Thursday, September 19, 2013

PEMBELAJARAN TERPROGRAM

A. Pendahuluan
Pembelajaran yang terprogram merupakan salah satu dari beberapa metode pembelajaran yang disajikan oleh guru untuk mencapai suatu tujuan khusus dalam pembelajaran. Pembelajaran terprogram biasanya dapat diterima baik oleh guru maupun oleh siswa. Materi terprogram digunakan untuk menghasilkan peningkatan capaian individu siswa pada semua tingkatan kemampuan siswa baik yang berkemampuan tinggi, sedang maupun rendah.
Ciri-ciri pembelajaran terprogram adalah :
1. Pembelajaran terprogram melibatkan penyajian materi yang terkontrol dengan langkah-langkah pengurutan pelajaran yang direncanakan secara cermat.
2. Siswa secara aktif dapat berpartisipasi dengan merespon pelajaran secara terus- menerus.
3. Siswa dapat melihat apakah setiap responnya yang diberikannya betul atau salah.
4. Setiap siswa mengalami kemajuan dengan sendiri-sendiri.
5. Material yang dilibatkan terlebih dahulu dirancang agar dapat digunakan secara mandiri, walaupun para siswa bekerja dalam situasi kelompok.
Materi yang terprogram dirancang secara khusus untuk beberapa jenis pembelajaran dalam bentuk teks yang terprogram atau program-program khusus yang digunakan dalam mesin-mesin mengajar. Materi ini direncanakan dalam unit-unit yang disebut dengan kerangka-kerangka. Setiap kerangka menyediakan sejumlah kecil informasi bagi siswa. Informasi yang disajikan melalui serangkaian kerangka tadi berada dalam sebuah urutan logika yang memandu siswa dari apa yang telah diketahuinya kepada pengetahuan yang baru. Pada saat siswa yang sedang mempelajari materi yang terprogram, mereka diharuskan berpartisipasi melalui pemberian respon secara aktif pada setiap kerangka.
B. Jenis-jenis materi yang terprogram
Berdasarkan dari bagaimana respon-respon seorang siswa, maka program dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok. Pertama program membangun respond an kedua program dalam beberapa pilihan respon. Program yang pertama dibutuhkan oleh siswa oleh siswa untuk menuliskan jawaban dalam belangko kosong yang diberikan dalam sebuah lembaran kerja. Program yang kedua memberikan sejumlah respon dan siswa diharuskan untuk memilih respon yang benar. Ada 4 jenis materi yang terprogram yaitu : Linier, Cabang, Kombinasi dan Matetis.
1. Program Linier
Pada program linier urutan kerangka untuk semua siswa. Informasi program diatur untuk setiap siswa yang diproses sejak item pertama sampai item terakhir. Setiap siswa harus menyelesaikan kolom jawaban dengan selembar kertas dan siswa selanjutnya mempelajari informasi yang diberikan dalam kerangka mempersiapkan sebuah respon. Respon ini selanjutnya dibandingkan dengan jawaban yang benar yang diberikan program. Siswa memproses kerangka selanjutnya dan mengikuti seluruh prosedur dalam program.
2. Program Cabang
Apabila lebih dari satu urutan atau rangkaian kerangka yang menjadikan sebuah program percabangan maka ini dikenal sebagai instrinsik atau adaptif. Setiap siswa mengikuti urutan yang ditentukan oleh responnya masing-masing. Apabila siswa menyajikan dan merespon materi dengan benar maka ia dapat : 1. Disajikan informasi tambahan lain yang mendalam, 2. Diijinkan untuk melompati beberapa informasi, 3. Disajikan informasi yang terfokus pada topik berikutnya. Respon yang benar dapat menuntun siswa untuk terfokus pada informasi jawaban yang benar. Pada saat siswa belum merespon dengan benar biasanya dipersilahkan untuk kembali pada kerangka dasar dan membuat respon-respon lain.
3. Program Kombinasi
Sebuah program sederhana mengkombinasikan ciri-ciri urutan program linier atau bercabang. Salah satu bagian dari program kombinasi dibuat berdasarkan urutan kerangka identik bagi semua siswa, sedangkan salah sau atau bagian program tambahan dibuat dari kerangka melalui pengurutan siswa yang ditentukan oleh respon siswa masing-masing.
4. Program Matetik
Matetik merupakan sebuah jenis program yang relatif baru. Formatnya adalah ketika kerangka digunakan harus dapa menyerupai sebuah program percabangan. Latihan-latihan dilibatkan sedapat mungkin dapat dilompai seluruhnya oleh siswa yang betul-betul pintar tetapi mungkin juga dilengkapi melalui kebutuhan informasi lebih lanjut. Corak utama dari jenis ini merupakan derajat dari tugas simulasi yang digunakan.
Para pendukung program jenis ini meyakini bahwa ketika beberapa simulasi digunakan maka transfer belajar telah terjadi. Beberapa program matetik biasanya diisi dengan diagram atau gambar dalam berbagai variasi langkah penyelesaian. Menurut konsep matetik respon aktif dibutuhkan siswa seperti menyelesaikan sebuah diagram secara lengkap yang merangsang capaian dari tugas yang dipelajari siswa.
5. Program Linier vs Cabang
Apabila program tersedia pada waktu tepat maka dapat diklasifikasikan sebagai program linier atau cabang. Program linier secara khusus menggunakan teknik-teknik membangun respon. Ketika berbagai pilihan respon digunakan dalam program linier, maka tak ada penjelasan tentang jawaban yang salah yang diberikan, dan siswa tak dapat melangkahi isi yang telah diketahuinya atau memperbaiki urutan yang sering terjadi dalam program cabang.
Tahun 1926, S.L. Pressey mengembangkan sebuah alat untuk menyajikan beberapa pilihan jawaban dalam sebuah drum bundar. Alat ini menggunakan sebuah pilihan berganda dalam bentuk konsep program jenis linier. Siswa menekankan kunci jawaban pilihan berganda dan mengetahui apa yang benar. Alat ini disebut juga dengan mesin mengajar pertama. Informasi tidak disajikan bagi siswa. Tetapi alat ini dapat digunakan untuk menguji pembelajaran terprogram.
B.F. Skinner dari Univ. Harvard telah berjasa dalam mengembangkan program jenis linier untuk membangun respon. Ia percaya bahw belajar akan lebih efektif ketika siswa menuliskan responnya dan dengan segera dikuatkan dengan sebuah respon yang benar. Program dari jenis ini menyajikan informasi dalam urutan dan dalam unit-unit kecil sehingga sebahagian besar siswa akan dapat merespon dengan benar. Persentasi kesalahan yang tinggi tidak diinginkan dan ketika ini terjadi, program membutuhkan sebuah revisi.
Pengembangan dari program cabang dilakukan oleh N.A. Crowder. Sebagai sebuah program, siswa mengembangkan urutan kerangka dengan respon masing-masing atas beberapa pilihan pertanyaan. Responnya menentukan urutannya melalui program.
Perbedaan pengembangan yang dilakukan oleh Skinner dan Crowder salah satunya didasarkan pada jenis respond an urutan. Program jenis crowder menyajikan paragraph informasi pada setiap kerangka sedangkan program jenis Skinner memberikan sebuah kalimat atau dua kalimat pada setiap kerangka. Siswa mengahbiskan banyak waktu untuk membuat respon dalam program jenis Skinner dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca informasi dalam program jenis Crowder.
Beberapa perbedaan dalam teori juga terlihat nyata, pada program jenis Skinner didasarkan pada pendapat bahwa terjadi sebahagian besar afektif jika sebuah respon yang benar dan segera dikuatkan. Dalam program cabang, sebuah asumsi dasar dibuat bahwa siswa belajar dari sebuah keberhasilan dan kesalahan. Crowder meyakini bahwa belajar yang efektif akan tercapai jikala siswa membaca dan pemilihan beberapa pengujian merupakan sebuah konfirmasi belajar.
Melalui pengujian dan peninjauan ulang program, Skinner percaya seorang penulis program dapat membangun sebuah urutan kerangka yang baik. Crowder mendebat bahwa suatu hal yang tak memungkinkan untuk membangun sebuah urutan kerangka terbaik bagi seluruh siswa. Dalam program cabang, setiap siswa dapat menggunakan individual dan sub urutan cabang dari garis utama. Sebuah corak pada titik penting memandu untuk mengubah perbaikan materi.
C. Metoda dalam Menyajikan Pembelajaran Terprogram
Informasi tentang pembelajaran yang terprogram dapat disajikan pada siswa melalui sebuah teks yang terprogram atau beberapa jenis mesin mengajar. Teks yang terprogram merupakan metode yang paling umum digunakan.
Teks Terprogram
Teks ini tidak diberikan dengan menggunakan alat-alat tambahan dalam menyajikan informasi. Sebuah program linier mungkin berada pada sebuah format horizontal atau vertikal sedangkan format campuran digunakan dalam program cabang.
Dalam format horizontal sebuah program linier kerangka terdiri dari satu halaman sedangkan respon yang benar atas pertanyaan dalam kerangka itu berada pada halaman yang lain. Siswa mempelajari kerangka dengan membuat respon yang dibutuhkan dan kembali ke halaman pertama untuk mendapatkan respon yang benar, dan berkemungkinan juga berlaku pada kerangka selanjutnya.
Format vertikal digunakan, pada sebuah program linier, kerangka berada pada urutan akhir halaman. Rancangan ini mangharuskan siswa menyelesaikan seluruh materi kerangka dibacanya dengan sebuah tameng, jika jawaban benar dicetak disamping atau setelah kerangka dibaca. Rancangan ini tidak melibatkan pemutaran halaman secara konstan yang dibutuhkan adalah format horizontal yang memungkinkan peninjauan kembali kerangka sebelumnya.
Hal yang lebih khusus dari jenis dari teks terprogram adalah teks campuran yang digunakan untuk menyajikan program percabangan yang menggunakan berbagai pilihan pertanyaan. Kerangka dalam teks campuran, tidak disajikan dalam urutan tetapi dalam bentuk sebaran yang menyeluruh. Setiap siswa memulai dengan kerangka awal dan membuat responnya. Respon ini menentukan kerangka selanjutnya yang akan dipelajari. Jika respon benar yang diberikan oleh siswa maka siswa akan dipandu pada kerangka dengan informasi tambahan ataupun informasi yang baru. Ketika sebuah respon yang benar diberikan belum mampu diserap maka siswa akan dipandu untuk memperbaiki informasi.
Beberapa ahli pendidikan percaya bahwa dengan menggunakan teks terprogram, tanpa memandang format khusus yang dilibatkan maka akan memungkinkan untuk mengelabui siswa karena siswa dapat melihat dari depan jawaban yang benar tanpa membaca informasi yang disajikan atau respon untuk pertanyaan yang disikapi. Untuk mengantisipasinya siswa dimotivasi secukupnya untuk menggunakan teks dalam cara yang benar. Argument lain mengatakan bagaimanapun tidak akan menjadi masalah jika siswa memproses melalui program, sepanjang mereka mempelajari isi yang penting.
Mesin Mengajar
Metode lain dari penyajian pembelajaran yang terprogram dan yang dapat membantu untuk memberdayakan keberatan atas teks terprogram adalah dengan menggunakan mesin mengajar. Sebuah mesin mengajar merupakan sebuah alat atau system yang mekanis, elektrik, atau elektronik dengan beberapa persyaratan yaitu : 1. Memungkinkan informasi untuk disajikan dalam urutan yang logis dan teratur, 2. Membutuhkan catatan untuk merespon siswa, 3. Menyajikan umpan balik dengan segera melalui pengidikasian respon yang benar. Mesin mengajar sesungguhnya bukan mengajar. Mengajar tergantung pada materi pembelajaran yang disajikan oleh mesin tersebut.
Ada beberapa jenis mesin mengajar yang sederhana yaitu menggunakan materi mimeograph sampai dengan komputer elektronik yang membutuhkan system program yang lengkap. Mesin mengajar biasanya disediakan untuk program linier dalam membangun respon. Inovasi terbaru mesin mengajar adalah mesin audio visual dan komputer. Mesin ini sudah sangat sukses dalam mempersiapkan para pendidik yang akan mengembangkan studi yang tergantung pada materi yang dipakai siswa.
Mesin mengajar terkompleks dan yang menggunakan kecepatan tinggi adalah komputer. CAI atau pembelajaran dengan bantuan komputer sangat berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan program belajar yang tergantung pada siswa. Pada CAI siswa berinteraksi dengan sebuah system komputer yang berisi materi-materi yang telah terprogram. Ada tiga CAI atau bentuk pembelajaran dengan bantuan komputer yaitu : 1. Latihan praktek, 2. Perkuliahan, 3. Konvensional.
Bentuk latihan dan praktek dari CAI merupakan bentuk tercanggih dari sebuah program linier. Siswa mengerjakan kerangka sebuah program, jawaban atas pertanyaan tentang materi yang barusan dipelajari.
Jika siswa mengalami kesulitan dalam memberikan respon yang benar, maka komputer dapat menuntun siswa untuk memperbaiki jaringan. Setelah kesukaran terselesaikan maka siswa kembali pada program utama. Bentuk kedua adalah perkuliahan. Pada perkuliahan pengambilan keputusan dengan segera dibuat dengan beberapa pengurutan terprogram yang tersedia bagi siswa. Sebagai keputusan yang didasarkan pada jawaban siswa berikutnya dan capaian relative siswa untuk semua mata pelajaran.
Bentuk ketiga adalah konvensional, bentuk konvensional dibuat untuk siswa dalam memutuskan sendiri bahwa mereka membutuhkan peninjauan ulang ekstra atau praktek atau harapan untuk melangkahi beberapa materi. Hal ini memungkinkan siswa menanyakan pertanyaan dari komputer. Biasanya, komputer mengetahui perspektif putusan dan manyarankan keputusan dengan cepat, menjawab pertanyaan yang baik, dan menjawab pertanyaan yang buruk dalam bentuk pertanyaan lain. Karakteristik yang diharapkan dalam system konvensional yang dibuat dengan menggunakan komputer adalah untuk:
1. Merespon sebagian dari porsi percakapan sebelumnya dan menjawabnya dengan segera.
2. Menjawab dengan suatu hal yang relevan.
3. Membuat keputusan walaupun untuk menunda kesediaan.
4. Untuk memberikan jawaban berdasarkan kompleksitas komputer.
5. Untuk terlibat dalam interaksi verbal dengan menggunakan bahasa sehari-hari seperti bahasa inggris.
6. Untuk merespon dengan pertanyaan atau pernyataan setiap waktu.
7. Untuk terlibat dalam interaksi nonverbal yang disertai dengan table-tabel, grafik, gambar dan suara.
System konvensional harus dipersiapkan sehingga siswa dapat menyelesaikan secara bebas, meliputi pembuatan nilai-nilai yang tak relevan. Tujuan guru CAI dalam pemberian tekanan adalah membantu siswa secara individual. Komputer melaksanakan peranan sebagai distributor atau informasi, kebebasan guru berinteraksi pada berbagai tingkaan personal dengan siswa.
D. Keunggulan dan Kekurangan Pembelajaran yang Terprogram
Keuntungan
1. Program dapat berjalan sendiri, sehingga memungkinkan bagi setiap siswa untuk terus maju melalui urutan kerangka yang sesuai dengan kecepatan siswa masing-masing.
2. Guru dibebaskan dari rutinitas dan penguasaan latihan tugas-tugas dalam aktifitas kreatif dan interpersonal guru dengan siswanya.
3. Program dapat digunakan untuk mengajarkan berbagai keterampilan.
4. Materi terprogram adalah sangat efisien sehingga hal yang bertele-tele harus dihilangkan, dan hanya informasi yang penting dalam mencapai tujuan yang diutamakan.
5. Informasi yang disajikan diatur dan diurutkan secara individual.
6. Program berdasarkan pada teori-teori yang dapat diterima oleh para pendidik dan para psikolog.
7. Penguasaan materi, siswa, suatu orientasi dan motivasi dapat mempelajari secara bebas baik dalam setting pendidikan formal maupun non formal.
8. Guru tunggal dapat memantau dan membantu siswa secara individual yang sedang mengerjakan berbagai program dalam beberapa waktu.
9. Belajar lebih berkualitas bagi semua siswa karena kemajuan secara individu terkontrol dengan baik.
10. Kesalahan rata-rata relative rendah karena sebahagian besar materi terprogram adalah sebuah alat motivasional yang berguna khususnya bagi siswa yang lambat.
Kekurangan
1. Materi dalam pembelajaran terprogram tidak dapat dipakai oleh guru apabila tidak dilatih atau fasilitas pendidikan atau fasilitas yang baik.
2. Program tidak dapat memecahkan masalah pendidikan karena ruangan kelas yang terlalu padat dalam pembelajaran terprogram.
3. Program tidak dapat digunakan dengan sukses dalam ruang kelas kalau masih ada gab antara guru dengan siswa.
4. Pembelajaran yang efektif tidak dapat diberikan kecuali jika materi dipersiapkan dan diuji dengan baik.
5. Beberapa orang siswa akan menjadi bosan setelah bekerja dengan materi terprogram selama jangka waktu yang relative lama.
6. Masalah administrative seperti penjadwalan mungkin akan timbul ketika siswa menggunakan materi terprogram dan menyelesaikan pada waktu yang berbeda dari yang telah dijadwalkan dalam pelatihan pengurutan seperti sebuah pengaruh kelompok.
7. Pendidik yang menggunakan materi terprogram dalam seting belajar harus dilatih dalam menggunakan materi dan dalam manajemen kelas.
8. Pemilihan materi yang berkualitas yang akan sesuai dengan kurikulum adalah pekerjaan yang sukar.
9. Biaya-biaya yang dilibatkan dalam memperoleh materi terprogram, penyiapan guru untuk menyiapkan materi dan untuk mengevaluasi materi.
10. Jumlah program berkualitas yang disajikan sangat terbatas dalam beberapa wilayah dan isi yang meliputi wilayah program terbatas pada pendidikan kejuruan.
E. Penggunaan Pembelajaran Terprogram
Pembelajaran terprogram seharusnya digunakan di dalam kelas sebagai metoda yang afektif dan efisien dalam pencapaian tujuan belajar. Dalam menentukan metoda pembelajaran yang mana yang paling efektif, maka kita harus mempertimbangkan karakteristik siswa, sasaran dari pelajaran atau unit, materi pelajaran yang dibahas, waktu yang tersedia dan biaya yang dipertimbangkan dari berbagai jenis metode pembelajaran.
Hal ini bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Ini dapat didemonstrasikan dalam pembelajaran yang terprogram yang dapat digunakan pada sebahagian besar materi pengajaran. Siswa juga dapat diajarkan informasi yang bersifat kognitif seperti defenisi begitu pula dengan keterampilan psikomotor seperti penggunaan berbagai alat-alat tukang. Bagaimanapun pembelajaran yang terprogram akan sangat efektif jika digunakan pengajaran materi kognitif.
Materi terprogram biasanya digunakan pada setting pendidikan formal seperti di dalam kelas dan di laboratorium atau dapat juga di dalam setting informal seperti di rumah siswa. Pada setting formal, pembelajaran terprogram dapat digunakan sebagai dasar metode belajar atau dapat juga digunakan dengan metode pembelajaran yang lain seperti diskusi dan demonstrasi. Penggunaan materi terprogram memungkinkan kita untuk mengganti pemberian salah satu materi dalam panduan, menganalisa hasil belajar dan perkuliahan siswa.
Siswa dalam setting formal biasanya mempunyai seorang guru yang bersedia untuk membantu siswa dalam meninjau ulang materi pelajaran yang telah selesai diajarkan atau mempersiapkan materi yang akan diajarkan. Materi terprogram dapat menjadi “tutor” privat dalam meninjau ulang tujuan atau memperkenalkan mata pelajaran penting dalam sebuah materi. Materi terprogram ini juga digunakan dalam memperbaiki tugas-tugas bagi siswa yang membutuhkan bantuan ekstra atau untuk mengakselerasikan siswa yang berkualitas tinggi.
Disini dapat dilihat bahwa materi terprogram akan mungkin menjadi efektif jika :
1. Menyajikan sebuah unit pelajaran bagi siswa di dalam kelas.
2. Melengkapi pembelajaran siswa yang punya kesulitan atau untuk siswa akselerasi.
3. Menyajikan materi yang “ketinggalan” bagi siswa yang terlambat masuk atau yang absen.
4. Menyajikan sebuah pengertian penawaran “materi pelajaran tambahan” atau tugas untuk di rumah.
5. Memotivasi siswa khususnya dalam minat, kemampuan belajar melalui pemahaman ini.
F. Pemilihan Materi Terprogram
Ketika kita memutuskan untuk memilih pembelajaran terprogram sebagai metode yang paling efektif dalam capaian tujuan khusus, maka materi yang akan digunakan tersebut harus dipilih terlebih dahulu. Materi terprogram tidak disediakan untuk seluruh wilayah materi pelajaran khusus. Untuk memilih materi pembelajaran yang sesuai, maka pertimbangkanlah factor-faktor berikut dengan seksama :
1. Apakah materi dipersiapkan oleh personal yang mempunyai reputasi dan autoritatif?
2. Apakah materi disajikan dalam hubungan kerja yang berkualitas?
3. Apakah capaian tujuan secara khusus diperjelas?
4. Apakah materi membahas hal yang didinginkan oleh wilayah isi?
5. Apakah materi terbebas dari bias etnik, sek dan ras dan isi yang tak diinginkan lainnya.
6. Apakah isi materi adalah informasi yang akurat dan terbaru?
7. Apakah materi memberikan sejumlah waktu yang memadai untuk penyelesaian?
8. Apakah materi terlihat efektif dalam sebuah pengujian bidang yang valid?
9. Apakah materi berharga memiliki biaya dalam nilai-nilai belajar?
10. Apakah materi yang cocok untuk tingkatan kemampuan siswa?
11. Apakah isi mencerminkan kebutuhan dan kemampuan siswa?
12. Apakah materi sesuai dengan penggunaan fasilitas labratorium dan kelas yang tersedia?
13. Apakah materi memberikan aktivitas belajar yang sesuai dengan tujuan pelajaran dan unit?
14. Apakah isi materi disertai dengan contoh-contoh dan ilustrasi?
Sesuatu yang sangat penting adalah mengevaluasi faktor-faktor diatas karena ketersediaan materi semata bukankah menjadi jaminan terciptanya kualitasnya pelajaran yang baik. Materi terprogram yang baik tidak hanya memungkinkan keterlibatan siswa dalam kemajuan rata-rata mereka teapi juga memberikan peluang bagi siswa yang lebih mampu untuk membantu teman.
Setelah pemilihan materi terprogram yang berkualitas, maka selanjutnya kita harus cerdas melengkapi isi materi. Anda harus melakukan persiapan untuk merespon komentar atau jawaban siswa yang terfokus pada isi, untuk memandu siswa dalam penggunaan materi yang baik dan membuat ketersediaan materi dan peralatan yang ada.
G. Penggunaan Materi Terprogram
Ketika materi dipilih dan kita telah kenal dengan isinya maka kita harus bersiap-siap untuk menggunakannya dalam setting belajar. Langkah pertama adalah mengatur setting fisik pada awalnya yang dibutuhkan dalam aktivitas belajar. Seluruh materi dan peralatan yang dibutuhkan dalam aktivitas belajar haruslah dirancang terlebih dahulu. Peralatan harus di set terlebih dahulu sesuai dengan rekomendasi yang disarankan oleh pabrik.
Setelah lingkungan dipersiapkan, maka kita harus menjelaskan penggunaan materi terprogram ini pada siswa kita. Bagian dari penjelasan ini, adalah perbedaan antara materi belajar konvensional atau teks book dan materi terprogram yang harus didiskusikan. Caranya adalah setelah materi terprogram diperoleh dan ditinjau ulang untuk merespon pelajaran melalui demonstrasi diberikan, khususnya jika mesin mengajar juga dilibatkan. Sebagai tambahan, penggunaan pendahuluan, peninjauan ulang, ringkasan, uji-diri, dan komponen serta kelengkapan program lainnya harus juga dijelaskan.
Siswa harus mengetahui bahwa belajar materi terprogram, sangat berbeda dengan aktivitas belajar kelompok biasa di dalam kelas. Mereka harus memahami bahwa memahami bahwa mereka akan bekerja dengan materi secara sendiri-sendiri bukan dalam interaksi kelompok. Jika teks terprogram digunakan, maka siswa harus diberikan informasi tentang jawaban yang benar yang dihasilkan.

Wednesday, September 18, 2013

KATA ROMANTIS UNTUK PACAR TERSAYANG

Kata Kata Romantis - Tau kah kamu jika kamu mengungkapkan kata kata romantis akan membuat pasangan kamu semakin sayang pada kamu. Makanya jangan remehkan soal kata kata mutiara cinta, sebab dengan kita mengungkapkan isi hati kita dengan untaian kata kata akan membuat hubungan cinta menjadi lebih mesra. Kemesraan sebuah hubungan sangatlah diperlukan untuk menjaga keharmonisan agar tetap langgeng hingga ke pernikahan.

Buat kamu-kamu yang sedang mencari kata kata romantis cinta, di sini  sudah mengumpulkan banyak kata romantis yang indah penuh makna. Beberapa kumpulan kata berikut ini saya ambil dari berbagai sumber dan telah terseleksi. Jadi bagi yang ingin mengungkapkan isi hati namun bingung dalam merangkai kata-kata, jangan khawatir lagi. Karena kamu bisa copas sepuasnya kumpulan kata romantis berikut ini.

Kata Kata Romantis

Kata Kata Romantis Cinta Sejati
Disaat kamu ingin melepaskan seseorang..
Ingatlah di saat kamu berusaha mendapatkanya...

Disaat kamu ingin menduakannya..
Bayangkan jika dia selalu setia...

Disaat kamu ingin membohonginya...
Ingatlah disaat dia jujur padamu...

Disaat kamu merasa dia tak berarti bagimu...
Ingatlah ketulusannya dan pengorbanannya...

Jangan sampe disaat dia tidak disisimu...
Kamu baru menyadari bahwa dirinya sangat berarti untukmu...

==========================================
Kata Kata Romantis

Haruskah aku tersenyum karena kini kita berteman...?
Ataukah aku harus menangis karena kita pernah bersama...?
Tak ada seorang pun yg layak untuk air mata ini..
 

Ketika engkau tahu bahwa ia tak akan membuatmu menangis..
Jangan katakan cinta jika tak ada ketulusan...
Karena aku bisa berbuat lebih gila bila kau tak percaya...
Dan air mata hanyalah ketika hati tak mampu bicara.. 

==========================================
Kutak'kan jenuh merangkai seuntai kata...
Rindu mengusik kian menggebu..
Inginku cumbui disetiap lekuk bait aksaraku..
Dalam dekapan jemari lentikku..
Menari gemulai dialtar kertas putih..
Berdansa bersama imaji nan aduhai...

Duhai Puisiku…
Biarkan seribu bintang mengulum tanya...
Rembulan berbisik lirih..
Matahari terbakar cemburu padamu..

Duhai Puisiku…
Nafasmu adalah alunan detak jantungku..
Hati suarakan asmaradana kalbu..
Padamu cinta sejati terpaku...
Walaupun beribu cinta penggoda yg hadir...
Smoga Ku bisa tetap bertahan dlm satu pujaan hati..

========================================== 
Kata Kata Romantis
Aku bisa mengerti apa yg kau sampaikan meski tanpa kata..
Aku masih bisa melihat wajahmu meski terpejam mataku...
Aku masih bisa mendengar suaramu meski ku tutup telingaku..
Namun aku tak bisa menutup hatiku saat aku mencintaimu...  

==========================================
Sesaat yg tak terlupakan....
Di kala malam menyiratkan rasa yg mendalam..
Menguntai bait" manis ditangkai sebuah senyuman..

Kesepian membungkusku dlm aroma rindu diruang hati..
Meraih sejuta bunga" kedalam pelukan mimpi..
Asa cinta diujung langkah yg sdg kucari..

Aku menemukan bias cintamu..
Dlm titik kabut yg menyelimutiku..­
Dlm kesunyian kuterdiam seribu kata..
Menorehkan dlm syair yg tak bermakna..

Di sini...
Rasa itu semakin lirih...
Kian menghentakkan hasrat ini...

Dlm merdunya suara hati...
Aku mendengar lirik cinta...
Di sebuah ketukan indah dijantung hatiku..
Terukir indah Namamu di dlm kalbuku...

========================================== 
Kata Kata Romantis

Ketika Mulut Tak Mampu tuk mengatakannx..
Biarlah HATI Yg Bicara..

Dan Ketika Mata Tak Sanggup Melihat..
Biarlah HATI Yg Menatap..

Semua Yg Terlihat Nyata...
Terkadang Hanya Semu Belaka..

Gunakan "HATI" Saat Akal Sehat TakMampu Berbuat....
Krn suatu penyesalan Ada diakhir keputusan... 

Tuesday, September 17, 2013

Ketidakhadiran Siswa di Sekolah

Kehadiran siswa di sekolah (school attandence) adalah kehadiran dan keikutsertaan siswa secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidakhadiran adalah ketiadaan partisipasi secara fisik siswa terhadap kegiatan-kegiatan sekolah. Pada jam-jam efektif sekolah, siswa memang harus berada di sekolah. Kalau tidak ada di sekolah, seyogyanya dapat memberikan keterangan yang sah serta diketahui oleh orang tua atau walinya.
Carter V. Good (1981) memberi batasan kehadiran sebagai berikut: “The act of being present, particulary at school,  …attendance at school as not merely being bodily presence but including actual participation in the work and activities …”.
Pengertian kehadiran seperti yang dikemukakan di atas seringkali dipertanyakan, terutama pada saat teknologi pendidikan dan pengajaran telah berkembang pesat seperti sekarang ini. Kalau misalnya saja, aktivitas-aktivitas sekolah dapat dipancarkan melalui TV dan bisa sampai ke rumah, apakah kehadiran siswa secara fisik di sekolah masih dipandang mutlak? Jika pendidikan atau pengajaran dipandang sebagai sekedar penyampaian pengetahuan, sedangkan para siswa dapat menyerap pesan-pesan pendidikan melalui layar kacanya di rumah, ketidakhadiran siswa di sekolah secara fisik mungkin tidak menjadi persoalan.
Sebaliknya, jika pendidikan bukan sekadar penyerapan ilmu pengetahuan, melainkan lebih jauh membutuhkan keterlibatan aktif secara fisik dan mental dalam prosesnya, maka kehadiran secara fisik di sekolah tetap penting apapun alasannya, dan bagaimanapun canggihnya teknologi yang dipergunakan. Pendidikan telah lama dipandang sebagai suatu aktivitas yang harus melibatkan siswa secara aktif, dan tidak sekedar sebagai penyampaian informasi belaka.
Siswa yang hadir di sekolah hendaknya dicatat oleh guru dalam buku presensi. Sementara siswa yang tidak hadir di sekolah dicatat dalam buku absensi. Dengan perkataan lain, presensi adalah daftar kehadiran siswa, sementara absensi adalah buku daftar ketidakhadiran siswa.
Begitu jam pertama dinyatakan masuk, serta para siswa masuk ke kelas, guru mempresensi siswanya satu persatu. Selain agar mengenali satu persatu siswanya yang masuk sekolah dan yang tidak masuk sekolah. Demikian juga pada jam-jam berikutnya setelah istirahat, guru perlu mempresensi kembali, barangkali ada siswanya yang pulang sebelum waktunya. Tidak jarang, siswa pulang sebelum waktunya, hanya karena sudah dinyatakan masuk melalui presensi pada jam pertama.
Pada umumnya ketidakhadiran siswa dapat dibagi kedalam tiga bagian: (1) alpa, yaitu ketidakhadiran tanpa keterangan yang jelas,  dengan alasan yang  tidak bisa dipertanggungjawabkan; (2) ijin, ketidakhadiran dengan keterangan dan  alasan tertentu yang  bisa dipertanggungjawabkan, biasanya  disertai surat pemberitahuan dari orang tua; dan   (3) sakit, ketidakhadiran dengan alasan gangguan kesehatan, biasanya  disertai surat pemberitahuan dari orang tua atau surat keterangan sakit dari dokter.
Secara administratif,  pengelolaan kehadiran dan ketidakhadiran siswa pada tingkat kelas menjadi tanggung jawab wali kelas.  Oleh karena itu, wali kelas seyogyanya dapat mendata secara akurat  tingkat kehadiran dan ketidakhadiran siswa di kelas yang menjadi tanggung jawabnya sekaligus dapat menganalisis dan menyajikannya dalam bentuk grafik atau tabel (diusahakan tersedia catatan harian dan tabel/grafik bulanan).
Sementara untuk tingkat sekolah, petugas yang tepat mengelola kehadiran dan ketidakhadiran siswa adalah wakasek kesiswaan. Sama halnya dengan wali kelas,  wakasek kesiswaan pun seyogyanya dapat mendata secara akurat  tingkat kehadiran dan ketidakhadiran siswa secara keseluruhan serta dapat menganalisis dan menyajikannya dalam  bentuk grafik/tabel.
Informasi tingkat kehadiran dan ketidakhadiran siswa ini sangat berguna untuk pengambilan kebijakan, baik pada tingkat kelas  maupun sekolah serta dapat digunakan untuk kepentingan pemberian bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menunaikan kewajiban kehadirannya di sekolah.
Rekapitulasi data ketidakhadiran siswa secara perorangan, –baik karena alasan alpa, sakit maupun ijin,– seyogyanya  disampaikan kepada orang tua,  minimal  dilakukan setiap bulan. Hal ini penting dilakukan agar orang tua dapat mengetahuinya dan dapat mengambil peran dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah ketidakhadiran anaknya.
Bagi sekolah yang sudah memiliki website sendiri, penyajian rekapitulasi data bulanan kehadiran dan ketidakhadiran siswa dalam website sekolah (dengan tetap menjaga hak privacy  siswa) mungkin akan sangat bermanfaat.  Selain sebagai bentuk laporan terbuka tentang progress sekolah,  mungkin juga dapat memotivasi siswa dan pihak-pihak lain yang terkait untuk lebih memelihara dan meningkatkan  kehadiran siswa di sekolah.
Hal lain yang tak kalah penting dalam pengelolaan kehadiran siswa ini  adalah perlunya aturan ketidakhadiran yang  tegas dan jelas, disertai dengan sanksi yang mendidik (khususnya bagi siswa yang kerap alpa) . Kendati demikian, tidak diharapkan adanya bentuk  sanksi  yang secara eksplisit menyatakan bahwa siswa yang sering tidak hadir wajib menghadap guru BK/Konselor. Jika hal ini terjadi maka secara langsung ataupun tidak langsung, Bimbingan dan Konseling akan dipersepsi siswa sebagai “satpam-nya sekolah”, yang tentunya tidak akan menguntungkan bagi pengembangan layanan BK  sebagai lembaga pelayanan bantuan psikologis di sekolah.
Dalam konteks pembimbingan atau bimbingan dan konseling, ketidakhadiran siswa hendaknya dipandang sebagai sebuah GEJALA dari INTI  MASALAH yang sesungguhnya.  Oleh karena itu, dalam upaya membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam kehadirannya di sekolah, maka guru atau konselor seyogyanya dapat memahami  latar belakang dan faktor-faktor penyebab ketidakhadirannya, untuk menemukan inti masalah yang sebenarnya. Dengan demikian,  upaya pengentasan ketidakhadiran siswa ini tidak terjebak pada penyelesaian yang bersifat simptomik.
Ada banyak sumber penyebab ketidakhadiran siswa di sekolah, baik yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal), –misalnya karena disiplin diri  dan motivasi belajar yang  rendah- maupun  dari luar diri  siswa (faktor eksternal), –misalnya lingkungan sekolah dan pergaulan yang kurang kondusif. Lingkungan keluarga merupakan salah satu faktor eksternal yang mungkin bisa menyebabkan ketidakhadiran siswa di sekolah. Di bawah ini disajikan beberapa kemungkinan ketidakhadiran siswa yang disebabkan atau bersumber dari keluarga:
  1. Kedua orang tuanya baik ayah maupun ibu, bekerja. Hal demikian bisa terjadi, mengingat disamping siswa tersebut tidak mendapatkan pengawasan keluarga, juga bisa jadi yang bersangkutan memang disuruh menjaga rumah oleh kedua orang tuanya.
  2. Ada kegiatan keagamaan di rumah. Kegiatan keagamaan demikian, terutama pada masyarakat yang religius, bisa menjadikan sebab siswa tidak hadir di sekolah.
  3. Ada persoalan di lingkungan keluarga. Meskipun masalah tersebut tidak bersangkut paut dengan siswa, umumnya juga mempengaruhi jiwa siswa. Misalnya adanya pertengkaran antara ayah dan ibu, bisa menjadikan penyebab bagi siswa untuk tidak hadir di sekolah.
  4. Ada kegiatan darurat di rumah. Kegiatan yang sifatnya darurat, lazim memaksa anak untuk turut menyelesaikan sesegera mungkin. Hal demikian, bisa menjadikan penyebab siswa tidak dapat hadir di sekolah.
  5. Adanya keluarga, famili dan atau handai taulan yang pindah rumah. Ini seringkali menjadikan siswa untuk turut serta membantu serta menghadirinya. Tidak jarang, pindah rumah demikian bersamaan dengan hari dan atau jam sekolah. Pindah rumah memang tidak pernah mempertimbangkan aspek siswa sedang bersekolah atau tidak.
  6. Ada kematian. Kematian di dalam keluarga umumnya membawa duka bagi anak. Oleh karena dukanya tersebut, anak kemudian tidak hadir di sekolah.
  7. Letak rumah yang jauh dari sekolah. Hal demikian tidak jarang menjadikan siswa malas untuk hadir ke sekolah. Terkecuali jika ada transportasinya. Sungguhpun demikian, jarang juga ketika sudah ada transportasinya, siswa juga masih tetap tidak hadir di sekolah, karena mungkin waktu itu tidak mempunyai uang ongkos transportasi.
  8. Ada keluarga yang sakit. Pada saat salah seorang anggota keluarga ada yang sakit, tidak jarang siswa dimintai untuk menunggu atau merawatnya, sehingga menjadi penyebab siswa tidak bersekolah.
  9. Baju seragam yang tidak ada lagi. Ini dialami oleh mereka yang secara ekonomi memang lemah. Tidak seragam ke sekolah dikhawatirkan mendapatkan sangsi, umumnya siswa memilih tidak hadir di sekolah.
  10. Kekurangan makanan yang sehat. Ini terjadi pada siswa yang berada di daerah-daerah kantong kemiskinan.
  11. Ikut orang tua berlibur. Hari libur orang tua yang tidak bersamaan dengan hari libur sekolah bisa memberi peluang bagi tidak hadirnya siswa di sekolah. Karena, tidak jarang siswa mengikuti liburan orang tuanya.
  12. Orang tua pindah tempat kerja. Orang tua yang pindah tempat kerja bisa menyebabkan anak tidak hadir di sekolah, oleh karena anak kadang-kadang mengikuti orang tua baik untuk jangka waktu lama maupun untuk jangka waktu tertentu saja.
Upaya pengentasan masalah ketidakhadiran siswa yang bersumber dari faktor keluarga tentu saja sangat membutuhkan peran dan keterlibatan dari keluarga itu sendiri untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik. Namun apabila faktor penyebabnya  diduga dari dalam diri  siswa, maka  layanan konseling perorangan atau bantuan individual tampaknya bisa dijadikan sebagai sebuah pilihan.
Ada teori umum yang bisa dijadikan pegangan bahwa apabila intensitas dan frekuensi ketidakhadiran  siswa di sekolah cenderung  tinggi dan terjadi secara masif, maka bisa diduga faktor penyebabnya adalah lingkungan sekolah, misalnya karena faktor iklim dan budaya sekolah yang kurang kondusif.
Dalam hal ini, yang patut dicermati  adalah tingkat absensi guru.  Dalam beberapa kasus, ditemukan korelasi yang signifikan antara maraknya tingkat absensi guru dengan tingkat absensi siswa. Korelasi ini mungkin sejalan dengan pepatah klasik yang  mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Guru absen satu kali, siswa absen berkali-kali. Oleh karena itu, untuk mengatasi kasus seperti ini  maka  yang perlu  diperbaiki adalah lingkungan sekolah itu sendiri.   Tindakan represif terhadap siswa tampaknya tidak akan membuahkan hasil yang optimal, bahkan  mungkin  hanya akan meniimbulkan masalah-masalah baru yang semakin rumit.