Thursday, June 12, 2014

Makalah Model Pembelajaran Kooperatif

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Adanya kecenderungan sekolah-sekolah membentuk kelas-kelas unggulan atas dasar prestasi akademik dewasa ini patut dikaji ulang. Apakah kecenderungan itu didasari atas pertimbangan yang sejalan dengan tujuan pendidikan kita ataukah karena pertimbangan lain sesuai dengan permintaan pasar yang bersifat sesaat?
Terlepas dari mana yang benar, fenomena yang muncul dalam sistem persekolahan yang ada sekarang ini cenderung memperlakukan siswa secara kurang adil dan kurang humanistis. Siswa pandai diberi label unggul dengan segala fasilitas yang diberikannya, sementara siswa yang di kelas tak unggul memperoleh label kurang dan predikat negatif yang lain. Siswa pada kelompok unggul berkompetisi secara keras dan cenderung individualistik. Sementara siswa di kelas tidak unggul merasa tidak mampu, frustasi dan selanjutnya menerima keadaan itu.
Persoalan lain yang menunjukan aspek kompetitif dan individualistik dalam pendidikan kita adalah model pembelajaran langsung (model pembelajaran konvensional). Pada pembelajaran konvensional, guru menjadi pusat pembelajaran, berperan mentransfer dan meneruskan (transmit) informasi sehingga siswa tidak perlu mengkonstruksi ide-idenya. Tingkat partisipasi siswa sangat terbatas karena arus interaksi didominasi oleh guru. Bentuk penugasan dalam pembelajaran ini bersifat individual. Sebagai konsekuensinya, evaluasi yang diterapkan dikelaspun juga individual.
Dalam hal ini, guru perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimana siswa dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pandangan kontruktivisme yaitu keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa. Keberhasilan dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berkaitan dengan diri siswa, diantaranya adalah kemampuan, minat, motivasi, keaktifan belajar dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar diri siswa, diantaranya adalah model pembelajaran.
Model pembelajaran memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan menangkap pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Wagitan (2006) menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat menjadi salah satu alternatif karena banyak  pendapat yang menyatakan bahwa pembelajaran aktif termasuk kooperatif mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran. Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menggunakan pembelajaran kooperatif dapat mengubah peran guru, dari yang berpusat pada gurunya ke pengelolaan siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia.
Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.

1.2     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1.2.1       Apa pengertian dari pembelajaran kooperatif?
1.2.2       Apa saja unsur-unsur dan karakteristik pembelajaran kooperatif?
1.2.3       Apa saja tipe-tipe dari pembelajaran kooperatif?
1.2.4       Apa kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif?

1.3     Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:
1.3.1      Mengetahui tentang pengertian dari pembelajaran kooperatif.
1.3.2     Mengerti apa saja unsur-unsur dan karakteristik dari pembelajaran kooperatif.
1.3.3     Mengetahui tipe-tipe dari pembelajaran kooperatif.
1.3.4     Mengerti kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran kooperatif.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Slavin (1994) menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran”.
Johnson & Johnson (1987) dalam Isjoni (2009:17) menyatakan bahwa “pengertian model pembelajaran kooperatif yaitu mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut”.
Menurut Rustaman (2003:206) dalam www.muhfida.com (2009) “pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional”.
Lie (2008:12) menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur”.
Isjoni (2009:15) menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan terjemahan dari istilah cooperative learning. Cooperative learningberasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim”.
Hasan (1996) menyimpulkan bahwa kooperatif  mengandung pengertian bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya.
Sugandi (2002:14) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok”.
Menurut Sugiyanto (2008:35) “pembelajaran kooperatif (cooperative learning)adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”.
Malik (2011) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademis untuk sampai kepada pengalaman individual dan kelompok, saling membantu, berdiskusi, ber- argumentasi dan saling mengisi untuk memperoleh pemahaman bersama”.
Menurut Wikipedia (2011) “pembelajaran kooperatif atau cooperative learningmerupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa”.
Dari beberapa definisi diatas dapat diperoleh bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Falsafah yang mendasari pembelajaran cooperative learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

2.2    Unsur-Unsur dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
2.2.1        Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
2.2.1.1  Saling Ketergantungan Positif
Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Tiap siswa tergantung pada anggota lainnya karena tiap siswa mendapat materi yang berbeda atau tugas yang berbeda, oleh karena itu siswa satu dengan lainnya saling membutuhkan karena jika ada siswa yang tidak dapat mengerjakan tugas tersebut maka tugas kelompoknya tidak dapat diselesaikan.
2.2.1.2  Tanggung Jawab Perseorangan
Pembelajaran kooperatif juga ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada kelompok agar semua kelompok dapat mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Karena tiap siswa mendapat tugas yang berbeda secara otomatis siswa tersebut harus mempunyai tanggung jawab untuk mengerjakan tugas tersebut karena tugas setiap anggota kelompok mempunyai tugas yang berbeda sesuai dengan  kemampuannya yang dimiliki setiap individu.
2.2.1.3  Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melalukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam ini memungkinkan siswa dapat sa- ling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi dan ini juga akan lebih memudahkan siswa dalam belajar. Adanya tatap muka, maka siswa yang kurang memiliki kemampuan harus dibantu oleh siswa yang lebih mampu me- ngerjakan tugas individu dalam kelompok tersebut, agar tugas kelompoknya dapat terselesaikan.
2.2.1.4  Komunikasi antar Anggota Kelompok
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi se- ngaja diajarkan dalam pembelajaran kooperatif ini.
Unsur ini juga menghendaki agar para siswa dibekali de- ngan berbagai keterampilan berkomunikasi.Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, guru perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi, karena tidak semua siswa mempuanyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk sa- ling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Adakalanya siswa perlu diberitahu secara jelas mengenai cara menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang lain.
2.2.1.5  Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran cooperative learning.
2.2.2        Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
2.2.2.1  Dalam kelompoknya, siswa haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan”.
2.2.2.2  Siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lainnya dalam kelompok, di samping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
2.2.2.3  Siswa haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
2.2.2.4  Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
2.2.2.5  Siswa akan diberikan evaluasi atau penghargaan yang akan berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
2.2.2.6  Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
2.2.2.7  Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani di dalam kelompoknya.





2.3    Tipe-Tipe dari Pembelajaran Kooperatif
Berikut ini adalah beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif.
2.3.1         Tipe STAD (Student Team Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division(STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut:
2.3.1.1  Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.
2.3.1.2  Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.
2.3.1.3  Tes. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu.
2.3.1.4  Peningkatan skor individu. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok.
2.3.1.5  Penghargaan kolompok. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi, diberikan penghargaan.
2.3.2         Tipe Think-Pair-Share
Think-Pair-Share merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Tahapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share adalah sebagai berikut.
2.3.2.1  Berpikir (Think): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri.
2.3.2.2  Berpasangan (Pair): Guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
2.3.2.3  Berbagi (Share): Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau setengah dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.
2.3.3         Tipe Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins. Arends (1997) dalam bukunya menyimpulkan dengan kutipan sebagai berikut.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. ...Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok.



2.3.4         Tipe NHT (Numbered Heads Together)
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together (Kepala bernomor) dikembangkan Spencer Kagan. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang paling tepat. Selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Maksud dari kepala bernomor yaitu setiap anak mendapatkan nomor tertentu, dan setiap nomor mendapatkaan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menguasai materi.
Dengan menggunakan model ini, siswa tidak hanya sekedar paham konsep yang diberikan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan teman-temannya, belajar mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat teman, rasa kepedulian pada teman satu kelompok agar dapat menguasai konsep tersebut, siswa dapat saling berbagi ilmu dan informasi, suasana kelas yang rileks dan menyenangkan serta tidak terdapatnya siswa yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran karena semua siswa memiliki peluang yang sama untuk tampil menjawab pertanyaan. Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together antara lain:
2.3.4.1  Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.3.4.2  Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok me-ngerjakannya.
2.3.4.3  Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/menge-tahui jawabannya.
2.3.4.4  Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
2.3.4.5  Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
2.3.5         Tipe GI (Group Investigation)
Pembelajaran kooperatif tipe GI didasari oleh gagasan John Dewey tentang pendidikan yang menyimpulkan bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai hal mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan mengujihipotesis. Tahapan-tahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut:
2.3.5.1  Tahap Pengelompokan (Grouping)
Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta mebentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini, yang pertama siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategori-kategori topik permasalahan kemudian siswa bergabung pada kelompok-kelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, lalu guru membatasi jumlah anggota masing-masing kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.
2.3.5.2  Tahap Perencanaan (Planning)
Tahap Planning atau tahap perencanaan tugas-tugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang: Apa yang mereka pelajari? Bagaimana mereka belajar? Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut? 
2.3.5.3  Tahap Penyelidikan (Investigation)
Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut:pertama siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki, kemudian masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, lalu siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat.  
2.3.5.4  Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: pertama anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proteknya masing-masing, kemudian anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, lalu wakil dari masing-masing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi.
2.3.5.5  Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut:pertama, penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian,  kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar, kemudian pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan. 
2.3.5.6  Tahap Evaluasi (Evaluating)
Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: pertama siswa menggabungkan masukan-masukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalaman-pengalaman efektifnya, kemudianguru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.
2.3.6         Tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition)
Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagian-bagian yang penting.
Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dalam kelompok ini tidak dibedakan jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, siswa juga dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya. Model pembelajaran ini, dibagi menjadi beberapa fase:
2.3.6.1  Fase Orientasi
Pada fase ini, guru memberikan pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan diberikan. Selain itu guru juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada siswa.
2.3.6.2  Fase Organisasi
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada siswa. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung.
2.3.6.3  Fase Pengenalan Konsep
Dengan cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, film, kli- ping, poster atau media lainnya.
2.3.6.4  Fase Publikasi
Siswa mengkomunikasikan hasil temuan-temuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas.
2.3.6.5  Fase Penguatan dan Refleksi
Pada fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasan-penjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya siswa pun diberi kesempatan untuk mere- fleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.
2.3.7         Tipe Make A Match (Membuat Pasangan)
Metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:
2.3.7.1    Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi pemilihan, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2.3.7.2    Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
2.3.7.3    Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
2.3.7.4    Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.
2.3.7.5    Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
2.3.7.6    Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
2.3.7.7    Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
2.3.7.8    Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.
2.3.7.9  Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.


2.3.8         Tipe Two Stay Two Stray  (TS-TS)
Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray  (TS-TS) dikembangkan oleh Spencer Kagan. Metode ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia. Metode pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Metode ini juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik. Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray seperti yang diungkapkan, antara lain:
2.3.8.1  Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari empat siswa. Kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok heterogen seperti pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membelajarkan dan saling mendukung.
2.3.8.2  Guru memberikan subpokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-masing.
2.3.8.3  Siswa bekerjasama dalam kelompok beranggotakan empat orang.Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir.
2.3.8.4  Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. 
2.3.8.5  Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
2.3.8.6  Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
2.3.8.7  Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
2.3.8.8  Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.

2.4    Kelebihan dan Kekurangan dari Pembelajaran Kooperatif
2.4.1   Keunggulan Pembelajaran Kooperatif.
2.4.1.1    Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2.4.1.2    Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
2.4.1.3    Model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa untukmenhargai orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
2.4.1.4    Model pembelajaran kooperatif dapat memberdayakan setiap siswauntuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
2.4.1.5    Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain, mengembangkan keterampilan, dan sikap positif terhadap sekolah.
2.4.1.6    Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
2.4.1.7    Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuansiswa mengelola informasi dan kemampuan belajar abs- trak menjadi nyata.
2.4.1.8    Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.
2.4.2   Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif.
2.4.2.1    Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, di- samping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
2.4.2.2    Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
2.4.2.3    Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
2.4.2.4    Saat diskusi terkadang didominasi seseorang, hal ini meng-akibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
2.4.2.5    Bisa menjadi tempat mengobrol atau gosip. Hal ini terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar, seperti datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.




BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
3.1.1      Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
3.1.2      Unsur-unsur pembelajaran kooperatif yaitu saling ketergantungan positif,interaksi tatap muka, tanggung jawab perseorangan, komunikasi antar anggota kelompok, evaluasi proses kelompok. Karakteristik pembelajaran kooperatifyaitu siswa harus memiliki tujuan yang sama, rasa saling menolong, saling bertukar pikiran, saling menghargai, saling membagi tugas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara kolompok.
3.1.3      Tipe-tipe pembelajaran kooperatif yaitu tipe STAD (Student Team Achievement Division) yang dikembangkan oleh Slavin tahun 1978, tipeJigsaw yang dikembangkan oleh Elliot Arronson dan temannya tahun 1978,tipe GI (Group Investigation) oleh Sholomo Sharan dan temannya tahun1984, tipe TSP (Think Pair Share), tipe NHT (Numbered Heads Together), tipe Two Stay Two Stray  (TS-TS) yang dikembangkan oleh Spencer Kagan, tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) yang dikembangkan oleh Slavin, Stevans, Madden, dan Farnish, tipe Make A Match (Membuat Pasangan) dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. 
3.1.4      Keunggulan model pembelajaran kooperatif yaitu: siswa tidak ber- gantung kepada guru, mampu mengekplorasikan ide dan gagasannya, saling menerima perbedaan, saling bertukar pendapat, meningkatkan semangat belajar, siswa menjadi aktif. Kelemahan model pembela- jaran kooperatif yaitu: dibutuhkan tenaga yang lebih dari guru untuk mengatur siswadan menyiapkan materi, dapat terjadi perdebatan kecil, siswa lebih cenderung bergurau dengan temannya, membutuhkan fasili- tas yang memadai, terjadi perluasan masalah sehingga waktu terbuang sia-sia, terkadang diskusi didominasi seseorang saja sehingga siswa lain menjadi pasif.

3.2  Saran
3.2.1      Untuk para pengajar dalam proses pembelajaran lebih baik meng- gunakan strategi kooperatif dengan berbagai tipe seperti penjelasan di atas karena dapat membuat siswa lebih cepat menerima daripada meng- gunakan strategi yang konvensional.
3.2.2      Apabila menggunakan pembelajaran kooperatif guru harus selalu mem- bimbing siswa dalam berdiskusi agar tujuan pembelajaran dapat ter- capai.
3.2.3      Untuk mendapatkan hasil yang optimal setiap siswa harus aktif dalam berdiskusi dan harus saling menghargai setiap pendapat, ide, atau ga- gasan dari anggota yang lain.

DAFTAR RUJUKAN

Aprilio, M, F. Tanpa tahun. Pembelajaran Kooperatif, (Online), (www.muhfida.com/pembelajaran-cooperative-learning.html), diakses 2 November 2011.

Dzaki, M, F. 2009. Pembelajaran Kooperatif, (Online), (www.penelitian tindakankelas.blogspot.com/2009/03/pembelajaran-kooperatif-cooperative. html), diakses 2 November 2011.

Herdian. 2009. Model Pembelajaran NHT, (Online), (www.herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-nht-numbered-head-together.html), diakses 2 November 2011.

Ibrahim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Surabaya University Press.

Isjoni. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.

Lie, Anita. 2002. Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.
.
Malik, H. 2011. Cooperative Learning, (Online), (www.edukasi.kompasiana.com/2011/11/01/%E2%80%9Ccooperative-learning%E2%80%9D.html), diak- ses 2 November 2011.

Pandoyo. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Semarang: IKIP Semarang Press.

Rudi. 2011. Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS, (Online), (www.rudyunesa.blog-spot.com/2011/07/pembelajaran-kooperatif-tipe-think-pair-share.html), di- akses 2 November 2011.

Slavin, R, E. 2008. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media

Sofa. 2011.  Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC, (Online), (www.massofa.word-press.com/2011/07/24/menerapkan-pembelajaran-kooperatif-tipe-circ. html), diakses 2 November 2011.

Tarmizi. 2008. Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match, (Online), (www. tarmizi.wordpress.com/2008/12/03/pembelajaran-kooperatif-tipe-make-a-match.html), diakses 2 November 2011.

Tanpa nama. 2011. Pembelajaran Kooperatif Tipe TS-TS, (Online), (www.furaha- sekai.wordpress.com/2011/09/07/pembelajaran-kooperatif-tipe-two-stay-two-stray.html), diakses 2 November 2011.

Wikipedia. 2011. Pembelajaran Kooperatif, (Online), (www.id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_kooperatif.html), diakses 2 November 2011.

Yasa, D. 2008.  Pembelajaran Kooperatif Tipe GI, (Online), (www.ipotes.word-press.com/2008/04/28/pembelajaran-kooperatif-tipe-group-investigation-gi.html), diakses 2 November 2011.

Yuliatmoko. 2011. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, (Online), (www. yuliatmoko.blogspot.com/2011/10/pembelajaran-kooperatif-tipe-stad.html), diakses 2 November 2011.

Definisi Kognitif, Afektif, dan Psikomotor

DEFINISI KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK
1.      Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Ranah kognitif  memiliki enam jenjang atau aspek, yaitu:
1. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
2. Pemahaman (comprehension)
3. Penerapan (application)
4. Analisis (analysis)
5. Sintesis (syntesis)
6. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
2.      Afektif
     Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku.
Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
1. Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan)
2. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”
3. Valuing (menilai atau menghargai)
4. Organization (mengatur atau mengorganisasikan)
5. Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan  suatu nilai atau
komplek nilai)
3.      Psikomotorik
     Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Ranah psikomotor adalah berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui: (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.

Wednesday, June 11, 2014

BERBAGI TUGAS BERSAMA SETELAH MENIKAH

Memiliki rumah sendiri pastinya menjadi impian banyak pasangan yang telah melangsungkan pernikahan. Setelah rumah pribadi telah dimiliki, sanggupkah Anda menjadikan rumah impian tersebut terjaga kebersihannya. Banyak pasangan muda yang belum berniat memakai jasa asisten rumah tangga sebelum mereka mendapatkan anak. Jika dulu Anda dan pasangan terbiasa tinggal di rumah orang tua yang memiliki segala fasilitas berikut asisten rumah tangga, kini Anda dan pasangan harus melakukan semuanya berdua.
Salah satu hal yang sebaiknya kurang tepat dilakukan ialah memintanya untuk membantu membersihkan rumah yang Anda tinggali bersama. Permasalahnya bukan siapa meminta bantuan siapa. Tapi lebih kepada siapa dapat mnegerjakan apa. Selain itu, dengan cara meminta maka pasangan akan berpikir kalau  tugas membereskan rumah sebenarnya adalah kewajiban Anda untuk menyelesaikannya, dan ia akan beranggapan bahwa tugasnya hanya membantu Anda saja saat dibutuhkan. Padahal, berbagai tugas rumah, seperti mengepel, menyapu, merapikan halaman, membersihkan kamar mandi, mencuci pakaian, membetulkan lampu & AC, mengelap perabotan rumah, membereskan halaman, yang intinya membuat keadaan rumah menjadi bersih kini bukan lagi menjadi urusan wanita saja. Para wanita kini bukan lagi diam dan menetap di rumah, tapi kini sudah berkembang menjadi penopang kehidupan, baik itu kehidupannya sendiri maupun kehidupan mereka berdua sebagai keluarga. Kini menjadi seorang working women adalah pilihan para wanita di masa seperti ini. Meskipun istri juga memiliki karir di luar rumah, namun Anda memang tidak ingin menjadikan orang yang paling Anda sayangi itu hanya sebagai tukang bersih-bersih rumah kan?
Sebelum rumah impian dihadirkan, bagaimana jika Anda dan pasangan mulai membenahi hal-hal kecil dengan cara berdiskusi untuk menghindari konflik yang mungkin saja bisa berkepanjangan. Berikut beberapa tips yang dapat membantu Anda sebelum pekerjaan kantor dan tugas di rumah memenuhi pikiran Anda.

Tanggung Jawab

Membagi chores atau tugas rumah tangga bisa menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Seorang teman, yang baru saja memiliki rumah sempat bercerita bahwa ia tidak suka melakukan berbagai pekerjaan rumah, dengan berbagai alasan kerap ia menjauhi tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya. Sebaliknya sang suami justru senang sekali berbenah.
Sekarang Anda telah tinggal di bawah satu atap, janji sehidup semati baik susah maupun senang hendaknya dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Bukan terbatas pada hal besar saja, mulailah dari hal kecil seperti membagi tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas rumah.

Buat Daftar Tugas

Utarakan keinginan akan tugas apa yang ingin Anda kerjakan dan yang tidak. Buatlah tabel atau daftar pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum Anda berdua pergi bekerja. Jangan mengosongkan daftar yang belum terisi, putuskan dengan segera tugas apa yang menjadi prioritas, tanggung jawab Anda dan lakukan dengan sepenuh hati. Pasangan Anda tidak menuntut kesempurnaan kok, yang ia butuhkan hanya teman yang dapat kompak membantunya menyelesaikan semua tugas di rumah.
paket pernikahan di jakarta

Jam Biologis

Setiap manusia pastinya memiliki kebiasaan dalam keseharian. Misalnya saja waktu tidur dan bangun tidur. Walau telah mengikat janji bersama, perbedaan jam biologis antara Anda dan pasangan adalah berbeda. Mungkin saja, Anda terbiasa bangun pagi dan pasangan bangun sedikit lebih siang atau sebaliknya. Kompromi sangat penting dalam hal ini, gunakan waktu tersebut untuk mulai merapikan rumah. Pelajari waktu terbaik untuk Anda menyelesaikan berbagai tugas rumah dan tugas kantor di pagi hari merupakan hal yang sangat baik. Waktu yang tersedia pun dapat dipakai semaksimal mungkin.

Review

Melihat lagi ke belakang untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik di masa mendatang merupakan salah satu cara dalam membina hubungan yang baik. Setelah seminggu beraktifitas ada baiknya Anda dan pasangan mulai meninjau ulang segala hal yang telah terjadi. Dan mulailah mengatur ulang akan apa yang akan terjadi di minggu berikutnya, misalnya saja pasangan diharuskan meeting pada hari senin dan jumat yang mengharuskannya pulang lebih lambat dari seharusnya. Maka daftar yang telah dibuat dapat dirubah sesuai dengan jadwal yang telah Anda dan pasangan tentukan. Be flexible.

Hargai & Hindari

Jika hal di atas masih belum dilaksanakan oleh pasangan, jangan pernah membentaknya. Karena ada beberapa pekerjaan yang terkadang tidak “manly”, Anda tetap harus menghargainya, ini merupakan hal lain yang mesti diantisipasi, walau begitu tetap mencoba untuk mendiskusikannya, agar dapat secara bersama menyelesaikan tugas di rumah. Jangan juga mencoba untuk menyalahkannya hanya karena ia malas membersihkan garasi, misalnya. Diskusikan secara perlahan, apa yang menjadi tanggung jawab selama Anda tinggal berumah tangga.
Kini Anda dan pasangan berada dalam satu atap rumah tangga. Membiasakan suatu hal yang tidak pernah dilakukan mungkin saja terasa berat. Namun, jika Anda mengerjakannya secara bersama dengan rasa saling menghargai, niscaya pekerjaan berat terasa lebih ringan dan cepat terselesaikan. Hal ini juga berlaku jika Anda tinggal di rumah mertua, mengerjakan tugas rumah bukan dilakukan atas dasar ketidakenakan, dalam arti, karena tinggal di rumah mertua maka Anda “setidaknya” berbenah. Secara tidak langsung ini juga melatih Anda sesaat sebelum memiliki rumah baru hanya bersama dengan pasangan.
(sumber:weddingku)

Pra Nikah: 9 Tips Dalam Mengatur Persiapan Pernikahan


Pernikahan merupakan suatu momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang selian itu juga pernikahan adalah acara sakral atau suci sehingga untuk pelaksanaanya kita semua ingin tampil sempurna, untuk menciptakan kesempurnaan pernikahan tersebut kita sering dipusingkan oleh berbagai hal megenai persiapan pernikahan sehingga menimbulkan kekhawatiran seperti rasa takut, stres, dan mendadak ragu kerap yang  dialami calon pengantin menjelang pernikahan/perkawinannya. Untuk itu ada baiknya kita mencoba mengatur diri kita dengan baik dan tetap tenang agar persiapan pernikahan berjalan sesuai rencana, berikut 9 tips dalam mengatur persiapan pernikahan :
  1. Buat daftar
    Tuliskan semua tekanan yang mengimpit dan ketakutan-ketakutan yang Anda hadapi dalam persiapan pernikahan dan menjelang wedding day. Di samping daftar itu, tuliskan alasan dari ketakutan Anda. Jika Anda merasa tidak bisa mengatasinya sendiri, mintalah saran dari keluarga atau teman dekat. Atau diskusikan ketakutan dan kehawatiran Anda kepada pasangan sehingga Anda tidak merasa sendirian dan selalu ada yang siap membantu Anda.
  2. Rileks
    Ketegangan Anda dalam persiapan pernikahan sudah cukup tinggi. Emosi mulai tak terkendali. Anda jadi mudah tersinggung. Kesalahan kecil bisa memicu kemarahan. Cobalah rileks misalnya melakukan meditasi sambil mendengarkan musik bernuansa alam, seperti kicauan burung dan desiran ombak. Bayangkan Anda berada di suatu tempat yang pernah Anda kunjungi dan bangkitkan rasa senang Anda pada tempat itu.
  3. Siapkan mental
    Dalam persiapan pernikahan  kita perlu membangun keberanian yang cukup besar untuk memulai kehidupan bersama dengan orang lain. Maka itu, persiapan mental perlu dilakukan Anda berdua. Caranya, dengan bersikap jujur dan terbuka. Ungkapkan kelemahan dan kelebihan masing-masing. Jika ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hibungan Anda dan si dia, segera selesaikan. Belajarlah untuk menghargai kebersamaan dan “keberduaan”. Percayalah, semakin mengenal pasangan, Anda akan makin yakin menjalani hidup baru bersamanya.
  4. Saling menghargai
    Tingkatkan toleransi dan tekanlah ego Anda. Jangan membesar-besarkan masalah. Hargai pendapat orang lain (termasuk pendapat keluarga masing-masing). Banyak pasangan yang menjelang nikah berselisih paham, hanya karena perbedaan pendapat tentang persiapan pernikahan yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Ingat, bukan penyelenggaraan pernikahan yang penting, melainkan pernikahan itu sendiri.
  5. Komunikasi tanpa putus
    Anda dan dia sebaiknya menjadi tim yang kompak di depan keluarga Anda berdua. Kadang yang bikin perempuan stres adalah sikap pasangan yang seakan tidak peduli. Makanya, ajak pasangan terlibat dalam persiapan pernikahan (wedding planner/organizer). Sering-seringlah berdiskusi soal persiapan pernikahan. Beri dia tanggung jawab sehingga dia merasa dibutuhkan.
  6. Agenda harian
    Tuliskan di agenda Anda apa saja yang telah dikerjakan pada hari itu pada saat menjelang tidur. Buatlah rencana apa yang akan dikerjakan keesokan harinya. Dengan menulis seperti ini, Anda dapat mengevaluasi kegiatan Anda. Hal ini membuat Anda lebih tenang karena telah melakukan banyak hal dalam management persiapan pernikahan.
  7. Libatkan keluarga
    Agar Anda tidak stres sendiri, mintalah bantuan keluarga. Bentuklah kepanitiaan. Berikan tanggung jawab cukup besar pada orang kepercayaan Anda untuk mengurus persiapan pernikahan. Atau, kalau tidak mau repot, manfaatkan saja jasa wedding organizer, wedding planner, wedding service, penyelenggara paket pernikahan dan sebagainya.
  8. Manjakan diri
    Persiapkan tubuh Anda untuk memasuki dunia pernikahan. Istirahat yang cukup dan konsumsi makanan yang sehat agar tubuh Anda fit di hari-H. Manjakan diri Anda. Biasanya, stres langsung hilang begitu Anda mendapat partner yang tepat untuk bergembira.
  9. Enjoy saja
    Jadikan pengalaman menjadi pengantin yang sekali seumur hidup itu seperti menghadapi kejutan bahagia yang tak terduga. Jangan menjadikan hari pernikahan seperti menghadapi ujian atau pun saat-saat yang terasa mengerikan hanya karena cemas akan prosesi acara pernikahan akan berjalan lancar atau tidak, serta kehidupan setelah pernikahan. Nikmati saja setiap moment penting yang terjadi dalam hidup Anda. Dan pada hari-H, tersenyumlah dan jangan memikirkan kekurangan yang Anda lihat. Bergembiralah karena hari itu adalah hari terpenting dalam hidup Anda.
(berbagai sumber)
Bersama paketpernikahanjakarta.com kita siap membantu dan mendiskusikan bagaimana solusi dalam mengatur persiapan pernikahan, teknis acara, paket pernikahan anda, hubungi kami DISINI

Tuesday, June 10, 2014

TIPS MEMILIH WAKTU HUBUNGAN INTIM AGAR CEPAT HAMIL

Tips Memilih Waktu Hubungan Intim Agar Cepat Hamil - Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan membagikan informasi penting mengenai tips memilih waktu hubungan intim agar cepat hamil, sebagai lanjutan dari postingan sebelum ini, yaitu mengenai Tips Hubungan intim Suami Istri Agar Cepat Hamil
Sebuah penelitian menunjukkan, sekitar hari ke-14 setelah siklus menstruasi merupakan waktu paling tepat untuk melakukan hubungan badan. Jika Anda berhubungan badan pada waktu yang tepat, kemungkinan untuk orgasme lebih besar.

Ini bukan sekedar isapan jempol atau berita tanpa data. Jadi, ternyata ada alasannya mengapa waktu tersebut dianggap paling tepat. Menurut penelitian, pada hari ke-14 setelah menstruasi, kondisi organ clit mengalami perubahn menjadi lebih besar 20 persen dibanding hari lainnya. Tak heran jika setiap rangsangan akan memberikan sensasi lebih maksimal.


Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari negara Italia terhadap 24 wanita yang berumur antara 18-35 tahun. Pemeriksaan dilakukan melalui alat canggih USG untuk mengukur pembuluh darah ke bagian clit.

Penting : Hari ke-14 juga merupakan masa terjadinya ovulasi atau kita kenal dengan masa subur sehingga masuk akal jika tubuh memberikan respons demikian untuk meningkatkan peluang kehamilan.

Para responden yang sudah menikah juga mengakui, hampir selalu berhubungan intim ketika sedang mengalami masa subur.

Menurut Cesare Battaglia, PhD, salah satu peneliti, peningkatan kadar estradiol atau estrogen alami pada masa subur mungkin menjadi penyebab perubahan pada clit tersebut.

Meskipun demikian, Anda tidak perlu menjelaskan hal ini kepada suami, yang perlu Anda lakukan hanya segera jadwalkan untuk melakukan hubungan badan pada hari ke-14 dari siklus yang Anda alami.

Ok, sekian dulu informasi dari saya, semoga bermanfaat. Baca juga Panduan Cara Cepat Hamil.

Oh ya, untuk melengkapi bacaan Anda dirumah, maka saya sarankan untuk keluar modal sedikit saja, ingat sedikit saja. Hanya dengan membeli buku kehamilan ini. In shaa Allah membawa manfaat dan kebahagiaan bagi Anda yang ingin segera memiliki momongan / dikaruniai seorang anak. aamiin

TIPS MENJAGA KESEHATAN JANIN

Tips Menjaga Kesehatan Janin perhatian utama yang harus selalu dipantau perkembangannya apalagi jika Anda merupakan pasangan baru yang sedang mendambakan momongan, pasti sangat disesalkan jika terjadi hal yang tidak kita inginkan (yang ingin segera punya momongan, baca artikel ini). Karena tanpa kita sadari, ternyata terdapat banyak racun di lingkungan sekitar yang cenderung berpengaruh terhadap kesehatan kandungan serta janin dalam kandungan.

Lantas bagaimana cara kita menyikapinya? apa tindakan preventif yang harus dilakukan?
Jawabannya adalah dengan mencegah racun yang tersebar di lingkungan dengan mengurangi paparan racun-racun tersebut terhadap janin.

Berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa Anda perhatikan.

Cara terbaik untuk mengurangi paparan terhadap racun dalam lingkungan adalah dengan memahami bahwa racun tersebut dapat mempengaruhi kesehatan janin. Yang perlu dipahami adalah, kita tidak mungkin bisa menghindari semua racun yang tersebar di lingkungan. 

Anda perlu mempelajari dan tahu persis bahan kimia dan toksin/racun dari lingkungan seperti apa yang harus di hindari. 

menjaga kesehatan janin dari racun


Berikut ini beberapa contoh racun yang bisa membahayakan kandungan serta janin.
  • Pestisida merupakan racun yang dirancang untuk membunuh serangga dan hewan pengerat. 
  • Asap cat, thinner dan pernis kayu mengandung gas yang dapat berbahaya, menyebabkan kerusakan dini pada otak janin. 
  • Produk aerosol dapat melepaskan bahan kimia ke udara yang dapat menyebabkan mual, detak jantung cepat, atau kerusakan otak pada janin.

Lakukan Inventarisasi Bahan2 Kimia di Rumah anda.

Banyak ibu-ibu yang terkejut mengetahui bahwa sebagian besar paparan mereka terhadap racun ternyata berasal dari dalam rumah Anda sendiri. 

Perhatikan gas berbahaya, bau kuat dan bahan berbahaya dalam produk seperti deterjen, pelembut kain, dan melukis. kesehatan janin dan juga ibunya.

Hindari kontak dengan pestisida kimia. 


Gunakan Produk pembersih alami 
Pembersih rumah tangga sering mengandung toksin kuat dan zat kimia berbahaya yang dapat memiliki efek negatif pada kesehatan janin. Hindari menggunakan bahan pembersih yang kuat seperti pemutih maupun amonia selama kehamilan, serta jauh jauh dari pembersih abrasif yang memancarkan bau yang kuat, seperti pembersih toilet.Ganti produk pembersih beracun dengan versi alami. Dengan mengganti pembersih bahan kimia pembersih produk yang menggunakan ekstrak tanaman organik dan alami dapat mengurangi sifat berbahaya dari pembersih produk untuk rumah tersebut. Mengganti produk pembersih beracun dengan pembersih alami merupakan kebiasaan yang baik untuk mempersiapkan dan untuk membesarkan anak-anak anda nantinya dalam rumah.
 
Hindari Paparan Racun Timbal
Timbal adalah salah satu bahan yang paling beracun di lingkungan. Ada banyak cara berbeda di mana wanita hamil mungkin terkena racun timbal.Periksa kadar timbal yang berbahaya dalam air pam anda apalagi kalau digunakan untuk minum.Beberapa air pam memiliki kadar timbal yang cukup memiliki efek negatif pada janin manusiaBanyak wanita hamil untuk menghindari memilih sama sekali tidak minum dari air pam, mereka lebih memilih minum dari air kemasan. 


Hindari Asap Rokok

Banyak riset menyatakan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi wanita hamil. Namun, banyak wanita hamil yang tidak merokok tapi terkena dampak dari rokok tersebut, atau biasa disebut sebagai perokok pasif. Padahal, bahaya asap rokok bagi kehamilan sama halnya pada wanita hamil yang merokok.

Wanita hamil yang mengisap asap rokok, tentu akan berdampak buruk pada janinnya. Karena senyawa kimia yang terkandung pada rokok, dapat meracuni janin di dalam rahim. Berikut bahaya asap rokok bagi kehamilan yang membahayakan janin Anda :
  • Dapat menyebabkan kematian dini, karena bayi lahir prematur. Bayi yang sedang dikandung juga akan memiliki penyakit saat lahir dan daya tahan tubuh lemah.
  • Meningkatkan resiko bayi dilahirkan prematur, karena pertumbuhan bayi lambat serta perkembangan organ belum sempurna.
  • Meningkatkan resiko bayi lahir cacat, seperti bibir sumbing. Hal ini juga dikarenakan adanya kelainan pada sperma sang ayah yang perokok.
  • Bahaya asap rokok bagi kehamilan dapat mengakibatkan bayi memiliki asma, bronkitis, infeksi telinga dan pertumbuhan paru-paru yang lambat.
  • Mengganggu pertumbuhan otak janin, sehingga dapat terlahir dengan keterbelakangan mental atau down syndrome.
  • Bahaya asap rokok bagi kehamilan juga dapat mengakibatkan wanita hamil keguguran atau janin meninggal dalam kandungan, karena mengisap racun dari asap rokok.
Hindari bahaya asap rokok bagi kehamilan serta resiko yang bisa ditimbulkannya. Bagi pasangan yang merokok, ada baiknya untuk tidak merokok ketika berdekatan dengan ibu hamil.

Demikianlah ulasan singkat dari saya.
Semoga bermanfaat.

Bagi Anda yang sedang mendambakan hadirnya momongan atau tengah mengalami kesulitan untuk bisa hamil. Saya ada solusi jitunya, di buku best seller panduan cara cepat hamil ini Anda bisa mendapatkan apa yang menjadi dambaan keluarga selama ini, in shaa Allah berhasil dan saya mendo'akan semoga buku inilah solusi atau petunjuk yang pas, karena memang sudah banyak pasangan yang puas dengan hanya membaca dan mengikuti saran dari dr. Ros (pakar kehamilan).

Monday, June 9, 2014

TIPS BERCINTA DI MALAM PERTAMA


Setelah menggelar pesta pernikahan yang menguras banyak tenaga, para pengantin baru mungkin merasa sangat lelah dan ingin segera tidur pada malam harinya. Tapi, malam pertama merupakan suatu yang sangat dinantikan bagi pasangan baru.
Lalu seperti apakah yang diinginkan oleh seorang wanita pada malam pertama mereka? Sejumlahjurus dan tips pernah dimuat Solopos.com, namun Idiva, Rabu (8/1/2014), memaparkam gamblang situasi yang diinginkan wanita saat kali pertama mereka melakukan sesi bercinta dengan pasangan.
Mau tahu? Inilah idaman wanita di malam pertama:
Ingin Lebih RomantisSetelah disibukkan dengan acara pernikahan, kebanyakan wanita cenderung merasa lelah dan mungkin hanya ingin tidur bersama pasangannya. Oleh karena itulah wanita ingin diperlakukan secara istimewa oleh pasangan. Bersikap romantis adalah suatu yang sangat diinginkan wanita dari pasangannya.
Tak Ingin Terburu-buruMalam pengantin merupakan waktu di mana Anda bebas melakukan hubungan seksual tanpa perlu memikirkan masalah lainnya. Hampir semua pihak maklum bahwa sang pengantin sedang pesta belah durian.
Itu juga berarti, wanita akan menganggap ia telah menikah, itu artinya ia tak ingin terburu-buru melakukannya. Mereka akan merasa malam pertama akan terasa istimewa jika hal itu dilakukan secara santai.
Ingin DimanjakanSetelah berjam-jam menghabiskan waktu dengan tamu yang hadir dalam resepsi pernikahan, wanita ingin sedikit dimanjakan oleh orang baru dalam hidupnya. Sebuah pijatan kecil yang sederhana mampu membuat keajaiban kecil di malam pertama pernikahan.
Ciuman SempurnaCiuman dapat mengungkapkan banyak hal yang ada di kepala. Oleh karena itu ciuman harus dilakukan secara sempurna. Wanita ingin dicium dengan cara yang paling spontan. Kecerobohan dalam berciuman dapat merusak malam pertama.
ForeplayMalam pertama bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa. Jadi wanita tak menginginkan dengan cara itu. Wanita tentu ingin mengawali aktivitas seksual dengan foreplayyang memadai.
Ia biasanya cenderung bingung akan melakukan apa. Jadi, sebelum melakukan sesi bercinta, wanita ingin mendapatkan foreplay dari untuk membangkitkan gairahnya.
OrgasmeBagi wanita, malam pertama terasa kurang lengkap jika belum merasakan orgasme. Wanita biasanya memakan waktu yang lama untuk mencapai klimaks. Wanita ingin agar pasangannya membantu mendapatkan kepuasannya pada malam pertama pernikahan mereka.

DONWLOAD RPP, SILABUS KURIKULUM 2013 UNTUK SMK KOMPLIT

Contoh RPP Bahasa Indonesia dengan format doc
Dapat di download pada link di bawah ini :
Pelajaran 1 download di sini
Pelajaran 2 download di sini
Pelajaran 3 download di sini
Pelajaran 4 download di sini
Pelajaran 5 download di sini
Pelajaran 6 download di sini

Contoh RPP Matematika  dengan format doc
Dapat di download pada link di bawah ini :
Bab 1  Eksponen dan Logaritma_Hilya   download di sini
Bab 2 Persamaan dan Pertidaksamaan linear-Suci   download di sini
Bab 3 Sistem Persamaan dan pertidaksamaan-Silvana   download di sini
Bab 4 Matriks-Endah   download di sini
Bab 5 Relasi dan Fungsi-Arie   download di sini
Bab 6 Barisan dan Deret-Afifa   download di sini
Bab 7 Persamaan Kuadrat dan Fungsi Kuadrat-Agus   download di sini
Bab 8 Trigonometri-Edi   download di sini
Bab 9 Geometri-Imam   download di sini
Bab 10 Limit Fungsi-Edi   download di sini                
Bab 11 Statistika-Afifa   download di sini
Bab 12 Peluang-Imam   download di sini

Contoh RPP Sejarah Indonesia  dengan format doc
Dapat di download pada link di bawah ini :
RPP Akulturasi Hindu Budha Pertm 21   download di sini
RPP Akulturasi Hindu Budha   download  di sini
RPP Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-   download di sini
RPP Jaringan Nusantara melalui Perdagangan  download di sini
RPP kajian kehidupan masyarakat di kerajaan kediri&   download di sini
RPP Kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Majapahit, Kerajaan Buleleng, Kerajaan Warmadewa di Bali  download di sini
RPP TUGAS INDIVIDU+NURDIN   download di sini
RPP TUGAS SMK (B1 KELOMPOK+REVISI-1)  download di sini
RPP TUGAS SMK (B1 KELOMPOK+REVISI-FINAL)  download di sini
RPP TUGAS SMK (B1 KELOMPOK+SIAP)  download di sini               
RPP TUGAS SMK + INDIVIDU+NURDIN   download di sini
 Semoga bermanfaat.....

INFO JAWA BARAT

Jawa Barat (JABAR) merupakan sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bandung. Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. 

Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebondan Kabupaten Kuningan dituturkan bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara dituturkan Bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah JABODETABEK (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa.

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat adalah sebanyak 43.053.732 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 28.282.915 jiwa (65,69 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 14.770.817 jiwa (34,31 persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 0,41 persen di Kota Banjar hingga yang tertinggi sebesar 11,08 persen di Kabupaten Bogor.