Rabu, 13 Maret 2013

PERKEMBANGAN MASA KANAK-KANAK AWAL


A.      Tugas Perkembangan Masa Kanak-kanak Awal
Secara kronologis (menurut urutan waktu), masa kanak-kanak (early childhood) adalah masa perkembangan dari usia 1 atau 2 tahun hingga 5 atau 6 tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan dan keluarganya. Oleh karena itu, fungsionalisasi lingkungan keluarga pada fase ini penting sekali untuk mempersiapkan anak terjun ke dalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan sekolah.
Masa kanak-kanak sering disebut masa estetika, masa indera, dan masa menentang orang tua. Disebut estetika karena pada masa ini merupakan saat terjadinya perasaan keindahan. Disebut masa indera, karena pada masa ini indera berkembang pesat dan merupakan kelanjutan dari perkembangan selanjutnya. Berkat kepesatan perkembangan itulah, dia senang mengadakan eksplorasi. Kemudian disebut dengan masa menentang. Masa itu disebut juga Masa Raja Kecil atau Masa Trotz Alter dengan sikap egosentris karena merasa dirinya berada di pusat lingkungan, yang ditampilkan anak dengan sikap senang menentang atau menolak sesuatu yang datang dari orang di sekitarnya. Perkembangan seperti itu antara lain disebabkan oleh kesadaran anak, bahwa dirinya mempunyai kemauan dan kehendak sendiri, yang dapat berbeda dengan orang lain. Kesadaran itu merupakan awal dari usaha untuk mewujudkan diri (self realization) sebagai satu diri (individu), dengan menunjukkan bahwa dirinya tidak sama dengan orang lain.
Anak-anak pada masa ini bersifat meniru, banyak bermain dengan lelakon (sandiwara) atau khayalan, yang kadang-kadang dapat membantu dalam mengatasi kekurangan-kekurangannya dalam kenyataan. Kegiatan yang bermacam-macam itu akan memberikan ketrampilan dan pengalaman-pengalaman terhadap si anak.
Firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 132 yaitu
  
Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. Al Baqarah 2:132).
Tugas-tugas Perkembangan pada Fase ini Meliputi :
1.        Belajar Berjalan
Belajar berjalan terjadi pada usia antara 9 sampai 15 bulan, pada usia ini tulang kaki, otot dan susunan syarafnya telah matang untuk belajar berjalan.
2.        Belajar Memakan Makanan Padat
Hal ini terjadi pada tahun kedua, sistem alat-alat pencernaan makanan dan alat-alat pengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
3.        Belajar Berbicara
Yaitu mengeluarkan suara yang berarti dan menyampaikannya kepada orang lain dengan perantaraan suara itu, diperlukan kematangan otot-otot dan syarat dari alat-alat bicara. Ada dua pendapat mengenai cara permulaan anak dalam belajar berbicara, yaitu:
a)    Pendapat pertama, mengemukakan bahwa bayi mulai belajar bicara dengan jalan mengeluarkan macam-macam suara yang tidak berarti (meraban). Kemudian orang disekitarnya mengajarkan kepadanya nama-nama atau kata-kata tentang sesuatu secara teratur dalam situasi tertentu sampai anak belajar mengasosiasikan (menghubung-hubungkan) suara-suara tertentu dengan benda atau situasi (prilaku) tertentu. Misalnya, suara “bapak” yang diucapkan anak secara kebetulan, kemudian oleh orang di sekitarnya diulanginya apabila sang ayah hadir di dekatnya, maka terjadilah asosiasi antara “bapak” dengan orangnya.
b)    Pendapat kedua, justru sebaliknya, menurut teori ini suara bayi tidaklah searah kebetulan tetapi mempunyai arti baginya karena suara-suara itu mengekspresikan (menyatakan) perasaan-perasaannya. Perkembangan selanjutnya dari belajar bahasa ini terjadi dengan jalan meniru (imitasi).
4.        Belajar Buang Air Kecil dan Buang Air Besar
Tugas ini dilakukan pada tempat dan waktu yang sesuai dengan norma masyarakat. Sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak usia di bawah 4 tahun, cukup dengan pembiasaan saja, yaitu setiap kali mau buang air, bawalah anak ke WC tanpa banyak memberikan penerangan kepadanya.

5.        Belajar Mengenal Perbedaan Jenis Kelamin
Melalui observasi (pengamatan) anak dapat melihat tingkah laku, bentuk fisik dan pakaian yang berbeda antara jenis kelamin yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut, anak dapat mengenal perbedaan anatomis pria dan wanita, anak menaruh perhatian besar terhadap jenis kelamin (sex) itu berjalan normal, maka orang tua perlu memperlakukan anaknya, baik dalam memberikan alat mainan, pakaian, maupun aspek lainnya sesuai dengan jenis kelamin anak.
6.        Mencapai Kesetabilan Jasmaniah Fisiologis
Keadaan jasmani anak sangat labil apabila dibandingkan dengan orang dewasa, anak cepat sekali merasakan perubahan suhu sehingga temperatur badannya mudah berubah. Perbedaan variasi makanan yang diberikan dapat merubah kadar garam dan gula dalam darah dan air di dalam tubuh. Untuk mencapai kesetabilan jasmaniah, bagi anak diperlukan waktu sampai usia 5 tahun. Dalam proses mencapai kesetabilan jasmaniah ini, orang tua perlu memberikan perawatan yang intensif, baik menyangkut pemberian makanan yang bergizi maupun pemeliharaan kebersihan.
7.        Membentuk Konsep-Konsep (Pengertian) Sederhana Kenyataan Sosial dan Alam
Pada mulanya dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang kompleks dan membingungkan. Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda atau orang-orang di sekitarnya. Perkembangan lebih lanjut, anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk generalisasi (kesimpulan) dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai ciri yang sama. Anak belajar bahwa bayangan tertentu dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhannya disebut “orang”, ”ibu” , “ayah”. Anak belajar bahwa benda-benda khusus dapat dikelompokan dan diberi satu nama, seperti kucing, ayam, kambing, burung dapat disebut binatang. Untuk mencapai kemampuan tersebut (mengenal pengertian-pengertian) diperlukan kematangan sistem syaraf, pengalaman dan bimbingan dari orang dewasa.
8.        Belajar Mengadakan Hubungan Emosional dengan Orang Tua, Saudara, dan Orang Lain.
Anak mengadakan hubungan dengan orang-orang yang ada disekitarnya menggunakan berbagai cara yaitu isyarat, menirukan dan menggunakan bahasa. Cara yang diperoleh dalam belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang lain, sedikit banyaknya akan menentukan sikapnya di kemudian hari. Apakah ia bersikap bersahabat, bersikap dingin, introvert, extrovert dan sebagainya. Misalnya, apabila anak memperoleh pergaulan dengan orang tuanya itu menyenangkan, maka cenderung akan bersikap ramah dan ceria.
9.        Belajar Mengadakan Hubungan Baik dan Buruk, Yang Berarti Mengembangkan Kata Hati
Anak kecil dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kenikmatan  dianggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonisme adalah aliran yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya bertujuan mencari kenikmatan dan kebahagiaan). Apabila anak bertanbah besar ia harus belajar pengertian tentang baik dan buruk, benar dan salah, sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat), manusia tidak hanya memperhatikankepentingan/kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenal pengertian baik dan buruk, benar dan salah ini dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada mulanya anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah dan apa yang diperbolehkan itu berarti baik atau benar. Pengalaman ini merupakan permulaan pembentukan kata hati anak. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasihat, bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri teladan dari orang tua dan bimbingannya. Hal ini lebih baik daripada penggunaan hukuman dan ganjaran, meskipun dalam situasi tertentu masih tetap diperlukan.
Dengan demikian, belajar berbicara, membedakan jenis kelamin, mengadakan hubungan emosional, belajar konsep (pengertian) dapat dikatakan sebagai tugas perkembangan masa anak-anak awal yang berkaitan dengan segi perkembangan psikososialnya yang selanjutnya berguna bagi terciptanya hubungan sosial menuju tahap-tahap perkembangan selanjutnya.

B.       Ciri-ciri Masa Kanak-kanak Awal
Masa kanak-kanak awal yang berlangsung pada usia kurang lebih 2 sampai 6 tahun mempunyai ciri-ciri, sebagaimana digambarkan oleh orang tua, pendidik atau guru, dan psikolog, sebagai berikut.
Adapun ciri-ciri masa kanak-kanak awal adalah :
1.        Menurut orang tua, masa kanak-kanak awal merupakan :
a)       Masa yang mengandung masalah atau usia sulit
b)       Masa bermain.
2.        Menurut pendidik, masa kanak-kanak awal merupakan masa atau usia pra sekolah atau preschool age.
3.        Menurut psikolog, masa kanak-kanak awal merupakan ;
a)       Masa negatif.
b)       Masa usia belajar berkelompok.
c)        Masa menjelajah.
d)       Masa bertanya.
e)       Masa meniru.
f)        Masa kreatif
Dengan demikian ciri-ciri masa kanak-kanak awal tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Adapun kekurangan dari salah satu ciri-ciri tersebut merupakan suatu kondisi yang harus diperhatikan sunguh-sungguh oleh orang tua ataupun masyarakat.

C.      Perkembangan yang Terjadi pada Periode ini dari Segi Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti: pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon dll), dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan dan sebagainya.
Masa kanak-kanak awal terjadi pada rentang usia 2 – 6 tahun, masa ini sekaligus merupakan masa prasekolah, dimana anak umumnya masuk Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Pada masa kanak-kanak awal, rata-rata anak bertambah tinggi 6,25 cm setiap tahun, dan bertambah berat 2,5 – 3,5 kg setiap tahun. Pada usia 6 tahun berat harus kurang lebih mencapai tujuh kali berat pada waktu lahir.
Keterampilan umum yang sering dilakukan anak biasanya menyangkut keterampilan tangan dan kaki. Keterampilan dalam aktivitas makan dan berpakaian sendiri biasanya dimulai pada masa bayi dan disempurnakan pada masa kanak-kanak awal. Kemajuan terbesar keterampilan berpakaian antara usia 1,5 dan 3,5 tahun. Pada saat anak-anak mencapai usia TK, mereka sudah harus dapat mandi dan berpakaian sendiri, mengikat tali sepatu dan menyisir rambut dengan sedikit bantuan atau tanpa bantuan sama sekali. Antara usia 5 dan 6 tahun sebagian besar anak-anak sudah pandai melempar dan menangkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah liat, bermain membuat kue-kue dan menjahit, mewarnai dan menggambar dengan pensil atau krayon. Mereka juga sudah dapat menggambar orang.
Keterampilan kaki dapat dilakuan anak dengan belajar gerakan-gerakan kaki. Antar usia 3 – 4 tahun anak dapat mempelajari sepeda roda tiga dan berenang. Keterampilan kaki lain yang dikuasai anak adalah lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan di atas dinding atau pagar, sepatu roda, bermain sepatu es, menari. Usia 5 atau 6 tahun anak belajar melompot dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat memanjat.
a)       Tinggi dan Berat
Saat masa anak-anak awal, anak-anak bertumbuhmakin besar, persentase pertumbuhan dalam tinggi dan berat berkurang setiap tahun.Selama masa ini, baik laki-laki maupun perempuan terlihat makin langsing, sementara batang tubuh mereeka makin panjang. Tinggi rata-rata anak bertumbuh 2,5 inci dan berat bertambah antara 2,5 hingga 3,5 kg setiap tahunnya
b)       Perkembangan Otak
Pertumbuhan otak selama masa awal anak-anak disebabkan oeh pertambahan jumlah dan ukuran urat saraf yang berujung di dalam dan di antara daerah-daerah otak. Beberapa pertambahan ukuran otak juga disebabkan oleh pertambahan myelination, yaitu suatu proses dimana sel-sel urat saraf ditutup dan disekat dengan suatu lapisan sel-sel lemak.
c)        Perkembangan Motorik
Perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik, baik kasar maupun halus. Sekitar usia 3 tahun, anak sudah dapat berjalan dengan baik, dan sekita usia 4 tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Usia 5 tahun sudah terampil menggunakan kakinya untuk berjala dengan berbagai cara, seperti maju dan mundur, jalan pelan dan cepat, melompat dan berjingkrak, berlari kesana kemari, memanjat, dan sebagainya. Anak usia 5 tahun juga dapat melakukan tindakan-tindakan tertentu secara akurat.
d)       Perkembangan Gizi
Makanan anak-anak harus mengandung proporsi yang seimbang antara lemak, karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Makan terlalu banyak manisan seringkali merupakan factor penyumbang bagi masalah makanan pada masa awal anak-anak.
e)       Penyakit dan Kesehatan
Penyebab kematian anak paling sering ialah diare. Terapi rehidrasi oral bisa digunakan untuk mencegah kematian akibat diare. Kebanyakan kekurangan gizi dan kematian anak dapat dicegah dengan tindakan pengasuhan yang dapat diupayakan dan didasarkan atas pengetahuan yang tersedia.

D.      Perkembangan yang Terjadi pada Periode Ini dari Segi Perkembangan Kognitif
Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti orang lain, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif.
a)       Pemikiran Praoperasional
Sesuai dengan teori kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pemikiran praoperasional tidak lain adalah suatu masa tunggu yang singkat bagi pemikiran operasional, sekalipun label ”praoperasional”  menekankan bahwa anak pada tahap ini belum berpikir secra operasional.
Pada masa kanak-kanak awal, anak berpikir konvergen menuju ke suatu jawaban yang paling mungkin dan paling benar terhadap suatu persoalan. Menurut teori Piaget, anak pada masa kanak-kanak awal berada pada tahap perkembangan praoperasional (2–7 tahun), istilah praoperasional menunjukkan pada pengertian belum matangnya cara kerja pikiran. Pemikiran pada tahap praoperasional masih kacau dan belum terorganisasi dengan baik, yang sering dikatakan anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis.
Adapun ciri-ciri berpikir pada tahap praoperasional adalah semakin berkembangnya fungsi simbolis, tingkah laku imitasi langsung maupun tertunda, cara berpikirnya masih egosentris, centralized atau terpusat pada satu dimensi saja, serta cara berpikir yang tak dapat dibalik dan terarah statis.
Pada usia ini, anak (peserta didik) berada dalam periode “praoperasional” yang dalam menyelesaikan persoalan, ditempuh melalui tindakan nyata dengan jalan memanipulasi benda atau obyek yang bersangkutan. Peserta didik belum mampu menyelesaikan persoalan melalui cara berpikir logik sistematik. Kemampuan mengolah informasi dari lingkungan belum cukup tinggi untuk dapat menghasilkan transformasi yang tepat.
b)       Pemrosesan Informasi
·      Perhatian : perhatian anak secara dramatis meningkat selama masa awal anak-anak. Salah satu kekurangan dalam perhatian ialah anak cenderumemperhatikan ciri yang menonjol daripada yang relevan.
·      Memori (ingatan) : peningkatan yang signifikan dalam ingatan jangka pendek terjadi selama masa awal anak-anak. Meningkatnya penggunaan pelatihan dan kecepatan pemrosesan berkaitan dengan peningkatan ingatan anak-anak.
·      Analisis tugas : dengan membuat tugas lebih menarik dan sederhana, penelit menunjukan bahwa beberapa aspek perkembangan kognitif anak terjadi lebih awal daripada yang diperkirakan.
·      Teori pikiran anak : anak-anak mengembangan suatu kesadaran bahwa pikiran itu ada, berhubungan dengan dunia fisik, terpisah dari dunia fisik, bisa berupa obyek secara akurat, dan secara aktif menengahi interpretasi tentang realitas dan emosi yang dialami.
c)        Bahasa
Perkembangan bahasa yang cepat dianggap sebagai hasil perkembangan simbolisasi. Schaerlaekens (1977), membedakan perkembangan bahasa pada awal anak-anak ini atas tiga yaitu periode pra-lingual (kalimat satu kata), periode lingual-awal (kalimat dua kata) dari 1 hingga 2,5 tahun, dan periode differensiasi (kalimat tiga kata dengan bertambahnya diferensiasi pada kelompok kata dan kecakapan verbal.
Perkembangan bahasa dipengaruhi Teori Belajar sosial, yakni anak belajar bahasa dengan model-model yang ada di lingkungannya. Melalu imitasi dan respon dari lingkungan, akhirnya anak menguasai keterampilan bicara. Namun menurut Chomsky, perkembangan bahasa anak juga terjadi karena faktor pembawaan; bahwa anak lahir sudah disertai dengan LAD (Language Aquisition Device) yang membuat anak sering mengekspresikan sesuatu dengan kata yang tidak ditemukan dari lingkungannya.
d)       Teori Vygotsky
Zone of  Proximal Development (ZPD) ialah istilah vygotsky untuk tugas-tugas yang cukup sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang bisa dikuasai dengan bimbingan dan bantuan orang dewasa atau anak-anak yang lebih terampil. Bahasa dan pemikiran berkembang secara mandiri dan kemudian bergabung, penggabungan ini terjadi antara usia 3 dan 7 tahun dan mencangkup berbicara dengan diri sendiri. Teori ini menekankan bagaimana pikiran anak berkembang dalam konteks dunia sosial budaya.
e)       Pendidikan Masa Awal Anak-anak
Taman kanak-kanak yang terpusat pada anak meliputi pendidikan anak secaramenyeluruh, dengan penekanan pada variasi individual, proses belajar, dan pentingnya permainan dalam perkembangan. Pengaruh pendidikan masa awal anak-anak terhadap perkembangan anak sulit dievaluasi, pengaruh menyeluruh tampaknya positif, tetapi ukuran-ukuran hasil mengungkapkan bidang-bidang dimana kompetensi social lebih positif dan yang lain kurang positif.

E.       Perkembangan yang Terjadi pada Periode Ini dari Segi Perkembangan Psikososial
Dalam uraian berikut akan dibahas beberapa aspek penting perkembangan psikososial yang terjadi pada awal anak-anak, di antaranya adalah:
1.        Perbedaan Keluarga dan Pengasuhan
Selama tahun-tahun prasekolah, hubungan dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial anak. Studi klasik tentang hubungan orang tua dan anak yang dilakukan olea Diana Baumrind, 1972 (dalam Lerner & Haultsch, 1983) merekomendasikan tiga tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam tingkah laku sosial anak, yaitu otoritatif, otoriter, dan permisif.
a)       Pengasuhan otoritatif (authoritative parenting) adalah salah satu gaya pengasuhan yang memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak, tetapi mereka juga bersikap responsive, menghargai dan menghormati pemikiran, perasaan, serta mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan.
b)       Pengasuhan otoriter (authoritarian parenting) adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua.
c)        Pengasuhan Permisif (permissive Parenting) Gaya pengasuhan permisif dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu: pertama, pengasuhan permissive indulgent yaitu suatu gaya pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, tetapi menetapkan sedikit batas atau kendali atas mereka. Kedua, pengasuhan permissive indifferent, yaitu suatu gaya pengasuhan di mana orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang permissive indifferent cenderung kurang percaya diri, pengendalian diri yang buruk, dan rasa harga diri yang rendah.
2.        Relasi Teman Sebaya
Perkembangan psikososial dan kepriadian sejak usia prasekolah hingga akhir masa sekolh ditandai oleh semakin meluasnya pergaulan sosial, terutama dengan teman sebaya. Teman sebaya (peer) sebagai kelompok sosial sering didefinisikan sebagai semua orang yang memiliki kesamaan sosial atau yang memiliki kesamaan cirri-ciri, seperti kesamaan tingkat usia (Hetherington & Parke, 1981). Akan tetapi belakangan teman sebaya didefinisikan lebih ditekankan pada kesamaan tingkah laku atau psikologis (Lewis & Rosenblum, 1975).Salah satu fungsi kelompok teman sebaya yang paling penting ialah menyediakan suatu sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga
3.        Permainan
Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada masa awal anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunyadiluar rumah bermain dengan teman-temannya disbanding terlibat dengan aktivitas lain. Hetherington & Parke (1979) mendefinisikan permainan bagi anak-anak adalah suatu bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-semata untuk aktivitas sendiri, bukan karena ingin memperoleh sesuatu yang dihasilkan dari aktivitas tersebut.
Permainan tidak bisa dipisahkan dari dunia anak. Dan merupakan bagian penting dalam perkembangan tahun-tahun pertama masa ini. Bentuk-bentuk permainan yang biasa dilakukan anak pada periode ini adalah :
·         Memasuki tahun kedua, anak suka bermain sendirian.
·         Akhir tahun ketiga, anak mulai bermain dengan anak lain.
·         Pada tahun keempat, anak-anak cenderung bermain pada kelompok khusus dalam permainan imajinatif  dan bangunan.
·         Pada usia kelima, anak menyukai permainan yang memungkinkan untuk saling mengungguli.
a)       Fungsi Permainan
Hetherington & Parke menyebutkan tiga fungsi utama dari permainan, yaitu:
·   Fungsi kognitif permainan membantu perkembangan anak.
·   Fungsi sosial permainan dapat menigkatkan perkembangan sosial anak.
·   Fungsi emosi permaian memungkinkan anak untuk memecahkan sebagian dari masalah emosionalnya, belajar mengatasi kegelisahan dan konflik batin.
b)       Jenis-jenis Permainan
Parten (dalam Johnson & Medinnus, 1974), meninjau pemainan anak dari sudut tingkah laku sosial. Berdasarkan observasinya terhadap anak-anak berusia 2 hingga 5 tahun, Parten menemukan 6 kategori permainan anak-anak, yaitu:
·   Permainan unoccupied.
·   Permainan solitary.
·   Permainan onlooker.
·   Permainan parallel.
·   Permainan assosiative.
·   Permainan cooperative.
Sementara itu, para pakar teori kognitif mengidentifikasi 4 macam permainan yang berkembang sejalan dengan tahap-tahap perkembangan kognitif (Sifert & Hoffnung, 1994). Keempat macam permainan itu adalah:
·   Permainan fungsional.
·   Permainan konstruktif.
·   Permainan dramatic.
·   Permainan dengan aturan.
4.        Televisi
Televisi tidak hanya memberi pengaruh yang negative tapi televisi juga dapat memberikan pengaruh yang positif dengan cara menyajikan program-program pendidikan yang menambah pengetahun anak. Anak-anak prasekolah rata-rata menonton tv 4 jam sehari, hingga 80% pertunjukan prime-time tv mengandung episode kekerasan, tetapi banyak pakar menyimpulan bahwa kekerasan tv dapat mempengaruhi perilaku agresi dan antisocial pada anak-anak. Perilaku prasosial di tv diasosiasikan dengan meningkatnya perilaku positif pada anak-anak.
5.        Diri
Pemahaman diri adalah representasi kognitif diri anak, substansi dan isi konsep diri anak.Pemahaman ini memberi landasan rasional bagi identitas. Bila bentuk awalpemahaman diri terjadi pada kira-kira usia 18 bulan dalam bentuk pengakuan diri, maka pada masa awal anak-anak diri yang fisik dan aktif menjadi bagian dari pemahaman diri.


6.        Gender
Gender merupakan salah satu aspek penting yang mempengaruhi perkembangan sosial pada masa awal anak-anak. Istilah gender dimaksudkan sebagai tingkah laku dan sikap yang diasosiasikan dengan laki-laki atau perempuan. Kebanyakan anak mengalami sekurang-kurangnya tiga tahap dalam perkembangan gender (Shepherd-Look, 1982). Pertama, anak mengembangkan kepercayaan tentang identitas gender, yaitu rasa laki-laki atau perempuan.Kedua, anak mengembangkan keistimewaan gender, sikap tentang jenis kelamin mana yang mereka kehendaki.Ketiga, mereka memperoleh ketetapan gender, suatu kepercayaan bahwa jenis kelamin seseorang ditentukan secara biologis, permanen, serta tak berubah-ubah.
7.        Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Santrock, 1995). Dalam tahap ini, anak secara otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir ataupun menilai. Anak sebaiknya cenderung dilatih untuk berdisiplin, karena ini merupakan cara mengajarkan berperilaku moral sesuai yang diterima kelompoknya.
Perkembangan moral peserta didik masih berada pada tingkatan moralitas yang baku. Peserta didikbelum sampai pada pemilihan kaidah moral sendiri secara nalar. Perkembangan nilai dan sikap sangat diperngaruhi oleh situasi yang berlaku dalam keluarga. Nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga akan diadopsi oleh peserta didik melalui proses imitasi dan identifikasi. Keterkaitan peserta didik dengan suasana dan lingkungan keluarga sangat besar.
Aspek perkembangan moral pada masa kanak-kanak awal mencakup konsep anak tentang persahabatannya dan kewajiban-kewajiban tertentu dari persahabatan, keadilan dan kejujuran, kepatuhan, otoritas, serta hukum-hukum sosial dan adat. Beberapa teori tentang perkembangan moral:
a)       Teori psikoanalisa tentang perkembangan moral.
Dalam menggambarkan perkembangan moral, teori psikoanalisa dengan pembagian struktur kepribadian manusia menjadi tiga, yaitu id., ego dan superego. Menurut teori psikoanalisa klasik Freud, semua orang mengalami konflik Oedipus. Konflik ini akan menghasilkan pembentukan struktur kepribadian yang dinamakan Freud sebagai superego. Ketika seorang anak mengalami Oedipus maka perkembangan moral mulai.
b)       Teori belajar-sosial tentang perkembangan moral.
Teori belajar-sosial melihat tingkah laku moral sebagai respons atas stimulus. Dalam hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman, dan peniruan digunakan untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak.
c)        Teori kognitif Piaget tentang perkembangan moral.
Melibatkan prinsip-prinip dan proses-proses yang sama dengan pertumbuhan kognitif yang ditemui dalam teorinya tentang perkembangan intelektualnya. Bagi Piaget, perkembangan moral digambarkan melalui aturan permainan.
d)       Teori Kohlberg tentang perkembangan moral.
Teori Kohlberg tentang perkembangan moral merupakan perluasan, modifikasi, dan redefinisi atas teori Piaget. Teori ini didasarkan atas analisinya terhadap hasil wawancara dengan  anak laki-laki usia 10 hingga 16 tahun yang dihadapkan pada dilema moral, dimana mereka harus memilih antara tindakan menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan hidup dengan  cara yang bertentangan dengan peraturan.
8.        Perkembangan Emosi
Emosi yang meninggi pada awal masa kanak-kanak ditandai oleh ledakan amarah yang kuat, ketakutan yang hebat dan iri hati yang tidak masuk akal. Penyebab emosi ini adalah akibat lamanya bermain, tidak mau tidur siang, dan makan terlalu sedikit.
Di antara beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain ; kecerdasan, anak yang cerdas lebih aktif dalam menjelajahi lingkungannya dan lebih banyak bertanya daripada anak yang kecerdasannya lebih rendah. Perbedaan seks, dalam emosi terutama karena tekanan sosial untuk mengungkapkan emosi sesuai dengan kelompoknya. Besarnya keluarga juga sangat mempengaruhi sering dan kuatnya rasa cemburu dan iri hati.
Lingkungan sosial rumah memainkan peranan yang penting dalam menimbulkan sering dan kuatnya rasa marah anak-anak, misalnya bila ada tamu di rumah. Jenis disiplin dan metode latihan anak juga mempengaruhi frekuensi dan intensitas ledakan amarah anak. Semakin orang tua otoriter, semakin besar kemungkinan anak bereaksi dengan amarah.
Emosi yang umum pada awal masa kanak-kanak adalah :
·   Amarah
·   Takut
·   Cemburu
·   Ingin tahu
·   Iri hati
·   Gembira
·   Sedih
·   Kasih sayang

9.        Perkembangan Sosial -Emosional
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio-psikologis keluarganya. Jika di lingkungan keluarga tercipta suasana yang harmonis, saling memperhatikan, saling membantu (bekerja sama) dalam menyelesaikan tugas-tugas keluarga atau anggota keluarga, dan konsisten dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan atau penyesuaian sosial dalam hubungan dengan orang lain.
Pola perilaku sosial pada anak antara lain; meniru, persaingan, kerja sama, simpati, empati (mengerti perasaan dan emosi orang lain dan membayangkan dirinya pada kondisi orang lain tersebut), dukungan sosial, membagi/ berbagi, perilaku akrab.
Sedangkan perilaku tidak sosial antara lain; negativisme, agresif, perilaku berkuasa, mementingkan diri sendiri, merusak, pertentangan seks (sering kali laki-laki berperilaku agresif melawan anak perempuan), prasangka.
Perkembangan sosial emosional terintegrasi dengan perkembangan aspek lainnya seperti perkembangan kognitif dan perkembangan motorik.
·         Dalam bermain anak mengalami perubahan dari permaianan solitair, paralel, sampai ke permainan asosiatif. Dari bermain, anak belajar sejumlah peraturan sosial.
·         Menurut perkembangan psikososial Erikso berada pada tahap perkembangan otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu, serta perkembangan inisiatif vs rasa bersalah
·         Perkembangan diri di awali dari perasaan secara fisik kemudian berkembang menjadi perasaan yang lebih bersifat psikologis
·         Anak-anak populer terbukti memiliki keterampilan sosial lebih tinggi dibanding dengan anak yang kurang populer. Anak yang populer terlibat dalam hubungan dengan teman sebaya yang lebih kompleks, dan hal ini lebih menguntungkan dan meningkatkan lagi bagi perkembangan kognitifnya
·         Anak-anak yang mengalmi konflik dan tidak mampu menyatakan secara verbal akan mencoba menyelesaikan konfliknya dengan kekuatan fisik
·         Perilaku prososial dapat berkembang apabila anak diajarkan untuk berpikir dengan cara sudut pandang orang lain, hal ini dapat diperoleh melalui permainan sosiodrama
·         Anak mengalami perkembangan emosi dari senang, marah, malu, kecewa dan sebagainya. Pada masa ini anak tidak hanya perlu belajar bagimana cara mengekspresikan emosinya, tetapi juga perlu belajar mengendalikannya
·         Anak masa kanak-kakak awal sering mengembangkan stereotipe tentang gender yang salah, seperti anak perempuan tidak boleh menjadi polisi. Pendidik mempunyai peran penting untuk mengajarkan anak sadar akan gendernya sendiri, menentang berkembangnya sterotipe tentang gender yang salah, serta mendorong anak-anak bermain secara lintas gender
10.     Perkembangan Kesadaran Beragama
Pengenalan agama sudah dapat dilakukan sejak dini. Pengetahuan anak tentang agama berkembang sejalan dengan pengalamannya dalam mendengarkan ucapan-ucapan orang tuanya, melihat sikap dan perilaku orang tuanya dalam beribadah, selanjutnya mereka meniru dari apa yang telah dilihat maupun didengarnya.
Jadi perkembangan-perkembangan tersebut menjadi salah satu bagian yang erat hubungannya dengan perkembangan psikososial anak.
v  Implikasi Tugas Perkembangan pada Pendidikan
1.        Anak perlu mengenal secara fisik adanya perbedaan jenis kelamin antara anak perempuan dengan anak laki-laki. Selain itu anak perlu diajarkan perilaku dalam batas-batas yang disetujui masyarakat sesuai peran jenisnya
2.        Anak-anak perlu diperkenalkan pada keterampilan sosial sederhana seperti kapan mengatakan terima kasih, maaf, tolong dsb. Selain itu, juga diajarkan membedakan apa yang benar dan apa yang salah, nilai kejujuran, keadilan, persahabatan, tingkah laku prososial dan tanggung jawab sosial.
3.        Anak diperkenalkan pada konsep-konsep sederhana tentang realitas alam, baik mengenai benda hidup maupun benda mati, serta cara kerja atau berfungsinya benda-benda tersebut.
v  Implikasi Bagi Bimbingan dan Konseling dalam Keluarga
Seperti penjelasan diatas, Perkembangan masa anak-anak awal adalah perkembangan yang terjadi saat anak berusia sekitar 2 sampai 6 tahun. Dimana pada saat usia tersebut, anak-anak lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga. Selama tahun-tahun tersebut pula, hubungan dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial anak. Dan yang menjadi topik penting dalam tahun-tahun tersebut adalah kasih sayang orang tua terhadap anak dan bagaimana cara orang tua dalam mengasuh anak.
Sebagai calon konselor kita diharapkan mampu menerapkan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan masa anak-anak awal tersebut dalam pelayanan yang akan kita berikan nantinya. Adapaun pelayanan yang tepat dalam pokok bahasan ini dalah pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam keluarga. Kita diharapkan mampu mengarahkan orang tua agar dapat secara tepat dalam pengasuhannya terhadap anak-anak. Kita juga harus bisa merekomendasikan gaya atau tipe pengasuhan yang baik untuk diterapkan orang tua.
Kesemua hal tersebut dilakukan agar anak-anak dapat  mencapai tujuan perkembangannya yang optimal, dengan kasih sayang dan perlakuan yang tepat dari orang tua.

F.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Awal Anak
Pada masa pekembangan, yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak-anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam-jam untuk bermain dengan teman-teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan, yang merajuk pada aliran psikologi diantaranya:
1.        Aliran Nativisme (Pembawaan/ hereditas)
Pada aliran nativisme di kemukakan bahwa manusia yang baru dilahirkan telah memiliki bakat dan pembawaan, baik karena berasal dari keturunan orang tuanya maupun karena di takdirkan seperti itu. Artinya bahwa dalam perkembangan seseorang hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan saja sedangkan factor pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh dalam perkembangan tersebut. Misalnya apabila seorang anak yang kedua orang tuanya memiliki potensi kecerdasan di sekolahnya maka anak tersebutpun juga akan mempunyai potensi kecerdasan seperti yang di miliki oleh orang tuanya juga. Sebagai contoh apabila di sekolah sewaktu di beri pelajaran oleh gurunya, anak tersebut akan lebih cepat menangkap pelajaran tersebut. Jadi faktor ini sangat berpengaruh dalam perkembangan anak.
2.        Aliran Empirisme (Lingkungan)
Aliran empirisme merupakan aliran yang mengemukakan bahwa factor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan seseorang sedangkan faktor bakat tidak ada pengaruhnya. Pengalaman dan lingkungan hidup sangat berperan penting dalam perkembangan anak karena semua ini dapat mempengaruhinya. Misalnya seorang anak dari keluarga baik-baik namun dalam bergaul di lingkungan sekolah anak tesebut berteman dengan anak-anak yang nakal maka secara perlahan-perlahan anak tersebut akan ikut menjadi anak yang nakal, apabila tidak ada pengawasan atau pengarahan dari orang tuanya.
3.        Aliran Konvergensi (Persesuaian)
Aliran kovergensi merupakan aliran yang mengemukakan bahwa dalam perkembangan factor hereditas (pembawaan) dan limgkungan sama-sama penting. Antara factor hereditas dan lingkungan saling mempengaruhi perkembangan anak. Misalnya Apabila seorang anak mempunyai keturunan potensi kecerdasan yang baik dalam lingkungan sekolah dan apabila kecerdasan ini tidak dilatih dan di dalam lingkungan sekolahnya anak tersebut bergaul dengan teman-teman yang pemalas maka lama-kelamaan anak tersebut akan menjadi malas belajar sehingga kecerdasannya pun juga akan menurun. Jadi factor lingkungan juga berperan penting dalam perkembangan anak. Faktor pembawaan dan lingkungan menjadi sumber timbulnya setiap perkembangan tingkah laku dan kedua factor ini tidak berfungsi secara terpisah melainkan saling berhubungan.
4.        Aliran Konstruktivisme
Pada aliran ini merupakan suatu aliran yang menekankan bahwa pengetahuan yang di peroleh merupakan bentukan atau konstruksi dari diri sendiri. Artinya bahwa pengetahuan tersebut bukan dari hasil seseorang meniru dari realitas dan bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada.
Adapun implikasi pembelajaran teori implikasi sebagai berikut.
a)       Tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
b)       Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
c)        Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
5.        Aliran Behaviorisme
Pada aliran ini menekankan bahwa tingkah laku seseorang terbentuk karena hasil dari pengalaman. Pengalaman ini merupakan sebagai hasil dari belajar karena seseorang dianggap telah belajar apabila seseorang tersebut telah menunjukan perubahan perilakunya. Misalnya implikasi dalam pembelajaran yaitu, apabila guru memberikan pelajaran kepada siswanya maka siswa tersebut akan memberikan respon yang berupa reaksi atau tanggapan siswa terhahap pelajaran yang di berikan oleh guru tersebut. Artinya bahwa anak dalam bertindak berdasarkan pengalaman-pengalaman yang mereka peroleh.
6.        Aliran Gestalt
Pada aliran ini seseorang dalam memperoleh pengetahuan yang di dapat dengan memandang sensasi secara keseluruhan suatu objek yang memiliki struktur atau pola-pola tertentu. Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a)       Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b)       Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan  dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna  yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
c)        Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d)       Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e)       Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek  dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi  apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.  Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
7.        Aliran Humanistik
Pada aliran ini menekankan pada pentinngnya kesadaran aktualisasi pada diri dan hal-hal yang bersifat positif pada seseorang.Aliran ini selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia melalui penghargaan terhadap potensi-potensi yang ada. Misalnya dalam sekolah apabila ada suatu anak yang pintar, rajin dan baik maka anak tersebut akan memperoleh penghargaan dari gurunya akibat dari tingkah lakunya.
8.        Aliran Kognitif
Pada teori kognitif menekankan proses belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Teori ini menyebutkan bahwa seseorang yang mempunyai suatu pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya dan pengalaman dan pengetahuan itersebut tertata dalam bentuk struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi secara bersama-sama dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa. Adapun implikasi pembelajaran dalam aliran kognitif sebagai berikut.
a)       Seseorang yang belajar akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu.
b)       Penyusunan materi pelajaran harus dari sederhana ke kompleks.
c)        Belajar dengan memahami akan jauh lebih baik daripada dengan hanya menghafal tanpa pengertian penyajian
Dalam pembelajaran guru harus memehami karakter siswa dan mengerti bahwa anak-anak bukan sebagai orang dewasa yang cepat dalam proses berfikirnya dan guru tersebut harus menciptakan pembelajaran yang bermakna.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.
Arfinurul. 2010. Perkembangan Emosi pada Remaja. [tersedia] http://arfinurul.blog.uns.ac.id. (14 Nopember 2012).
Atkinson, L. Rita dkk. 1991. Pengantar Psikologi. Jakarta: PT Gelar Aksar Pratama.
Billimham, Katherine A. 1982. Developmental Psychology for The Heah Care Professions : Part 1 – Prenatal Through Adolescent Development. Colorado : Westview Press, Inc.
Bimo Walgito. 2000. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Yasbit Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Branca, Albert A. 1965. Psychology : The Science of Behavior. Boston : Allyn and Bacon, inc.
Dirgagunarsa, Singgih. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung : Rosdakarya.
F.J. Monks, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Gunarsa, D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT. BK Gunung Mulia
Hardy, Malcolm dan Heyes, Steve. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga.
Hurlock, B. Elizabeth. 1993. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
                1980. Psikologi Perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Edisi ke lima. Jakarta : Erlangga
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 1. (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 2 (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (Alih Bahasa : Istiwidayanti dan Soedjarwo) Jakarta : Erlangga.
Hymovich, Debra P. and Chamberlin, Robert W. 1980. Child and Family Development : Implications for Primary Health Care. New York : Mc Graw Hill Book Company.
Jeff and Cindi. 2006. “Oh Baby, Bond with Me” http:// www.envisagedesign. com/ohbaby/ index/html (diakses 15 Maret 2006).
Kartini Kartono. 1992. Psikologi Wanita Jilid 2 : Mengenal Wanita sebagai Ibu dan Nenek. Bandung : CV Mandar Maju.
Kartono, K. 1979. Psikhologi Anak. Bandung : Alumni
Kasiram, M. 1983. Ilmu Jiwa Perkembangan. Surabaya : Usaha Nasional.
Monk, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Nugraha, Ari. 2012. Psikologi Perkembangan. [tersedia] http://the-arinugraha-centre.blogspot.com. (25 Desember 2012).
Perry, Bruce D. 2001. Bonding Attachment in Maltreated Children : Consequences of Emotional Neglect in Childhood. Booklet.
Sarlito Wirawan Sarwono. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Radja Grafindo Persada.
                                . 2002. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Remaja Grafindo Persada.
Sujanto, Agus. 1986. Psikologi Deskripsi. Jakarta: Aksara Baru.
Syamsu Yususf, L.N. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Rosdiana S. 2006. “11 Perilaku Sulit Si Prasekolah. ” Nakita No. 367/Th VIII/15 April 2006.
Wikipedia Free Encyclopedia. 2005. “Delayed Puberty”. www.en.wikiperia.- org/delayedpuberty.html.
Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Zulkifli, L. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Tidak ada komentar: