Tuesday, November 8, 2011

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


BAB I
PENDAHULUAN

Kesadaran akan pentingnya demokrasi sekarang ini sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari peran serta rakyat Indonesia dalam melaksanakan Pemilihan Umum baik yang dilaksakan oleh pemerintah  pusat dan pemerintah daerah. Ini terlihat dari jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya yang sedikit. Pemilihan umum ini langsung dilaksanakan secara langsung pertama kali untuk memilih presiden dan wakil presiden  serta anggota MPR, DPR, DPD, DPRD di tahun 2004.  Walaupun masih terdapat masalah yang timbul ketika waktu pelaksanaan. Tetapi masih dapat dikatakan suses.
Setelah suksesnya Pemilu tahun 2004, mulai bulan Juni 2005 lalu di 226 daerah meliputi 11 propinsi serta 215 kabupaten dan kota, diadakan Pilkada untuk memilih para pemimpin daerahnya. Sehingga warga dapat menentukan peminpin daerahnya menurut hati nuraninya sendiri. Tidak seperti tahun tahun yang dahulu yang menggunakan perwakilan dari partai. Namun dalam pelaksanaan pilkada ini muncul penyimpangan penyimpangan. Mulai dari masalah administrasi bakal calon sampai dengan yang berhubungan dengan  pemilih.

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian dan Landasan Hukum Pilkada
Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti pemerintahan. Sehingga demokrasi dapat diartikan pemerintahan dari rakyat dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Pemerintahan yang kewenangannya pada rakyat. Semua anggota masyarakat (yang memenuhi syarat ) diikutsertakan dalam kehidupan kenegaraan dalam aktivitas pemilu. Pelaksanaan dari demokrasi ini telah dilakukan dari dahulu di berbagai daerah di Indonesia hingga Indonesia merdeka sampai sekarang ini. Demokrasi di negara Indonesia bersumberkan dari Pancasila dan UUD ’45 sehingga sering disebut dengan demokrasi pancasila. Demokrasi Pancasila berintikan musyawarah untuk mencapai mufakat, dengan berpangkal tolak pada faham kekeluargaan dan kegotongroyongan
Indonesia pertamakali dalam melaksanakan Pemilu pada akhir tahun 1955 yang diikuti oleh banyak partai ataupun perseorangan. Dan pada tahun 2004 telah dilaksanakan pemilu yang secara langsung untuk memilih wakil wakil rakyat serta presiden dan wakilnya. Dan sekarang ini mulai bulan Juni 2005 telah dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah atau sering disebut pilkada langsung. Pilkada ini merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat. Ada lima pertimbangan penting penyelenggaraan pilkada langsung bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.
1.          Pilkada langsung merupakan jawaban atas tuntutan aspirasi rakyat karena pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, bahkan kepala desa selama ini telah dilakukan secara langsung.
2.          Pilkada langsung merupakan perwujudan konstitusi dan UUD 1945. Seperti telah diamanatkan Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945, Gubernur, Bupati dan Wali Kota, masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis. Hal ini telah diatur dalam UU No 32 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
3.          Pilkada langsung sebagai sarana pembelajaran demokrasi (politik) bagi rakyat (civic education). Ia menjadi media pembelajaran praktik berdemokrasi bagi rakyat yang diharapkan dapat membentuk kesadaran kolektif segenap unsur bangsa tentang pentingnya memilih pemimpin yang benar sesuai nuraninya.
4.          Pilkada langsung sebagai sarana untuk memperkuat otonomi daerah. Keberhasilan otonomi daerah salah satunya juga ditentukan oleh pemimpin lokal. Semakin baik pemimpin lokal yang dihasilkan dalam pilkada langsung 2005, maka komitmen pemimpin lokal dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah, antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memerhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat agar dapat diwujudkan.
5.          Pilkada langsung merupakan sarana penting bagi proses kaderisasi kepemimpinan nasional. Disadari atau tidak, stock kepemimpinan nasional amat terbatas. Dari jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta, jumlah pemimpin nasional yang kita miliki hanya beberapa. Mereka sebagian besar para pemimpin partai politik besar yang memenangi Pemilu 2004. Karena itu, harapan akan lahirnya pemimpin nasional justru dari pilkada langsung ini.

  1. Pelaksanaan dan Penyelewengan Pilkada
Pilkada ini ditujukan untuk memilih Kepala daerah di 226 wilayah yang tersebar dalam 11 provinsi dan 215 di kabupaten dan kota. Rakyat memilih kepala daerah masing masing secara langsung dan sesuai hati nurani masing masing. Dengan begini diharapkan kepala daerah yang terpilih merupakan pilihan rakyat daerah tersebut. Dalam pelaksanaannya pilkada dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah masing masing. Tugas yang dilaksanakan KPUD ini sangat berat yaitu mengatur pelaksanaan pilkada ini agar dapat terlaksana dengan demokratis. Mulai dari seleksi bakal calon, persiapan kertas suara, hingga pelaksanaan pilkada ini.
Dalam pelaksanaannya selalu saja ada masalah yang timbul. Seringkali ditemukan pemakaian ijasah palsu oleh bakal calon. Hal ini sangat memprihatinkan sekali . Seandainya calon tersebut dapat lolos bagai mana nantinya daerah tersebut karena telah dipimpin oleh orang yang bermental korup. Karena mulai dari awal saja sudah menggunakan cara yang tidak benar. Dan juga biaya untuk menjadi calon yang tidak sedikit, jika tidak iklas ingin memimpin maka tidakan yang pertama adalah mencari cara bagaimana supaya uangnya dapat segera kemali atau “balik modal”. Ini sangat berbahaya sekali.
Dalam pelaksanaan pilkada ini pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Seringkali bagi pihak yang kalah tidak dapat menerima kekalahannya dengan lapang dada. Sehingga dia akan mengerahkan massanya untuk mendatangi KPUD setempat. Kasus kasus yang masih hangat yaitu pembakaran kantor KPUD salah satu provinsi di pulau sumatra. Hal ini membuktikan sangat rendahnya kesadaran politik masyarakat. Sehingga dari KPUD sebelum melaksanakan pemilihan umum, sering kali melakukan Ikrar siap menang dan siap kalah. Namun tetap saja timbul masalah masalah tersebut.
Selain masalah dari para bakal calon, terdapat juga permasalahan yang timbul dari KPUD setempat. Misalnya saja di Jakarta, para anggota KPUD terbukti melakukan korupsi dana Pemilu tersebut. Dana yang seharusnya untuk pelakasanaan pemilu ternyata dikorupsi. Tindakan ini sangat memprihatinkan. Dari sini dapat kita lihat yaitu rendahnya mental para penjabat. Dengan mudah mereka memanfaatkan jabatannya untuk kesenangan dirinya sendiri. Dan mungkin juga ketika proses penyeleksian bakal calon juga kejadian seperti ini. Misalnya agar bisa lolos seleksi maka harus membayar puluhan juta.
Dalam pelaksanaan pilkada di lapangan banyak sekali ditemukan penyelewengan penyelewengan. Kecurangan ini dilakukan oleh para bakal calon seperti :
  1. Money politik
Sepertinya money politik ini selalu saja menyertai dalam setiap pelaksanaan pilkada. Dengan memanfaatkan masalah ekonomi masyarakat yang cenderung masih rendah, maka dengan mudah mereka dapat diperalat dengan mudah. Contoh yang nyata saja yaitu di lingkungan penulis yaitu desa Karangwetan, Tegaltirto, Berbah, Sleman, juga terjadi hal tersebut. Yaitu  salah satu dari kader bakal calon membagi bagikan uang kapada masyarakat dengan syarat harus memilih bakal calon tertentu. Tapi memang dengan uang dapat membeli segalanya. Dengan masih rendahnya tingkat pendidikan seseorang maka dengan mudah orang itu dapat diperalat dan diatur dengan mudah hanya karena uang.
Jadi sangat rasional sekali jika untuk menjadi calon kepala daerah harus mempunyai uang yang banyak. Karena untuk biaya ini, biaya itu.
  1. Intimidasi
Intimidasi ini juga sangat bahaya. Sebagai contoh juga yaitu di daerah penulis oknum pegawai pemerintah melakukan intimidasi terhadap warga agar mencoblos salah satu calon. Hal ini sangat menyeleweng sekali dari aturan pelaksanaan pemilu.
  1. Pendahuluan start kampanye
Tindakan ini paling sering terjadi. Padahal sudah sangat jelas sekali aturan aturan yang berlaku dalam pemilu tersebut. Berbagai cara dilakukan seperti pemasangan baliho, spanduk, selebaran. Sering juga untuk bakal calon yang merupakan Kepala daerah saat itu melakukan kunjungan keberbagai daerah. Kunjungan ini intensitasnya sangat tinggi ketika mendekati pemilu. Ini sangat berlawanan yaitu ketika sedang memimpin dulu. Selain itu media TV lokal sering digunakan sebagi media kampanye. Bakal calon menyam paikan visi misinya dalam acara tersbut padahal jadwal pelaksanaan kampanye belum dimulai.
  1. Kampanye negatif
Kampanye negatif ini dapat timbul karena kurangnya sosialisasi bakal calon kepada masyarakat. Hal ini disebabkan karena sebagian masyarakat masih sangat kurang terhadap pentingnya informasi. Jadi mereka hanya “manut” dengan orang yang disekitar mereka yang menjadi panutannya. Kampanye negatif ini dapat mengarah dengan munculnya fitnah yang dapat merusak integritas daerah tersebut.
  1. Solusi
Dalam melaksanakan sesuatu pasti ada kendala yang harus dihadapi. Tetapi bagaimana kita dapat meminimalkan kendala kendala itu. Untuk itu diperlukan peranserta masyarakat karena ini tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja. Untuk menggulangi permasalah yang timbul karena pemilu antara lain :
  1. Seluruh pihak yang ada baik dari daerah sampai pusat, bersama sama menjaga ketertiban dan kelancaran pelaksanaan pilkada ini. Tokoh tokoh masyarakat yang merupakan panutan dapat menjadi souri tauladan bagi masyarakatnya. Dengan ini maka dapat menghindari munculnya konflik.
  2. Semua warga saling menghargai pendapat. Dalam berdemokrasi wajar jika muncul perbedaan pendapat. Hal ini diharapkan tidak menimbulkan konflik. Dengan kesadaran menghargai pendapat orang lain, maka pelaksanaan pilkada dapat berjalan dengan lancar.
  3. Sosialisasi kepada warga ditingkatkan. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat. Sehingga menghindari kemungkinan fitnah terhadap calon yang lain.
  4. Memilih dengan hati nurani. Dalam memilih calon kita harus memilih dengan hati nurani sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain. Sehingga prinsip prinsip dari pemilu dapat terlaksana dengan baik.

BAB III
KESIMPULAN

Bangsa yang belajar adalah bangsa yang setiap waktu berbenah diri. Pemerintah Indonesia telah berusaha membenahi sistem yang telah dengan landasan untuk mengedepankan kepentingan rakyat. Walaupun dalam pelaksanaan pilkada ini masih ditemui berbagai macam permasalhan tetapi ini semua wajar karena indonesia baru menghadapi ini pertama kalinya setelah pemilu langsung untuk memilih presiden dan wakilnya. Ini semua dapat digunakan untuk pembelajaran politik masyarakat. Sehingga masyarakat dapat sadar dengan pentingnya berdemokrasi, menghargai pendapat, kebersamaan dalam menghadapai sesuatu. Manusia yang baik tidak akan melakukan kesalahan yang pernah dilakukan. Semoga untuk pemilihan umum yang berikutnya permasalah yang timbul dapat diminimalkan. Sehingga pemilihan umum dapar berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Abraham Panumbangan (mahasiswa fisipol UMY).Masih perlu waktu. www.kr.co.id  edisi Jum’at, 15 Juli 2005
2.      Hasan Shadily, dkk.1973. Ensiklopedi Umum . Jakarta: Yayasan Dana Buku Franklin Jakarta.
3.      M. Ma’ruf (Mentri Dalam Negeri).Optimisme hadapi pilkada langsung. www.kompas.com edisi selasa, 22 Februari 2005
4.      Redaksi Kompas. APBN-P 2005 Bantu Rp 464,9 Miliar . www.kompas.com edisi Rabu, 30 Maret 2005
5.      Suardi Abubakar, dkk. 2000. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2 SMU.Jakarta: Yudhistira.


MEMBACA KREATIF


Membaca kreatif bertujuan agar para siswa terampil berkreasi dalam hal dramatisasi, interpretasi lisan atau musik, narasi pribadi, ekspresi tulis, dan ekspresi visual.
4.1  Dramatisasi
            Pada tahap pertama para siswa dilatih memberikan ekspresi dramatik terhadap para tokoh serta ide - ide yang telah mereka temui dalam bacaan mereka. Tahap kedua para siswa mendramatisasikan tema - tema dari sastra dalam kaitannya dengan pengalaman - pengalaman mereka sendiri atau situasi - situasi kontemporer. Tahap berikutnya, memberi kesempatan kepada para siswa untuk mempersonalisasikan serta memberikan ekspresi dramatik bertahap apa yang telah mereka baca. Agar kita mendapat pandangan yang lebih luas serta dapat membimbing para siswa dalam hal dramatisasi, maka ada tiga hal yang harus kita perhatikan :
a)      Prinsip - prinsip kritik drama
b)      Unsur - unsur drama
c)      Ienis - jenis drama

1.1  Prinsip - prinsip kritik drama
Pada abad ke-18 seorang dramawan Jerman yang bernama Goethe, memproklamasikan tiga prinsip kritik drama,yang biasa disebut Prinsip Goethe  adalah sebagai berikut :
a)      Apakah yang hendak dilakukan oleh sang seniman ?
b)      Betapabaiknya dia melakukan hal itu ?
c)      Bermanfaatkah hal itu dilakukan ?
Apabila kita menjawab pertanyaan pertama, maka kita terutama sekali menghadapi fakta-fakta. Kita akan sampai pada jawaban – jawaban faktual.
Kalau kita menjawab pertanyaan yang kedua, maka kita akan mempertimbangkan betapa baikah sang seniman telah memanfaatkan unsur – unsur drama serta memadunya menjadi satu keseluruhan yang artistik yang efektif.
            Dan apabila kita menjawab pertanyaan yang ketiga, maka kita akan mengemukakan pendapat kita. Kalau kita telah menjawab pertanyaan pertama dan kedua dengan baik, maka jawaban atas pertanyaan ketiga dapat diberikan dengan mudah.
1.2   Unsur – unsur  drama
Ada beberapa unsur dalam drama diantaranya :
a)      Alur atau plot
b)      Karakteristik atau penokohan
c)      Dialog atau percakapan
d)     Aneka sarana kesastraan dan kedramaan

       I.            Alur atau plot.
            Eksposisi suatu lakon menentukan aksi dalam waktu dan tempat; memperkenalkan kita dengan para tokoh; menyatakan suatu sesuatu lakon, mengajukan konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama lakon tersebut.
            Komplikasi atau bagian tengah lakon, mengembangkan konflik. Sang pahlawan atau tokoh utama menemui aneka rintangan antara dia dan tujuannya. Pada bagian inilah kita dapat mengetahui jenis manusia yang bagaimanakah sang pahlawan itu. Pengarang dapat mempergunakan teknik sorot - balik atau flash - back untuk memperkenalkan kita dengan masa lalu sang pahlawan menjelaskan sesuatu situasi, atau untuk memberikan motivasi bagi aksi – aksinya.
            Resolusi atau denonement hendaklah muncul secara logis dari segala sesuatu yang telah mendahuluinya di dalam komplikasi. Titik balik yang memisahkan komplikasi dengan resolusi disebut juga klimaks.
            Pada klimaks itulah terjadi perubahan penting mengenai nasib sang tokoh dan akan menjadi jelas arah mana yang akan dituju oleh alur lakon tersebut. Dalam beberapa hal, akhir sesuatu lakon akan berupa yang menyenangkan atau tidak menyenagkan,happy or unhappy.

    II.            Karakterisasi atau penokohan.
Beberap tokoh beserta fungsinya dalam suatu lakon adalah sebagai berikut :
a)      Tokoh gagal, tokoh badut, atau the foil.
Tokoh ini mempunyai pendirian yang bertentangan dengan tokoh lain; bertindak menegaskan tokoh lain; dia mungkin merupakan tokoh minor yang hanya berfungsi sebagai tukan badut; atau dia mungkin pula menerangkan suatu bagian mayor dalam lakon, yang secara insidental bertindak selaku badut atau foil.
b)      Tokoh idaman atau the type character.
Tokoh ini dipakai terutama sekali karena dia dapat diberi ciri dengan cepat dapat dikenal segera. Dia mungkin merupakan wakil suatu daerah atau jabatan.kehadiran para tokoh idaman membuat tokoh individual yang sebenarnya semakin lebih hebat , semakin luar biasa.
c)      Tokoh statis atau the static character.
Tokoh ini pada hakekatnya tetap sama, tanpa perubahan; pada akhir lakon sama saja dengan pada awal lakon. Tokoh ini adalah tokoh statis.
d)     Tokoh yang berkembang.
Tokoh ini mengalami perkembangan selama atau di dalam lakon.

 III.            Dialog atau percakapan.
Dalam setiap lakon, dialog haruslah dapat memenuhi dua tuntutan yaitu :
a)      Dialog haruslah turut menunjang aksi.
b)      Dialog yang ditampilkan di atas pentas haruslah ditambah – tambahi serta di lebih – lebihkan. Maksudnya, haruslah jauh lebih tajam dari terbit dari dari pada ujaran sehari – hari.

 IV.            Aneka sarana kesastraan dan kedramaan.
a)      Gaya bahasa repetisi, baik yang berupa kontras (pertentangan) maupun yang berupa parallel (kesejajaran).
b)      Gaya bahasa dan suasana yang serasi yang turut menusuk seakan sesuatu drama haruslah diciptakan sebaik – baiknya.
c)      Perlambang atau simbolisme. Dengan mempergunakan benda – benda atau hal – hal yang nyata. Seorang penulis kadang – kadang menyampaikan serta mengemukakan ide – ide yang abstrak.
d)     Empati serta jarak estetik (empathy aesthetic distance). Suatu hal yang harus diperhatikan dalam sastra adalah yang terdapat antara dua kualitas yang dikenal sebagai empati atau pemahaman apresiasif terhadap sesuatu lakon apabila dia mengalami secara emosional apa yang diamatinya. Dia menjaga serta memperhatikan jarak estetik apabila emosi – emosinya muncul sedemikian rupa yang membuatnya sadar setiap saat bahwa dia hanyalah seorang pemirsah atau pembaca.

1.3  Jenis – jenis drama
                               I.            Tragedi
Tragedi adalah sejenis drama yang mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
a)      Sebuah lakon sedih, tragis, harus mengenai suatu subyek yang serius.
b)      Sang pahlawan, tokoh utama harus merupakan persoalan yang memiliki sifat – sifat kepahlawanan, gagah berani, herois.
c)      Tiada kepercayaan besar yang harus di letakan pada kesempatan atau kejadian yang kebetulan saja.
d)     Rasa kasihan dan rasa takut merupakan emosi – emosi dasar pada lakon itu :kasihan pada tokoh utama dalam penderitaannya, dan takut kalau – kalau pencobaan yang sama datang pula kepada kita. Dari kekalahan serta kegagalan itu timbullah katarsis atau perasaan terharu.
                            II.            Komedi
Komedi mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
a)      Lakon ini mungkin mengenai suatu subjek yang serius ataupun yang ringan, tetapi senantiasa memperlakukan subyeknya pada taraf dan nada yang ringan.
b)      Lakon ini mengenai peristiwa – peristiwa yang bertaraf mungkin atau besar kemungkinan terjadi.
c)      Apa – apa yang terjadi muncul dari tokoh, dan bukan dari situasi.
d)     Gelak tawa yang ditimbulkan oleh lakon ini adalah sejenis gelak tawa atau kelucuan yang bijaksana.
                         III.            Melodrama
Melodrama mempunyai cirri – cirri sebagai berikut :
a)      Mengetengahkan serta menampilkan suatu subyek yang serius, tetapi para tokohnya tidaklah seotentik para tokoh yang terdapat pada tragedi.
b)      Unsur kesempatan atau kejadian yang kebetulan, ada masuk kedalamnya.
c)      Emosi atau rasa kasihan memang ditimbulkan, tetapi cenderung kearah sentimentalitas.
d)     Sang pahlawan senantiasa memenangkan perjuangan.
Hal – hal yang harus di perhatikan ialah bahwa sebagai seorang penilai lakon kita mengetahui perbedaan antara emosi sejati dengan sentimentalitas.
                         IV.            Frase
Frase erat hubungannya dengan komedi. Tokoh – tokoh dan insiden – insiden dalam suatu frace memang dibesar – besarkan, dilebih – lebihkan, dan penekanan lebih dititikberatkan pada alur ketimbang tokoh.suatu frace mempunyai cirri – cirri sebagai berikut :
a)      Peristiwa – peristiwa dan tokoh – tokoh yang terdapat pada lakon ini memang mungkin ada, tetapi tidak begitu besar kemungkinannya.
b)      Bersifat episodik, memerlukan kepercayaan hanya pada saat itu saja.
c)      Segala yang terjadi timbul dari situasi, bukan dari tokoh.

4.2              Interpretasi lisan atau musik
            Agar para siswa dapat dilatih menginterpretasi sepenggal bacaan sastra dengan tepat secara lisan dan musik, maka para guru terlebih dahulu harus menguasai teori musik alakadarnya, terutama sekali nada dan tempo.
            Agar pelisanan atau praktek vocal berhasil baik dengan dalam menyajikan sebuah lagu atau membaca indah sepenggal karya sastra, ada bebrapa hal yang harus diperhatikan dan dilatih dengan baik, yaitu :
a)                  Mambaca notasi
b)                  Pernafasan dan sikap
c)                  Pemenggalan kalimat atas frase (phrasering)
d)                 Pengucapan.
Keterampilan di atas tidak datang dengan sendirinya tetapi harus disertai dengan latihan yang intensif yang harus dilakukan dengan sabar, tekun, pantang menyerah.

4.3       Narasi pribadi
Kegiatan ini terutama sekali berhubungan dengan pengisahan cerita atau storytelling.dengan kegiatan ini para siswa dituntut banyak membaca cerita serta dapat menceritakannya kembali dengan kata – kata sendiri, dengan gaya bahasa sendiri. Kian banyak cerita yang dibaca oleh para siswa maka kian mentap pulalah pengertian serta pemahaman mereka mengenai bentuk dan isi fiksi. Berdasarkan bentuknya fiksi itu di bagi menjadi lima golongan yaitu :
a)                  Novel (istilah kita roman, dari bahasa Belanda)
b)                  Novelette (istilah kita novel, dari bahasa Belanda novella, dari bahasa perancis nouvele yang berarti hal yang baru).
c)                  Short story (cerita pendek)
d)                 Short short story (dapat kita namakan cerita singkat)
e)                  Vignette (dinamakan begitu karena sangat singkat dan hanya memekan tempat sedikit, vignette (bahasa Prancis)
Berdasarkan isinya maka dapatlah kita membagi fiksi itu atas :
1.      Impresionisme
2.      Romantik
3.      Realisme
4.      Realism sebenarnya
5.      Naturalisme
6.      Ekspresionisme
7.      Simbolisme

4.4       Ekspresi tulis
Kegiatan ini terutama sekali direncanakan untuk memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengekspresikan diri mereka dalam karya tulis.pada tahap pertama, para siswa berlatih mempraktekkan ekpresi kreatif dengan cara menulis kembali cerita – cerita yang telah mereka baca.
Pada tahap kedua, para siswa menulis cerita – cerita dan lakon – lakon asli yang menghubungkan bebrapa aspek sastra dengan pengalaman – pengalaman pribadi atau situasi – situasi kontemporer. Pada tahap ketiga,keterampilan tersebut ditingkatkan serta diperhalus dengan upaya menyuruh serta mendorong para siswa menulis kembali penggalan –penggalan sastra dan merubah aspek – aspek yang ada kaitannya dengan suasana hati, nada, gaya, mode, atau dampak cerita.
Dari uraian tadi dapat kita pahami betapa eratnya hubungan membaca dan menulis. Kian banyak mambaca maka kian banyak pula informasi yang diperoleh,dan banyak pula hal- hal yang dapat kita sampaikan,kita ekspresikan kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tulisan.

4.5              Ekspresi visual
Kegiatan in bermula pada tahap pertama dengan cara menampakan kegiatan – kegiatan yang mamberi kesempatan kapada para siswa untuk menciptakan suatu karya visual,seperti gambar, yang manggambarkan suatu adegan, objek, tokoh, ataupun gagasan yang berasal dari bacaan mereka.
Tahap kedua, para siswa menciptakan gambaran – gambaran visual yang menghubungkan beberapa aspek bacaan mereka dengan pengalaman pribadi. Tahap berikutnya parasa siswa merubah aspek bacaan mereka melalui gambaran – gambaran visual.

4.6              Aneka tujuan
Dengan kegiatan – kegiatan membaca kreatif ini ada beberapa tujuan yang hendak kita capai diantaranya :
Tujuan Tingkat A – C (kelas 1 – 2 SD)
                                i.            Mendramatisasikan tokoh, perasaan, gagasan.
                              ii.            Memberikan interpretasi – interpretasi lisan dan music.
                            iii.            Mengisahkan atau menuturkan cerita berdasarkan tokoh atau tema.
                            iv.            Menulis cerita berdasarkan tokoh atau tema.
                              v.            Menciptakan gambaran visual dari suatu adegan, obyek, tokoh,atau gagasan.

Tujuan Tinggkat D – E (kelas 3 – 4 SD)
                                i.            Mendramatisasikan tema dari karya sastra dalam hubungannya dengan pengalaman pribadi.
                              ii.            Menyajikan interpretasi – interpretasi lisan dan musik.
                            iii.            Menciptakan cerita asli mengenai pengalaman pribadi berdasarkan karya sastra.
                            iv.            Menulis cerita atau lakon yang menghubungkan beberapa aspek sastra dengan pengalaman pribadi.
                              v.            Menciptakan gambaran visual yang menerapkantema tertentu dari karya sastra kepada pengalaman – pengalaman pribadi.

Tujuan Tingkat F – G (kelas 5 – 6 SD)
                                i.            Memenfaatkan drama untuk merubah isi sastra menjadi mode, suasana hati, atau sudut pandang yang berbeda.
                              ii.            Merubah mode, suasana hati, atau sudut pandang melalui interpretasi – interpretasi lisan dan musik.
                            iii.            Menciptakan cerita dengan cara mengubah mode, suasana hati, atau sudut pandang.
                            iv.            Menulis kembali sepenggal karya sastra dengan merubah mode, suasana hati, atau sudut pandang seperkunya.
                              v.            Menciptakan gambaran visual bebrapa aspek sastra yang mengubahnya menjadi mode, suasana hati, atau sudut pandang yang berbeda dari semula.
















DAFTAR PUSTAKA

Tarigan ; Henry Guntur. 1983. Membaca Ekspresif. Bandung : Penerbit Angkasa.