Tuesday, May 17, 2011

Tradisi Buruk Pasca-UN

SEMPROT sana-semprot sini. Coret sana coret sini menjadi pemandangan biasa setiap ujian nasional (UN) berakhir. Budaya yang katanya menjadi kenang-kenangan ini ternyata bohong belaka. Buktinya baju seragam yang dicoret nyatanya berubah menjadi kain pembersih. Alih-alih dijadikan kenang-kenangan masa-masa SMA, baju bersejarah yang telah mengantarkan pemiliknya menjadi intelektual muda justru musna tanpa manfaat yang berarti.

Celakanya lagi, ketika semua pihak menyadari budaya ini merusak citra pendidikan, mereka justru tidak punya solusi handal meminimalisasi penyakit akhir tahun ajaran ini. Alhasil, setiap tahun tak terhitung berapa ratus ribu potong baju yang dicoret sia-sia oleh para pelajar di seluruh Indonesia.

Pertanyaan besarnya saat ini adalah benarkah tidak ada solusi untuk hal ini? Jawaban normatifnya adalah di mana ada kemauan di situ ada jalan. Dengan kata lain, andai institusi pendidikan kita benar-benar menganggap budaya ini sesuatu yang harus dikikis habis sejatinya mereka harus memikirkan dengan sungguh-sungguh solusi untuk masalah ini.

Namun, oleh karena pola pikir yang menempatkan guru tidak lagi bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan siswa pascakeluar dari sekolah, maka banyak sekolah lepas tangan untuk memikirkan tradisi corat coret ini. Bahkan institusi setingkat dinas pendidikan di daerah pun terkesan mengabaikan perilaku tak terpuji ini membudaya di kalangan pelajar Indonesia.

Bila kita bertanya, apakah upaya yang sudah dilakukan untuk mencegah terjadinya corat-coret baju seragam pascaUN? Dengan bangga kepala dinas pendidikan terkait akan menjawab, “Kami sudah surati semua sekolah untuk melarang siswa melakukan budaya buruk ini.”

Bayangkan saja, tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun ini ingin dihentikan dengan selembar surat dinas pendidikan. Surat yang hanya sebatas memerintahkan tanpa ada langkah konkret di lapangan. Sebagian sekolah lain melakukan ancaman bagi siswa yang melanggar. Tapi alih-alih memberi sanksi, pasca UN pelajar di maksud justru tidak punya hubungan sama sekali dengan sekolah selain menunggu pengumuman UN lulus atau tidak. Lagi pula akan sangat tidak manusiawi pula bila seorang siswa ditahan izajahnya atau didenda atau dipenjarakan hanya karena mencoret baju pascaUN.

Melihat akar permasalahannya ada pada mental para pelajar itu sendiri, maka perlu ada satu sistem yang memaksa para pelajar tidak melakukan lagi tradisi ini. Sistem itu tidak semata-mata sebatas mengingatkan dan menasehati tetapi perlu siasat jitu dari para stakeholder pendidikan kita sehingga budaya coret baju ini bisa dikikis habis.

Siasat jitu dimaksud bisa dilakukan melalui pemanfaatan teknologi yang ada saat ini. Tradisinya, para pelajar melakukan coret seragam sesaat setelah pengumuman UN. Oleh karena itu akan lebih baik bila pengumuman UN itu sendiri tidak dilakukan di sekolah dan tidak perlu dihadiri oleh orangtua dan siswa.

Pengumuman cukup dilakukan melalui situs resmi sekolah sehingga para pelajar cukup melihat pengumuman kelulusan itu melalui internet. Ini menjadi efektif karena sekolah tidak perlu disibukkan dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat kepolisian atau menata ruangan serapi mungkin untuk menerima orangtua siswa saat pengumuman.

Pemanfaatan teknologi untuk menekan tindakan tidak terpuji corat coret seragam ini cukup efektif diberlakukan. Setidaknya itu telah terbukti di SMA 1 Mataram NTB, orangtua dan siswa dilarang datang ke sekolah saat pengumuman UN. Karena pihak sekolah mengumumkannya langsung melalui koran, radio, dan situs resmi sekolah. Di samping lebih mudah, metode ini juga semakin mengakrabkan siswa dengan IT. Semoga.

Buku dan Peradaban Bangsa

MUNGKIN sedikit orang yang mengetahui bahwa 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Menurut sejarah, tanggal itu dipilih bertepatan dengan didirikannya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta 31 tahun yang lalu, 17 Mei 1980.

Tidak bisa dimungkiri, buku merupakan sumber informasi dan sumber ilmu pengetahuan. Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk dan melalui buku pula peradaban suatu bangsa terbangun. Ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa jika ingin mengetahui seperti apa kepribadian seseorang 10 tahun mendatang, lihatlah teman-temannya saat ini dan buku apa yang ia baca saat ini.

Sejarah menceritakan salah satu penyebab kemunduran peradaban Islam di masa keemasannya adalah serangan bangsa Mongol yang memporak-porandakan kota Baghdad dengan melenyapkan buku-buku di perpustakaan. Ada yang dibakar, ada pula yang dibuang ke sungai.

Bangsa Jepang yang mencintai buku, menjadikannya sebagai bagian dari membudayakan aktivitas membaca di setiap saat, terbukti menjadi bangsa yang maju peradabannya. Peradaban suatu bangsa tidak akan pernah bisa lepas dengan bagaimana bangsa tersebut mencintai buku.

Budaya mencintai buku di Indonesia masih memprihatinkan. Menjadi hal yang ironis ketika menjamurnya jumlah penerbit buku akhir-akhir ini tidak diiringi dengan minat masyarakat terhadap buku.

Budaya Membaca

Berbicara tentang buku tidak akan pernah lepas dari dua aktivitas yaitu membaca dan menulis. Untuk memahami isi suatu buku mau tidak mau seseorang harus membaca buku. Dengan membaca, wawasan seseorang akan menjadi luas. Jika buku adalah jendela dunia, maka membaca adalah kuncinya.

Masyarakat Jepang sejak usia dini sudah diperkenalkan dengan membaca buku. Pantas jika Jepang dikenal sebagai bangsa yang gemar membaca. Sementara itu, masyarakat kita lebih menyukai budaya lisan dan visual daripada budaya membaca. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua, terlebih bagi pemerintah melalui kebijakannya agar budaya membaca bisa tertanam bagi masyarakat Indonesia.

Budaya Menulis


Tidak akan pernah ada buku tanpa adanya orang yang menulisnya. Budaya lisan menyebabkan masyarakat kita lebih suka berbicara daripada menulis. Padahal tanpa ditulis, suatu perkataan akan lebih cepat hilang dan dilupakan. Dengan menulis pula, kebermanfaatan kita bisa terus mengalir melebihi usia hidup kita.

Mengapa Kartini lebih dikenal orang daripada Dewi Sartika? Padahal kontribusi Dewi Sartika lebih besar dan lebih nyata bagi masyarakat. Jawabannya adalah karena Kartini menulis. Kita tidak akan mengenal ilmuwan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Isac Newton, dan Albert Enstein yang telah meninggal berabad-abad lampau jika mereka tidak mentransformasikan ilmunya dalam bahasa tulis.

Seoarang penyair masyhur asal Inggris bernama TS Eliot mengatakan “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca”. Melalui tulisan ini, penulis mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai buku dengan membudayakan membaca dan menulis sehingga peradaban Indonesia menjadi maju di masa mendatang.