Selasa, 26 Maret 2013

PERKEMBANGAN MASA KANAK-KANAK AKHIR


A.      Pendahuluan
Akhir masa kanak-kanak (latechildhood) berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Permulaan masa akhir kanak-kanak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu. Bagi sebagian anak, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupan anak. Sementara mrnyesuaikan diri dengan tuntutan dan harapan baru dari kelas satu, kebanyakan anak berada dalam keadaaan tidak seimbang; anak mengalami gangguan emosional sehingga sulit untuk hidup bersama dan bekerja sama. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi setiap anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai, dan prilaku.
Selama setahun atau dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak terjadi perubahan fisik yang menonjol dan hal ini juga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai, dan prilaku untuk memasuki masa remaja. Perubahan fisik yang terjadi menjelang berakhirnya masa kanak-kanak menimbulkan keadaan ketidak seimbangan dimana pola kehidupan yang sudah terbiasa menjadi terganggu sampai tercapainya penyesuaian diri terhadap perubahan ini.
Akhir masa kanak-kanak secara tepat dapat diketahui, tetapi orang tidak dapat mengetahui secara tepat kapan periode ini berakhir karena kematangan seksual. Yaitu criteria yang digunakan untuk memisahkan masa kanak-kanak dengan masa remaja-timbuknya tidak selalu pada usia yang sama. Ini disebabkan perbedaaan dalam kematangan seksual anak laki-laki dan anak perempuan.
B.       Karakteristik Perkembangan pada Fase Kanak-kanak Akhir
Masa kanak-kanak akhir yang merupakan kelanjutan dari masa kanakkanak awal dipandang masih satu lingkup sebagai masa kanak-kanak karena secara fisik, psikis, dan motorik hampir sama dengan anak-anak usia prasekolah. Pada masa ini anak masih senang bermain. Meskipun dalam beberapa hal masa kanak-kanak akhir masih sama dengan masa kanak-kanak awal, namun ada beberapa hal yang berbeda yang dapat dipandang sebagai karakteristik perkembangan pada masa kanak-kanak akhir.
1.        Pertumbuhan Fisik
Pada masa kanak-kanak akhir, terutama akhir dari masa ini merupakan pertumbuhan yang lambat dan relatif seragam sampai terjadi perubahan pubertas (Hurlock, 1997 : 148). Namun demikian bukan berarti secara fisik pada masa kanak-kanak akhir tidak ada yang menonjol. Meskipun pertambahan tinggi dan berat badan relatif lambat namun beberapa kereampilan berkembangan dengan baik seiring dengan bertambahnya tinggi badan individu.
a)       Tinggi
Kenaikan tinggi pertahun adalah 2 sampai 3 inchi. Rata-rata anak perempuan sebelas tahun mempunyai tinggi badan 58 inchi dan anak laki-laki 57,5 inchi.
b)       Berat
Kenaikan berat lebih bervariasi daripada kenaikan tinggi, berkisar antara 3-5 pon per tahun. Rata-rata anak perempuan sebelas tahun mempunyai berat 88,5 pon dan anak laki-laki 85,5 pon.
c)        Perbandingan tubuh
Beberapa perbandingan wajah yang kurang baik menghilang dengan bertambah besarnya mulut dan rahang, dahi melebar dan merata, bibir semakin berisi, hidung menjadi lebih besar dan lebih berbentuk. Badan memanjang dan menjadi lebih langsing, leher menjadi lebih panjang, dada melebar, perut tidak buncit, lengan dan tungkai memanjang, dan tangan dan kaki dengan lambat tumbuh membesar.
d)       Kesederhanaan
Pebandingan tubuh yang kurang baik yang sangat mencolok pada masa akhir kanak-kanak menyebabkan meningkatnya kesederhanaan pada saat ini. Disamping itu, kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kecenderungan untuk berpakaian seperti teman-teman tanpa memperdulikan pantas tidaknya, juga menambah kesederhanaan.
e)       Pebandingan otot lemak
Selama akhir masa kanak-kanak, jaringan lemak berkembang lebih cepat daripada jaringan otot yang perkembangannya baru mulai melejit pada awal pubertas. Anak yang berbentuk endomorfik jaringan lemaknya jauh lebih banyak daripada jaringan otot sedangkan pada tubuh mesomorfikkeadaanya terbalik. Pada bentuk tubuh ektomorfik tidak terdapat jaringan yang melebihi jaringan lainnya sehingga cenderung tampak kurus.
f)        Gigi
Pada permulaan pubertas, umumnya seorang anak sudah mempunyai 22 buah gigi tetap. Keempat gigi terakhir, muncul selama masa remaja.
2.        Perkembangan Keterampilan
Ketergantungan dan kelekatan anak-anak pada orang tua sudah berkurang karena mereka sudah memiliki dunia dan kesibukan sendiri. Pada permulaan akhir masa kanak-kanak, anak-anak mempunyai sejumlah besar keterampilan yang mereka pelajari selama bertahun-tahun di prasekolah. Keterampilan yang dipelajari oleh anak-anak yang lebih besar sebagian bergantung pada lingkungan, sebagian pada kesempatan untuk belajar, sebagian pada bentuk tubuh, sebagian lagi bergantung pada apa yang sedang digemari oleh teman-teman sebaya. Berkurangnya ketergantungan anak-anak pada orang tua disebabkan telah berkembangnya keterampilan mereka, yaitu :
a)       Keterampilan menolong diri sendiri.
b)       Keterampilan menolong orang lain.
c)        Keretampilan bersekolah.
d)       Keterampilan bermain.
3.        Perkembangan Intelektual
Pada masa kanak-kanak akhir, individu sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Menurut Syamsu Yusuf (2004 : 178), periode kanak-kanak akhir ditandai dengan berkembangnya tiga kemampuan, yaitu: mengklasifikasikan, menyusun, dan menghubungkan atau mengjitung angka-angka. Disamping itu pada akhir masa ini individu sudah memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana.
4.        Perkembangan Kemampuan Berbahasa
Fase kanak-kanak akhir merupakan fase di mana individu mengalamai perkembangan yang pesat dalam mengenal dan menguasai perbendaharaan kata yang mendasari kemampuan membaca dan berkomunikasi. Dengan kemampuan ini anak mulai tertarik untuk membaca dan mendengarkan cerita. Dengan meluasnya cakrawala social anak-anak, anak menemukan bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat didalam kelompok. Hal ini membuat dorongan yang kuat untuk berbicara lebih baik, dorongan untuk memperbaiki kemampuannya berbicara, dan yang lebih penting anak mengetahui bahwa inti komunikasi adalah bahwa ia mampu mengerti apa yang dikatakan oranglain.
Bantuan untuk memperbaiki pembicaraan pada akhir masa kanak-kanak berasal dari 4 sumber. Pertama orangtua dari kelompok social ekonomi menengah ke atas merasa bahwa berbicara sangat penting sehingga mereka memacu anak-anak mereka untuk berbicara lebih baik. Kedua radio dan televisi memberikan contoh yang baik bagi pembicaraan anak-anak yang lebih besar sebagaimana halnya bagi anak-anak selama tahun-tahun prasekolah. Ketiga setelah anak belajar membaca, ia menambah kosakata dan terbiasa dengan bentuk kalimat yang benar. Dan keempat setelah anak mulai sekolah, kata-kata yang salah ucap dan arti-arti yang salah biasanya cepat diperbaiki oleh guru.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa (Syamsu Yusuf , 2004 : 179-180), yaitu : (a) Kematangan pada organ-organ yang berfungsi untuk berbicara dan (b) proses belajar. Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi.  Dengan adanya dua faktor tersebut individu dapat mengembangkan keterampilannya berbahasa sebagai berikut.
a)       Mampu berkomunikasi dengan orang lain.
b)       Mampu menyatakan isi hatinya (pereasaannya).
c)        Terampil mengolah informasi yang diterimanya.
d)       Mampu mengembangkan kepribadiannya, seperti dalam hal menyatakan sikap dan keyakinannya.
Bidang-bidang yang mengalami kemajuan adalah.
1.        Penambahan kosakata khusus pada akhir masa kanak-kanak :
·   Kosa kata etiket
·   Kosa kata warna
·   Kosa kata bilangan
·   Kosa kata uang
·   Kosa kata waktu
·   Kosa kata popular dan kata-kata makian
·   Kosa kata rahasia
2.        Pengucapan
3.        Pembentukan kalimat
4.        Kemajuan dalam pengertian
5.        Isi pembicaraan
6.        Banyak bicara
5.        Perkembangan Emosi
Dalam aspek emosional, individu pada masa kanak-kanak akhir juga mengalami perkembangan yang menonjol, yang antara lain ditandai dengan munculnya kemampuan mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosi. Dirinya mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi yang kasar dan semaunya tidak dapat diterima oleh masyarakat. Perkembangan emosi anak memerlukan lingkungan yang positif, baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan tempat bermain. Bagaimana anggota keluarga mengekspresikan emosinya serta mewujudkan fungsi afetifnya, sangat berpengaruh pada perkembangan emosi anak, begitu juga dengan individu-individu yang ada dilingkungan sekolah maupun lingkungan dirinya bermain.
Pola emosi yang umum pada akhir masa kanak-kanak
Pola emosi yang umum pada akhir masa kanak-kanak sama dengan pada awal masa kanak-kanak. Perbadaannya terletak pada jenis situasi yang membangkitkan emosi dan bentuk ungkapannya. Pada akhir masa kanak-kanak, ada waktu dimana anak sering mengalami emosi yang hebat. Karena emosi cenderung kurang menyenangkan, maka dalam periode ini meningginya emosi menjadi periode ketidakseimbangan, yaitu saat dimana anak menjadi sulit dihadapi.
Meningkatnya emosi pada akhir masa kanak-kanak dapat disebabkan karena keadaan fisik atau lingkungan. Keadaan lingkungan yang menyebabkan meningginya emosi juga beragam dan serius. Namun pada umumnya akhir masa kanak-kanak merupakan periode yang relative tenang yang berlangsung sampai mulainya masa puber.
6.        Perkembangan Moral
Konsep moral (menyangkut benar dan salah secara etika) dikenal individu pertama kali dari keluarganya meskipun pada mulanya dirinya tidak mengerti akan hal itu. Seiring dengan perkembangan pada aspek intelektualnya, individu mulai dapat memahami konsep-konsep moral. Dan pada masa kanak-kanak akhir, terutama akhir dari masa ini, individu sudah dapat memahami untuk apa peraturan dibuat serta berusaha mentaati peaturan tersebut.
7.        Perkembangan Minat dan Kegiatan Bermain
Selama akhir kanak-kanak baik anak laki-laki maupun perempuan sangat sadar akan kesesuain jenis permainan dengan kelompok seksnya. Oleh karena itu, ia menghindari kegiatan bermain yang di anggap tidak sesuai untuk kelompok seksnya, tanpa memperhatikan kesenangan pribadi.
Anak cerdas, terutama bila bertambah besar, lebih banyak bermain sendiri, daripada bermain yang bersifat social dan hanya sedikit mengikuti kegiatan yang melibatkan permainan fisik yang berat daripada anak yang tidak terlampau cerdas. Jenis lingkungan dimana anak hidup juga menentukan ada tidaknya kesempatan untuk bermain.
Terlepas dari perbedaan ini, bagi sebagian besar anak bermain menjadi kurang aktif dengan berjalannya masa kanak-kanak, dan hiburab-hiburan seperti televisi, radio, film, dan bacaan semakin bertambah popular. Perubahan ini sebagian disebabakan bertambahnya pekerjaan rumah dan sebagian lagi disebabkan bertambah bertambah banyaknya tugas-tugas di rumah.
a)       Bermain Konstruktif
Membuat sesuatu hanya untuk bersenang-senang saja, tanpa memikirkan manfaatnya merupakan bentuk permainan yang populardiantara anak laki-laki, sedangakan anak perempuan lebih menyukai jenis konstruktif yang lebih halus seperti menjahit, menggambar, melukis, membentuk tanah liat dan membuat perhiasan.
b)       Menjelajah
Seperti anak yang lebih muda, anak yang lebih besar senang memuaskan keingintahuan tentang hal-hal baru yang berbeda dengan menjelajahinya. Tetapi berbeda dengan anak yang lebih muda, anak yang lebih besar tidak puas dengan menjelajah mainan dan benda-benda disekitar lingkungannya. Anak-anak ingin menjelajah lebih jauh dari lingkungan rumah dan lingkungan tetangga dan menjelajah daerah-daerah baru.
c)        Mengumpulkan
Mengumpulkan sebagai suatu bentuk bermain, meningkat dengan berjalannya masa kanak-kanak, karena kegiatan mengumpulkan berfungsi sebagai sumber iri hati dan gengsi diantara teman-teman dan juga memberikan kesenangan bagi kolektor.
d)       Permainan dan Olahraga
Anak yang lebih besar tidak puas lagi memainkan jenis permainan yang sederhana dan tidak terdiferensiasi, yang merupakan permainan awal masa kanak-kanak. Ia ingin memainkan permainan anak yang lebih besar, seperti bola basket, sepak bola, baseball dan hockey. Pada anak berusia sepuluh tahun, permainannya terutama bersifat persaingan, dengan pokok perhatian pada keterampilan dan keunggulan dan tidak semata mata pada kegembiraan.




e)       Hiburan
Beberapa hiburan yang digemari pada akhir masa kanak-kanak diantaranya membaca, buku komik, film, radio dan televisi, melamun dan berkhayal.
8.        Pengelompokan Sosial dan Perilaku Sosial pada Masa Akhir Kanak-kanak
Akhir masa kanak-kanak sering disebut “usia kelompok” karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman nya dan meningkatnya keinginnan yang kuat untuk ditrima sebagai anggota suatu kelompok dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.
Ciri Geng Anak-anak
Geng anak-anak berbeda dari geng remaja dalam banyak hal, empat diantaranya sangat penting dan sangat umum. Tujuan utama geng anak-anak adalah memperoleh kesenangan; geng mereka terutama dalah kelompok bermain sedangkan geng remaja bertujuan untuk menimbulkan kesulitan bagi orang lain sebagai pembalasan terhadap kelalaian kelompok sosial yang benar-benar ada atau yang dikhayalkan.
Efek dari Keanggotaan Kelompok
Proses sosialisasi anak-anak dengan menjadi anggota geng. Hal ini terutama disebabkan penyesuaian diri dengan pola prilaku, nilai-nilai dan sikap anggota-anggota kelompok, menjadi anggota geng seringkali menimbulkan pertentangan dengan orang tua dan penolakan terhadap setandar orang tua, permusuhan antara anak laki-laki dan perempuan semakin meluas, kecendruangan anak yang lebih tua untuk mengembangkan prasangka terhadap anak yang berbeda, mereka seringkali bersikap kejam kepada anak-anak yang tidak dianggap sebagai anggota geng.
Pengaruh Geng
Havighurst menyatakan bahwa geng mempunyai empat cara utama dalam membantu anak-anak menjadi pribadi yang mampu bermasyarakat.
  • Geng membantu anak bergaul dengan teman sebaya dan berperilaku yang dapat diterima secara social bagi mereka.
  • Geng dapat membantu anak mengembangkan kesadaran yang rasional dan skala nilai untuk melengkapi atau mengganti nilai. Orang tua cenderung di terima anak  sebagai “kata hati yang otoriter”.
  • Melalui pengalaman geng anak mempelajari sikap sosial yang pantas, misalnya : cara menyukai orang, serta cara menikmati kehidupan sosial dan aktifitas kelompok.
  • Geng dapat membantu kemandirian pribadi anak dengan memberikan kepuasan emosional dari persahabatan dengan teman sebaya.
9.        Perubahan-perubahan Kepribadian
Dengan meluasnya cakrawala sosial pada saat anak masuk sekolah, banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Perubahan ini tidak hanya terjadi ada konsep diri, tetapi juga pada sifat-sifat orang lain yang di nilai dan di kagumi dan juga perubahan-perubahan yang terjadi pada sifat anak itu sendiri.
Konsep diri ideal
Menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak mulai mengagumi tokoh-tokoh dalam sejarah, cerita khayal, kemudian anak membentuk konsep diri yang ideal seperti tokoh yang diinginkannya.
Mencari Identitas
Anak-anak pada umumnya memasuki periode akhir masa kanak-kanak dan berminat dalam keanggotaan kelompok, mereka sangat ingin menyesuaikan mulai dari gaya berbicara sampai dengan standar penampilan yang di tetapkan kelompok tersebut. Karena mereka takut kehilangan dukungan dari anggota kelompok, mereka berusaha meniru namun kadang-kadang berlebihan.

C.      Kebahagiaan Masa Akhir Kanak-kanak
Akhir masa kanak-kanak dapat dan harus merupakan periode bahgaia dalam rentang kehidupan. Meskipun periode ini bukan masa yang sepenuhnya gembira karena anak di harapkan memikul tambahan tanggung jawab di sekolah dan tambahan di rumah, keberhasilan dalam melaksanakan tanggung jawab ini, terlebih yang dianggap penting oleh orang-orang akan menambah kebahagiaan.
Anak memiliki kesempatan yang luas untuk bermain dan untuk memperoleh alat bermain yang dibutuhkan seperti teman-teman sebayanya, kecuali kalau timbul kondisi yang luar biasa. Anak yang berbahagia pada akhir masa kanak-kanak belum tentu merasa bahagia pada tahap-tahap selanjutnya, tetapi kondisi-kondisi yang menimbulkan kebahagiaan dalam periode ini juga akan menimbulkan kebahagiaan pada periode berikutnya.
Sekalipun kebahagiaan yang dialami pda periode ini tidak emnjamin kebahagiaan seumur hidup, tetapi kondisi-kondisi yang menimbulkan kebahagiaann akan terus memberikan kebahagiaan pada tahun-tahun berikutnya, terutama bila tiga faktor kebahagiaan terpenuhi, yaitu penerimaan/dukungan, kasih sayang, dan prestasi.

D.      Ciri Akhir Masa Kanak-kanak
Masa kanak-kanak akhir berlangsung pada usia sekitar 6 sampai 12 tahun, dengan ciri-ciri sebagaimana digambarkan oleh para orang tua, para guru, dan para psikolog (Hurlock, 1997 : 146 – 148), sebagai berikut.
Label yang digunakan oleh orang tua bagi sebagian orang tua masa kanak-kanak merupakan usia yang menyulitkan sesuatu masa dimana anak tidak mau menuruti perintah dan diman lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya dari pada orang tua dan anggota keluarga lain. Dalam keluarga yang terdiri dari anak laki-laki dan perempuan, sudah jamak bila anak laki-laki mengejek saudara perempuannya kalau anak perempuan membalas terjadinya pertengkaran dalam bentuk maki-makian atau serangan fisik.
Label yang digunakan oleh para pendidik para pendidik melabelkan masa kanak-kanak dengan usia sekolah dasar. Para pendidik juga memandang preodeinisebagai periode kritis dalam dorongan berprestasi suatu masa dimanaanak-membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses, tidak sukses, atau sangat sukses. Sekali terbentuk kebiasaan untuk bekerja dibawah, diatas atau sesuai dengan kemampuan cenderung menetap sampai dewasa.
Label yang digunakan ahli psikologi bagi ahli psikologi, akhir masa kanak-kanak adalah usia berkelompok suatu masa dimana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok, terutama kelompok yang bergengsi dalam pandangan teman-temanya.
Ahli psikologi menemukan masa akhir kanak-kanak dengan usia kreatifsuatu masa dalam rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak akan menjadi konformis atau pencipta karya yang baru dan original.

E.       Tugas Perkembangan Akhir Masa Kanak-kanak
Untuk memperoleh tempat didalam kelompok sosial, anak yang paling besar harus menyelesaikan berbagai tugas dalam perkembangan, kegagalan didalam pelaksanaan akan mengakibatkan pola prilaku yang tidak matang, tidak mampu menyamai teman-teman sebaya yang sudah menguasai tugas-tugas perkembangan tersebut. Misalnya, pengembangan berbagai keterampilan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, dan perkembangan sikap-sikap terhadap kelompok sosial dalam lembaga-lembaga merupakan tanggung jawab guru dan juga orang tua.
Seperangkat pengetuan, sikap, dan juga keterampilan yang merupakan tugas perkembangan dan yang mestinya dikuasai pada masa kanak-kanak akhir adalah sebagai berikut.
1)       Belajar menguasai keterampilan fisik dan motorik untuk permainanpermainan yang bersifat umum.
2)       Membentuk sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai oraganisme yang sedang tumbuh dan berkembang.
3)       Belajar bergaul secara baik dengan teman-teman usia sebaya.
4)       Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5)       Mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam membaca, menulis, dan berhitung.
6)       Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
7)       Mengembangkan pembentukan kata hati, moral, dan skala nilai.

F.       Penyimpangan Perkembangan pada Masa Kanak-kanak
Anak-anak adalah generasi penerus penentu masa depan bangsa. Kualitas generasi penerus tergantung kepada kualitas tumbuh kembang terutama pada masa Balita. Penyimpangan tumbuh kembang pada anak harus dapat dideteksi sejak dini, terutama sebelum anak berumur 3 tahun supaya segar dapat diintervensi. Karena jika  penangananmya terlambat, akibatnya penyimpangan yang terjadi akan semakin sukar diperbaiki.
Penyimpangan dalam perkembangan kanak-kanak itu misalnya kesulitan untuk memusatkan perhatian seperti yang dialami merupakan karakteristik gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas yang merupakan salah satu penyimpangan yang di cantumkan dalam DSM-IV-TR dalam bagian yang berjudul “gangguan yang biasanya mulai tampak pada masa bayi, kanakkanak, atau remaja “ gangguan tersebut mencakup berbagai masalah yang sangat luas, mulai dari masalah perhatian hingga defisit intelektual yang kadang kondisinya serius seperti yang terjadi dalam retardasi mental, tidak menghargai hak hak orang lain secara menjengkelkan dan kadang semenamena seperti pada gangguan tingkah laku , dan bahasa serta kesulitan sosial dan emosional pada gangguan autist anak anak umumnya memiliki akses yang lebih sedikit ke sumber daya sosial, finansial dan psiokologis dalam menghadapi berbagai masalah semacam itu daripada orang dewasa.
Anak anak yang bermasalah mendapat perhatian profesional sepenuhnya atau tidak biasanya tergantung pada orang orang dewasa dalam hal kehidupan misalnya Orang tua, Guru, dan pada sekolah. Sebagian besar teori psikodinamika, behavioral, kognitif, dan biologis berpendapat bahwa pengalaman dan perkembangan di masa kanak-kanak sangat penting bagi kesehatan kanakkanak sampai mereka dewasa.
            Sebagian besar teori juga berpendapat bahwa anak-anak lebih mudah berubah dibanding orang dewasa sehingga lebih mudah dibanding orang dewasa sehingga lebih mudah untuk penanganan. Penelitian terdahulu tidak banyak memfokuskan perhatian pada gangguan di masa kanak-kanak, tahun terakhir minat profesional meningkat secara dramatis. Beberapa gangguan emosional dan behavioral yang paling sering terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja karena emosional mereka masih sangat meningkat jadi pada kanak-kanak terkadang lebih sering emosional jika sesuatu yang mereka inginkan tidak dapat dituruti oleh peran orang tua. Maka disinilah akan kita bahas “Klasifikasi Gangguan di masa kanak-kanak” orang tua perlu segera tahu bahwa anak mereka memiliki gangguan dan haru memotivasi si anak peran orangtua sangat berguna.
1.        Klasifikasi Gangguan di Masa Kanak-kanak
Untuk mengklasifikasikan perilaku menyimpang pada anak anak, para ahli diagnostik pertama harus mengetahui apa yang dianggap normal pada usia tersebut. Diagnosis bagi anak yang menjerit-jerit serta menendang nendang, menjerit bila keinginan tidak dituruti harus mempertimbangkan apakah si anak berusia 2 atau 7 tahun. Di bidang psikopatologi perkembangan mempelajari berbagai penyimpangan di masa kanak-kanak dalam konteks perkembangan normal sepanjang hidup sehingga kita dapat mengamati berbagai perilaku yang wajar pada satu tahap namun ada tahap yang berbeda dianggap sebagai penyimpangan.
Secara garis besar penyimpangan pada kanak-kanak tercantum pada DSM-IV-TR, seperti depresi, yang dimasukkan dalam kriteria yang banyak terjadi pada orang dewasa. Sebagian besar juga penyimpangan pada kanakkanak di karenakan perpisahan, merupakan gangguan yang banyak terjadi di kalangan kanakkanak. Namun banyak juga gangguan lain seperti kurangnya konsentrasi/ hiperaktivitas, didalam konsep utamanya sebagai penyimpangan yang terjadi pada kanak-kanak. Ada banyak jenis jenis dari gangguan misalnya :
a)       Gangguan Eksternalisasi
Gangguan eksternalisasi ditandai dengan perilaku yang lebih diarahkan ke luar diri, seperti agretivitas, ketidakpatuhan, overaktivitas, dan inpultivitas dan termasuk ke gangguan Tingkah laku dan Gangguan sikap menentang.


b)       Gangguan Internalisasi
Gangguan internalisasi ditandai dengan pengalaman dan lebih ke perilaku yang dilakukan yang fokus ke diri sendiri seperti depresi, menarik diri dari sosial pergaulan diluar lingkungan atau lebih kebanyakan hanya dilingkungan keluarga terdekata saja, dan kecemasan, yang termasuk ke gangguan aktivitas dan mood di masa kanak-kanak. Anak dapat menunjukkan hal seperti berikut dan kita menyadari itu waqlaupun terkadang kita jarang tidak menyadari tingkah laku dari kanak-kanak.
Perilaku ekternalisasi dan internalisasi banyak terjadi di berbagai negara termasuk Swiss, Australia, Kenya, dan Yunani, dan lain lain. Di berbagai budaya perilaku ekternalisasi secara konsisten lebih sering di temukan pada anak laki-laki dan perilaku internalisasi lebih sering terjadi pada anak perempuan. Kita harus membantu bukan menjauhi anak-anak yang mengalami gangguan maka dari itu kita dapat memotivasi anak-anak agar tidak terjadinya gangguan.
2.        Gangguan Perkembangan dan Penyimpangan Perkembangan (deviansi)
Contoh gangguan perkembangan dan penyimpangan perkembangan antara lain sebagai berikut.
a)    Anak Autis
Merupakan gangguan perkembangan dalam hal komunikasi, interaksi sosial, emosi dan proses sensoris. Sudah tampak dari tahun – tahun pertama terlihat dari ketidak mampuan anak berhubungan dengan orang lain
b)    Anak Sukar Didik
Merupakan masalah bagi dirinya dan bagi lingkungannya karena sangat tidak tenang, tingkah laku menyimpang, cara/ tindakannya berbahaya dan agresif, sukar diajak berbicara.
c)     Anak dengan Gangguan Belajar
Penyimpangan dalam proses belajar yang berhubungan dengan kemampuan untuk bahasa dan berfikir dengan tingkat prestasi dalam bahasa dan berpikir. Anak dengan gangguan belajar terdiri dari tiga jenis :
v Disleksia (dyslexia)
Dikenal sebagai SPLD (Specific Learning Difficulty) merupakan kesulitan yang terus menerus dalam kemampuan membaca dan menulis dari segala tingkat kemampuan dan tingkat intelektual. Menurut U.S National Institutes of Health disleksia adalah ketidakmampuan belajar yang menghambat anak – anak untuk dapat belajar membaca, menulis, mengeja dan kadang – kadang bicara.
Jenis – jenis Disleksia :
Þ      Trauma Dyslexia, biasanya terjadi setelah adanya cedera atau trauma pada daerah otak yang mengontrol kemampuan membaca dan menulis. Hal ini sangat jarang ditemui pada anak-anak usia sekolah.
Þ      Primary Dyslexia, jenis ini disebabkan oleh disfungsi, bukan kerusakan, sisi kiri otak (cerebralcortex). Individu dengan masalah ini jarang mampu membaca di kelas 4 SD, dan mungkin saja mereka tetap akan mengalami kesulitan hingga usia dewasa. Disleksia jenis ini biasanya disebabkan oleh turunan melalui gen mereka (hereditary). Hal ini lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibanding anak perempuan.
Þ      Secondary Dyslexiaatau Developmental Dyslexia, disebabkan oleh perkembangan hormon selama masa perkembangan janin. Disleksia jenis ini akan berkurang dan membaik dengan sendirinya seiring dengan perkembangan si anak.
Selain itu disleksia juga dapat berpengaruh pada beberapa fungsi yang berbeda; Visual Dyslexia, ditandai dengan kesulitan mengidentifikasi nomer dan huruf (mungkin terbalik-balik) dan ketidakmampuan untuk menuliskan setiap simbol dengan berurutan. Auditory Dyslexia melibatkan kemampuan untuk mendengar suara huruf atau kelompok huruf. Suara dianggap campur aduk dan atau tidak terdengar dengan benar/ sempurna. Disgraphia merupakan kesulitan yang dihadapi anak saat berusaha memegang dan mengendalikan pensil sehingga tidak mampu menuliskan apapun dengan benar. 
v  Diskalkulia
Kekurangan dalam belajar matematika / hitungan ( kesulitan mengerti dan mengingat konsep angka dan hubungan angka. Diskalkulia terjadi pada   kira – kira 3 – 6% populasi.
v  Dispraksia (dyspraxia)
Merupakan ketidakmampuan mengatur gerak, sering bermasalah dengan bahasa lisan dan tulisan. Penyebab dispraksia berhubungan dengan perkembangan neuronal.  Dispraksia berasal dari kata “Dys” yang artinya tidak mudah atau sulit dan “praxis” yang artinya bertindak, melakukan. Nama lain Dispraksia adalah Development Coordination Disorder (DCD), Perceptuo-Motor Dysfunction, dan Motor Learning Disability. Pada jaman dulu lebih dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. Menurut penelitian, gangguan ini kadang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip misalnya disleksia.
Gejala-gejala Dispraksia diantaranya :
Þ      Pada bayi dispraksia sering ditandai dengan sedikit atau tidak adanya ocehan. Ketika mulai belajar bicara, huruf konsonan yang diucapkannya sangat sedikit.
Þ      Pada anak usia 3 – 5 tahun (usia pra sekolah)
   Aktivitas motorik yang sangat tinggi termasuk mengayun-ayunkan kaki dan menghentak-hentakan kaki ketika duduk, bertepuk tangan atau menari.
   Tangan mengembang ketika berlari.
   Kesukaran mengayuh pedal sepeda roda tiga atau mainan serupa
   Keterampilan motorik halus yang jelek, misal sukar memegang pensil atau menggunakan gunting.
   Kurang melakukan permainan yang imajinatif
   Mengalami kesulitan berbahasa yang terus menerus
   Respon terbatas pada instruksi lisan apa saja
   Terlambat berguling, merangkak, berjalan
   Sukar menyesuaikan diri saat beralih ke makanan padat
   Sukar melangkah, memanjat, menyusun puzzle, mempelajari ketrampilan baru secara insting dan lambat mengembangkan kata-kata
   Sulit berbicara dengan jelas dan kesulitan menggerakkan mata sehingga lebih suka menggerakkan kepalanya daripada menggerakkan matanya
Þ      Pada anak yang lebih besar (usia sekolah)
   Kesulitan dalam berkata-kata maupun mengekspresikan diri.
   Sebagian anak dispraksia terlalu sensitif terhadap sentuhan.
   Sukar mengingat instruksi dan menyalin tulisan dari papan tulis.
   Tidak dapat menangkap konsep seperti : “di bawah”, “di atas”, “di dalam” atau “di luar”.
   Mengalami kesukaran dalam memakai baju, menalikan sepatu dan menggunakan garpu atau pisau.
   Keseimbangan badan yang buruk, sulit belajar naik sepeda.
   Kemampuan membaca yang rendah dan buruk dalam menulis.
   Sebagian anak dispraksia mengalami articulatory dyspraxia yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan dalam berbicara dan mengeja.
d)       Anak Delinkuen
Merupakan perkembangan moral yang terganggu yang dapat terjadi karena sikap orang tua terlalu keras, terlalu menurut atau terlalu khawatir. Setelah periode sekolah delikuen meningkat pada pertengahan masa remaja (melanggar hukum kriminal). Hasil penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa remaja delinkuen berasal dari berbagai lapisan masyarakat dan status sosial. Ciri–cirinya antara lain percaya diri, memberontak, dendam, bermusuhan, curiga, destruktif, impulsif, kurang kontrol batin. Motif untuk berprilaku nakal antara lain mengikuti ajakan teman, emosi yang tidak terkontrol, pelarian atau kurang kasih sayang. 


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.
Arfinurul. 2010. Perkembangan Emosi pada Remaja. [tersedia] http://arfinurul.blog.uns.ac.id. (14 Nopember 2012).
Atkinson, L. Rita dkk. 1991. Pengantar Psikologi. Jakarta: PT Gelar Aksar Pratama.
Billimham, Katherine A. 1982. Developmental Psychology for The Heah Care Professions : Part 1 – Prenatal Through Adolescent Development. Colorado : Westview Press, Inc.
Bimo Walgito. 2000. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Yasbit Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Branca, Albert A. 1965. Psychology : The Science of Behavior. Boston : Allyn and Bacon, inc.
Dirgagunarsa, Singgih. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung : Rosdakarya.
F.J. Monks, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Gunarsa, D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT. BK Gunung Mulia
Hardy, Malcolm dan Heyes, Steve. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga.
Hurlock, B. Elizabeth. 1993. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
                1980. Psikologi Perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Edisi ke lima. Jakarta : Erlangga
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 1. (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 2 (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (Alih Bahasa : Istiwidayanti dan Soedjarwo) Jakarta : Erlangga.
Hymovich, Debra P. and Chamberlin, Robert W. 1980. Child and Family Development : Implications for Primary Health Care. New York : Mc Graw Hill Book Company.
Jeff and Cindi. 2006. “Oh Baby, Bond with Me” http:// www.envisagedesign. com/ohbaby/ index/html (diakses 15 Maret 2006).
Kartini Kartono. 1992. Psikologi Wanita Jilid 2 : Mengenal Wanita sebagai Ibu dan Nenek. Bandung : CV Mandar Maju.
Kartono, K. 1979. Psikhologi Anak. Bandung : Alumni
Kasiram, M. 1983. Ilmu Jiwa Perkembangan. Surabaya : Usaha Nasional.
Monk, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Nugraha, Ari. 2012. Psikologi Perkembangan. [tersedia] http://the-arinugraha-centre.blogspot.com. (25 Desember 2012).
Perry, Bruce D. 2001. Bonding Attachment in Maltreated Children : Consequences of Emotional Neglect in Childhood. Booklet.
Sarlito Wirawan Sarwono. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Radja Grafindo Persada.
                                . 2002. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Remaja Grafindo Persada.
Sujanto, Agus. 1986. Psikologi Deskripsi. Jakarta: Aksara Baru.
Syamsu Yususf, L.N. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Rosdiana S. 2006. “11 Perilaku Sulit Si Prasekolah. ” Nakita No. 367/Th VIII/15 April 2006.
Wikipedia Free Encyclopedia. 2005. “Delayed Puberty”. www.en.wikiperia.- org/delayedpuberty.html.
Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Zulkifli, L. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Tidak ada komentar: