Tuesday, March 26, 2013

PERKEMBANGAN MASA REMAJA


A.      Pubertas sebagai Tanda Awal Masa Remaja
Fase remaja tidak bisa dipisahkan dari pubertas karena pubertas merupakan tanda, khususnya secara biologis bahwa individu telah memasuki fase remaja atau adolescence. Istilah pubertas berasal dari bahasa Latin yang berarti usia kedewasaan. Kata ini lebih menunjuk pada perubahan fisik dari pada perubahan perilaku yang terjadi pada saat individu secara seksual menjadi matang dan mampu memberikan keturunan (Hurlock, 1997 : 184). Pernyataan Hurlock seperti tersebut di atas mengandung makna masa pubertas adalah masa di mana seseorang telah dewasa secara biologis, yaitu dengan matangnya organ reproduksi, meskipun dari aspek psikologis, sosiologis, maupun yuridis, yang bersangkutan belum menunjukkan tanda-tanda kedewasaan.
Pubertas adalah perubahan menjadi dewasa yang ditandai adanya perubahan fisik dan emosional (psikis). Masa pubertas disebut juga akil balig. Pada masa ini telah tercapai kematangan seksual yaitu sistem reproduksi telah mampu membuat sel-sel kelamin (gamet). Hal ini dipengaruhi oleh produksi hormonkelamin dan kelenjar hipofisis. Secara biologis, kamu telah siap untuk bereproduksi, namun belum tentu demikian bila ditinjau secara segi psikis, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Tingkat perkembangan pada setiap orang berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh faktor keturunan, produksi hormon, konsumsi makanan, dan penyakit. Gejala pubertas dapat ditinjau secara fisik dan psikis (kejiwaan/ emosional).
1.        Ciri-ciri Masa Pubertas
Masa pubertas yang berlangsung sekitar usia 11 sampai 13 tahun mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Hurlock, 1997 : 184 – 185).
         Masa pubertas adalah periode tumpang tindih.
         Masa pubertas merupakan periode yang singkat.
         Masa pubertas merupakan masa terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.
         Masa pubertas merupakan masa negatif, tepat masa negatif II.
         Masa pubertas merupakan masa krisis identitas.
2.        Perubahan-perubahan Fisik yang terjadi pada Masa Pubertas
Pubertas secara fisik dapat dilihat dari perubahan tubuh, meliputi perubahan tanda kelamin primer dan sekunder. Perkembangan tubuh remaja laki-laki dan perempuan berbeda karena pengaruh hormon yang dihasilkan. Laki-laki menghasilkan hormon androgen, sedangkan perempuan menghasilkan hormon estrogen.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa pubertas sangat cepat. Bila secara umum perkembangan disebut sebagai evolusi, maka revolusi terjadi pada masa pubertas. Perubahan-perubahan fisik yang sangat menonjol pada masa pubertas adalah sebagai berikut.
a)    Perubahan dalam Ukuran Tubuh
Perubahan fisik utama pada masa pubertas adalah bertambahnya tinggi dan berat badan. Pertambahan tinggi badan yang pesat pada masa ini dikeranakan aktifnya hormon pertumbuhan. Seiring dengan hal tersebut berat badan mereka juga ikut naik.
b)    Perubahan Proporsi Tubuh
Pada masa pubertas, bagian-bagian tubuh tertentu yang semunya berukuran kecil kemudian melebar atau membesar, misalnya pinggang dan bahu, sehingga proporsi tubuh semakin terlihat serasi.
c)     Perkembangan Ciri-ciri Seks Primer
Ciri-ciri seks primer menunjuk pada organ tubuh yang langsung berhubungan dengan persertubuhan dan reproduksi. Pada masa pubertas organ-organ reproduksi telah mampu menghasilkan sel-sel kelamin karena pada masa ini gonad berfungsi sebagaimana mestinya. Gejala yang menunjukkan telah berfungsinya gonad atau organ reproduksi adalah wet dream untuk anak laki-laki dan menarche, untuk anak perempuan.
-       Organ kelamin telah mampu memproduksi sel-sel kelamin. Laki-laki mulai menghasilkan sperma di dalam testis, sedangkan perempuan mulai menghasilkan sel telur di dalam indung telur (ovarium).
-       Organ kelamin mulai berfungsi. Pada remaja laki-laki ditandai dengan pertama kali mengalami “mimpi basah” yang mengeluarkan sperma atau air mani. Pada perempuan ditandai dengan mengalami menstruasi yang pertama kali.
d)    Perkembangan Ciri-ciri Seks Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder adalah cirri-ciri fisik yang mempertegas keberadaan jenis kelamin atau yang membedakan jenis kelamin.
Ciri-ciri seks sekunder pria
Pada remaja laki-laki, pubertas ditandai dengan ciri-ciri kelamin sekunder sebagai berikut.
      Jakun mulai tumbuh.
      Rambut : Rambut kemaluan timbul sekitar setahun setelah testes dan penis membesar. Rambut ketiak dan rambut di wajah timbul bila pertumbuhan rambut kemaluan hampir selesai, dekian pula rambut tubuh. Tumbuh kumis atau jenggot. Tumbuh rambut di dada, kaki.
      Kulit : menjadi lebih kasar, tidak jernih, warnya pucat dan poriperinya lebar. Perubahan jaringan kulit menjadi lebih kasar dan poripori tampak membesar.
      Kelenjar : kelenjar lemak atau yang memproduksi minyak dalam kulit semakin membesar dan menjadi lebih aktif, sehingga menimbulkan jerawat.
      Otot : bertambah besar dan kuat, sehingga memberi bentuk bagi lengan, tungkai kaki, dan bahu.
      Suara : berubah setelah rambut kemaluan timbul. Mula-mula suara menjadi serak dan kemudian nadanya menurun.
      Benjolan dada : benjolan-benjolan kecil di sekitar kelenjar susu pria timbul sekitar usia 12 dan 14 tahun. Hal ini berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian menurun baik jumlah maupun besarnya.
Ciri-ciri seks sekunder wanita
Pada remaja perempuan, pubertas juga ditandai dengan ciri kelamin sekunder sebagai berikut.
      Suara lebih nyaring.
      Perubahan proporsi tubuh, tampak dari bertambahnya tinggi badan, berat badan, panjang kaki, dan tangan, sehingga ukuran seluruh badan bertambah.
      Pinggul : menjadi lebih besar dan bulat.
      Payudara : membesar dan bulat, putting susu membesar dan menonjol.
      Kulit : menjadi lebih kasar dan tebal, agak pucat dan lubang poripori bertambah besar.
      Rambut : rambut kemaluan timbul setelah pinggul dan payudara berkembang. Tumbuh rambut di ketiak dan sekitar organ kelamin.
      Kelenjar : kelenjar lemak dan kelenjar keringat lebih aktif. Sumbatan kelenjar lemak dapat menimbulkan jerawat.
3.        Akibat Perubahan Fisik pada Perilaku Individu pada Pubertas
Perubahan fisik yang sangat cepat pada pubertas mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku. Karena sikap dan perilaku individu yang cenderung negatif, sehingga masa pubertas dinyatakan sebagai masa negatif. Beberapa sikap dan perilaku negatif yang sering muncul pada individu yang mengalami asa pubertas adalah : keinginan untuk menyendiri, malas bekerja atau belajar, cepat bosan pada sesuatu, mudah gelisah, antagonisme sosial, antagonisme seksual, emosinya labil, rasa percaya diri kurang, senang melamun, dst.
4.        Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan yang Cepat pada Pubertas
Elizabeth B. Hurlock, seorang pakar psikologi perkembangan dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa sampai abad ini, penyebab perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas masih merupakan misteri. Dengan banyaknya riset di bidang endokrinologi, ilmu medis telah mampu menetapkan sebab yang pasti dari perubahan fisik, meskipun sampai sekarang para ahli endokrinologi tidak dapat menerangkan adanya keanekaragaman dalam usia puber dan dalam waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perubahan-perubahan pubertas (Hurlock, 1997 : 186).
Para ahli telah menemukan bahwa faktor penyebab perubahan yang cepat pada masa pubertas adalah aktifnya dua kelenjar dalam sistem endokrin. Kelenjar pituitary yang letaknya di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon, yaitu hormon pertumbuhan, yang merangsang pertumbuhan ukuran tubuh, dan hormon gonadotopik, yang fungsinya merangsang gonad atau organ reproduksi , untuk aktif. Gonad pria disebut testes, mem-produksi spermatozoa, hormon androgen, dan hormon testosterone.Gonad wanita disebut ovarium atau indung telur, yang memproduksi ova, hormon estrogen, dan hormon progesteron. Aktivitas kelenjar pituitary semakin menonjol pada masa pubertas.
Dan seluruh proses tersebut dikendalikan oleh perubahan yang terjadi dalam kelenjar indokrin. Kelenjar ini diaktifkan oleh rangsangan yang dilakukan kelenjar hypothalamus.
5.        Pubertas Secara Psikis
Selain terjadi perubahan secara fisik, pada masa pubertas juga terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi kondisi psikologis dan tingkah lakunya. Ciri-ciri pubertas secara psikis dapat diuraikan sebagai berikut.
v Mencari Identitas Diri
Dalam usaha mencari identitas diri, remaja sering menentang kemapanan karena dirasa membelenggu kebebasannya. Meskipun cara berpikirnya belum dewasa namun remaja tidak mau dikatakan sebagai anak-anak. Remaja sering melakukan hal coba-coba karena rasa ingin tahu yang sangat besar.
v Mulai Tertarik Kepada Lawan Jenis
Masa remaja adalah masa persiapan menuju dewasa. Wajar bila remaja mempunyai ketertarikan dengan lawan jenis. Namun demikian pernikahan pada usia remaja belum diperbolehkan karena secara mental belum siap. Kehamilan pada usia remaja dapat berpengaruh negatif baik pada diri remaja maupun bayi yang dikandungnya.
6.        Menstruasi sebagai Pengalaman Psikis
Peristiwa yang sangat penting pada masa pubertas untuk kaum wanita adalah menarche (menstruasi yang pertama) dan menstruasi selanjutnya yang menjadi petanda biologis dari kematangan seksual, yang kemudian menimbulkan reaksi hormonal, reaksi biologis, dan reaksi reaksi psikis,yang berlangsung secara periodik. Semua ini dapat dialami pubertas putri dalam suasana hati yang normal atau tidak normal.
Reaksi-reaksi patologis dapat terjadi pada pubertas yang mengalami menstruasi bila dirinya belum atau tidak siap menghadapi gejala tersebut. Rekasireaksi patologis yang dapat timbul menurut Kartini Kartono (1992 : 116-20) antara lain sebagai berikut.
a)    Dirinya menganggap bahwa menstruasi adalah peristiwa yang menjijikkan karena keluarnya “darah kotor” dari tubuhnya sehingga dia harus “menyingkir” dari pergaulan. Anggapan salah tersebut bersumber dari Teori Cloaca, yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang keluar dari rongga tubuh adalah kotor, najis, menjijikkan, serta merupakan tanda noda dan tidak suci.
b)    Dirinya menganggap bahwa menstruasi adalah peristiwa yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan yang mestinya tidak perlu terjadi pada dirinya. Penolakan terhadap menstruasi dapat menimbulkan reaksi patologis berupa retensi pada menstruasi (berhentinya menstruasi sebelum waktunya). Pada wanita yang lebih tua, penolakan terhadap gejala menstruasi dapat menimbulkan penyakit psychogene amenorrhoe, yaitu terhentinya menstruasi yang patologis sifatnya, yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan.
c)     Dirinya “menyelesaikan” peristiwa menstruasinya dengan cara yang tidak wajar yang bersifat anatomis, yaitu dengan menstruasi pengganti atau vicarierende menstruatie. Gejala reaksi patologis ini adalah timbulnya pendarahan tetapi tidak melalui kelaminnya, melainkan melalui telinga, hidung, atau bagian tubuh yang lain, dalam waktu yang tidak tetap, misalnya sebulan atau dua bulan sekali.
Berdasarkan apa yang dipaparkan di atas, maka pemberian informasi yang benar dan jelas kepada anak wanita yang akan mengalami menarche dan telah mengalami menstruasi sangat diperlukan, bahkan pendampingan juga perlu dilakukan. Bila tindakan-tindakan tersebut dilakukan niscaya pubertas dan remaja putri dapat terhindar dari gejala-gejala patologis.
7.        Pubertas Terlalu Dini dan Terlambat
a)    Precocious puberty
Seorang anak dikatakan mengalami pubertas terlalu dini (precocious puberty) bila telah menunjukkan ciri-ciri seks primer dan sekunder sebelum usia 7 atau 8 tahun pada anak wanita dan 9 tahun pada anak laki-laki. Pubertas terlalu dini merupakan suatu masalah biologis, psikologis, dan juga sosial bagi anak yang mengalaminya. Apakah penyebab tejadinya pubertas terlalu dini? Menurut Karen Oerter Klein (2005) masalah tersebut dapat terjadi karena penyakit atau gannguan otak, misalnya tumor, meningitis.
b)    Delayed puberty
Masalah lain berkenaan dengan perkembangan pubertas adalah delayed puberty atau pubertas yang terlambat. Individu dinyatakan mengalami pubertas terlambat bila belum munjukkan perkembangan payudara menjelang usia 13 tahun atau belum menarche menjelang usianya 16 tahun, untuk anak perempuan, dan belum mengalami pembesaran pada alat kelaminnya menjelang usia 14 tahun, untuk anak lai-laki (Wikipedia: www.en.wikipedia.org./2005). Pubertas terlambat juga merupakan masalah bagi yang mengalaminya, baik masalah biologis, psikologis, maupun sosial.
c)     Penanganan precocious puberty dan delayed puberty
Bila seorang anak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya mengalami pubertas terlalu awal maupun terlambat hendaknya segera memeriksakan yang bersangkutan pada dokter spesialis gangguan pertumbuhan dan hormonal anak (pediatric endocrinologist).

B.       Pengertian Masa Remaja
Ada beberapa definisi mengenahi remaja, Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan mendefinisikan masa remaja sebagai masa penuh kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat (Hurlock, 1993). Zakiah Darajad mendefinisikan remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari anak-anak menuju dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa (Darajad, 1990). Zakiah Darajad dalam bukunya yang lain mendefinisikan remaja sebagai tahap umur yang datang setelah masa anak-anak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik yang cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja (Darajad, 1995). Hasan Bisri dalam bukunya Remaja Berkualitas, mengartikan remaja adalah mereka yang telah meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan ketergantungan dan menuju masa pembentukan tanggung jawab (Bisri, 1995).
Dari beberapa definisi diatas dapat ditar ik suatu kesimpulan masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, karena pada masa ini remaja telah mengalami perkembangan fisik maupun psikis yang sangat pesat, dimana secara fisik remaja telah menyamai orang dewasa, tetapi secara psikologis mereka belum matang sebagaimana yang dikemukakan oleh Conger (1953) masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memiliki status dewasa tetapi tidak lagi memiliki status anak-anak (Monsk, 2002). Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja.
Lebih jelas pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja secara lebih konseptual, sebagai berikut (Sarwono, 2001):
Remaja adalah suatu masa dimana: Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri. Jelasnya remaja adalah suatu periode dengan permulaan dan masa perlangsungan yang beragam, yang menandai berakhirnya masa anak dan merupakan masa diletakkannya dasar-dasar menuju taraf kematangan. Perkembangan tersebut meliputi dimensi biologik, psikologik dan sosiologik yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Secara biologik ditandai dengan percepatan pertumbuhan tulang, secara psikologik ditandai dengan akhir perkembangan kognitif dan pemantapan perkembangan kepribadian.
Mendefinisikan remaja untuk masyarakat indonesia sama sulitnya dengan menetapkan definisi remaja secara umum. Masalanya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat, tingkatan ekonomi, dan pendidikan. Dengan perkataan lain, tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional.
Walaupun demikian, sebagai pedoman umum kita dapat menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
      Usia 11 tahun adalah usia di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak (kriteria fisik).
      Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik menurut adat maupun agama, sehingga mereka tidak diperlakukan lagi sebagai anak-anak.
      Pada usia tersebut mulai ada tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity, menurut Erikson), tercapainya fase genital dri perkembangan psikoseksual (Freud) dan tercapainya puncak pekembangan kognitif (pisget) dan Moral (kohlberg) (kriteria Psikologik).
      Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu memberi peluang bagi mereka yang sampai batas tersebut menggantungklan diri pada orang tua, belum mendapatkan hak-hak kedewasaan.
      Dalam definisi di atas, perkawinan sangat menentukan, karena perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh.
C.      Batasan Usia Remaja
Kaplan & Sadock dalam bukunya Sinopsis Psikiatri, menyebutkan fase remaja terdiri atas remaja awal (11-14 tahun), remaja pertengahan (14-17 tahun), dan remaja akhir (17-20) tahun. Sementara F.J. Monks berpendapat bahwa secara global masa remaja berlangsung antara 12 – 21 tahun, dengan pembagian 12 – 15 tahun: masa remaja awal, 15 – 18 tahun: masa remaja pertengahan, 18 – 21 tahun masa remaja akhir (Monsk, 2002). Dari beberapa pendapat diatas dapat dibuat suatu batasan usia remaja adalah dimulai dari umur 10 – 21 tahun.
Secara sosiologik ditandai dengan intensifnya persiapan dalam menyongsong peranannya kelak sebagai seorang dewasa muda.
Mengenahi umur masa remaja, ahli-ahli ilmu jiwa tidak mempunyai kata sepakat tentang batasan umur yang jelas dan dapat disetujui bersama sebab dalam kenyataannya konsep remaja ini baru mulai muncul pada abad ke-20. Menurut Powel, masa remaja digolongkan: “Pre adolescence, from ten to twelve years; early adolescence from thirteen to sixteen, and late adolescence, from seventeen to twenty one years
(Mulyono, 1995). Leulla Cole menyebutkan masa adolescence dan membagi menjadi tiga tingkata, yaitu: “early adolescence 13 to 15 years, middle adolescence 16 to 18 years, late adolescence 19 to 21 (Mulyono, 1995).
Batasan Remaja menurut WHO
WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja (Sarwono, 1995).Pada tahun 1974, WHO memberikan tentang remaja yang bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan 3 kriteria yaitu biologik, psikologik dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:
      Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
      Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identitas dari kanak-kanak menjadi dewasa
      Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan relatif lebih mandiri (Muangman dalam sarlito, 2002).
      Pada tahun-tahun berikutnya, definisi ini makin berkembang ke arah yang lebih konkrit dan operasional. WHO mendefinisikan remaja secara konkrit operasional berdasarkan umur.
Di Indonesia, batasan remaja yang mendekati batasan PBB tentang pemuda adalah kurun usia 11-24 yang dikemukakan dalam sensus penduduk 1980. Definisi tersebut tentunya berdasarkan atas tujuan operasional, Penggolongan ini semata-mata berdasarkan usia saja tidak memperlihatkan aspek sosial-psikologik orang-orang pada kurun usia tersebut.

D.      Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja yang berlangsung pada usia kurang lebih 13 sampai 15 tahun, sebagai masa masa remaja awal, dan 16 sampai kira-kira 18 tahun, yang merupakan masa remaja akhir, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Hurloch, 1997 : 207-209).
a)       Masa Remaja Merupakan Periode yang Penting
Meskipun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kadarnya berbeda-beda. Ada periode perkembangan yang dipandang lebih penting dari periode yang lain, karena akibatnya yang langsung terhadap sikap dan perilaku, dan ada lagi yang dipandang penting, karena akibat-akibat jangka panjangnya. Pada periode remaja kedua hal tersebut sama-sama penting, mengingat perubahan yang terjadi pada remaja ruang lingkupnya sangat luas, begitu juga dengan akibat yang ditimbulkannya.
b)       Masa Remaja Merupakan Periode Peralihan
Peralihan bukan berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Masa remaja merupakan peralihan dari masa kanakkanak dan pubertas menuju masa dewasa.
c)        Masa Remaja sebagai Periode Perubahan
Sebenarnya setiap masa perkembangan juga selalu ditandai dengan perubahan. Karena pada dasarnya perkembangan adalah proses perubahan. Tetapi perubahan yang terjadi pada masa remaja sangat berbeda dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fase perkembangan lainnya, baik itu menyangkut ruang lingkup, tempo, dan akibat jangka panjang dari perubahan tersebut.
d)       Masa Remaja Merupakan Masa Bermasalah
Setiap periode dalam perkembangan mempunyai masalah, namun masalah yang terjadi pada remaja berbeda dari masalah yang terjadi pada periode-periode yang lain, baik dalam hal kuantitas, kualitas, maupun kompleksitasnya. Masalah memerlukan pemecahan. Namun tidak setiap remaja mampu memecahkan masalahnya bahkan tidak jarang terjadi akumulasi permasalahan. Ketidak mampuan dirinya memecahkan masalah yang dihadapi dapat menyebabkan terjadinya gangguan tingkah laku seperti depresi, stress, anoreksia, bulimia, dan juga ketergantungan pada minuman keras dan obat-obat terlarang.
e)       Masa Remaja Merupakan Masa yang Tidak Realistis.
Remaja, khususnya remaja awal, cenderung memandang kehidupan secara tidak realistis. Ia melihat dirinya, orang lain, serta fenomena lainnya, sebagaimana yang ia inginkan, bukannya sebagaimana adanya.
f)        Masa Remaja Merupakan Masa Mencari Identitas
Adanya anggapan bahwa dirinya bukan lagi anak-anak, menyebabkan mereka berusaha meninggalkan perilaku dan sikap kekanak-kanakan untuk diganti dengan sikap dan perilaku yang lebih dewasa. Kedewasaan dalam konteks ini adalah kedewasaan menurut ukuran mereka, yang ternyata masih samara-samar. Dan hal ini mendorong mereka untuk mencari, menemukan identitas yang pas bagi mereka.
g)       Masa Remaja sebagai Ambang Masa Dewasa
Pada masa remaja, khususnya remaja akhir tanda-tanda kedewasaan dari segi sosial dan psikologis telah nampak dengan jelas. Gejala ini menunjukkkan bahwa mereka sebentar lagi akan segera memasuki masa dewasa, baik dewasa secara biologis, sosiologis, kronologis, maupun psikolgis.

E.       Tahapan Perkembangan Remaja
1.        Remaja Awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bajunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan itu ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ”ego”. Hal ini menyebabkan para remaja awal sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa
2.        Remaja Madya (Middle Adolescence)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau banyak teman menyukainya. Ada kecendrungan ”narcistic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana: peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau materialis, dan sebagainya. Remaja harus membebaskan diri dari Oedipoes Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa kanak-kanak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan dari lain jenis
3.        Remaja Akhir
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal, yaitu:
      Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsu intelek.
      Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru.
      Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
      Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antar kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
      Tumbuh ”dinding” yang memisahkan diri pribadinya dan masyarakat umum.
F.       Perkembangan Berbagai Aspek pada Masa Remaja
1.        Perkembangan Fisik
Fase remaja adalah periode kehidupan manusia yang sangat strategis, penting dan berdampak luas bagi perkembangan berikutnya. Pada remaja awal, pertumbuhan fisiknya sangat pesat tetapi tidak proporsional, misalnya pada hidung, tangan, dan kaki. Pada remaja akhir,proporsi tubuhmencapai ukuran tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya (Syamsu Yusuf : 2005). Berkaitan dengan perkembangan fisik ini, perkembangan terpenting adalah aspek seksualitas ini dapat dipilah menjadi dua bagian, yakni :
Ciri-ciri Seks Primer
Perkembangan psikologi remaja pria mengalami pertumbuhan pesat pada organ testis, pembuluh yang memproduksi sperma dan kelenjar prostat. Kematangan organ-organ seksualitas ini memungkinkan remaja pria, sekitar usia 14 – 15 tahun, mengalami “mimpi basah”, keluar sperma. Pada remaja wanita, terjadi pertumbuhan cepat pada organ rahim dan ovarium yang memproduksi ovum (sel telur) dan hormon untuk kehamilan. Akibatnya terjadilah siklus “menarche” (menstruasi pertama). Siklus awal menstruasi sering diiringi dengan sakit kepala, sakit pinggang, kelelahan, depresi, dan mudah tersinggung. Psikologi remaja
Ciri-ciri Seks Sekunder
Perkembangan psikologi remaja pada seksualitas sekunder adalah pertumbuhan yang melengkapi kematangan individu sehingga tampak sebagai lelaki atau perempuan. Remaja pria mengalami pertumbuhan bulu-bulu pada kumis, jambang, janggut, tangan, kaki, ketiak, dan kelaminnya. Pada pria telah tumbuh jakun dan suara remaja pria berubah menjadi parau dan rendah. Kulit berubah menjadi kasar. Pada remaja wanita juga mengalami pertumbuhan bulu-bulu secara lebih terbatas, yakni pada ketiak dan kelamin. Pertumbuhan juga terjadi pada kelenjar yang bakal memproduksi air susu di buah dada, serta pertumbuhan pada pinggul sehingga menjadi wanita dewasa secara proporsional.
2.        Perkembangan Seksual Remaja
Perilaku seksual adalah perilaku yang yang muncul karena dorongan seksual. Bentuk perilaku seksual bermacam-macam mulai dari rasa tertarik pada lawan jenis, bergandengan tangan, berpelukan, bercumbu, petting sampai berhubungan seks. Perkembangan perilaku seks merupakan konsekuensi logis dari perkembangan ciri-ciri seks primer dan sekunder.
Masalah akan timbul jika para remaja tidak bisa mengendalikan dorongan seksualnya sehingga perilaku yang terjadi tidak sesuai dengan norma. Pencegahan terjadinya masalah dapat dilakukan dengan pendidikan seks, termasuk di dalamnya pendidikan tentang kesehatan reproduksi.
3.        Perkembangan Kognitif
Berbagai penelitian selama dua puluh tahun terakhir dengan menggunakan berbagai pandangan teori juga menemukan gambaran yang konsisten dengan teori Piaget yang menyimpulkan bahwa remaja merupakan suatu periode dimana seseorang mulai berfikir secara abstrak dan logik. Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten antara kemampuan kognitif anak-anak dan remaja. Dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kemampuan lebih baik dalam berfikir hipotetis dan logis. Remaja juga lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus bukan hanya satu, dalam satu saat dan konsep-konsep abstrak, remaja juga dapat berfikir tentang proses berfikirnya sendiri, serta dapat memikirkan hal-hal yang tidak nyata, sebagaimana hal-hal yang nyata untuk menyusun hipotesa atau dugaan.
Menurut Piaget, pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya penyesuaian diri biologis. Secara lebih lebih nyata mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman akan tetapi juga menyesuaikan cara berfikir mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih mendalam.
Secara lebih nyata pemikiran opersional formal bersifat lebih abstrak, idealistis dan logis. Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealistis dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia. Remaja berfikir secara logis yang mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan. Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari lingkungan sosial. Hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif remaja.
Pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan pada usia 12–20 tahun secara fungsional, perkembangan kognitif (kemampuan berfikir) remaja dapat digambarkan sebagai berikut.
      Secara intelektual remaja mulai dapat berfikir logis tentang gagasan abstrak.
      Berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah.
      Sudah mampu menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak.
      Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis.
      Memikirkan masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya psikologi remaja.
      Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar berinstropeksi.
      Wawasan berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas (jati diri).
Karakteristik perkembangan intelektual remaja digambarkan oleh Keating (Syamsu Yusuf, 2004 : 195 - 196) sebagai berikut.
      Kemampuan intelektual remaja telah sampai pada fase operasi formal sebagaimana konsep Piaget. Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang tekanannya kepada kesadaran sendiri di sini dan sekarang (here and now), cara berpikir remaja berkaiatan erat dengan dunia kemungkinan (world of possibilities).
      Melalui kemampuannya untuk menguji hipotesis, muncul kemampuan nalar secara ilmiah.
      Mampu memikirkan masa depan dan membuat perencanaan dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk mencapainya.
      Mampu menyadari aktivitas kognitifnya dan mekanisme yang membuat proses kognitif tersebut efisien atau tidak efisien.
      Cakrawala berpikirnya semakin luas.

4.        Perkembangan Emosi
Remaja mengalami puncak emosionalitasnya, perkembangan emosi tingkat tinggi. Perkembangan emosi remaja awal menunjukkan sifat sensitif, reaktif yang kuat, emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung, marah, sedih, dan murung). Sedangkan remaja akhir sudah mulai mampu mengendalikannya. Remaja yangberkembang di lingkungan yang kurang kondusif, kematangan emosionalnyaterhambat. Sehingga sering mengalami akibat negatif berupa tingkah laku, misalnya :
      Agresif : melawan, keras kepala, berkelahi, suka menggangu dan lain-lainnya.
      Lari dari kenyataan (regresif) : suka melamun, pendiam, senang menyendiri, mengkonsumsi obat penenang, minuman keras, atau obat terlarang.
Sedangkan remaja yang tinggal di lingkungan yang kondusif dan harmonis dapat membantu kematangan emosi remaja menjadi :
      Adekuasi (ketepatan) emosi : cinta, kasih sayang, simpati, altruis (senang menolong), respek (sikap hormat dan menghormati orang lain), ramah, dan lain-lainnya.
      Mengendalikan emosi : tidak mudah tersinggung, tidak agresif, wajar, optimistik, tidak meledak-ledak, menghadapi kegagalan secara sehat dan bijak.
Dalam literatur klasik psikologi, emosi merupakan reaksi (kejiwaan) yang muncul lantaran adanya stimulan. Emosi yang sangat fruktuatif (mudah berubah) terjadi pada masa remaja. Remaja sering tidak mampu memutuskan simpul-simpul ikatan emosional kanak-kanaknya dengan orang tua secara logis dan objektif. Dalam usaha itu mereka kadang-kadang harus menentang, berdebat, bertarung pendapat dan mengkritik dengan pedas sikap-sikap orang tua. Meskipun hal ini sulit dilakukan namun dalam upaya pencapaian kemandirian yang optimal terhadap diri remaja maka upaya tersebut harus ditempuh.
Bagi remaja, tuntutan untuk memperoleh kemandirian secara emosional merupakan dorongan internal dalam mencari jati diri, bebas dari perintah-perintah dan kontrol orang tua. Remaja menginginkan kebebasan pribadi untuk dapat mengatur dirinya sendiri tanpa bergantung secara emosional pada orang tuanya. Bila remaja mengalami kekecewaan, kesedihan atau ketakutan, mereka ingin dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya. Meskipun remaja dapat mendiskusikan masalah-masalahnya dengan ayah atau ibunya, tetapi mereka ingin memperoleh kemandirian secara emosional dengan mengatasi sendiri masalah-masalahnya dan ingin memperoleh status yang menyatakan bahwa dirinya sudah dewasa.
Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
Ciri-ciri Emosional Usia 12-15 Tahun
      Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka.
      Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
      Kemarahan biasa terjadi.
      Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri.
      Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
Ciri-ciri Emosional Remaja Usia 15-18 Tahun
      “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa.
      Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka.
      Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
Perkembangan emosi pada remaja ditandai dengan emosi yang tidak stabil dan penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan emosi ini erat kaitannya dengan kemasakan hormon yang terjadi pada remaja. Stres emosional yang timbul berasal dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi sewaktu pubertas.
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.
Dan perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu mengendalikan emosi.
5.        Perkembangan Moral
Remaja sudah mampu berperilaku yang tidak hanya mengejar kepuasan fisik saja, tetapi meningkat pada tatanan psikologis (rasa diterima, dihargai, dan penilaian positif dari orang lain). Perkembangan moral pada masa remaja ditandai dengan ciri-ciri sebagaimana digambarkan oleh Elizabeth B. Hurlock (1997 : 225) sebagai berikut.
a)       Pandangan moral remaja semakin lama semakin abstrak. Hal ini sejalan dengan perkembangan aspek kognitifnya. Dengan demikian semakin bertambah tingkat pengertian remaja, semakin banyak pula nilai-nilai moral yang dapat ditangkap dan diserapnya.
b)       Penilaian moral remaja semakin kognitif. Dan ini mendorong remaja lebih berani dalam menganalisis masalah moralitas serta berani mengambil keputusan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan moralitas.
c)        Penilaian moral remaja mengalami orientasi dari egosentris ke sosiosentris kemudian ke prinsip universal. Artinya, dalam memandang masalah baik – buruk, ukuran utamanya bukan pendapat pribadi tetapi lebih didasarkan pada pendapat masyarakat di mana dia berada serta masyarakat dalam arti yang lebih luas lagi.
d)       Penilaian moral remaja, secara psikologis lebih mahal. Artinya, dalam memberikan penilaian yang berhubungan dengan moralitas seringkali mengalami ketegangan psikologis.
6.        Perkembangan Sosial
Remaja telah mengalami perkembangan kemampuan untuk memahami orang lain (social cognition) dan menjalin persahabatan. Remaja memilih teman yang memiliki sifat dan kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, misalnya sama hobi, minat, sikap, nilai-nilai, dan kepribadiannya.
Perkembangan sikap yang cukup rawan pada remaja adalah sikap comformity yaitu kecenderungan untuk menyerah dan mengikuti bagaimana teman sebayanya berbuat. Misalnya dalam hal pendapat, pikiran, nilai-nilai, gaya hidup, kebiasaan, kegemaran, keinginan, dan lain-lainnya.
Santrock mengungkapkan bahwa pada transisi sosial remaja mengalami perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orang tua, serangan agresif terhadap teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa tertentu serta peran gender dalam masyarakat merefleksikan peran proses sosial-emosional dalam perkembangan remaja. Dan juga disebutkan bahwa kemampuan remaja untuk memantau kognisi sosial mereka secara efektif merupakan petunjuk penting mengenai adanya kematangan dan kompetensi sosial mereka.
Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertama-tama masing sangat terbatas dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis maupun lain jenis.
Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bersosialisasi (sozialed), memerlukan tiga proses. Dimana masing-masing proses tersebut terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasi individu. Menurut Hurlock tiga proses dalam perkembangan sosial adalah sebagai berikut:
      Berperilaku dapat diterima secara sosial. Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang prilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bersosialisasi, seseorang tidak hanya harus mengetahui prilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan prilakunya sehingga ia bisa diterima sebagain dari masyarakat atau lingkungan sosial tersebut.
      Memainkan peran di lingkungan sosialnya. Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan setiap anggota dituntut untuk dapat memenuhi tuntutan yang diberikan kelompoknya.
      Memiliki Sikap yang positif terhadap kelompok Sosialnya. Untuk dapat bersosialisasi dengan baik, seseorang harus menyukai orang yang menjadi kelompok dan aktifitas sosialnya. Jika seseorang disenangi berarti, ia berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri.
Sebagaimana aspek-aspek yang lain, aspek social remaja juga mengalami perkembangan. Adapun karakteristik perkembangan social remaja adalah sebagai berikut.
1)       Perilaku sosial remaja banyak dipengaruhi oleh kelompok teman sebaya (peer group);
2)       Terjadi perubahan pada perilaku social, antara lain ;
      Perubahan dari tingkahlaku yang ramai kea rah yang lebih tenang;
      Perubahan dari penyesuaian pada kelompok besar ke kelompok yang lebih kecil.
3)       Terjadi pengelompokan sosial, antara lain :
      Sahabat karib (chumbs)
      Kelompok kecil (clique)
      Kelompok besar (crowds)
      Gangs
4)       Meningkatnya kemampuan dalam menyesuaian diri (Nur Syamsu, 2004 : 198 – 199).
a)       Di lingkungan keluarga, ditunjukkan dengan :
      Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga.
      Menerima otoritas orang tua.
      Menerima tanggung jawab dan norma-norma keluarga.
      Berusaha membantu keluarga.
b)       Di lingkungan sekolah, ditunjukkan dengan :
      Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah.
      Berperan serta dalam kegiatan-kegiatan sekolah.
      Menjalin persahabatan dengan teman-teman sekolahnya.
      Bersikap hormat pada guru, pemimpin sekolah, dan staf yang lain.
c)        Di lingkungan masyarakat, ditunjukkan dengan :
      Mengakui dan respek terhadap hak-hak orang lain.
      Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain.
      Bersikap simpati dan altruis terhadap kesejahteraan orang lain.
      Bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan-kebijakan masyarakat.
7.        Perkembangan Kepribadian Remaja
Isu sentral pada remaja adalah masa berkembangnya identitas diri (jati diri) yang bakal menjadi dasar bagi masa dewasa. Remaja mulai sibuk dan heboh dengan problem “siapa saya?” (Who am I ?). Terkait dengan hal tersebut remaja juga risau mencari idola-idola dalam hidupnya yang dijadikan tokoh panutan dan kebanggaan. Faktor-faktor penting dalam perkembangan integritas pribadi remaja (psikologi remaja) adalah :
      Pertumbuhan fisik semakin dewasa, membawa konsekuensi untuk berperilaku dewasa pula.
      Kematangan seksual berimplikasi kepada dorongan dan emosi-emosi baru.
      Munculnya kesadaran terhadap diri dan mengevaluasi kembali obsesi dan cita-citanya.
      Kebutuhan interaksi dan persahabatan lebih luas dengan teman sejenis dan lawan jenis.
      Munculnya konflik-konflik sebagai akibat masa transisi dari masa anak menuju dewasa. Remaja akhir sudah mulai dapat memahami, mengarahkan, mengembangkan, dan memelihara identitas diri.

G.      Hubungan Remaja dan Orangtua
Masa Remaja awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak rang tua dan remaja.
Dapat disimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan memberi lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orang tua.
Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, dikemukakan bahwa anak/remaja yang dibesarkan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik/disharmoni keluarga, maka resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak/ remaja yang dibesarkan dalam keluarga sehat/ harmonis (sakinah).
Kriteria keluarga yang tidak sehat tersebut menurut para ahli, antara lain:
·      Keluarga tidak utuh (broken home by death, separation, divorce)
·      Kesibukan orangtua, ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan anak di rumah
·      Hubungan interpersonal antar anggota keluarga (ayah-ibu-anak) yang tidak baik (buruk)
·      Substitusi ungkapan kasih sayang orangtua kepada anak, dalam bentuk materi daripada kejiwaan (psikologis).
Selain daripada kondisi keluarga tersebut di atas, berikut adalah rincian kondisi keluarga yang merupakan sumber stres pada anak dan remaja, yaitu:
·      Hubungan buruk atau dingin antara ayah dan ibu
·      Terdapatnya gangguan fisik atau mental dalam keluarga
·      Cara pendidikan anak yang berbeda oleh kedua orangtua atau oleh kakek/nenek
·      Sikap orangtua yang dingin dan acuh tak acuh terhadap anak
·      Sikap orangtua yang kasar dan keras kepada anak
·      Campur tangan atau perhatian yang berlebih dari orangtua terhadap anak
·      Orang tua yang jarang di rumah atau terdapatnya isteri lain
·      Sikap atau kontrol yang tidak konsisiten, kontrol yang tidak cukup
·      Kurang stimuli kongnitif atau sosial
·      Lain-lain, menjadi anak angkat, dirawat di rumah sakit, kehilangan orang tua, dan lain sebagainya.
Sebagaimana telah disebutkan di muka, maka anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga sebagaimana diuraikan di atas, maka resiko untuk berkepribadian anti soial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak/maja yang dibesarkan dalam keluarga yang sehat/harmonis (sakinah).

H.      Hubungan Remaja dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock, teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara dengan melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya yang sedang berlangsung.
Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja. Mengenai kesejahteraan, dia menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual.

I.        Permasalahan Masa Remaja
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
1.        Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan bereksplorasi.
2.        Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang
Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
a)       Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
b)       Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
c)        Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
d)       Cinta dan Hubungan Heteroseksual.
e)       Permasalahan Seksual.
f)        Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua.
g)       Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama.
Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja.
Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”.
Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman.
Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja.
Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).
Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah: pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.
Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja. Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.
Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.
J.        Tugas Perkembangan Remaja
Masa remaja mempunyai cirri yeng berbeda dengan masa sebelumnya atau sesudahnya, yang meliputi: masa remaja sebagai periode penting, masa remaja sebagai periode peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai masa mencari identitas, usia bermasalah, masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan/kesulitan, masa remaja sebagai masa yang tidak realistic, dan masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Tugas perkembangan yang harus dilakukan pada masa remaja terdiri dari.
      Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
      Mencapai peran social pria dan wanita.
      Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
      Mengaharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab.
      Mempersiapkan karier ekonomi.
      Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
      Memperoleh perangkat nilai, serta sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.
Dilihat dari perkembangan kognisi, menurut teroi perkembangan kognisi dari Piaget, remaja masuk dalam tahapan operasional formal yang memiliki ciri-ciri telah dimilikinya kemampuan instrospeksi (berpikir kritis tentang dirinya), berpkir logis (pertimbangan terhadap hal-hal yang penting dan mengambil kesimpulan), berpikir berdasar hipotesis (adanya pengujian hipotesis), menggunakan simbol-simbol, berpikir yang tidak kaku/fleksibel berdasarkan kepentingan. Sehingga atas dasar tahap peerkembangan tersebut maka cirri berpikir remaja adalah idealism, cendrung pada lingkungan sosialnya, dan keasadaran diri akan konformis.  Pada masa remaja terjadi ketegangan emosi yang bersifat khas sehingga masa ini disebut masa badai & topan, masa yang menggambarkan keadaan emosi remaja yang tidak menentu, tidak stabil, dan meledak-ledak.
Dilihat dari perkembangan sosial, usia remaja termasuk pada tahap kelima dari teroi Psikososial dari erikson yaitu pencarian identitas versus kebingungan identitas. Dimana pada masa itu remaja dihadapkan pada pencarian pengetahuan tentang dirinya, apa dan dimana serta bagaimana tentang dirinya. Perkembangan fisik yang sangat cepat pada masa remaja dapat berakibat tidak dapat menyesuiakan diri secara baik, sehingga sering menimbulkan bahaya-bahaya, yang muncul pada masa remaja. Ada 2 bahaya yaitu: 1) bahaya-bahaya fisik, yang meliputi kematian, bunuh diri atau percobaan bunuh diri, cacat fisik, kecanggungan dan ketakutan, serta 2) bahaya psikolgis, yaitu berkisar kegagalan menajalankan peralihan psikologis kearah kematangan yang merupakan tugas perkembangan masa remaja yang penting di tandai dengan tidak bertanggung jawab, tampak dalam perilaku mengabaikan pelajaran, sikap yang sangat agresif dan sangat yakin pada diri sendiri, perasaan tidak aman, yang menyebabkan remaja patuh mengikuti standar-standar kelompok.
K.      Implikasi Perkembangan Masa Remaja terhadap Dunia Pendidikan
Adanya karakteristik anak usia SMP di atas maka guru diharapkan untuk:
      Menerapkan model pembelajaran yang memisahkan siswa pria dan wanita ketika membahas topik-topik yang berkenaan dengan anatomi dan fisiologi.
      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan hobi dan minatnya melalui kegiatan-kegiatan yang psoitif.
      Menerapkan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual atau kelompok kecil.
      Meningkatkan kerja sama dengan orang tua dan masyarakat untuk mengembangkan potensi siswa.
      Tampil menjadi teladan yang baik bagi siswa.
      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajara bertanggung jawab.
Adanya karakteristik anak usia SMA di atas maka guru diharapkan untuk:
      Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika.
      Menyediakan fasilitas yang memungkinkan siswa mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti sarana olah raga, kesenian, dan sebagainya.
      Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
      Melatih siswa mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan dalam kondisi sulit dan penuh godaan.
      Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpikir-pikir, reflektif, dan positif.
      Membantu siswa mengembangkan etos kerja yang tinggi dan sikap wiraswasta.
      Memupuk semangat keberagaman siswa melalui pembelajaran agama terbuka dan lebih toleran.
      Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia mendengarkan segala keluhan dan problem yang dihadapinya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.
Arfinurul. 2010. Perkembangan Emosi pada Remaja. [tersedia] http://arfinurul.blog.uns.ac.id. (14 Nopember 2012).
Atkinson, L. Rita dkk. 1991. Pengantar Psikologi. Jakarta: PT Gelar Aksar Pratama.
Billimham, Katherine A. 1982. Developmental Psychology for The Heah Care Professions : Part 1 – Prenatal Through Adolescent Development. Colorado : Westview Press, Inc.
Bimo Walgito. 2000. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Yasbit Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Branca, Albert A. 1965. Psychology : The Science of Behavior. Boston : Allyn and Bacon, inc.
Dirgagunarsa, Singgih. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung : Rosdakarya.
F.J. Monks, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Gunarsa, D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT. BK Gunung Mulia
Hardy, Malcolm dan Heyes, Steve. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga.
Hurlock, B. Elizabeth. 1993. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
                1980. Psikologi Perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Edisi ke lima. Jakarta : Erlangga
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 1. (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Perkembangan Anak : Jilid 2 (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Z.) Jakarta : Erlangga.
                1997. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (Alih Bahasa : Istiwidayanti dan Soedjarwo) Jakarta : Erlangga.
Hymovich, Debra P. and Chamberlin, Robert W. 1980. Child and Family Development : Implications for Primary Health Care. New York : Mc Graw Hill Book Company.
Jeff and Cindi. 2006. “Oh Baby, Bond with Me” http:// www.envisagedesign. com/ohbaby/ index/html (diakses 15 Maret 2006).
Kartini Kartono. 1992. Psikologi Wanita Jilid 2 : Mengenal Wanita sebagai Ibu dan Nenek. Bandung : CV Mandar Maju.
Kartono, K. 1979. Psikhologi Anak. Bandung : Alumni
Kasiram, M. 1983. Ilmu Jiwa Perkembangan. Surabaya : Usaha Nasional.
Monk, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Nugraha, Ari. 2012. Psikologi Perkembangan. [tersedia] http://the-arinugraha-centre.blogspot.com. (25 Desember 2012).
Perry, Bruce D. 2001. Bonding Attachment in Maltreated Children : Consequences of Emotional Neglect in Childhood. Booklet.
Sarlito Wirawan Sarwono. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Radja Grafindo Persada.
                                . 2002. Psikologi Remaja. Jakarta : PT Remaja Grafindo Persada.
Sujanto, Agus. 1986. Psikologi Deskripsi. Jakarta: Aksara Baru.
Syamsu Yususf, L.N. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Rosdiana S. 2006. “11 Perilaku Sulit Si Prasekolah. ” Nakita No. 367/Th VIII/15 April 2006.
Wikipedia Free Encyclopedia. 2005. “Delayed Puberty”. www.en.wikiperia.- org/delayedpuberty.html.
Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Zulkifli, L. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya

1 comment:

Unknown said...


kita juga punya nih artikel mengenai 'Remaja', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3508/1/JURNAL_10505094_1.pdf
trimakasih
semoga bermanfaat