Showing posts with label GURUKU. Show all posts
Showing posts with label GURUKU. Show all posts

Monday, November 17, 2014

DOSA-DOSA SEORANG GURU

Mungkinkah seorang guru berdosa? Kenapa tidak, sangat mungkin sekali. Karena guru juga manusia. Jangankan guru PAUD atau guru RA/MI, guru besar di Perguruan Tinggi pun pasti punya dosa. Telah menjadi sunnatullah bahwa manusia itu tempatnya salah dan dosa. Termasuk juga guru, yang notabene dibenak  masyarakat, memandang guru adalah sosok yang suci, bersih, alim, berpendidikan, berakhlak, beretika, berilmu, juru dakwah, juru ceramah dan berbagai citra positif lainnya.
            Sejak jaman dulu, status seorang guru di masyarakat menduduki posisi yang terhormat. Meski secara ekonomi, guru ‘jadul’ (jaman dulu) hidupnya pas-pasan. Bahkan tidak lebih baik tingkat ekonominya dibandingkan seorang petani apalagi dengan seorang pedagang. Karenanya saat itu banyak guru yang nyambi menjadi petani, pedagang, pemulung, tukang ojek, dan lain sebagainya. Tapi, uniknya, sosok guru tetap sangat dihormati dan disegani. Bahkan kesan yang baik dari masyarakat terhadap seorang guru sangat kuat.
            Saya pribadi telah merasakannya sejak kecil, karena kakek saya adalah seorang guru, paman dan bibi sebagian besar juga guru, kedua orang tua saya adalah guru, bahkan adik saya juga seorang guru. Dan ke-6 kakak ipar saya semuanya guru. Keluarga besar saya, keluarga guru.
            Namun posisi terhormat tersebut tidaklah automatically menjadikan seorang guru itu bersih dari dosa. Apalagi beberapa realita kekinian, kasus-kasus guru yahanno telah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya. Efek samping dari dosa-dosa yang dilakukan oleh oknum-oknum guru tersebut jelas berpengaruh pada kinerja dan prestasi profesinya.
Sebuah fakta yang diungkapkan Fasli Djalal, mantan Dirjen DIKNAS Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan beberapa waktu lalu hampir separo dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar di sekolah.[1]
Kenyataan rendahnya kompetensi dan ketrampilan guru dikemukakan oleh Data Balitbang yang menunjukkan bahwa peserta tes calon guru PNS setelah dilakukan tes bidang studi ternyata rata-rata skor tes seleksinya sangat rendah. Dari 6.164 calon guru Biologi ketika dites biologi rata-rata skornya hanya 44.96; dari 396 calon guru Kimia dites Kimia rata-rata skor yang dicapai 43,55. Dari 7.558 calon guru bahasa Inggris rata-rata hasil tes dicapai hanya 37,57.[2]

Definisi Dosa
Pengertian dosa salah satunya saya kutip dari sebuah hadits:
Artinya “Dosa itu adalah sesuatu yang terasa meragukan dalam hatimu, dan engkau benci jika orang lain mengetahui hal itu.” (HR. Muslim)
Sedangkan definisi dosa secara syar’i adalah segala perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya yang tercantum dalam al-Qur’an dan Hadits.[3]
Dalam bahasa al-Qur’an, dosa disebut dengan berbagai macam istilah. Setiap istilah dosa tersebut mengandung makna adanya pengaruh-pengaruh buruk di dalamnya yang harus dihindari. Istilah-istilah dosa yang digunakan dalam al-Qur’an, antara lain:[4]
  1. Az-Zanbu (dosa)
  2. Al-Mashiyah (maksiat)
  3. Al-Itsmu (dosa)
  4. As-Sayyiah (keburukan)
  5. Aj-Jurmu (kejahatan)
  6. Al-Haramu (perbuatan haram)
  7. Al-Khatiah (Kesalahan)
  8. Al-Fisqu (fasik, keluar dari jalan yang benar)
  9. Al-Fasad (melakukan kerusakan)
10.  Al-Fujur (kejahatan)
11.  Al-Munkar (perbuatan munkar)
12.  Al-Fahisyah (perbuatan keji)
13.  Al-Khabats (perbuatan kotor)
14.  Asy-Syarru (kejahatan)
15.  Al-Lamam (dosa kecil)
16.  Al-Wizru wa as-Siqlu (berbuat dosa dan menanggung beban dosa)
17.  Al-Hanats (melanggar sumpah)

Macam-macam Dosa Guru
Paulo Freire menyebutkan bentuk 7 (tujuh) dosa-dosa yang sering dilakukan oleh para guru antara lain:
  1. Mengambil jalan pintas dalam mengajar (pen: tanpa perangkat mengajar; RPP-Silabus-Prota-Promes-Jurnal Mengajar-dan lain-lain)
  2. Menunggu peserta didik berperilaku negative baru ditegur;
  3. Menggunakan destructive discipline saat membina siswa;
  4. Mengabaikan keunikan peserta didik saat mengajar (siswa kurang mampu dan siswa mampu diperlakukan sama saja dalam KBM);
  5. Malas belajar dan meningkatkan ketrampilan karena merasa paling pandai dan tahu;
  6. Tidak adil (deskriminatif); dan
  7. Memaksa hak peserta didik.

Dalam www.persadapendidikan.blogspot.com ditambahkan beberapa dosa-dosa yang biasanya dilakukan oleh guru. Dosa-dosa tersebut antara lain: kurang disiplin, memberikan nilai berdasarkan rasa kasihan, dan sering meninggalkan peserta didik untuk urusan diluar dinas.
Apalagi bila kita bicara tentang Ujian Nasional atau biasa disingkat UNAS. Ujian yang merupakan salah satu penentu lulus tidaknya seorang siswa setelah selama 3 tahun mencari ilmu. Dosa yang paling ringan, barangkali, guru yang menjadi pengawas ujian di ruang kelas hanya diam saja, membiarkan peserta ujian melakukan kecurangan misalnya: mencontek pekerjaan peserta lain, atau menggunakan HP untuk saling berbagi jawaban.
Padahal jelas dalam tata tertib ujian nasional yang dibacakan terlebih dahulu oleh pengawas yang bersangkutan, semua kegiatan itu tidak boleh. Jika kecurangan tersebut dibiarkan maka para peserta akan semakin berani untuk melakukan kecurangan, dan guru tersebut jelas tidak lagi berwibawa dan dihormati siswa-siswanya. 
Dosa yang lebih parah, ketika guru memberikan kunci jawaban kepada peserta ujian. Bagaimana caranya? Pepatah menyatakan ‘banyak jalan menuju Roma’, mulai dari cara yang sederhana sampai cara yang canggih. Lalu, siapa yang rugi? Banyak yang rugi, termasuk guru. Tetapi yang jelas siswa yang malas akan tertawa dengan bangga.

Kenapa Dikatakan Dosa?
Kenapa guru yang mengambil jalan pintas dalam mengajar (tanpa perangkat mengajar; RPP-Silabus-Prota-Promes-Jurnal Mengajar-dan lain-lain) dikatakan dosa? Karena pada hakekatnya, berani untuk menjadi guru adalah berani mengambil amanah yang besar dan berat.
Amânah berasal dari kata a-mu-na – ya‘munu – amn[an] wa amânat[an] yang artinya jujur atau dapat dipercaya. Secara bahasa, amânah (amanah) dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Amanah juga berarti titipan (al-wadî‘ah).
Amanah lawan kata dari khianat. Amanah terjadi di atas ketaatan, ibadah, al-wadî’ah (titipan), dan ats-tsiqah (kepercayaan). Oleh karena itu, sikap amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan untuk dijaga, dilindungi, dan dilaksanakan.[5]
Seorang guru adalah profesi yang menuntut individu-individunya adalah orang-orang yang amanah. Dan guru sangat jelas sekali mendapatkan amanah atau titipan atau kepercayaan dari para orang tua (wali murid) untuk mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Orang tua tidak menitipkan barang atau benda mati untuk dijaga dan dididik, tetapi yang dititipkan adalah seorang makhluk hidup yang berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang layak dan berkualitas. Maka, profesi ini adalah profesi yang mulia, profesi yang menuntut tanggungjawab yang sangat besar.
Bahkan guru di madrasah/sekolah, pada dasarnya, merupakan orang tua kedua bagi anak didik. Mungkin para guru lupa bahwa anak didik di madrasah/sekolah, seharusnya benar-benar disayang dan diperlakukan selayaknya anak-anak kandungnya sendiri.  Apakah amanah dan tanggungjawab ini akan kita sia-siakan? Apakah tugas mulia ini akan kita sepelekan? Jawablah dalam hati kita masing-masing.
Tentang amanah ini, Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, "Jika amanah disia-siakan, tunggulah saat kehancuran". Sahabat bertanya: "Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?" Rasul menjawab: "Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya,maka tunggulah saat kehancurannya" (HR Bukhari). Hadits ini diperkuat dengan sejumlah ayat Al Quran dan hadis lain tentang keharusan umat Islam menyerahkan amanah kepada ahlinya.
Dalam Surat An-Nisa [4]: 58 Allah Swt menegaskan,
Yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.”
Dalil-dalil di atas dengan gamblang menggambarkan konsekuensi dari sifat dan sikap amanah ini. Bersikap amanah adalah tuntutan iman. Kebalikan dari amanah adalah khianat, dan khianat adalah salah satu ciri kekafiran. Rasulullah saw menegaskan hal itu bahwa, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (Ahmad dan Ibnu Hibban)
Oleh karena itu, bila ada (semoga tidak ada) seorang guru yang sering, bahkan bisa menjadi karakter,  meremeh-temehkan tanggungjawab dan menyepelekan amanahnya dalam menjalankan TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi) sebagai guru, berarti guru tersebut telah melakukan perbuatan dosa. Sang guru telah menyiapkan saat-saat kehancuran yang bisa saja terjadi tidak hanya bagi menimpa dirinya sendiri tapi juga melanda orang lain.
Dan saat tulisan ini saya akhiri, penulis pun juga tersadar (dengan sesadar-sadarnya) telah secara langsung maupun tidak langsung sering melakukan dosa-dosa sebagai guru. Dan saya pun berdo’a :
Artinya: “Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.”
Dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 147, Allah SWT juga memerintahkan agar kita berdo’a untuk meminta ampunan-Nya:
Artinya: “Tidak ada do’a mereka selain ucapan: 
“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Pasuruan, 7 Pebruari 2012)


[2] ibid
[3] http://menyingkap-ilmuislam.blogspot.com/2011/09/definisi-dan-macam-macam-dosa.html
[4] Ibid
[5] http://id.shvoong.com/definisi-amanah/

Monday, May 5, 2014

NASEHAT GURU UNTUK MURIDNYA


Ketika penulis mau memulai menulis, teringat sebuah nasehat dari Sayidina Umar " Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik dari pada menjaga lidah. aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik dari pada pakaian taqwa. Aku merenungkan segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih dari pada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rizki , tetapi tidak menemukan rizki yang lebih baik dari pada sabar".
Subhanallah sebuah nasehat yang sangat positip dan menimbulkan energi kebaikan yang luar biasa jika dijalankan oleh umat.

Saudaraku, begitu indah hidup ini jika kita jalani dengan penuh keikhlasan,dan dengan menaburkan kebaikan  oleh karena itu salah satu jalan agar perjalan hidup kita semakin indah adalah dengan harus tahu diri dihadapan Allah SWT.

Kebaikan adalah investasi yang tidak pernah merugi. hanya dengan kebaikan hidup anda menjadi bermakna, tanpa kebaikan hidup anda hanyalah pengalaman yang tidak berguna. Jadikan hidup anda sebagai sumber kebaikan , dengan memberikan kepada kehidupan ini apa yang terbaik, karena dia akan kembali kepada anda. Kebaikan dalam wajah, kebaikan dalam mata,kebaikan dalam senyum, kebaikan dalam hati. jangan biarkan setiap orang yang datang kepada anda, pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia.

Dunia ini adalah ladang yang sangat subur , anda bisa menanam apa saja yang anda kehendaki, semua akan tumbuh dan berkembang . Ladang telah tersedia dan pupuk telah tersaji , anda tinggal memilih benih apa yang hendak ditanam, mau menanam ganja yang memabukkan atau buah yang menyegarkan.

Pada kesempatan ini , saya akan mengingatkan para muridku , bahwa hidup itu tidak mudah , banyak kerikil tajam , lembah , jurang dan bukit yang terjal yang harus dilalui , tidak sedikit yang gagal melaluinya sehingga berakhir dengan kegagalan hidup sehingga menjadi manusia tanpa makna dan tidak bernilai.

Jadilah muridku yang memiliki kegemaran melakukan amal sholeh karena dengan amal sholeh seperti tabungan yang tidak akan habis dinikmati , baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Jadilah muridku yang sehat , kuat yang memiliki kesucian hati , karena dengan bekal sehat dan kuat serta suci hati akan bisa menanam kebaikan dimana saja kamu berada. kamu punya modal yang cukup untuk menjadikan diri kamu bernilai Allah dan sesama manusia.

Jadilah muridku yang memiliki Akhlak mulia , karena dengan memiliki akhlak yang mulia maka  Allah akan Ridho , karena Ridho ilahi ini sulit diperoleh , harus melalui perjuangan dan pengabdian kepada Allah. Kamu akan hidup bahagia jika jalan hidupmu diRidhoi Allah .

Jadilah muridku yang senantiasa menjaga sopan santun , karena manusia sangat hormat dan respek hanya kepada manusia yang bisa menghormati orang lain/manusia lain, tanpa sopan santun maka hidup akan kacau , karena penghargaan kepada manusia lain tidak akan terwujud.

Jadilah muridku yang suka berkata baik dan menghindari perkataan tercela.Kaarena kata kata baik akan menimbulkan hubungan kemanusiaan yang baik, sehingga bibit munculnya keharmonisan adalah diperdengarkanya kata kata indah dan kata kata yang mengandung penyadaran diri bahwa orang lain perlu dibuat bahagia dengan kata atau kalimat yang kita ucapkan.

Jadilah muridku yang lemah lembut tutur katanya , tanpa ada maksud untuk melemahkan diri , namun dengan lemah lembut inilah kita bisa memancarkan aura kewibawaan dan kesetiaan , sehingga banyak orang sangat senang dan rindu dengan tutur kata yang kita ucapkan.

Jadilah muridku yang memiliki rasa sayang kepada sesama , sehingga kehadiran kita senantiasa ditunggu dan dinanti karena pancaran kasih sayang kita kepada sesama sangat tinggi. Banyak orang yang percaya kepada kita kalau kita memiliki jiwa dan hati yang penuh kasih sayang, karena kasih sayang menimbulkan kebahagiaan.

Jadilah muridku yang suka menolong Fakir miskin , karena Allah sangat sayang kepada manusia yang suka berderma dan bersedekah , bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah. Oleh karena itu jika kamu bisa menjadi orang yang kaya maka kamu harus suka berderma dan bersedekah , karena bisa memakmurkan hidupmu kelak.

Jadilah muridku yang memiliki rasa belas kasih kepada yang lemah  , mudah memberikan  sesuatu kepada sesama atas dasar kasih. Tidak akan menjadi miskin dengan banyak memberikan sesuatu kepada yang lemah , karena akan senantiasa ditambah oleh Allah dan  dilipat gandakan , semua yang kamu berikan kepada yang lemah itu.

Jadilah muridku yang memiliki jiwa pemaaf , karena orang yang berjiwa besar adalah orang yang pemaaf, banyak orang yang sukses salah satunya adalah memiliki jiwa pemaaf dan tidak tinggi hati.Dengan jiwa pemaaf maka akan tumbuh jiwa suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa memberikan syarat. yang penting yang bersangkutan telah menyadari kesalahannya dan tidak mengulang lagi maka dia akan diberi maaf atas segala kesalahannya, tanpa rasa curiga akan mengulang kesalahan lagi.

Jadilah muridku yang Rajin Sholat , karena sholat adalah tinag agama    dan salah satu jalan memperoleh Ridho Ilahi, karena itu jangan sampai terlambat atau lupa untuk menjalankan sholat 5 waktu sehari semalan dengan rasa Ihklas dan tanpa paksaan , seolah olah sudah merupakan kebutuhan hidup.

Jadilah muridku yang tidak suka meunda waktu untuk beribadah kepada Allah , karena dengan kita tertib beribadah kepada yang menciptakan kita , akan menumbuhkan jiwa kemandirian , jiwa inilah yang menjdaikan kita akan sukses menjalani hidup ini, berjuanglah terus dijalan Allah karena dengan Ridho Ilahi yang kita peroleh maka hidup kita kan mudah dan dimudahkan oleh Maha Pencipta.

Gurumu yang senantiasa memelihara jiwamu anakku , sehingga sangat berharap banyak atas keberhasilanmu kelak dan kebaikanmu kelak , camkan dengan baik , semoga memudahkan jalanmu mencapai kesuksesan hidup ........ amin Ya Roball Alamin.

Wednesday, June 12, 2013

Pengertian Etika dan Etika Profesi


  1. Pengertian Etika dan Etika Profesi
            Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watakkesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etikaakan berkaitan dengan konsep yang dimiliki olehindividu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin [1993], etika didefinisikan sebagai”the discipline which can act as the performance index or reference for our control system”.
etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat danditerapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial(profesi) itu sendiri.
Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelasakan diperlukan untuk menjaga martabat sertakehormatan profesi, dan di sisi lain melindungimasyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupunpenyalah-gunaan keahlian (Wignjosoebroto, 1999). Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaandari masyarakat, bilamana dalam diri para elitprofesional tersebut ada kesadaran kuat untukmengindahkan etika profesi pada saat mereka inginmemberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakatyang memerlukannya.
Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etikatidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.  Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundangundangan, norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika.

2.     Etika dan Etiket
 Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun. Persamaan antara etika denganetiket yaitu: etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilahtersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenaibinatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket.
            Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusiadan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan.

3.   Perbedaan antara etika dengan etiket
a)     Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkancara yang  tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalamsebuah kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
b)     Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjamharus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.
c)      Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuahkebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “janganmencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
d)     Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanyalembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiketnamun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidakmungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikapetis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

3.     Etika dan Ajaran Moral
            Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapatpada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakanrumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia. Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaranmoral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khasyaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moralmelainkan menyelidiki bagaimana pandangan moralyang sebenarnya).

5.   Pluralisme moral diperlukan karena:
a)     Pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan;
b)     Modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yangakibatnya menantang pandangan moral tradisional;
c)      Berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing denganajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.
            Etika sosial dibagi menjadi: Sikap terhadap sesama; Etika keluarga; Etika profesi, misalnya etika untuk dokumentalis, pialang informasi; Etika politik; Etika lingkungan hidup; serta Kritik ideologi.

6.   Moralitas
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dankebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikanmanusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnyasebagai suami atau isteri. Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber.

7.   Etika dan Moralitas
Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif. Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau nalar, pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian. Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal. Sistematis artinya membahas langkah demi langkah. Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya.

8.   Etika dan Agama
Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepatuntuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasidasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukanketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadarindoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:
a)     Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puasmendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi ia juga inginmengerti mengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantumenggali rasionalitas agama.
b)     Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkaninterpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.
c)      Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat makaagama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggungsinggung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama.
d)     Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diripada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yangmengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agamadan pandangan dunia.

Istilah yang Berkaitan
            Kata etika sering dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos, iktikad dan kode etik atau kode etika. Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopansantun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompokdengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusiahidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau ditengah hutan. Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnyatidak etis menanyakan usia pada seorang wanita. Ethos artinyasikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Maka ada ungkapanethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya, misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasaryang tinggi terhadap pekerjaannya. Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalammenjalankan tugasnya.

Peran Guru Sehubungan dengan Murid


Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacam-macam menurut situasi interaksi social yang dihadapinya, yakni situasi formal dalam proses belajar-mengajar dalam kelas dan dalam situasi informal.
Dalam situasi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak dalam kelas guru harus sanggup menunjukan kewibawaan atau otoritasnya, artinya ia harus mempu mengendalikan, mengatur, dan mengontrol kelakuan anak. Kalau perlu ia dapat menggunakan kekuasaannya untuk memaksa anak belajar, melakukan tugasnya atau mematuhi peraturan. Dengan kewibawaan ia menegakan disiplin demi kelancaran dan ketertiban proses belajar-mengajar.
Dalam pendidikan kewibawaan merupakan syarat mutlak. Mendidik ialah membimbing anak dalam perkembangannya kea rah tujuan pendidikan. Bimbingan atau pendidikan hanya mungkin bila ada kepatuhan dari pihak anak dan kepatuhan diperoleh bila pendidik menpunyai kewibawaaan. Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komplementer untuk menjamin adanya disiplin.
Adanya kewibawaan guru dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain :
  • Anak-anak sendiri mengharapkan guru yang berwibawa, yang dapat bertindak tegas untuk menciptakan suasana disiplin dan mereka bersedia mengakui kewibawaan itu. Bila ada guru baru, mereka sering menguji hingga manakah kewibawaan guru itu. Mereka lebih senang bila guru menang dalam pengujian kewibawaan guru itu.
  • Guru dipandang sebagai pengganti orang tua lebih-lebih pada tingkat SD. Bila di rumah anak itu mematuhi ibunya, maka lebih mudah ia menerima dan mengakui kewibawaan ibu guru.
  • Pada umumnya tiap orang tua mendidik anaknya agar patuh kepada guru. Bila guru digambarkan sebagai orang yang harus dihormati, sebagai orang yang berhak menghukum pelanggaran anak, bila orang tua senagtiasa memihak guru dalam semua tindakannya, maka guru lebih mudah menegakan kewibawaaanya.
  • ü  Guru sendiri dapat memelihara kewibawaannya dengan menjaga adanya jarak social antara dirinya dengan murid dan berenda-gurau dengan mereka. Sekalipun dalam situasi informal guru harus senangtiasa menjaga kedudukannyasebagai guru dan tidak menjadi salah seorang anggota yang sama dengan anak-anak.
  • ü  Guru harus disebut “Ibu Guru” atau “Pak Guru” dan dengan julukan itu memperoleh kedudukan sebagai orang yang dituakan.
  • Dalam kelas guru duduk atau berdiri di depan murid. Posisi yang menonjol itu memberikannya kedudukan yang lebih tinggi daripada murid yang harus duduk tertib di bangku tertentu. Ia senangtiasa mengawasi gerak-gerik murid untuk mengontrol kelakuannya. Sebagai guru ia berhak menyuruh murid melakukan hal-hal menurut keinginannya.
  • Untuk guru sering disediakan ruang guru yang khusus yang tak boleh dimasuki murid begitu saja.
  • Guru-guru muda yang ingin bergaul dengan murid sebagai kakak dan akan dinasihati oleh guru-guru tua yang berpengalaman agar menjaga jarak dengan murid dan jangan terlampau rapat dengan mereka.
  • Wibawa guru juga diperolehnya dari kekuasaannya untuk menilai ulang atau ujian murid dan menentukan angka rapor dan dengan demikian menentukan nasib murid, apakah ia naik atau tinggal kelas. Murid maupun mahasiswa sangat menyegani pengajar yang memegang kekuasaan itu. Ada guru yang menyalahgunakan kekuasaan itu dan diberi julukan “killer”.
  • Namum kewibawaan yang sejati diperoleh guru berdasarkan kepribadiannya sendiri. Kepribadian itu harus dibentuk berkat pengalaman. Kepribadian diperolleh dengan mewujudkan norma-norma yang tinggi pada diri guru seperti rasa tanggungjawab, yang nyata dalam ketaatan pada waktu, persiapan yang cermat, kerajinan memeriksa pekerjaan murid, kesediaan membimbing dan membantu murid, kesabaran, ketekunan, kejujuran, dan sebagainya.
Kewibawaan sejati tidak diperoleh dengan penyalahgunaan kekuasaan dengan ancaman akan memberikan angka rendah bila guru merasa ia kurang dihormati. Sekalipun kedudukan sebagai guru telah memberikan kewibawaan formal, namun kewibawaan itu harus lagi didukung oleh kepribadian guru.
Dalam situasi informal guru dapat mengendorkan hubungan formal dan jarak social, misalnya sewaktu reaksi berolah raga, berpiknik atau kegiatan lainnya. Murid-murid menyukai guru yang pada waktu-waktu demikian dapat bergaul dengan lebih akrab dengan mereka, sebagai manusia kepada menusia lainnya, dapat tertawa dan bermain lepas dari kedok formal. Jadi guru hendaknya dapat menyesuaikan peranannya menurut situasi social yang dihadapinya. Akan tetapi bergaul dengan murid secara akrab sebagai sahabat dalam situasi belajar dalam kelas akan menimbulkan kesulitan disiplin bagi murid itu sendiri. Dalam masyarakat kita yang sedidkit banyak masih bercorak otoriter-partikhel mungkin sikap demokratis masih belum dapat dijalankan sepenuhnya.
Walaupun guru bertindak otoriter dengan menggunakan kewibawaannya, namun ia tidak akan dicap sebagai kejam. Guru dapat bertindak tegas bahkan keras namun dapat menjaga jangan sampai menyinggung perasaan dan harga diri murid. Ini mungkin selama ia mengecam kesalahan yang dibuat murid agar diperbaiki  tanpa menyentuh pribadi anak itu sendiri. Kebanyakan murud-murid akan tetap menyukainya dan memandangnya sebagai guru yang baik asal ia selalu berusaha memahami murid dan bersedia untuk membantunya.
Pada satu pihak guru harus bersikap otoriter, dapat mengontrol kelakuan murid, dapat menjalankan kekuasaannya untuk menciptakan suasana disiplin demi tercapainya hasil belajar yang baik dan untuk itu ia menjaga adanya jarak social dengan murid. Di lain pihak ia harus dapat menunjukan sikap bersahabat dan dapat bergaul dengan murid dalam suasana yang akrab. Guru yang berpengalaman dapatmenjalankan peranannya menurut situasi social yang dihadapinya. Kegagaln dalam hal ini akan merusak kedudukannya dalam pandangan murid, kepala sekolah, rekan-rekan guru maupun orang tua murid.