Saturday, December 24, 2011

Human Being Types


Setiap individu dari kita semua tentunya mempunyai jejak hidup yang senantiasa berbeda satu dengan yang lainnya.  Secara kodrat hal ini memang telah digariskan oleh Tuhan penguasa alam semesta ini. Tatkala kita ada atau sudah tiada akan diingat oleh orang-orang yang mengenali disekitar kita.
Seiring berjalannya kehidupan, bertumbuhnya diri kita dan semakin bertambahnya ilmu yang kita miliki, kini setidaknya kita tahu diri kita yang sebenarnya, walaupun belum sepenuhnya atau seluruhnya kita mengetahuinya. Sudahkah kita mengetahui diri kita yang sesungguhnya? Ada dua jenis manusia. Pertama, yang membuat kisah pribadinya, dan kedua, yang membuat sejarah. Tujuan mereka yang membuat kisah pribadi adalah untuk kepuasan dirinya sendiri, sedangkan manusia yang membuat sejarah berusaha untuk melayani seluruh manusia. Perhatian seorang yang membuat kisah pribadi berputar pada diri sendiri. Dia melayang-layang di sekitar wilayah di mana kepentingan dirinya dapat tercukupi. Hatinya penuh dengan kebahagiaan jika dia berhasil meraih sesuatu bagi dirinya, tetapi bila tidak ada sesuatu yang dapat diraihnya, maka tak ada kebahagiaan dalam dirinya.
Sedangkan orang yang membuat sejarah adalah sosok yang berbeda. la keluar dari kerangka dirinya. Hidup bukan untuk diri sendiri tapi untuk satu tujuan yang lebih tinggi. Yang menjadi perhatian adalah masalah prinsip, bukan keuntungan. la tidak peduli apakah dirinya akan meraih kemenangan atau menderita kerugian, yang penting adalah idealismenya harus tersalurkan. Seolah-olah ia telah melepaskan diri dari pribadinya sendiri dan menancapkan benderanya pada berbagai kepentingan kemanusiaan.
Lalu bagaimana agar dapat menjadi orang yang membuat sejarah? Ada satu hal yang harus dilakukan. Pertama, berhenti menjadi sosokyang membuat kisah pribadi. Begitu seorang menghapuskan kepentingan pribadinya, maka dia akan mampu membangun masa depan kemanusiaan. Sosok seperti ini meletakkan keluhan-keluhannya hanya ke satu sisi. Figur seperti ini yang akan diperhitungkan dalam sejarah manusia. Mereka adalah orang-orang yang, atas keinginannya sendiri, konsen terhadap kepentingan kemanusiaan, mereka tidak mengambil hak untuk mendapatkan perlindungan, mereka hanya memiliki tanggung jawab, yang mereka lakukan dengan resiko apa pun bagi dirinya.

Thursday, December 22, 2011

FILSAFAT MANUSIA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Segala sesuatu yang diciptakan Allah bukanlah dengan percuma saja, tetapi dengan maksud-maksud tertentu yang dinginkan Allah. Demikianlah di antar seluruh makhluk ciptaan Allah, terdapat makhluk pilihanNya yaitu makhluk manusia. Dan diantara makhluk pilihan itu, maka para Nabi dan Rasul memperoleh tempat tertinggi sebagai manusia pilihan Allah.
Siapakah manusia itu dan bagaimanakah kedudulannya dalam realitas atau jagad raya ini. Demikianlah pertanyaanyang meliputi seluruh pikiran para filsuf, termasuk filsuf Max Scheler. Pertanyaan itu adalah pertanyaan abadi karena pada dasarnya terkandung dalam hati setiap insane sepanjang masa. Bagaimakah sebenarnya tempat manusia itu di dalam jagad raya ini, dalam keseluruhan yang ada ini, dalam keseluruhan dunia ini terhadap Tuhannya.
Selanjutnya manusia itu karena unsur kejasmaniannya ia bersifat potensial, ia merupakan bakat. Manusia itu supaya menjadi manusia betul-betul haruslah memanusiakan dirinya. Dan itu harus dijalankan dengan dan dalam mengalami kesatuannya dengan alam jasmani. Dalam kenyataannya kita melihat dan mengalami sendiri bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa hubungannya dengan alam jasmani. Dalam rangka pikiran ini, kita dapat juga berkata, bahwa manusia itu pribadi, akan tetapi harus mempribadikan diri dan bahwa ia hanya dapat mempribadikan diri, dengan menjalankan kesatuannya dengan alam jasmani, untuk mempribadikan diri kita itu disebut ‘membudaya’. Selanjutnya dunia jasmani dalam membudaya itu kita angkat dan kita jadikan satu dengan diri kita sendiri itu kita sebutkan ‘kebudayaan’. Hanya dalam dan dengan membudayakan alam jasmani, manusia bisa membudayakan dirinya sendiri. Dan di dalam kesibukan manusia yang kita sebut membudayakan itu termuatlah unsure-unsur seperti: teknik, ekonomi, peradapan, bahasa, sosial, kesenian, sejarah dan filsafat.

B. Rumusan Masalah
1)            Bagaimanakah pengertian dan ruang lingkup filsafat manusia?
2)            Apa manfaat mempelajari filsafat manusia?
3)            Bagaimanakah hakikat pribadi manusia itu?
4)            Bagaimanakah Eksistensi manusia itu?

C. Tujuan Pembuatan Makalah
1)      Untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat sebagai nilai UTS
2)      Agar dapat memahami pengertian dan ruang lingkup filsafat
3)      Dan agar dapat memahami hakikat pribadi manusia
4)      Serta agar dapat memahami eksistensi manusia itu seperti apa

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT MANUSIA
Filsafat manusia atau antropologi filsafati adalah bagian integral dari system filsafat, yang secar spsesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Sebagai bagian dari system filsafat, secara metodis ia mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistimologi, filsafat sosial, dan estetika. Tetapi secara ontologism (berdasarkan pada objek kajiannya), ia mempunyai kedudukan yang relative lebih penting, karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian filsafat manusia.
Dibandingkan dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat manusia mempunyai kedudukan yang kurang lebih “sejajar” juga, terutama kalau dilihat dari objek materialnya. Objek material filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya antropologi dan psikologi) adalah gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia. Ini berarti bahwa gejala atau ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian untuk filsafat manusia maupun untuk ilmu-ilmu tentang manusia.
Akan tetapi, ditinjau dari objek formal atau metodenya, kedua jenis “ilmu” tersebut memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Secara umumdapat dikatakan, bahwa setiap cabang ilmu-ilmu tentang manusia mendasarkan penyelidikannya pada gejala empiris, yang bersifat “objektif’ dan bisa diukur dan gejala itu kemudian diselidiki dengan menggunakan metode yang bersifat observasional dan/atau eksperimental. Sebaliknya, filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala empris. Bentuk atau jenis gejala apapun pada manusia, sejauh bisa dipikirkan, dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisa menjadi bahan kajian filsfat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spiritual, dan universal dari manusia, yang tidak bisa diobservasi dan diukur melalui metode-metode keilmuan, bisa mnejdai bahan kajian terpenting bagi filsafat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai tersebut merupakan sesuatu yang hendak dipikirkan, dipahami, dan diungkap maknanya oleh filsafat manusia.

B. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT MANUSIA
Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif. Dan memiliki cirri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Kalau betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa ke dalam suatu panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam, dan kritis, yang menggambarkan esensi manusia. Panorama pengetahuan seperti itu paling tidak, mempunyai manfaat ganda, yakni manfaat praktis dan teoretis.
Secara paktis filsafat manusia bukan saja berguna untuk mengetahui apa dan siapa manusia secara menyeluruh, melainkan juga untuk mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusia yang menyeluruh itu. Pemahaman yang pada gilirannya akan memudahkan kita dalam mengambil keputusan-keputusan praktis atau dalam menjalankan berbagai aktivitas hidup sehari-hari, dalam mengambil makna dan arti dari setiap peristiwa yang setiap saat kita jalani, dalam menentukan arah dan tujuan hidup kita, yang selalu saja tidak gampang untuk kita tentukan secara pasti, dan seterusnya. Sedangkan, secara teoretis filsafat manusia mampu memberikan kepada kita pemahaman yang esensial tentang manusia, hingga pada gilirannya kita bisa meninjau secar kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik teori-teori yang terdapat di dalam ilmu-ilmu filsafat.
Manfaat lainnya mempelajari filsafat manusia adalah mencari dn menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu. Akan tetapi, seperti telah disinggung di muka, filsafat manusia tidak menawarkan jawaban yang tuntas (final) dan seraragam tentang manusia. Kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak filsuf memiliki pendapat yang berbeda tentang apa atau siapa sebetulnya manusia. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara berbeda dan menjwab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara berbeda pula. Oleh sebab itulah, setelah kita mempelajari filsafat manusia, maka paling tidak kita akan dapatkan sebuah pelajaran berharga tentang kompleksitas manusia, yang tidak pernah habis-habisnya dipertanyakan apa makna dan hakikatnya.

C. HAKIKAT PRIBADI MANUSIA
Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, berdiri pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonic jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat.
  1. Sebagai makhluk yang Otonom.
Manusia lahir dalam keadaan serba misterius. Artinya, sangat sulit untuk diketahui mengapa. Bagaimana, dan untuk apa kelahirannya itu. Yang pasti diketahuinya adalah manusia dilahirkan oleh sebutlah Tuhan melalui manusia lain (orang tua), sadar akan hidup dan kehidupannya, dan sadar pula akan tujuan hidupnya (kembali pada Tuhan).
Antara ketergantungan (dependansi) dan otonomi (indepedensi) adalah dua unsure potensi kontadiktif yang ada di dalam kesatuan dinamis, keberadaannya yang demikian ini justru memberikan makna jelas kepada dirii pribadi manusia sebagai makhluk Sang Pencipta. Analogikanlah dengan sebuah rumah batu yang kuat, kekuatannya itu adalah warisan kodrat dari batu sebagai benda yang memang kuat.

  1. Sebagai Makhluk yang Berjiwa Raga
Unsur jiwa dan raga manusia itu bukan hal yang berdiri sendiri. Keduanya berada di dalam satu struktur yang menyatu menjadi “diri-pribadi”. Sehingga diri pribadi manusia adalah “jiwa yang meraga” dan “raga yang menjiwa”. Artinya, jiwa menyatu dengan raganya, dan raga menjadi satu dengan jiwanya. Kejiwaan seseorang seharusnya terlihat dari tingkah laku badannya dan badan seseorang itu seharusnya mencerminkan jiwanya.
“Jiwa yang meraga”. Jiwa yang menjadi satu dengan raga, yaitu jiwa yang mewujud dalam bentuk raga. Jiwa adalah suatu yang maujud, tidak berbentuk dan tidak berbobot. Ia dapat dipahami dari kecenderungan-kecenderungan badan. Lihatlah, jika jiwa seseorang dalam keadaan menderita, maka badannya lemah, mukanya muram dan gelap. Tetapi, jika bahagia, maka badannya ringan, enerjik dan muka berseri-seri. Adapun dalam jiwa, ada unsur-unsur yang sering kita kenal sebagai “Tripotensi Kejiwaan” yaitu cipta, rasa dan karsa.
“Raga yang menjiwa”. Raga yang menjadi satu dengan jiwa adalah suatu kecenderungan fenomena badan yang menjadi bersifat kejiwaan. Raga adalah sesuatu yang maujud, berbentuk dan berbobot (berukuran).
Diri pribadi manusia yang berbentuk atas jiwa yang meraga dan raga yang menjiwa ini sebenarnya dapat terjadi karena suatu sebab, yaitu dominasi jiwa atas badannya. Jiwa manusia itu tidak sama dengan jiwa hewan. Jiwa manusia adalah berkesadaran. Sadar aka nasal-mula dan tujuannya. Kesadarn jiwa ini selanjtnya membentuk perbedaan badan manusia, dengan segal gerak-geriknya, dengan badan-badan hewan.
Menurut posisinya, jiwa manusia itu bertabiat di dalam badan. Artinya jiwa mempunyai kekuasaan atas badan. Jiwa yang sehat, pasti akan membuat badan menjadi sehat, tetapi badan yang sehat belum tentu bisa membuat bisa membuat jiwa munjadi sehat.

  1. Sebagai Makhluk Individu yang Memasyarakat.
Seperti hubungan antara “jiwa dan raga”, kedudukannya sebagai individu dan anggota masyarakat juga berada didalam suatu struktur kesatuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia adalah makhluk individu yang memasyarakat dan sekaligus makhluk social yang mengindividu.Mentalitas seseorang dapat menjadi sumber yang berpengaruh kuat terhadap perkembangan mentalitas masyarakatnya dan masyarakat sendiri dapat memberikan kontrol terhadap dinamika mentalitas seseorang.

  1. Individu yang memasyarakat
Dalam kenyataannya yang kongkretnya, kelahiran manusia adalah satu persatu, orang seorang, karena itu, ia lahir secara individual sebagai suatu diri pribadi yang berbeda dan terpisah dengan yang lain diantara sesamanya, termasuk ibu (orang tua) yang melahirkannya.
Akan tetapi, manusia lahir dengan segala keadaan yang serba lemah keberadaan dan hidupnya hanya bisa bergantung pada pihak lain, ibunya, bapaknya, saudara-saudaranya, tetangganya dan jika sudah mulai dewasa semakin terlihat dengan orang lain seluas-luasnya. Ini adalah realitas tidak bisa dihindari sama sekali. Memang harus begitu, karena memang sudah merupakan, hukum alam.
Tetapi sebagai individu yang berdiri pribadi, ia memiliki otonomi dan kebebasan (jiwa yang bebas). Ia mempunyai hak untuk berbuat atau tidak berbuat.

  1. Masyarakat yang mengindividu.
Kalimat ini mengandung arti bahwa masyarakat menciptakan individu-individunya dalam berbagai hal, seperti sifat mentalitas, karakteristik dan sikap pribadi. Lihatlah pada tingkat yang paling inti orang tua pada umumnya ingin anak-anaknya berkembang sesuai dengan imajinasinya.
Orang tua cendrung mendidik anak-anaknya dengan mendikte-kan apa saja, karena ia merasa memiliki mereka. Orang tua membentuk sifat-sifat dan sikap moral anak-anaknya dengan kurang memperhatikan potensi kodrat mereka masing-masing.
Oleh sebab itu, ideal jika masyarakat adalah taraf perkembangan individu dalam menyelenggarakan hidup dan mengembangkan kehidupannya jadi yang real adalah individu, bukan masyarakat; yang berkuasa adalah individu, bukan masyarakat; yang berdiri sebagai subjek adalah individu, bukan masyarakat; dan masyarakat adalah suatu kesadaran tertentu, demi keteraturan kehidupan bersama sedemikian rupa sehingga setiap individu mendapatkan kesempatan untuk memerankan dirinya sebagai manusia yang otonom dan bebas. Masyarakat itu sebenarnya hanya ada didalam angan-angan setiap orang (kesadaran), dan yang ada didalam kenyataan konkret adalah individu-individu dengan segala macam tingkah lakunya. Maka jenis, bentuk, dan sifat tingkah laku seseorang itu menunjukkan “suatu sosialitas”.

D. Eksistensi Manusia
Manusia dalam eksistensinya yang konkrit atau caranya berada, maka nampaklah bahwa dia bukan lah “monade “ atau barang yang terpisah, tanpa hubungan dengan apapun juga. Seperti yang pernah diajarkan oleh Filsuf G.W. Leibnitz. Kita tidak mengerti siapakah manusia itu, kecuali sebagai serba terhubung dengan segala sesuatu. Kita tidak bisa berbicara tentang manusia, kecuali dengan mengakui kesatuannya dengan segala sesuatu. Masing-masing dari kita tidak bisa memiliki keterangan dan pengertian yang lebih jelas tentang diri kita sendiri, tetapi dengan menunjuk hubungannya dengan alam semesta.
Dalam hubungan penguraian ini, yang terdahulu dikemukakan adalah hubungan manusia dengan alam jasmani. Hal ini tidaklah berarti bahwa hubungan itu terlebih dahulu dari pada hubungan kita dengan sesama manusia. Demikianlah manusia itu mengerti, mengalami dan merasakan alam jasmani. Dengan demikian ia memasuki alam jasmani. Dan hanya dengan demikian itu ia menjadi sadar akan dirinya sendiri.
Jadi dengan hanya “ke luar” dari dirinya sendiri ia memasuki dirinya sendiri. Mahusia itu adalah sesuatu yang dengan mengasing dirinya sendiri, dari dirinya sendiri, menemukan dirinya sendiri, dalam dirinya sendiri.
Dengan meminjam filsafat modern dewasa ini dari tokoh Eksistensialisme Gabriel Marcel, maka caranya manusia berada itu kita sebut: ‘etre-au-monde’ (ada di dunia), ‘etre in-carne’ (ada yang mendaging), ‘geist-in-welt’ (ruh di dunia), atau dengan meminjam istilah Fredich Hegel orang bisa juga berkata bahwa manusia itu ‘berdialektik’.
Eksistensialisme ialah suatu aliran fil asat di abad XX ini berseru kepada aliran Materialisme, bahwa manusia itu bukanlah hanya obyek belaka dan seterusnya berseru kepada aliran Idealisme, bahwa manusia itu bukanlah hanya kesadaran belaka.
Manusia itu adalah eksistensi . Apakah artinya itu?
Untuk mengerti hal ini, pandanglah manusia didunia ini . ia mengakui dirinya dan menyebut dirinya “aku”. Hal ini Nampak dalam semua perbuatan manusia sebab tiap perbuatan manusia disebut perbuatanku. Selanjutnya manusia itu menentukan situasinya, memilih perbuatannya, mengadakan aksi-reaksi. Ia berjuang dan melawan, ia menyelenggarakan hidupnya. Dengan kata lain ia adalah ia sendiri, ia mengalami diri sendiri sebagai pribadi. Disamping itu manusia tidak hanya sibuk dengan diri sendiri, tetapi ia juga sibuk dengan dunia luar, ia mengerjakan dunia luar dan dengan berbuat itu ia mempergunakan barang-barang, ia seolah mencurahkan dirinya kedunia luar. Justru dengan demikian ia bisa berkata: aku sedang ini atau itu (misalnya mencangkul sawah). Dengan keluar dari dirinya sendiri itu, manusia sampai kedirinya sendiri, menemukan dirinya sendiri berarti mengakui, mengalami adanya,berdirinya. Itulah yang oleh kaum ‘Eksistensialis’ disebut ‘eksistensi’. Eks berarti keluar, sistensia berarti berdiri. Jadi eksistensi berarti : berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran seperti ini dalam kalangan bangsa Jerman diterangkan dengan istilah : Dasein. Filsuf Heidegger berkata: “Das Wesen des Daseins Lieght in seiner Esistenz’, yang artinya : De sein tersusun dari Dad an sein.
Dan berarti disana. Sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti: da atau disana, disuatu tempat. Tak mungkin ada manusia tampa bertempat. Bertempat berarti terlihat dan bersatu dalam alam jasmani. Manusia itu sadar akan tempatnya, sadar akan dirinya, yang berbeda dengan bertempat dari batu atau pepohonan. Jadi dengan meng-eks atau keluar dan hanya dengan demikian manusia sampai kepada kesadaran diri sendiri, berdiri sebagai AKU atau pribadi. Nampaklah persamaan antara Desein dan Eksistensi, Eksistensi lebih menunjuk pangkalannya, sedangkan Dasein lebih memperhatikan kehadirannya.
Dalam hubungan kesaran manusia tentang eksistensinya, terdapat3 (tiga) buah jenis eksistensi manusia yaitu :
1)      Eksistensi Kultural adalah kesadaran manusia bahwa untuk tetap lestari dalam hidup dan kehidupan ini manusia haruslah berusaha menguasai dan menaklukkan alam ini. Kesadaran inilah yang merupakan landasan pokok terciptanya kebudayaan manusia.
2)      Eksistensi sosial adalah kesadaran manusia, bahwa dalam hidup dan kehidupannya didunia ini manusia serba terhubung dengan manusia lain. Manusia saling tergantung dengan sesamanya manusia . kesadaran inilah yang merupakan dasar hakiki timbulnya masyarakat.
3)      Eksistensi religius adalah kesadaran manusia tentang keterhubungannya sebagai makhluk dengan khaliknya atau penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa . kesadaran inilah sebagai sumber adanya agama.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Filsafat manusia atau antropologi filsafati adalah bagian integral dari system filsafat, yang secar spsesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Sebagai bagian dari system filsafat, secara metodis ia mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistimologi, filsafat sosial, dan estetika. Tetapi secara ontologism (berdasarkan pada objek kajiannya), ia mempunyai kedudukan yang relative lebih penting, karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian filsafat manusia.
Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif. Dan memiliki cirri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Kalau betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa ke dalam suatu panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam, dan kritis, yang menggambarkan esensi manusia. Panorama pengetahuan seperti itu paling tidak, mempunyai manfaat ganda, yakni manfaat praktis dan teoretis.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, berdiri pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonic jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat.
Manusia dalam eksistensinya yang konkrit atau caranya berada, maka nampaklah bahwa dia bukan lah “monade “ atau barang yang terpisah, tanpa hubungan dengan apapun juga. Seperti yang pernah diajarkan oleh Filsuf G.W. Leibnitz. Kita tidak mengerti siapakah manusia itu, kecuali sebagai serba terhubung dengan segala sesuatu. Kita tidak bisa berbicara tentang manusia, kecuali dengan mengakui kesatuannya dengan segala sesuatu. Masing-masing dari kita tidak bisa memiliki keterangan dan pengertian yang lebih jelas tentang diri kita sendiri, tetapi dengan menunjuk hubungannya dengan alam semesta.

DAFTAR PUSTAKA

Abiding, Zainal.______.Filsafat Manusia.______
Burhanudin, Salam. 1988. Filsafat Manusia Antropologi Metafisika. Jakarta : Bina Aksara
Leahy, Louis. 1993. Manusia, Sebuah Misteri. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Ricoeour, Paul. 1982. Hermeneutics and Human sciences. London : Cambridge University Press

Sudarsomo. 1993. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Suparlan, Suharto. , 2005. Dasar Filsafat Manusia. Jogjakarta : Ar.Ruzz Media


Tuesday, December 20, 2011

PENDIDIKAN GENERASI MUDA Sebuah persoalan dari generasi ke generasi


Pendidikan Dalam Sekilas Makna
            Istilah pendidikan, secara etimologis --menurut bahasa-- merupakan padanan kata dalam bahasa Indonesia dari istilah education dalam bahasa inggris atau educare dalam bahasa latin yang artinya “mengantar keluar”, dalam istilah bahasa Arab terdapat dua versi dominan yakni sebagian mengatakan Tarbiyah dan yang lainnya lebih suka menyebut ta’dib agar didalamnya mengandung arti adab, keadilan dan ketidak bingungan.
Dalam karyanya yang berjudul Philosophy of education, Ruper C Lodge, mengungkapkan bahwa pendidikan itu adalah kehidupan, dan hidup adalah pendidikan. Ia mendifinisikan”.. The word education is used, sometimes in a wider, sometimes is narrower sense. In the wider sense, all experience is said to be educative …… life is education and  education is life”.
            Apapun sebutannya dan istilahnya, esensi pendidikan adalah suatu epistimologi (istilah) mendasar yang berimplikasi luas dan lebar, yang merupakan proses aktif yang melibatkan seluruh ekponen inhern (perangkat bawaan) manusia berpadu dengan segenap dimensinya --multi dimensional-- yang  diatasnya menjadi tempat dibangunnya suatu  gerak (activity) baik jasmani atau rohani yang tidak lagi kosong nilai. Nilai baik dan buruk, benar dan salah atau pantas dan tidak pantas akan memancar dari aktifitas yang dilahirkan dari proses pendidikan terseabut. Manusia sebagai bagian dari alam, perbuatannya, aktifitasnya, keputusannya secara niscaya akan berimplikasi luas pada alam sekitarnya. Gerak manusia akan membawa dampak terhadap alamnya, komunitasnya dan bahkan pada dirinya sendiri.
Dalam pendidikan Islam, gerak (motoric) yang lahir dari akumulasi proses yang mendasar tersebut menurut Ahmad  Marimba, diharapkan mencerminkan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama, melalui proses (a) pembiasaan (b) pembentukan pengertian, sikap dan minat (c) Pembentukan kerohanian yang luhur.
Pendidikan dan Generasi Islami
Menyoal generasi muda tidak dapat dipisahkan dari persoalan potensi besar yang terpendam dibalik fisik mereka yang relatif difahami lebih kuat dan perkasa. Potensi tersebut tidak seperti yang dimiliki oleh mahluk lain, yang dapat dengan sendirinya terbentuk dan berkembang secara kudrati (natural behaviour) –sunnatullah. Mahluk lain akan menemukan  bentuk karakternya secara mandiri dan bersifat automaticaly begitu ia terlahir – meskipun beberapa kasus binatang tergolong Animal educable -- bahkan beberapa binatang lain memperoleh karakter dari jenis kebinatangannya bersamaan dengan kelahirannya.  Sedangkan manusia, tidak dapat menemukan kemanusiaannya secara niscaya, man’s natural powers bukan hanya butuh proses yang panjang melainkan juga sekaligus harus benar dan terarahkan. Ini menunjukkan bahwa manusia untuk menjadi manusia perlu jedah tertentu untuk dididik -- homo educandum = mahluk yang harus dididik --  secara continum (berkesinambungan) terarah dan secara materi harus terkandung suatu nilai kebenaran. Meskipun kenyataannya pada setiap proses yang sama tersebut dengan individu yang berbeda tidak selalu berakhir dengan hasil yang sama. Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam proses pembentukan kemanusiaan pada seorang manusia.
Menurut Dra. Zuhairini, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam kontek ini, generasi muda sebagai manusia selalu berhasrat pada pendidikan, karena memang secara umum tanpa mempersoalkan hirarkinya bahwa kebutuhan dasar manusia adalah (a) Kebutuhan biologis, (b) Kebutuhan psikis, (c) kebutuhan social, (d) Kebutuhan agama (spiritual) dan (e) Kebutuhan paedagogis (intelektual).
Jadi tidak dapat ditawar lagi, bahwa pendidikan memiliki relevansi dan implikasi yang luar biasa dalam wacana pembentukan generasi muda. Oleh karena itu dunia pendidikan Islam harus concern terhadap persoalan generasi muda, sebab pendidikan merupakan proses yang representatif terhadap pembentukan generasi yang Islami, yaitu sebuah generasi yang cinta kepada Allah dan Allah mencintai mereka, lemah lembut terhadap orang yang mu’min, bersikap keras (tegas) terhadap orang-orang kafir, berjihat di jalan Allah, tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS. Al maidah ayat 54).
Unsur Persoalan Makro
Pendidikan sebagai sebuah sistem, sangat tergantung pada harmonitas antara usaha (kegiatan), pendidik, terdidik, tujuan, dan alat atau sarana pendidikan. Lima unsur dalam proses pendidikan tersebut harus terbentuk dalam sebuah integritas yang sebangun. Sebagai sistem, tidak ada yang tidak penting atau paling penting, bagaimanapun  kecilnya ketidak seimbangan pada salah satu unsur tersebut, akan berakibat tidak tercapainya cita-cita sebuah proses. Lain dari pada itu, sebetulnya cukup banyak sub-ordinasi yang mempengaruhi proses pendidikan, namun kita akan coba berangkat dari persoalan-persoalan makro pendidikan.
Pertama, usaha atau kegiatan pendidikan harus bersifat bimbingan, pertolongan, pembinaan yang dilakukan secara sadar baik oleh pendidik dan atau terdidik. Dalam teori progressivisme kegiatan pendidikan harus bersifat fleksibel atau The liberal road to culture, tidak kaku, toleran, open-minded, corious (ada rasa ingin tahu yang besar dari terdidik).
Dr Jalaluddin dalam bukunya “filsafat pendidikan Islam, konsep dan perkembangan”, mengatakan bahwa secara normatif kegiatan pendidikan islam bertujuan menolong anak didik mengembangkan kemampuan individunya, membiasakan anak didik membentuk sikap diri, membantu anak didik bertindak efektif dan efesien, membimbing aktifitas anak didik
Kedua, Pendidik sebagai sumber informasi harus mampu menguasai metode sekaligus materi pengajaran. Pendidikan tinggi yang berkompeten dengan dunia pendidikan – fakultas keguruan misalnya -- senyatannya lebih banyak menghasilkan pelaku pendidikan yang menguasai metode mengajar dari pada materi yang diajarkan. Sebaliknya fak-fak yang non keguruan menguasai materi namun lemah dalam metode mengajar. Kedua kemampuan tersebuat (menguasai metode dan meteri) harus menjadi kemampuan yang akumulatif dari seorang pendidik.
Ketiga, Terdidik tidak hanya sebagai obyek dan terget yang pasif, tetapi harus menjadi subyek yang aktif, memiliki motivasi yang sama untuk mewujudkan sebuah proses pendidikan. Keberhasilan sistem harus menjadi tanggung jawab semua komponen pendidikan, tidak hanya guru yang bertugas mendisiplinkan murid, tetapi murid harus punya rasa butuh terhadap prilaku disiplin. Bukan hanya kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap keaktifan guru, tetapi guru harus punya pertalian terhadap apa yang terbaik bagi anak didik dan sekolah. 
Keempat, Pendidikan harus mempunyai dasar dan Tujuan  yan jelas. Menurut faham esensialisme, bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama sehingga memberi kestabilan dan arah yang jelas pula. Bahkan aliran Perennialisme (perennial=Abadi atau kekal) memandang sangat penting berpegang pada nilai-nilai norma-norma yang bersifat kekal abadi,  dalam oxford advanced learner’s dictionary of current English tentang norma yang abadi ditulis”Countinuing throughout the whole year” atau “lasting for a very long time “. Keabadian inilah yang menjadi bidikan dari tujuan pendidikan. Kita perlu melakukan restore to the original form atau merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudyaan yang samasekali baru. Menurut Muhammad Iqbal, Manusia harus memiliki prinsip-prinsip abadi untuk mengatur seluruh kehidupannya, karena prinsip yang abadi memberi kita pijakan yang kokoh di dunia yang senantiasa berubah. Orientasi pendidikan kita bukan sekedar selembar ijazah, NEM yang tinggi, lapangan pekerjaan, dan peningkatan statsus atau aktualisasi diri. Tetapi lebih jauh dari itu, yakni menggapai nilai-nilai kemanusiaan dan pembentukan kepribadian berdasarkan nilai keabadian yaitu Qur-an dan Hadits.
Kelima, Alat/sarana yang cukup untuk melaksanakan pembelajaran. Alat yang memadai tidak diukur dari mahal dan canggihnya, tetapi lebih pada fungsionalisme alat dan sarana sesuai dengan kebutuhan sehingga lebih efesien dalam menunjang proses pendidikan. Namun demikian, dunia pendidikan tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan sarana pendidikan yang serba mutakhir, paling tidak harus mampu memanfaatkan segala sarana yang ada secara optimal. Bahkan karena hasil tehnologi itu bersifat value free (bebas nilai) hampir seluruh perkembangan tehnologi dapat dijadikan sarana pendidikan baik yang bernuasa merusak maupun membangun.
Akhirnya
Akhirnya, dunia pendidikan Islam harus mampu menyusun skala preferensi atau prioritas dan mengkonfirmasikannya dengan ruh Islam. Dalam kontek ini ada dua point yang penting yaitu ijtihat dan jihad. Pendidikan Islam harus menjadi kunci pembuka pintu ijtihat bila telah tertutup. Untuk membuka pintu ini memerlukan parameter waktu dan ruang, bukan taqlid (peniruan) dan taqlif. Tetapi menguasai dengan sempurna warisan Islam dan disiplin ilmu modern. Jihad yang merupakan istilah penting dalam idiologi islam harus difahami secara komprehensif dan membentuk opini yang benar terhadap pengetahuan dunia luar tentang konsep jihad. Jihad harus difahamkan sebagai proses yang berkesinambungan yang berlaku terhadap semua usaha orang-orang islam untuk menegakkan dan memperkokoh kedaulatan (sovereightnity) Allah dalam fikiran dan jiwa manusia, termasuk pendidikan, dengan malaksanakan kewajiban Islam sebagaimana termaktub dalam al Qur-an.
Referensi:
Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia,Ichtiar Baru - Van Hoeve
Syeh Muhammad Al Naquib Al Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Mizan, 1980
Nana Sudjana, Dr, Dasar-dasar proses belajar mengajar, Sinar baru, 1989
M Sastrapratedja, Manusia Multi Dimensional, Gramedia, 1983
Zuhairini, Dra., Falsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara dan DEPAG, 1995,92
Joe Park, Selected Readings in the Philosophy of education, New York, Macmillan Publishing Co, 1974