kepada orang lain untuk membaca Al Quran agar dia mendengarkannya, dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al Quran, dibandingkan dengan membaca sendiri].

            “Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

            “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

            “Sesunggunya Allah swt mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini dan merendahkan derajat golongan lainnya.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

            “Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim)

            “Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang: yaitu orang lelaki yang diberi Allah swt pengetahuan tentang Al-Qur’an dan diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki yang dianugerahi Allah swt harta, kemudian dia menafkahkannya sepanjang malam dan siang.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

            Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman: “Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku, sehingga tidak sempat meminta kepada-KU, maka Aku berikan kepadanya sebaik-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti, keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (Riwayat Tirmidzi)

            “Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” (Riwayat Tirmidzi)

            “Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’I)

            “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang mengamalkan ini.” (Riwayat Abu Dawud)

            Abdul Humaidi Al-Hamani, berkata: “Aku bertanya kepada Sufyan Ath-Thauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab: “Membaca Al-Qur’an. Karena Nabi saw bersabda. ‘Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

            Maksud dari belajar Al-Qur`an di sini, yaitu mempelajari cara membaca Al-Qur`an. Bukan mempelajari tafsir Al-Qur`an, asbabun nuzulnya, nasikh mansukhnya, balaghahnya, atau ilmu-ilmu lain dalam ulumul Qur`an. Meskipun ilmu-ilmu Al-Qur`an ini juga penting dipelajari, namun hadits ini menyebutkan bahwa mempelajari Al-Qur`an adalah lebih utama. Mempelajari Al-Qur`an adalah belajar membaca Al-Qur`an dengan disertai hukum tajwidnya, agar dapat membaca Al-Qur`an secara tartil dan benar seperti ketika Al-Qur`an diturunkan. Karena Allah dan Rasul-Nya sangat menyukai seorang muslim yang pandai membaca Al-Qur`an. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ . (متفق عليه)

“Orang yang pandai membaca Al-Qur`an, dia bersama para malaikat yang mulia dan patuh. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan berat melafalkannya, maka dia mendapat dua pahala.” (Muttafaq Alaih)

Dan dalam Al-Qur`an disebutkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membaca Al-Qur`an dengan tartil,

 “Dan bacalah Al-Qur`an dengan setartil-tartilnya.” (Al-Muzzammil: 4)

            Adapun maksud dari mengajarkan Al-Qur`an, yaitu mengajari orang lain cara membaca Al-Qur`an yang benar berdasarkan hukum tajwid. Sekiranya mengajarkan ilmu-ilmu lain secara umum atau menyampaikan sebagian ilmu yang dimiliki kepada orang lain adalah perbuatan mulia dan mendapatkan pahala dari Allah, tentu mengajarkan Al-Qur`an lebih utama. Bahkan ketika Sufyan Ats-Tsauri ditanya, mana yang lebih utama antara berjihad di jalan Allah dan mengajarkan Al-Qur`an, dia mengatakan bahwa mengajarkan Al-Qur`an lebih utama. Ats-Tsauri mendasarkan pendapatnya pada hadits ini.

Namun demikian, meskipun orang yang belajar Al-Qur`an adalah sebaik-baik orang muslim dan mengajarkan Al-Qur`an kepada orang lain juga sebaik-baik orang muslim, tentu akan lebih baik dan utama lagi jika orang tersebut menggabungkan keduanya. Maksudnya, orang tersebut belajar cara membaca Al-Qur`an sekaligus mengajarkan kepada orang lain apa yang telah dipelajarinya. Dan, dari hadits ini juga dapat dipahami, bahwa orang yang mengajar Al-Qur`an harus mengalami fase belajar terlebih dahulu. Dia harus sudah pernah belajar membaca Al-Qur`an sebelumnya. Sebab, orang yang belum pernah belajar membaca Al-Qur`an, tetapi dia berani mengajarkan Al-Qur`an kepada orang lain, maka apa yang diajarkannya akan banyak kesalahannya. Karena dia mengajarkan sesuatu yang tidak dia kuasai ilmunya

Alquran Al-Karim adalah pedoman hidup umat manusia, walaupun yang mengambil manfaat hanyalah orang-orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 2). Begitu banyak hikmah dari memperbanyak membaca Alquran.

Pertama, mendapatkan pahala yang sangat banyak, di mana satu huruf diberi balasan dengan sepuluh kebajikan, sebagaimana diriwayatkan oleh Iman At-Tirmidzi dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. Kita tahu bahwa seluruh Alquran, menurut sebuah literatur berjumlah 325.015 huruf, yang berarti satu kali khatam Alquran mendapatkan nilai pahala kebajikan kelipatan sepuluh, yakni 3.250.150.

Tentu untuk meraihnya, kita harus berusaha memperbanyak membaca Alquran. Baik sebulan sekali, dua bulan sekali, atau bahkan tiga bulan sekali. Bahkan banyak di antara ulama Alquran yang mampu mengkhatamkan Alquran setiap seminggu sekali.

Kedua, Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang selalu membaca Alquran, mempelajari isi kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab Alquran dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan Alquran).” (HR Bukhari).

Secara logika dapat kita pahami, mengapa orang-orang yang membaca dan mempelajari isi kandungan Alquran dan berusaha mengamalkannya diangkat derajatnya oleh Allah SWT? Orang-orang yang membaca Alquran berarti orang-orang yang selalu dekat dengan Allah, bahkan membaca Alquran merupakan bercakap-cakap dengan Allah SWT.

Ketiga, mendapatkan ketengan jiwa atau hati yang sangat luar biasa, di mana setiap ayat Alquran yang dibacanya akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi para pembacanya. Sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Isra [17] ayat 82, Alquran diturunkan Allah SWT untuk menjadi obat segala macam penyakit kejiwaan. Sehingga para pembaca Alquran, bahkan orang yang mendengarkan bacaannya mendapat pula ketenangan jiwa.

Keempat, mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat. Hal ini dijelaskan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim. “Bacalah Alquran oleh kamu sekalian, karena bacaan Alquran yang dibaca ketika hidup di dunia ini, akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari Kiamat nanti.”

Maka perbanyaklah membaca Alquran ketika nafas masih menyertai kita dan denyut jantung masih bergerak, karena bacaan Alquran akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari Kiamat nanti, dikala manusia banyak yang sengsara dan menderita.

Kelima, akan terbebas dari aduan Rasulullah SAW pada hari Kiamat nanti, di mana ada beberapa manusia yang diadukan Rasulullah SAW pada hari Kiamat dihadapan Allah SWT.

Jadi, perbanyaklah membaca Alquran, luang waktu sisa-sisa kehidupan yang Allah berikan untuk memperdalam ajarannya. Jangan disia-siakan, karena Alquran akan mengantarkan kemudahan kita ketika menghadap Allah SWT (sakaratul maut).

MATERI SANLAT ONLINE PART 8

Shaum-shaum Sunnat

1.    Puasa ‘Arafah

Rasulullah bersabda “Aku memohon kepada Allah agar puasa hari ‘Arafah menutupi kesalahan setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”. (HR. Muslim)

2.      Puasa ‘Asyuro dan Tasu’a

Yaitu puasa hari ke sembilan dan kesepuluh bulan Muharram.

Rasulullah bersabda “Saya memohon kepada Allah SWT agar puasa ‘Asyuro menutupi kesalahan tahun lalu dan tahun yang akan datang”. (HR. Muslim)

3.      Shaum Enam Hari Pada Bulan Syawal

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan syawal maka seolah-olah dia berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim)

4.      Shaum Tiga Hari Bidh (Putih)

“Apabila kamu berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka puasalah pada hari ke tiga belas, empat belas dan lima belas”. (HR. Turmudzi)

Penanggalan disini tentu menurut penanggalan Qomariyah (Hijriyah), sebab pada hari-hari tersebut bulan lebih jelas dan lebih terang.

5.      Shaum Hari Senin dan Kamis

“Amal disetorkan pada hari Senin dan Kamis, oleh karena itu aku ingin ketika disetorkan amal-amalku aku dalam keadaan berpuasa” (HR. Muslim)

6.      Shaum Sehari dan Buka Sehari

“Berpuasalah sehari dan berbuka sehari, itulah puasa Daud Alaihis Salaam dan merupakan puasa yang paling afdhol”. (HR. Bukhari)

 

Shaum adalah ibadah yang melatih seseorang agar mampu ikhlas dan meninggalkan sifat riya’, sebab tidak ada yang mengetahui orang yang berpuasa sunnat selain Allah. Dialah yang akan memberi pahala terhadap orang-orang yang berpuasa dengan balasan yang pantas.

MATERI SANLAT ONLINE PART 7

 KAIFIYAT SHAUM RAMADHAN

Fiqih Shaum

·         Pengertian puasa dalam Islam, puasa ialah suatu bentuk ‘ibadah dengan menahan diri dari makan, minum, jima’ dan hal-hal lain yang searti dengan itu, dari sejak fajar sampai maghrib, dengan niat mencari ridha Allah SWT.

·         Macam-macam berpuasa :

a.       Puasa wajib, yaitu :

a.       Puasa bulan Ramadhan (al-Baqarah:185)

b.      Puasa Qadha (mengganti puasa Ramadhan) (Al-Baqarah:184)

c.       Puasa nadzar (janji untuk berpuasa)

d.      Puasa kifarat (denda karena suatu pelanggaran)

b.      Puasa haram, yaitu :

a.       Puasa pada hari-hari yang diharamkan berpuasa, yaitu pada dua hari raya Idul Fithri, Idul Adha, dan hari Tasyriq yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Haji.

b.      Puasa terus menerus

c.       Puasa wanita yang sedang haidh atau nifas

d.      Puasa yang pasti mengakibatkan bahaya bagii yang melaksanakannya (al Baqarah 195)

e.      Puasa wanita (puasa sunnat) yang berada bersama suaminya, dengan tanpa izin suaminya

c.       Puasa makruh, kecuali untuk melaksanakan puasa wajib, yaitu :

a.       Puasa hanya Jum’at saja atau Sabtu saja

b.      Puasa orang yang dalam perjalanan atau sakit dengan susah payah (istihsan)

·         Orang-orang yang diwajibkan puasa Ramadhan:

a.       Beragama Islam

b.      Sehat ‘akal dan sehat badan

c.       Baligh/dewasa

d.      Tidak haidh dan tidak nifas

e.      Tidak dalam perjalanan

f.        Kuat menjalankan puasa

Bagi mereka yang tidak memenuhi syarat di atas, diatur sebagai berikut :

  1. Tidak wajib sama sekali, dan tidak wajib menggantinya. Yaitu bagi yang belum Islam, belum dewasa, dan orang gila
  2. Haram puasa tapi wajib menggantinya (dengan puasa lagi). Yaitu bagi wanita yang sedang haidh atau nifas
  3. Boleh berbuka dan wajib menggantinya pada hari-hari lain. Yaitu bagi orang yang sakit atau dalam perjalanan (al-Baqarah:184)
  4. Boleh berbuka, tapi wajib bayar fidyah berupa memberi makan fakir miskin tiap satu hari satu orang, dengan kualitas makan yang biasa dimakan selama satu hari. Yaitu bagi mereka yang tidak kuat sama sekali berpuasa, seperti karena terlalu lanjut usia: al Baqarah 184
  5. Boleh berbuka dengan kewajiban mengqadha atau fidyah. Yaitu bagi wanita yang sedang hamil atau menyusukan anak: al Baqarah 184

·         Perbuatan-perbuatan yang menyempurnakan ‘ibadah puasa Ramadhan

a.       Melaksanakan makan sahur

“Bersahurlah kamu karena makan sahur itu ada berkahnya” (HR. Bukhari Muslim).

Makan sahur yang paling baik ialah yang hampir mendekati waktu shubuh

b.      Mempercepat berbuka apabila telah tiba waktunya

“Manusia senaniasa dalam kebajikan, selama mereka cepat-cepat berbuka puasa”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berbuka yang lebih baik ialah berbuka dengan makan buah-buahan manis. Pada waktu berbuka dianjurkan untuk membaca doa.

c.       Memperbanyak membaca al-Qur’an

“Orang-orang yang berkumpul di masjid dan membaca al-Qur’an (dan mempelajari), maka kepada mereka akan diturunkan Tuhan ketenangan bathin, dilimpahi dengan rahmat.” (HR. Muslim)

d.      Memperbanyak shadaqah

Shadaqah yang paling utama ialah shadaqah pada bulan Ramadhan. Nabi termasuk orang yang banyak memberi dan menolong, lebih-lebih pada bulan Ramadhan.”

e.      Shalatullail/tahajjud/tarawikh

Bisa dilakukan dengan berjama’ah atau sendiri-sendiri, boleh di masjid dan boleh di rumah atau di tempat-tempat lain.

Waktunya sesudah shalat ‘Isa sebelum waktu shubuh. Semua bacaan-bacaannya sama dengan shalat fardhu.

“Barang siapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan, dengan iman kepada Allah dan mengharapkan pahalanya, maka akan diampuni dosanya” (HR. Muslim)

f.        I’tikaf

Yaitu berdiam di masjid, dengan melakukan ‘ibadah terutama pada malam 20 sampai akhir Ramadhan.

“Rasulullah saw selalu mengerjakan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir Ramadhan, sampai saat beliau wafat” (HR. Bukhari, Muslim)

Pelaksanaannya ialah pertama-tama masuk msjid dengan shalat tahiyyatul masjid, kemudian melaksanakan ‘ibadah di dalamnya.

g.       Meningkatkan ‘ibadah terutama pada malam 20 Ramadhan ke atas.

“Apabila sudah masuk sepuluh malam yang terakhir Ramadhan, maka Rasulullah sangat bersungguh-sungguh ‘ibadah dan sepanjang malam beliau beramal serta membangunkan keluarga” (HR. Bukhari dan Muslim)

h.      Banyak menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan yang mengurangi nilai dan hikmat puasa.

“Banyak di antara yang berpuasa, tapi hasilnya hanya lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Huzaimah)

·         Hikmah puasa

a.       Manifestasi dari pernyataan iman

b.      Menguasai nafsu

c.       Latihan disiplin

d.      Latihan ketabahan dan kesabaran

e.      Perisai dari godaan-godaan hidup

f.        Menanamkan perasaan kekeluargaan dan persaudaraan

g.       Menanamkan perasaan kasih sayang kepada fakir miskin

h.      Kesehatan, dll

·         Lain-lain

a.       Qadha Puasa

Untuk mengganti puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan, dapat dilaksanakan dengan berturut-turut atau terpisah-pisah. Bagi mereka yang sampai Ramadhan berikutnya masih mempunyai kewajiban qadha puasa, maka kewajiban tersebut masih dibebankan pada hari/bulan berikutnya.

b.      Lailatul Qadar

Artinya malam kekuasaan atau malam kemuliaan, yaitu satu malam yang terjadi pada bulan Ramadhan dengan mempunyai keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut :

a.       Malam diturunkan al-Qur’an

b.      Nilai malam itu lebih tinggi daripada seribu bulan.

c.       Atas izin Allah, pada malam itu Malaikat bertebaran di pelosok bumi.

d.      Malam itu penuh dengan keselamatan dan kesejahteraan (QS. Al-Qadar)

Fadhail Shaum

Rasulullah saw. bersabda : Allah telah berfirman: Semua amal kelakuan anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali puasa, maka itu melulu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dan puasa itu sebagai perisai, maka jika seorang sedang puasa, janganlah berkata keji atau ribut-ribut, dan kalau seorang mencaci maki padanya, atau mengajak berkelahi maka hendaknya dikatakan padanya : Aku berpuasa. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang puasa bagi Allah lebih harum dari bau misik (kasturi). Dan untuk orang puasa dua masa gembira, yaitu ketika akan berbuka puasa dan ketika ia menghadap kepada Tuhan akan gembira benar, menerima pahala puasa. (Bukhari, Muslim)

Rasulullah saw. bersabda : Tiada seorang yang berpuasa sehari saja karena Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka jarak tujuh puluh tahun. (Bukhari, Muslim)

Rasulullah saw. bersabda : Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu sorga dan ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu (dirantai) semua syaithan. (Bukhari, Muslim)

MATERI SANLAT ONLINE PART 6

 KAIFIYAT SHOLAT

1.     Pengertian dan Hukum Shalat

Shalat menurut bahasa berarti do’a, sedang menurut  istilah adalah suatu rangkaian ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan tata cara dan syarat-syarat tertentu. 

Shalat hukumnya wajib’ain bagi setiap muslim yang telah berusia akil baligh

Dasar Hukum: Q.s. Al-Ankabut ayat 45                                                                 

Artinya : Dan tunaikanlah shalat, sesungguhnya sholat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar ( Q.s. Al-Ankabut: 45 )

 2.  Ketentuan Shalat Fardhu

a)                     Syarat Wajib, adalah hal-hal menjadikan seseorang diwajibkan mengerjakan shalat. Adapun syarat wajib shalat fardhu terdiri dari :

1.     Beragama Islam

2.     Baligh/Mumayyiz (dewasa)

3.     Berakal sehat

4.     Suci dari haid dan nifas (bagi wanita)

 b)                     Syarat Syah, adalah hal-hal yang harus dipenuhi seseorang sebelum mengerjakan shalat agar shalatnya menjadi sah.

Adapun syarat syahnya shalat terdiri dari :

1.     Suci dari hadast kecil maupun besar

2.     Suci badan, pakaian maupun tempat dari najis

3.     Menutup aurat

4.     Telah masuk waktu shalat

5.     Menghadap ke arah kiblat

6.     Mengetahui kaifiat (tata cara) shalat

c)                      Rukun shalat  adalah segala sesuatu yang harus dipenuhi dalam shalat , jika ada yang ditinggalkan maka shalatnya tidak sah. Rukun shalat terdiri dari;

1.     niat, menyengaja dalam hati untuk melakukan shalat

2.     berdiri bagi yang mampu (apabila tidak mampu boleh duduk)

3.     takbiratul ihram, yaitu dengan membaca “Allahu akbar”

4.     membaca surat al-fatihah

5.     rukuk dengan tumakninah

6.     i'tidal dengan tumakninah

7.     sujud dengan tumakninah

8.     duduk diantara dua sujud dengan tumakninah

9.     duduk akhir (duduk pada rakaat terakhir sebelum salam)

10. membaca tasyahud akhir

11. membaca sholawat atas Nabi Muhammad saw

12. mengucapkan salam yang pertama

13. tertib, artinya teratur dan berurutan

 d)                     Sunnah shalat  adalah sesuatu yang lebih utama dilakukan, tetapi jika ditinggalkan maka tidak sampai menjadikan shalat itu batal. Adapun sunnah shalat terdiri dari :

1.     mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu ketika takbiratul ihram, rukuk, i'tidal dan berdiri dari tasyahud awal.

2.     bersedekap ketika sedang berdiri

3.     melihat ke tempat sujud

4.     membaca do’a iftitah selesai takbiratul ihram

5.     membaca ta’awudz sebelum membaca suratul-fatihah

6.     membaca amin setelah membaca suratul-fatihah

7.     membaca surat-surat pendek setelah selesai membaca suratul-fatihah

8.     membaca suratul-fatihah dan surat-surat pendek  dengan suara keras pada rakaat pertama, kedua dan pada shalat jum’at serta shalat hari raya (khusus bagi imam) 

9.     membaca takbir setiap pindah gerakan shalat

10. membaca do’a pada waktu i'tidal

11. membaca tasbih pada waktu rukuk dan sujud

12. meletakkan kedua tangan diatas paha pada waktu duduk

13. duduk iftirosy pada waktu tasyahud awal

14. duduk tawarruk pada waktu tasyahud akhir

15. menegakkan jari telunjuk tangan kanan ketika membaca tasyahud

 e)                     Hal-hal yang membatalkan shalat, Shalat seseorang menjadi batal, jika ia melakukan hal-hal sebagai berikut:

1.     meninggalkan salah satu syarat shalat

2.     berbicara dengan sengaja

3.     bergerak lebih dari 3 kali berturut-turut selain gerakan shalat

4.     terjadinya hadast besar maupun hadast kecil

5.     terkena najis

6.     terbukanya aurat

7.     membelakangi atau menggeser dari kiblat

8.     makan minum

9.     tertawa terbahak-bahak

10. berubah niat

 3.  Dzikir dan do’a sesudah shalat

Dzikir artinya mengingat Allah. Agar dzikir kiat mempunyai makna yang dalam, maka haruslah memenuhi adab berdzikir, yaitu :

1.          disunnahkan dengan suara yang lirih ( pelan )

2.          suci dari hadast dan najis

3.          disunnahkan memakai harum-haruman

4.          disunnahkan menghadap kiblat

 Adapun lafadz dzikir yang kita ucapkan setelah kita selesai mengerjakan shalat adalah ;

1.          membaca istighfar tiga kali

استغقر الله العظيم الذي لااله الا هو الحى القيوم واتوب الية

2.          membaca kalimat tahlil sebanyak tiga kali

 لااله الاالله وحده لاشريك له , له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو على كل شىء قدير

dilanjutkan dengan membaca do’a sebagai berikut ;

 اللهم انت السلام ومنك السلام تباركت ياذالجلال والا كرام

 3.          membaca tasbih, tahmid dan tahlil masing-masing sebanyak tiga kali

a)                        lafadz tasbih          :           (٣٣)      سبحان الله

b)                        lafadz tahmid        :           (٣٣)        الحمد لله

c)                        lafadz takbir           :           (٣٣)الله اكبر    

 

dilanjutkan dengan membaca lafadz berikut ini

 الله اكبركبيراوالحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لااله الا الله وحده لاشر يك له , له الملك و له الحمد يحيى ويميت وهو على كل شيء قدير

 Setelah selesai membaca lafadz-lafadz dzikir tersebut diatas selanjutnya membaca do’a, dengan memperhatikan adab berdo’a berikut ini :

1.     berdo’a dilakukan dengan mengangkat kedua tangan setinggi bahu dan menghadap kiblat

2.     mengucapkan shalawat atas nabi Muhammad SAW

3.     bacaan do’a diucapkan dengan suara antara terdengar dan tidak, kecuali imam membaca do’a dengan suara keras

4.     berdo’a dilakukan dalam keadaan suci dari hadast, khusyu’ dan penuh harapan serta keyakinan atas do’a yang dipanjatkan

5.     selesai berdo’a sebaiknya kita mengusapkan kedua tangan ke muka.

 Adapun struktur atau kerangka do’a itu ada tiga bagian :

a)    pendahuluan, yaitu membaca basmalah dan hamdalah

b)    materi do’a, boleh menggunakan bahasa Arab atau bahasa apa saja yang dimengerti

c)     pada waktu kita menutup do’a, hendaklah mengucapkan hamdalah dan shalawat atas nadi SAW

 4.   Dalil Naqli tentang shalat

Artinya :  “ Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman “(Q.s. An-Nisa’:103)

 Artinya :  “ (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian riski yang Kami anugerahkan kepada mereka “ (QS Al Baqarah 3)

 Di dalam QS Al Ankabut ayat 45 Allah SWT juga berfirman tentang perintah shalat ini :

 Artinya : “ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab ( Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaan-nya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan “ (Q.s. Al-Ankabut: 45)

             Kalau kita memperhatikan beberapa ayat tersebut di atas, maka sebenarnya shalat itu merupakan suatu keniscayaan yang mesti dilakukan oleh seorang hamba Allah, sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Sang Maha Pencipta, lagipula manfaat shalat itu akan kembali kepada kita yang mengerjakanya, yaitu sebagaimana dalam QS Al Ankabut ayat 45 bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Disamping itu gerakan-gerakan shalat ternyata mengandung makna gerak badan atau olehraga yang sangat bermakna bagi manusia.

 5.    Fungsi Shalat dalam kehidupan

1.     mendidik kita untuk berdisiplin

2.     shalat membawa kita kepada tercapainya kebahagiaan di dunia dan di akhirat

3.     shalat membawa kepada ketenangan jiwa

4.     mempererat tali silaturrahmi

5.     merupakan syiar Islam

6.     shalat mengandung ajaran persamaan derajat, dan sebagainya