Showing posts with label ANAK-ANAK. Show all posts
Showing posts with label ANAK-ANAK. Show all posts

Tuesday, February 4, 2014

DONWLOAD LAGU ANAK-ANAK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI TK DAN PAUD

 Teman-teman Pendidik dan Orang Tua, berikut ini adalah berbagai ide kreatif yang telah dibagikan di FORUM TK DAN PAUD Edisi April - Mei 2013. Bila anda belum pernah membaca atau mempelajari ide-ide kreatif ini di FORUM TK DAN PAUD, anda bisa mengaksesnya dengan mengaktifkan akun FACEBOOK anda terlebih dahulu, kemudian klik judul di bawah ini. Untuk anda yang belum bergabung di forum tersebut, silakan gabung saat ini juga. Terima kasih

Monday, May 20, 2013

Pendidikan Untuk Generasi Muda


Pendidikan Dalam Sekilas Makna
            Istilah pendidikan, secara etimologis --menurut bahasa-- merupakan padanan kata dalam bahasa Indonesia dari istilah education dalam bahasa inggris atau educare dalam bahasa latin yang artinya “mengantar keluar”, dalam istilah bahasa Arab terdapat dua versi dominan yakni sebagian mengatakan Tarbiyah dan yang lainnya lebih suka menyebut ta’dib agar didalamnya mengandung arti adab, keadilan dan ketidak bingungan.
Dalam karyanya yang berjudul Philosophy of education, Ruper C Lodge, mengungkapkan bahwa pendidikan itu adalah kehidupan, dan hidup adalah pendidikan. Ia mendifinisikan”.. The word education is used, sometimes in a wider, sometimes is narrower sense. In the wider sense, all experience is said to be educative …… life is education and  education is life”.
            Apapun sebutannya dan istilahnya, esensi pendidikan adalah suatu epistimologi (istilah) mendasar yang berimplikasi luas dan lebar, yang merupakan proses aktif yang melibatkan seluruh ekponen inhern (perangkat bawaan) manusia berpadu dengan segenap dimensinya --multi dimensional-- yang  diatasnya menjadi tempat dibangunnya suatu  gerak (activity) baik jasmani atau rohani yang tidak lagi kosong nilai. Nilai baik dan buruk, benar dan salah atau pantas dan tidak pantas akan memancar dari aktifitas yang dilahirkan dari proses pendidikan terseabut. Manusia sebagai bagian dari alam, perbuatannya, aktifitasnya, keputusannya secara niscaya akan berimplikasi luas pada alam sekitarnya. Gerak manusia akan membawa dampak terhadap alamnya, komunitasnya dan bahkan pada dirinya sendiri.
Dalam pendidikan Islam, gerak (motoric) yang lahir dari akumulasi proses yang mendasar tersebut menurut Ahmad  Marimba, diharapkan mencerminkan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama, melalui proses (a) pembiasaan (b) pembentukan pengertian, sikap dan minat (c) Pembentukan kerohanian yang luhur.
Pendidikan dan Generasi Islami
Menyoal generasi muda tidak dapat dipisahkan dari persoalan potensi besar yang terpendam dibalik fisik mereka yang relatif difahami lebih kuat dan perkasa. Potensi tersebut tidak seperti yang dimiliki oleh mahluk lain, yang dapat dengan sendirinya terbentuk dan berkembang secara kudrati (natural behaviour) –sunnatullah. Mahluk lain akan menemukan  bentuk karakternya secara mandiri dan bersifat automaticaly begitu ia terlahir – meskipun beberapa kasus binatang tergolong Animal educable -- bahkan beberapa binatang lain memperoleh karakter dari jenis kebinatangannya bersamaan dengan kelahirannya.  Sedangkan manusia, tidak dapat menemukan kemanusiaannya secara niscaya, man’s natural powers bukan hanya butuh proses yang panjang melainkan juga sekaligus harus benar dan terarahkan. Ini menunjukkan bahwa manusia untuk menjadi manusia perlu jedah tertentu untuk dididik -- homo educandum = mahluk yang harus dididik --  secara continum (berkesinambungan) terarah dan secara materi harus terkandung suatu nilai kebenaran. Meskipun kenyataannya pada setiap proses yang sama tersebut dengan individu yang berbeda tidak selalu berakhir dengan hasil yang sama. Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam proses pembentukan kemanusiaan pada seorang manusia.
Menurut Dra. Zuhairini, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam kontek ini, generasi muda sebagai manusia selalu berhasrat pada pendidikan, karena memang secara umum tanpa mempersoalkan hirarkinya bahwa kebutuhan dasar manusia adalah (a) Kebutuhan biologis, (b) Kebutuhan psikis, (c) kebutuhan social, (d) Kebutuhan agama (spiritual) dan (e) Kebutuhan paedagogis (intelektual).
Jadi tidak dapat ditawar lagi, bahwa pendidikan memiliki relevansi dan implikasi yang luar biasa dalam wacana pembentukan generasi muda. Oleh karena itu dunia pendidikan Islam harus concern terhadap persoalan generasi muda, sebab pendidikan merupakan proses yang representatif terhadap pembentukan generasi yang Islami, yaitu sebuah generasi yang cinta kepada Allah dan Allah mencintai mereka, lemah lembut terhadap orang yang mu’min, bersikap keras (tegas) terhadap orang-orang kafir, berjihat di jalan Allah, tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS. Al maidah ayat 54).
Unsur Persoalan Makro
Pendidikan sebagai sebuah sistem, sangat tergantung pada harmonitas antara usaha (kegiatan), pendidik, terdidik, tujuan, dan alat atau sarana pendidikan. Lima unsur dalam proses pendidikan tersebut harus terbentuk dalam sebuah integritas yang sebangun. Sebagai sistem, tidak ada yang tidak penting atau paling penting, bagaimanapun  kecilnya ketidak seimbangan pada salah satu unsur tersebut, akan berakibat tidak tercapainya cita-cita sebuah proses. Lain dari pada itu, sebetulnya cukup banyak sub-ordinasi yang mempengaruhi proses pendidikan, namun kita akan coba berangkat dari persoalan-persoalan makro pendidikan.
Pertama, usaha atau kegiatan pendidikan harus bersifat bimbingan, pertolongan, pembinaan yang dilakukan secara sadar baik oleh pendidik dan atau terdidik. Dalam teori progressivisme kegiatan pendidikan harus bersifat fleksibel atau The liberal road to culture, tidak kaku, toleran, open-minded, corious (ada rasa ingin tahu yang besar dari terdidik).
Dr Jalaluddin dalam bukunya “filsafat pendidikan Islam, konsep dan perkembangan”, mengatakan bahwa secara normatif kegiatan pendidikan islam bertujuan menolong anak didik mengembangkan kemampuan individunya, membiasakan anak didik membentuk sikap diri, membantu anak didik bertindak efektif dan efesien, membimbing aktifitas anak didik
Kedua, Pendidik sebagai sumber informasi harus mampu menguasai metode sekaligus materi pengajaran. Pendidikan tinggi yang berkompeten dengan dunia pendidikan – fakultas keguruan misalnya -- senyatannya lebih banyak menghasilkan pelaku pendidikan yang menguasai metode mengajar dari pada materi yang diajarkan. Sebaliknya fak-fak yang non keguruan menguasai materi namun lemah dalam metode mengajar. Kedua kemampuan tersebuat (menguasai metode dan meteri) harus menjadi kemampuan yang akumulatif dari seorang pendidik.
Ketiga, Terdidik tidak hanya sebagai obyek dan terget yang pasif, tetapi harus menjadi subyek yang aktif, memiliki motivasi yang sama untuk mewujudkan sebuah proses pendidikan. Keberhasilan sistem harus menjadi tanggung jawab semua komponen pendidikan, tidak hanya guru yang bertugas mendisiplinkan murid, tetapi murid harus punya rasa butuh terhadap prilaku disiplin. Bukan hanya kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap keaktifan guru, tetapi guru harus punya pertalian terhadap apa yang terbaik bagi anak didik dan sekolah. 
Keempat, Pendidikan harus mempunyai dasar dan Tujuan  yan jelas. Menurut faham esensialisme, bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama sehingga memberi kestabilan dan arah yang jelas pula. Bahkan aliran Perennialisme (perennial=Abadi atau kekal) memandang sangat penting berpegang pada nilai-nilai norma-norma yang bersifat kekal abadi,  dalam oxford advanced learner’s dictionary of current English tentang norma yang abadi ditulis”Countinuing throughout the whole year” atau “lasting for a very long time “. Keabadian inilah yang menjadi bidikan dari tujuan pendidikan. Kita perlu melakukan restore to the original form atau merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudyaan yang samasekali baru. Menurut Muhammad Iqbal, Manusia harus memiliki prinsip-prinsip abadi untuk mengatur seluruh kehidupannya, karena prinsip yang abadi memberi kita pijakan yang kokoh di dunia yang senantiasa berubah. Orientasi pendidikan kita bukan sekedar selembar ijazah, NEM yang tinggi, lapangan pekerjaan, dan peningkatan statsus atau aktualisasi diri. Tetapi lebih jauh dari itu, yakni menggapai nilai-nilai kemanusiaan dan pembentukan kepribadian berdasarkan nilai keabadian yaitu Qur-an dan Hadits.
Kelima, Alat/sarana yang cukup untuk melaksanakan pembelajaran. Alat yang memadai tidak diukur dari mahal dan canggihnya, tetapi lebih pada fungsionalisme alat dan sarana sesuai dengan kebutuhan sehingga lebih efesien dalam menunjang proses pendidikan. Namun demikian, dunia pendidikan tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan sarana pendidikan yang serba mutakhir, paling tidak harus mampu memanfaatkan segala sarana yang ada secara optimal. Bahkan karena hasil tehnologi itu bersifat value free (bebas nilai) hampir seluruh perkembangan tehnologi dapat dijadikan sarana pendidikan baik yang bernuasa merusak maupun membangun.
Akhirnya
Akhirnya, dunia pendidikan Islam harus mampu menyusun skala preferensi atau prioritas dan mengkonfirmasikannya dengan ruh Islam. Dalam kontek ini ada dua point yang penting yaitu ijtihat dan jihad. Pendidikan Islam harus menjadi kunci pembuka pintu ijtihat bila telah tertutup. Untuk membuka pintu ini memerlukan parameter waktu dan ruang, bukan taqlid (peniruan) dan taqlif. Tetapi menguasai dengan sempurna warisan Islam dan disiplin ilmu modern. Jihad yang merupakan istilah penting dalam idiologi islam harus difahami secara komprehensif dan membentuk opini yang benar terhadap pengetahuan dunia luar tentang konsep jihad. Jihad harus difahamkan sebagai proses yang berkesinambungan yang berlaku terhadap semua usaha orang-orang islam untuk menegakkan dan memperkokoh kedaulatan (sovereightnity) Allah dalam fikiran dan jiwa manusia, termasuk pendidikan, dengan malaksanakan kewajiban Islam sebagaimana termaktub dalam al Qur-an.
Referensi:
Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia,Ichtiar Baru - Van Hoeve
Syeh Muhammad Al Naquib Al Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Mizan, 1980
Nana Sudjana, Dr, Dasar-dasar proses belajar mengajar, Sinar baru, 1989
M Sastrapratedja, Manusia Multi Dimensional, Gramedia, 1983
Zuhairini, Dra., Falsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara dan DEPAG, 1995,92
Joe Park, Selected Readings in the Philosophy of education, New York, Macmillan Publishing Co, 1974

Friday, May 10, 2013

PERAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN


Dunia belajar mengajar (dunia pendidikan) merupakan salah satu lahan dari psikologi secara umum. Psikologi pendidikan berperan penting dalam peningkatan mutu siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi kedalam dunia pendidikan. Psikologi dengan objek manusia (tingkah laku), sedangkan pendidikan berorientasi pada perubahan perilaku siswa, cocok untuk dipadukan dengan harapan mendapatkan perilaku siswa yang diinginkan.
A.      Peran Psikolog Sekolah
Pelaksanaan psikologi dalam hal diagnostik disekolah:
·      Pelaksanaan tes 
·      Melakukan wawancara dengan siswa, guru, orangtua, serta orang-orang yang terlibat dalam pendidikan siswa 
·      Observasi siswa di kelas, tempat bermain, serta dalam kegiatan sekolah lainnya 
·      Mempelajari data kumulatif prestasi belajar siswa.
B.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerumitan dan Luasnya Peran Psikolog di Sekolah
1.        Tingkat Pelayanan (Jack I. Baron (1982),) 
·      Tingkat I (psikodiagnostik); meliputi pelayanan tes kecerdasan, kemudian pemberian laporan tertulis yang memberi gambaran kelemahan dan kekuatan yang terungkap oleh tes tersebut. 
·      Tingkat II (klinis dan konseling); perhatian psikolog sekolah terhadap anak didik bersifat menyeluruh, yang mana membantu pihak sekolah dalam menyelesaikan berbagai masalah kesmen yang dihadapi anak. Pada tingkat ini peran psikolog erat dengan masalah kelompok dalam kelas dan masalah yang berkaitan dengan kelas.
·      Tingkat III (indusrti dan organisasi); dalam hal ini psikolog ikut terlibat dalm tindakan yang menyangkut kebijakan dan prosedur sekolah, dalam pengembangan dan evaluasi program serta pelayanan sekolah,dapat berupa; supervisi, pendidikan, konsulatan bagi kariawan edukatif maupun nonedukatif (membantu malakukan seleksi, penempatan, serta urusan-urusan personalia lain), dan bekarja sama dengan ahli-ahli lain dalam masyarakat.
2.        Kegiatan Professional
Berpartisipasi dalam diagnosis, intervensi langsung, konsultasi, pendidikan, evaluasi dan pelacakan kembali terhadap hasil penanganan. Semakin tinggi tingkat fungsi pelayanan, maka semakin banyak tugas-tugas pokok dilaksanakan, sedangkan tingkat rendah hanya sibuk dengan pengukuran/ diagnosis, tingkat tertinggi lebih bervariasi fungsinya dan membutuhkan kegiatan professional yang bervariasi juga, berdasar kebutuhan sekolah, bergantung pada kompetensi dan minat psikolognya.
3.        Klien Langsung
Berhadapan dengan: 
·      Murid secara perorangan, kelompok, murid per kelas.
·      Guru secara perorangan, kelompok guru.
·      Tenaga administrasi.
4.        Tingkat Program Pendidikan
Terdapat kesulitan dan kerumitan dalam setiap tingkat pendidikan yang ditinjau dari aspek kognisi,bentuk tugas-tugas mengajar, organisasi sekolah dan pengelompokan murid-murid, serta ciri-ciri khas perkembangan dalam masyarakat, berinteraksi dan menghasilkan klien-klien yang berbeda kebutuhan psikologiknya, serta perbedaan harapan dan peran pelayanan psikologik yang diinginkan.
5.        Kekhasan Lingkungan Masyarakat dan Sekolah
Bentuk lain dari fungsi dan tanggung jawab seorang psikolog sekolah bergantung pada ciri-ciri khas, formal-nonformal, sumber dana sekolah, daerah lokasi sekolah, suku/agama/ ras/ golongan tang memanfaatkan jasa psikolog sekolah.
C.      Peran Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar-Mengajar
Dalam bukunya, Drs. Alex Subor, M,si. mendefinisikan bahwa Psikologi Pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula pengertian tentang proses belajar dan mengajar. Secara garis besar, umumnya batasan pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi atas tiga macam :
·      Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar peserta didik dan sebagainya.
·      Mengenai proses belajar, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik dan sebagianya.
·      Mengenai situasi belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Sementara menurut Samuel Smith, setidaknya ada 16 topik yang perlu dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu :
·      Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (The science of educational psychology).
·      Hereditas atau karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity).
·      Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).
·      Perkembangan siswa (growth).
·      Proses-proses tingkah laku (behavior proses).
·      Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
·      Faktor-faktor yang memperngaruhi belajar (factors that condition learning).
·      Hukum-hukum dan teori-teori belajar (law sand theories of learning).
·      Pengukuran, yakni prinsip-prinsip  dasar dan batasan-batasan pengukuran/ evaluasi. (measure ment: basic princip lesand definitions).
·      Tranfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer of learning subject matters).
·      Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practical aspects of measurement).
·      Ilmu statistic dasar (element of statistics).
·      Kesehatan rohani (mental hygiene).
·      Pendidikan membentuk watak (charactereducation).
·      Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah. (Psychology of secondary school subjects).
·      Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (psychology of elementary school).
Dalam proses belajar-mengajar dapat dikatakan bahwa ini inti permasalahan psikiologis terletak pada anak didik. Bukan berarti mengabaikan persoalan psikologi seorang pendidik, namun dalam hal seseorang telah menjadi seorang pendidik maka ia telah melalui proses pendidikan dan kematangan psikologis sebagai suatu kebutuhan dalam mengajar. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
a)    Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
b)    Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
c)     Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
d)    Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
e)    Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
f)     Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
g)    Menilai hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
D.      Peran Dalam Pengukuran dan Evaluasi
a)       Pengukuran kesiapan pendidikan; meliputi kemampuan dan keterampilan sebagai prasyaratan yang memungkinkan fasilitas pendidikan pada tingkat pelajaran dengan tes potensi akademik atau tes kemampuan belajar.
b)       Pengukuran prestasi belajar, berfungsi:
·      Fungsi instruksinal, sebagai umpan balik bagi guru dan siswa, atas keberhasilan atau kegagalan dalam pelajaran atau keperluan perbaikan proses pengajaran. 
·      Fungsi adminisrtatif, meliputi; seleksi dan penempatan sebagai sarana untuk menaring siswa dalam memenuhi prasyarat yang dibutuhkan atau memasukkan siswa dalam tingkat kelas tertentu,. 
·      Fungsi bimbingan,tes juga dapat dijadikan sebagai alat diagnosticpsikoedukasional dalam bentuk bimbingan,yang dapat digunakan saat memilih jurusan diperguruan tinggi, menemukan kemampuan-kemampuan yang belum tampak sebelumnya.

E.       Manfaat Mempelajari Psikologi Bagi Guru dan Calon Guru

Manfaat mempelajari psikologi pendidikan bagi guru dan calon guru dapat dibagi menjadi dua aspek, yaitu:
1.        Untuk Mempelajari Situasi dalam Proses Pembelajaran
Psikologi pendidikan memberikan banyak kontribusi kepada guru dan calon guru untuk meningkatkan efisiensi proses pembelajaran pada kondisi yang berbeda-beda seperti di bawah ini:
a)    Memahami Perbedaan Individu (Peserta Didik)
Seorang guru harus berhadapan dengan sekelompok siswa di dalam kelas dengan hati-hati, karena karakteristik masing-masing siswa berbeda-beda. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami perbedaan karakteristik siswa tersebut pada berbagai tingkat pertumbuhan dan perkembangan guna menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dan calon guru dalam memahami perbedaan karakteristik siswa tersebut.
b)    Penciptaan Iklim Belajar yang Kondusif di Dalam Kelas
Pemahaman yang baik tentang ruang kelas yang digunakan dalam proses pembelajaran sangat membantu guru untuk menyampaikan materi kepada siswa secara efektif. Iklim pembelajaran yang kondusif harus bisa diciptakan oleh guru sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan efektif. Seorang guru harus mengetahui prinsip-prinsip yang tepat dalam proses belajar mengajar, pendekatan yang berbeda dalam mengajar untuk hasil proses belajar mengajar yang lebih baik. Psikologi pendidikan berperan dalam membantu guru agar dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan efektif.
c)     Pemilihan Strategi dan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran didasarkan pada karakteristik perkembangan siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dalam menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami peserta didik.


d)    Memberikan Bimbingan Kepada Peserta Didik
Seorang guru harus memainkan peran yang berbeda di sekolah, tidak hanya dalam pelaksanaan pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai pembimbing bagi peserta didik. Bimbingan adalah jenis bantuan kepada siswa untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan memungkinkan guru untuk memberikan bimbingan pendidikan dan kejuruan yang diperlukan untuk siswa pada tingkat usia yang berbeda-beda.
e)    Mengevaluasi Hasil Pembelajaran
Guru harus melakukan dua kegiatan penting di dalam kelas seperti mengajar dan mengevaluasi. Kegiatan evaluasi membantu dalam mengukur hasil belajar siswa. Psikologi pendidikan dapat membantu guru dan calon guru dalam mengembangkan evaluasi pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis evaluasi, pemenuhan prinsip-prinsip evaluasi maupun menentukan hasil-hasil evaluasi.
2.        Untuk Penerapan Prinsip-prinsip Belajar Mengajar
a)    Menetapkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran mengacu pada perubahan perilaku yang dialami siswa setelah dilaksanakannya proses pembelajaran. Psikologi pendidikan membantu guru dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran.
b)    Penggunaan Media Pembelajaran
Pengetahuan tentang psikologi pendidikan diperlukan guru untuk merencanakan dengan tepat media pembelajaran yang akan digunakan. Misalnya penggunaan media audio-visual, sehingga dapat memberikan gambaran nyata kepada peserta didik.
c)     Penyusunan Jadwal Pelajaran
Jadwal pelajaran harus disusun berdasarkan kondisi psikologi peserta didik. Misalnya mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa seperti matematika ditempatkan di awal pelajaran, di mana kondisi siswa masih segar dan semangat dalam menerima materi pelajaran.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan psikologi berperan dalam membantu guru untu merencanakan, mengatur dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.
F.     Peranan Psikologi Perkembangan dalam Pendidikan
1.        Fakta-fakta Psikologis Peserta Didik
Fakta-fakta mengenai peserta didik, terutama fakta psikologis perlu bahkan harus dipahami oleh pendidik. Ditinjau dari segi psikologis, dapat di identifikasi fakta-fakta psikologis peserta didik sebagai berikut.
a)       Peserta didik merupakan suatu kesatuan dari berbagai aspek (bio, psiko, sosio, spiritual dan juga kognitif, afektif, maupun psikomotorik).
b)       Peserta didik merupakan individu-individu yang memiliki berbagai potensi.
c)        Peserta didik merupakan individu-individu yang sedang tumbuh dan berkembangan.
d)       Peserta didik merupakan makhluk yang aktif dan kreatif.
e)       Bahwa peserta didik memiliki sifat unik.
2.        Mendidik Ditinjau dari Perspektif Perkembangan
Mendidik pada dasarnya adalah membantu perkembangan peserta didik agar berbagai potensi yang dimiliki peserta didik dapat berkembang secara optimal. Potensi-potensi positif peserta didik memerlukan stimuli dari lingkungannya. Tanpa stimuli maka berbagai potensi positif peserta didik sulit untuk berubah menjadi kemampuan nyata. Dalam konteks inilah kehadiran pendidik diperlukan. Agar stimuli ataupun bantuan yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik benar-benar bermakna, maka pendidik dituntut untuk memahami berbagai hal yang berhubungan dengan perkembangan peserta didik dan mampu menerapkannya dalam proses pendidikan.
G.    Kegunaan Psikologi Perkembangan
Bermanfaat sangat besar yakni agar dapat memberikan bantuan dan pendidikan yang tepat sesuai dengan pola-pola dan tingkat-tingkat perkembangan anak. Hurlock (1980) menyebutkan beberapa manfaat mempelajari psikologi perkembangan, yaitu:
1)       Dengan mempelajari psikologi, orang akan mengetahui fakta-fakta dan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku manusia.
2)       Untuk memahami diri kita sendiri dengan mempelajari psikologi sedikit banyak orang akan mengetahui kehidupan jiwanya sendiri, baik segi pengenalan, perasaan, kehendak, maupun tingkah laku lainnya.
3)       Dengan mengetahui jiwanya dan memahami dirinya itu maka orang dapat menilai dirinya sendiri.
4)       Pengenalan dan pemahaman terhadap kehidupan jiwa sendiri merupakan bahan yang sangat penting untuk dapat memahami kehidupan jiwa orang lain.
5)       Dengan bekal pengetahuan psikologi juga dapat dipakai sebagai bahan untuk menilai tingkah laku normal, sehingga kita dapat mengetahui apakah tingkah laku seseorang itu sesuai tidak dengan tingkat kewajarannya, termasuk tingkat kenormalan tingkah laku kita sendiri.
6)       Membantu mengetahui apa yang diharapkan dari anak dan kapan yang diharapkan itu muncul.
7)       Memungkinkan untuk menyusun pedoman dalam bentuk skala tinggi-berat, skala usia-berat, skala usia-mental, dan skala perkembangan sosial atau emosional.
8)        Memungkinkan memberikan bimbingan belajar yang tepat pada anak.
9)       Mempersiapkan anak menghadapi yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.
10)    Untuk memahami garis besar, pola umum perkembangan, dan pertumbuhan anak pada tiap fasenya.
Pengetahuan Psikologi Perkembangan sangat berguna bagi guru, berikut adalah kegunaan psikologi untuk guru.
1)       Mereka dapat memilih dan memberikan materi pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik pada tiap tingkat perkembangan tertentu.
2)       Mereka dapat memilih metode pengajaran dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan pemahaman murid-murid mereka.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.
Arfinurul. 2010. Perkembangan Emosi pada Remaja. [tersedia] http://arfinurul.blog.uns.ac.id. (14 Nopember 2012).
Atkinson, L. Rita dkk. 1991. Pengantar Psikologi. Jakarta: PT Gelar Aksar Pratama.
Billimham, Katherine A. 1982. Developmental Psychology for The Heah Care Professions : Part 1 – Prenatal Through Adolescent Development. Colorado : Westview Press, Inc.
Bimo Walgito. 2000. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Yasbit Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Branca, Albert A. 1965. Psychology : The Science of Behavior. Boston : Allyn and Bacon, inc.
Dirgagunarsa, Singgih. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung : Rosdakarya.
F.J. Monks, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Gunarsa, D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT. BK Gunung Mulia
Hardy, Malcolm dan Heyes, Steve. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga.
Hurlock, B. Elizabeth. 1993. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
                1980. Psikologi Perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Edisi ke lima. Jakarta : Erlangga
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 1. (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 2 (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (Alih Bahasa : Istiwidayanti dan Soedjarwo) Jakarta : Erlangga.
Hymovich, Debra P. and Chamberlin, Robert W. 1980. Child and Family Development : Implications for Primary Health Care. New York : Mc Graw Hill Book Company.
Jeff and Cindi. 2006. “Oh Baby, Bond with Me” http:// www.envisagedesign. com/ohbaby/ index/html (diakses 15 Maret 2006).
Kartini Kartono. 1992. Psikologi Wanita Jilid 2 : Mengenal Wanita sebagai Ibu dan Nenek. Bandung : CV Mandar Maju.
Kartono, K. 1979. Psikhologi Anak. Bandung : Alumni
Kasiram, M. 1983. Ilmu Jiwa Perkembangan. Surabaya : Usaha Nasional.
Monk, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Nugraha, Ari. 2012. Psikologi Perkembangan. [tersedia] http://the-arinugraha-centre.blogspot.com. (25 Desember 2012).
Perry, Bruce D. 2001. Bonding Attachment in Maltreated Children : Consequences of Emotional Neglect in Childhood. Booklet.
Sarlito Wirawan Sarwono. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Radja Grafindo Persada.
                                . 2002. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Remaja Grafindo Persada.
Sujanto, Agus. 1986. Psikologi Deskripsi. Jakarta: Aksara Baru.
Syamsu Yususf, L.N. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Rosdiana S. 2006. “11 Perilaku Sulit Si Prasekolah. ” Nakita No. 367/Th VIII/15 April 2006.
Wikipedia Free Encyclopedia. 2005. “Delayed Puberty”. www.en.wikiperia.- org/delayedpuberty.html.
Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Zulkifli, L. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya