Wednesday, November 23, 2016

PERBEDAAN FONEM DAN ALOFON

FON 
Fon adalah bunyi bahasa yang terdiri atas bunyi vokal dan bunyi konsonan. Simbol atau lambang bunyi bahasa adalah huruf. Dalam Bahasa Indonesia terdapat 26 huruf dimulai dengan huruf a s.d. huruf z. Fon dapat dikatakan pula bunyi bahasa (bahasa Inggris: speech sound) atau fon adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap. Dalam fonologi, bunyi bahasa diamati sebagai fonem.
Fon merupakan satuan bahasa yang bersifat konkret. Fon itu dapat didengar dan dapat diucapkan. Karena itu, di samping fon, digunakan juga istilah bunyi. Kata kain dalam bahasa Indonesia misalnya, merupakan kata yang mengandung empat fon, yakni (k), (a), (i), dan (n), jika fon-fon itu diidentifikasi secara analitis.
Perlu diperhatikan bahwa fon berbeda dengan huruf. Fon adalah bunyi, sedangkan huruf adalah symbol grafis bunyi. Jumlah fon dan jumlah huruf tidak selalu paralel. Kata senyampang dalam bahasa Indonesia mengandung tujuh fon, yakni (s), ( ), (n), (a), (m), (p), dan (n). Akan tetapi, kata tersebut bahwa fon tidak identik dengan bunyi. Memang ada kata yang jumlah fonnya sama dengan huruf yang terdapat pada kata itu, seperti yang tampak pada kata itu. Akan tetapi, secara prinsip fon adalah maujud yang berbeda dengan huruf.
2.      FONEM
Fonem merupakan satuan bahasa terkecil yang bersifat abstrak dan mampu menunjukkan kontras makna atau abstraksi dari satu atau sejumlah fon, entah vokal maupun konsonan. Karena bersifat abstrak, fonem bukanlah satuan bahasa yang tidak nyata, bukan maujud yang dapat diindera. Dalam kata rokok, misalnya, terdapat empat fon, tetapi empat fon itu sebenarnya merupakan realisasi tiga fonem, yakni /r/, /o/, dan /k/. Dalam kata itu pula terdapat bunyi ( ) yang sebenarnya merupakan realisasi fonem /o/. Hanya karena lingkungan berdistribusinya, fonem /o/ itu direalisasikan menjadi ( ).
Memang banyak versi mengenai definisi atau konsep fonem. Namun, intinya adalah satu kesatuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna kata. Bagaimana kita tahu sebuah bunyi adalah fonem atau bukan fonem. Banyak cara dan prosedur telah dikemukakan oleh berbagai pakar. Namun, intinya adalah kalau kita ingin mengetahui sebuah bunyi adalah fonem atau bukan, kita harus mencari yang disebutpasangan minimal atau minimal pair, yaitu dua buah bentuk yang bunyinya mirip dan hanya sedikit berbeda. Umpamanya kita inginmengetahui bunyi [p] fonem atau bukan, maka kita cari, misalnya pasangan kata paku dan baku. Kedua kata ini mirip sekali. Masing-masing terdiri dari empat bunyi. Kata paku terdiri dari bunyi [p], [a], [k], dan [u]; sedangkan kata baku terdiri dari bunyi [b], [a], [k], dan [u]. jadi, pada pasangan paku dan baku terdapat tiga buah bunyi yang sama, yaitu bunyi kedua, ketiga dan keempat. Yang berbeda hanya bunyi pertama, yaitu bunyi [p] pada kata paku dan bunyi [b] pada kata baku.
Dengan demikian, kita sudah dapat membuktikan bahwa bunyi [p] dalam bahasa Indonesia adalah sebuah fonem. Mengapa? Karena kalau posisinya diganti oleh bunyi [b], maka maknanya akan berbeda. Sebagai sebuah fonem, bunyi [p] itu ditulis di antara dua garis miring menjadi /p/.
Apakah bunyi [b] pada pada pasangan kata paku dan baku itu juga sebuah fonem? Dengan sendirinya, bunyi [b] itu juga adalah sebuah fonem, karena kalau posisinya diganti oleh bunyi [p] atau bunyi [I] menjadi laku, maknanya juga akan berbeda.
Untuk membuktikan sebuah bunyi adalah
fonem atau bukan dapat juga digunakan pasangan minimal yang salah satu angotanya “rumpang”. Artinya, jumlah bunyi pada anggota pasangan yang rumpang itu kekurangan satu bunyi dari anggota yang utuh. Misalnya, untuk membuktikan bunyi [h] adalah fonem atu bukan kita dapat mengambil pasangan [tuah] dan [tua]. Bentuk [tuah] memiliki empat buah bunyi, sedangkan bentuk [tua] hanya memiliki tiga  buah bunyi. Maka, kalau bunyi [h] itu ditanggalkan, makna kata itu akan berbeda. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bunyi [h] adalah sebuah fonem [h].
Susunan Fonem Jumlah Fonem Susunan Huruf Jumlah Huruf Kata yang terbentuk
/adik/ 4 adik 4 adik
/inat/ 4 ingat 5 ingat
/nani/ 4 nyanyi 6 nyanyi
/pantay/ 6 pantai 6 pantai
Bahasa Indonesia secara umum menggunakan system Grafem Latin. Grafem Latin memiliki 26 Alpabeta lepas. Jumlah Alpabeta latin yang dianut bahasa Indonesia dan fonem yang dimiliki bahasa Indonesia tidak sama. Bahasa Indonesai menganut system Grafem Latin dengan 26 Alpabeta, tetapi dari hasil penelitian ditumukan 32 buah fonem sebagai unit terkecil bunyi yang berfungsi membedakan arti.

32 Fonem resmi bahasa Indonesia :
• 6 buah fonem vokal : /a/, /i/, /u/, /e/,/o/, /?/.
• 3 buah fonem diftong : /oy/, /ay/, dan /ou/.
• 23 buah fonem konsonan : /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /c/, /j/, /n/, /k/, /g/, /n/, /y/, /r/, /l/, /w/, /s/, /s/, /t/, /f/, /h/, /x/, dan /?/.
Selanjutnya, fonem-fonem ini akan membentuk satuan, yaitu saku kata. Suku kata dapat diidentifikasi dengan jalan mengidentifikasi vokalnya karena fonem vokal merupakan puncak sonoritas (kenyaringan).
Bentuk Fonem
Struktur Suku Kata
1.      KVKKK Korps
2.      KKVKK Pleks , pada kata kompleks
3.      KKKVK Struk, pada kata struktur
4.      KKKV Stra, pada kata strategi
5.      KVKK Teks, pada kata tekstil
6.      KKVK Spon, p`da kata spontan
7.      KKV Gra, pada kata granat
8.      KV Ku, Di, Ti, dll
9.      VK il, in pada kata ilmu-indah
10.  V I, a, o, u, e
Ø  Fonem-fonem resmi bahasa Indonesia
a.       Fonem Vokal
Nama-nama fonem vokal yang ada dalam bahasa Indonesia yaitu sebagai berikut:
1.      /i/ vokal depan, tinggi, tak bundar
2.      /e/ vokal depan, sedang, atas, tak bundar
3.      /a/ vokal depan, rendah, tak bundar
4.      /∂/ vokal tengah, sedang tak bundar
5.      /u/ vokal belakang, atas, bundar
6.      /o/ vokal belakang, sedang, bundar
Status fonem-fonem vokal itu dapat dibuktikan dengan pasangan minimal berikut ini:
Fonem
Posisi dalam kata
Awal
Tengah
Akhir
/i/
/e/
/a/
/∂/
/u/
/o/
ikan x akan
enak x anak
alam x ulam
∂raŋ x araŋ
udaŋ x adaŋ
onak x anak
makin x makan
raket x rakit
alih x alah
k∂ra x kira
kasur x kasar
kaloŋ x kalaŋ
dari x dara
sate x satu
para x pari
-
labu x laba
toko x tokoh
b.      Fonem Diftong
Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah fonem diftong /ay/, diftong /aw/ dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan dengan pasangan minimal.
            /ay/ gulai x gula (gulay x gula)
            /aw/ pulau x pula (pulaw x pul )
            /oi/ sekoi x seka (skoy x seka)
c.       Fonem Konsonan
Nama-nama fonem konsonan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      /b/ konsonan bilabial, hambat, bersuara
2.      /p/ konsonan bilabial, hambat, tak bersuara
3.      /m/ konsonan bilabial, nasal
4.      /w/ konsonan bilabial, semi vokal
5.      /f/ konsonan labiodentals, geseran, tak bersuara
6.      /d/ konaonan apikoalveolar, hambat, bersuara
7.      /t/ konsonan apikoaveolar, hambat, tak bersuara
8.      /n/ konsonan apikoaveolar, nasal
9.      /t/ konsonan apikoaveolar, sampingan
10.  /r/ konsonan apikoaveolar, getar
11.  /z/ konsonan laminoalveolar, geseran, bersuara
12.  /s/ konsonan laminoalveolar, geseran, tak bersuara
13.  /∫/ konsonan laminopalatal, geseran, bersuara
14.  /ñ/ konsonan laminopalatal, nasal
15.  /j/ konsonan laminopalatal, paduan, bersuara
16.  /c/ konsonan laminopalatal, paduan, tak bersuara
17.  /y/ konsonan laminopalatal, semivokal
18.  /g/ konsonan dorsevelar, hambat, bersuara
19.  /k/ konsonan dorsevelar, hambat, tak bersuara
20.  /ŋ/ konsonan dorsevelar, nasal
21.  /x/ konsonan dorsevelar, geseran, bersuara
22.  /h/ konsonan laringal, geseran, bersuara
23.  /?/ konsonan glottal, hambat
Ø  Realisasi Fonem bahasa Indonesia
Realisasi fonem sebenarnya sama dengan bagaimana fonem itu dilafalkan. Hanya masalahnya kalau orang Indonesia melafalkan fonem-fonem bahasa Indonesia sangat banyak sekali variasinya. Hal ini berkenaan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai etnis dan berbagai bahasa daerah, sehinggga melafalkan fonem-fonem bahasa Indonesia pasti dipengaruhi oleh fistem fonologi bahasa darehanya.
a.       Realisasi Fonem Vokal
Secara umum realisasi fonem vokal bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Fonem /i/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada silabel terbuka atau silabel tak berkoda seperti pada kata [kini], [lidi] dan [sapi]
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [I] apa biala berada pada silabel tertutup atau silabel berkoda seperti pada kata [batIk], [ambIl] dan [lirIk].
2.      Fonem /e/
Fonem /e/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan seperti bunyi [e] apa bila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata [sate], [p∂te] dan [b∂rabe].
Kedua, direalisasikan seperti bunyi [ε] apa bila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata [m כ ñεt], [karεt] dan [εmbεr].
3.      Fonem /a/
Secara umum fonem /a/ direalisasikan sebagai bunyi [a], baik pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata seperti pada kata , dan .
4.      Fonem /ә/
Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [∂] seperti pada kata [k∂ra], [∂rat] dan [mar∂t].
5.      Fonem /u/
Fonem /u/ ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, dilafalkan sebagai bunyi [u] apa bila berada pada silabel terbuka
Kedua, drealisasikan sebagai bunyi [U] apa bila berada pada silabel tertutup.
6.      Fonem /o/
Fonem ini juga mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [o] apa bila berada pada silabel terbuka.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [נ] apa bila berada pada silabel tertutup.
b.      Lafal Fonem Konsonan
1.      Fonem /b/
Fonem ini memiliki dua realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi /b/ apa bila berada pada awal silabel, baik silabel terbuka maupun silabel tertutup yang buka ditutup oleh fonem konsonan /b/.
2.      Fonem /p/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [p] baik sebagai onset pada sebuah silabel maupun sebagai koda.
3.      Fonem /n/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [n], seperti pada kata [nanas],
4.      Fonem /w/
5.      Fonem /f/
6.      Fonem /d/
Fonem ini mempunya dua macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [d] apabila berposisi sebagai onset pada sebuah silabel.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [t] dan [d] bila berposisi sebgai koda pada sebuah silabel.
7.      Fonem /t/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [t], namun perlu dicatat fonem /t/ pada posisi awal bila diberi prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh dan bersenyawa dengan bunyi nasal yang homorgan dengan fonem /t/ itu.
8.      Fonem /n/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [n], baik sebagai onset maupun sebagai sebagai koda dalam sebuah silabel.
9.      Fonem /l/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [l] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
10.  Fonem /r/
11.  Fonem /z/
12.  Fonem /s/
13.  Fonem /∫/
14.  Fonem /ñ/
15.  Fonem /j/
16.  Fonem /c/
17.  Fonem /y/
18.  Fonem /g/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [g] apa bila berposisi sbegai onset.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [g] atau [k] apabila berposisi sebagai koda
19.  Fonem /k/
Fonem ini memiliki tiga macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [k] apa bila berposisi sebagai onset pada sebuah silabel.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [?] apabila berposisi sebagai koda pada sebuah silabel.
Ketiga, direalisasikan sebagai bunyi [g] bila berposisi sebagai koda.
20.  Fonem /ŋ/
fonem ini direalisasikan sebagai bunyi bunyi [ŋ] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
21.  Fonem /x/
22.  Fonem /h/
23.  Fonem /?/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [?] yang muncul pada:
Pertama, silabel pertama dari sebuah kata yang berupa fonem vokal.
Kedua, diantara dua buah silabel, dimana nuklus silabel pertama dan nuklus silabel kedua berupa fonem vokal yang sama.
3.      ALOFON
Alofon adalah pembedaan realisasi pelafazan fonem karena posisi yang berbeda dalam kata. Misalkan fonem /b/ dalam bahasa Indonesia dilafalzkan pada posisi awal ("besar") dan tengah ("kabel") berbeda dengan fonem ini pada posisi akhir ("jawab").
 Kalau kita melihat kembali pembicaraan mengenai vokal maka kita melihat bahwa bunyi vokal depan tinggi ada dua, yaitu: vokal depan tinggi atas [i] dan vokal depan tinggi bawah [I]. begitu juga vokal belakang tinggi ada dua, yaitu: vokal belakang tinggi atas [u]dan vokal belakang tinggi bawah [U]. demikianjuga vokal belakang sedang ada dua, yaitu vokal belakang sedang atas [o] dan vokal belakang sedang bawah [כ].
Persoalan kita sekarangapakah bunyi vokal [i] dan vokal [I] dua buah fonem  atau sebuah fonem. Alau kita menggunakan cara dengan mencari pasangan minimal untuk kedua bunyi vokal itu dalam bahasa Indonesisa ternyata sampai saat ini tidak ada. Yang menjadi kenyataan adalah bahwa kedua vokal itu, [i] dan [I] memiliki distribusi yang berbeda. Vokal [i] menempati posisi pada silabels (suku kata) terbuka, silabel yang tidak memiliki koda, sedangkan vokal [I] menempati silabel yang mempunyai koda. Simak:
Vokal [i] pada kata   [ini];    [titi]; dan   [isi]
Vokal [I] pada kata   [b∂nIh];   [batik]; dan   [tasIk]
Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa:
a.       Vokal [i] dan [I] bukanlah merupakan dua fonem, melainkan cuma anggota dari sebuah fonem yang sama yaitu fonem /i/
b.      Vokal [i] dan vokal [I] distri businya tidak sama: vokal [i] berdistribusi pada silabel terbuka atau silabel tidak berkoda; sedangkan vokal [I] berdistribusi pada silabel tertutup atau silabel berkoda.
c.       Vokal [i] dan vokal [I] memiliki distribusi komplementer, berdistribusi yang saling melengkapi.
Analog dengan kasus vokal [i] dan vokal [I], maka dapat dikatakan vokal [u] dan vokal [U] juga merupakan anggota dari satu fonem yang sama, yaitu fonem /u/, yang juga berdistribusi secara komplementer. Vokal [u] untuk silabel terbuka (tak berkoda), dan vokal [U] untuk silabel tertutup (berkoda). Seperti yang tertera dibawah ini, yaitu sebagai berikut:
Vokal [u] pada kata   [buku]; [ibu]; dan [itu]
Vokal [U] pada kata [akUr]; [libUr]; dan [atUr]
            Hal yang sama terjadi juga pada kasus vokal [o] dan vokal [כ]. Dimana vokal [o] untuk silabel terbuka, seperti pada kata [took] dan [bodo], sedangkan vokal [כ] untuk silabel tertutup seperti [t כk כh] dan [b כd כh].
            Vokal-vokal yang menjadi anggota dari sebuah fonem, seperti [u] dan [U] untuk fonem /u/ disebut dengan istilah alofon. Dengan demikian kalau dibalik, bisa dikatakan alofon adalah anggota dari sebuah fonem atau varian dari sebuah fonem.
            Dari pembicaraan tentang fonem dan alofon diatas, dapat dikatakan bahwa fonem merupakan konsep abstrak karena kehadirannya dalam ujaran dia diwakili oleh alofon yang sifatnya konkrit, dapat diamati (didengar) secara empiris. Jadi, misalnya fonem /i/ pada kata diwakili oleh alofon [i], karena lafal kata itu adalah [tani], sedangkan pada kata diwakili oleh alofon [I], karena lafalnya adalah [tarIk]. Contoh fonem /k/ pada kata diwakili oleh alofon [k] karena lafalnya adalah [baku], sedangkan pada kata diwakili oleh alofon [?] karena lafalnya [bapa?]
            Dengan perkataan lain, fonem /i/ direalisasikan oleh alofon [i] dan alofon [I], fonem /u/ direalisasikan oleh alofon [u] dan alofon [U], sedangakan fonem /o/ direalisasikan oleh alofon [o] dan alofon [כ].

Tuesday, November 22, 2016

Perbedaan Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Dalam sebuah komunikasi, kita pasti akan menggunakan sebuah kata. Pemilihan kata-kata tersebut harus disesuaikan dengan makna yang terkandung dalam kata tersebut. Dalam bahasa Indonesia, sebuah kata terkadang mendapatkan makna baru akibat proses tertentu yang terjadi pada kata tersebut.


Pada kesempatan ini, kita akan membahas tentang makna leksikal dan makna gramatikal pada sebuah kata. Berikut penjelasan dari keduanya.

1. MAKNA LEKSIKAL

Yang dimaksud makna leksikal adalah makna yang bersifat tetap dan tidak terikat dengan kata lainnya (berdiri sendiri). Makna leksikal sering disebut makna yang sesuai dengan kamus.

Contoh :
Rumah
- yaitu bangunan untuk tempat tinggal
Makan
- yaitu memasukan sesuatu ke dalam mulut


2. MAKNA GRAMATIKAL

Yang dimaksud makna gramatikal adalah makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks
pemakainya. Hal ini terjadi akibat proses-proses gramatikal yang terjadi pada kata tersebut, seperti pengimbuhan, pengulangan , dan pemajemukan.

Contoh :
Berumah
- mempunyai rumah
Rumah-rumah
- banyak rumah
Rumah sakit
- rumah tempat merawat orang sakit


Dari uraian di atas, dapa kita simpulkan perbedaan makna leksikal dan makna gramatikal sebagai berikut :
1. Makna leksika adalah makna asli, sedangkan makna gramatikal mekna sesuai konteks
2. Makna leksikal bersifat tetap, sedangkan makna gramatikal bisa berubah-ubah sesuai proses gramatikal yang terjadi pada kata tersebut.
3. Makna leksikal berdiri sendiri, sedangkan makna gramatikal terikat dengan kata lain yang mengikutinya.

Demikian pembahasan singkat tentang makna leksikal dan makna gramatikal. Semoga bermanfaat.

Monday, November 21, 2016

PENGERTIAN DAN PERBEDAAN SYAIR DAN PANTUN

Apa Arti Pantun?

Pantun adalah salah satu sastra puisi lama yang berupa ungkapan perasaan seseorang yang mengandung ibarat atau perumpamaan, pantun terdiri atas empat larik/baris di mana dua baris awalnya merupakan sampiran dan dua baris akhirnya merupakan isi.
Sampiran adalah kata pengantar/pelengkap dari pantun, sampiran biasanya tidak ada hubungan dengan isi atau dua baris terakhir pantun.
Pantun bersajak akhir dengan pola a-b-a-b atau bisa juga a-a-a-a. Pada awalnya pantun hanya merupakan sastra lisan (Diucapkan) tapi sekarang dapat ditemukan pada sastra tertulis.
Contoh Pantun :
Mentari pagi tersenyum cerah
Kicauan burung pun terdengar merdu
Janganlah kamu mudah menyerah
Aku selalu bersama dirimu

Apa Arti Syair?

Syair adalah salah satu sastra puisi lama. Kata syair berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang artinya “Perasaan”, kemudian Syu’ur berkembang menjadi Syi’ru yang artinya puisi. Syair merupakan puisi lama yang terdiri atas empat baris di mana keseluruhan baris adalah isi/maksud.
Hampir sama dengan pantun tetapi syair hanya bersajak akhir dengan pola a-a-a-a.
Contoh Syair :

Dipanggil kami orang sekalian
Oleh ibu bapakmu tuan
Serta diberi minum dan makan 
Menyertakan syukur kepada tuhan 

Apa Perbedaan Pantun dan Syair?

Aspek
Pantun
Syair
Tujuan/makna
Nasihat, canda gurau, sindiran
Nasihat
Asal
Bangsa Melayu
Bangsa Arab-Persia
Sajak Akhir
a-b-a-b, a-a-a-a
a-a-a-a
Fungsi baris
2 baris pertama sampiran, 2 baris akhir isi
Semua baris adalah isi
Keterkaitan makna pada Baris
Baris 1 terkait dengan baris 2, baris 3 terkait dengan baris 4.
Semua baris saling terkait

Apa Persamaan Pantun dan Syair?

Jika mengulas perbedaan pastinya ada juga persamaan diantaranya, persamaan pantun dan syair adalah :
  • Sama-sama jenis puisi lama
  • Sama-sama memiliki 4 baris/bait
  • Sama-sama bisa bersajak akhir berpola a-a-a-a
Nah, sekian pembahasan tentang pengertian, perbedaan, dan juga persamaan antara pantun dan syair, semoga dapat bermanfaat. Lebih dan kurangnya kami mohon maaf, terima kasih.

Thursday, November 17, 2016

MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWAN

Menghargai Jasa Para Pahlawan

Jasa para pahlawan bangsa bagi bangsa kita sangatlah besar. Mereka telah berjuang sepenuh jiwa raga untuk bangsa kita. Banyak di antara mereka yang gugur pada saat berjuang membela bangsa. 
Cita-cita mereka hanya satu, yakni terbebas dari belenggu penjajah. Mereka tidak sedikitpun 
mengharapkan imbalan. Oleh karena itu jasa para pahlawan bangsa kita haruslah kita hargai dengan jiwa besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. 
Bagaimana cara kita menghargai jasa para pahlawan bangsa kita? Berikut ini adalah beberapa contoh cara menghargai jasa para pahlawan bangsa:
  • Mengabadikan foto dan nama pahlawan pada mata uang, nama jalan, bandara dan rumah sakit., membuatkan monumen suatu peristiwa penting atau patung pahlawan, memberikan gelar dan tanda jasa.
  • Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dan hal-hal yang positif.
  • Meneladani sikap dan perjuangan para pahlawan.
  • Mendoakan arwah para pahlawan agar diterima di sisi Allah swt.
Sikap Kepahlawanan 

Ciri-Ciri Sikap Kepahlawanan 

Apakah yang dimaksud dengan sikap kepahlawanan? Kepahlawanan berasal dari kata pahlawan. Pahlawan merupakan orang yang memiliki keberanian dan pengorbanan yang besar dalam berjuang mencapai suatu cita-cita. Berani dan rela berkorban merupakan sikap utama yang dimiliki oleh seorang pahlawan. Dari pengertian pahlawan ini dapat kita simpulkan bahwa sikap kepahlawanan merupakan sikap yang menunjukkan keberanian dan pengorbanan yang tinggi dalam berjuang mencapai suatu hal. Selain berani dan rela berkorban ada ciri-ciri lain dari sikap kepahlawanan. Apa saja ciri-ciri lain tersebut?
 
Ciri-ciri dari sikap kepahlawanan yakni:
 
a.  Berani 

Dalam riwayat tergambar jelas keberanian para pablawan melawan penjajah Belanda. Dalam setiap usaha dan perjuangan kita harus berani menghadapi segala tantangan dan rintangan. Seorang pejuang bukanlah seorang yang penakut. Karena kita memperjuangkan kebenaran dan kebaikan, kita tidak boleh takut.
 
b.  Tangguh 

Tangguh artinya berjuang tanpa henti, tidak mudah goyah atau tidak mudah terpengaruh. Seorang pejuang akan terus berjuang sebelum cita-citanya tercapai. Agar memiliki ketangguhan kita harus memiliki rasa percaya diri, sabar dan teguh pendirian. Contohnya, Kapitan Pattimura merupakan seorang yang tangguh. Ini terlihat dari sikap Kapitan Pattimura yang tidak mau dibujuk untuk bekerja sama dengan Belanda.
 
c.  Bersemangat untuk Maju 

Setiap orang mempunyai keinginan untuk hidup lebih baik. Keinginan tersebut harus diikuti dengan semangat dan usaha yang sungguh-sungguh. Tanpa semangat dan kesungguhan, maka apa yang diinginkan tidak akan tercapai.
 
d.  Ikhlas 

Seorang pahlawan sejati akan berjuang dengan ikhlas tanpa pamrih. Ikhlas artinya tidak mengharapkan imbalan. Suatu kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas maka akan mendatangkan hasil yang baik pula. Namun sebaliknya suatu kebaikan yang dilandasi dengan pamrih tertentu, justru bisa mendatangkan suatu keburukan.
 
e.  Rela berkorban 

Dalam setiap perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan ini bisa berupa pikiran, waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa. Sikap rela berkorban telah ditunjukkan oleh Kapitan Pattimura. Ia rela dihukum gantung oleh Belanda demi memperjuangkan cita-cita rakyat Maluku.
f. Pantang Menyerah 
Pantang menyerah berarti terus berjuang meskipun menghadapi berbagai rintangan. Jika perjuangan gagal, pahlawan tidak putus asa. Ia akan terus berjuang sampai kebenaran ditegakkan.

g. Mendahulukan Kepentingan Orang Lain
 

Pahlawan tidak mengerjar kepentingan sendiri. Kepentingan bangsa, negara, dan kepentingan orang banyak ia dahulukan. Sampai hari ini pahlawan bangsa akan tetap lahir atau muncul. Karena selalu ada orang yang dengan berani dan rela berkorban membela kebenaran dan keadilan.

h. Patriotisme dan Cinta Tanah Air

Apa yang dimaksud dengan patriotisme? Patriotisme artinya cinta tanah air. Para pahlawan pendahulu kita berjuang mengusir penjajah tentunya didasari oleh rasa cinta tanah air. Mereka tidak rela bangsanya diinjak-injak oleh para penjajah. 

i. Ksatria 

Berjiwa ksatria, maksudnya berani mengakui kesalahan bila salah, bertanggung jawab segala ucapan dan tindakan yang dilakukan.  

j. Membela kebenaran dan Keadilan

Sikap membela keadilan maksudnya tidak memihak kepada sesuatu yang telah diketahui salah dan selalu berpegang teguh pada kebenaran dalam semua tindakannya.  

Sikap Kepahlawanan dalam Kehidupan Sehari-hari 

Apakah yang disebut pahlawan hanya orang-orang yang berjuang melawan penjajah? Tentu saja tidak. Setiap orang yang berjasa kepada bangsa ataupun kepada orang lain bisa disebut pahlawan. Orang tua berjasa kepada kita karena telah melahirkan, merawat dan mendidik kita. Petani berjasa dalam menyediakan kebutuhan pangan. Guru berjasa dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Semua orang dapat berjasa dan menjadi pahlawan bagi bangsa ini sesuai dengan caranya masing-masing.
 
Sikap kepahlawanan sangat penting dan harus dimiliki setiap orang. Sejak dini sikap kepahlawanan harus mulai dipupuk dan dibiasakan. Orang yang tidak memiliki sikap kepahlawanan akan menjadi penakut, pelit atau tidak mau berkorban, malas berusaha, egois (mementingkan diri sendiri) dan mudah putus asa. Walaupun tidak mendapat penghargaan dari siapapun sikap kepahlawanan harus senantiasa dipupuk sebab penghargaan bukanlah tujuan dari seorang pahlawan. Kita harus membiasakan diri memiliki sikap kepahlawan dalam kehidupan sehari-hari. 
Sikap kepahlawan dapat kita terapkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat. Berikut ini adalah contoh sikap kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari:
 
a.  Lingkungan keluarga 
Di lingkungan keluarga kita dapat menerapkan sikap kepahlawan dengan saling menolong dengan ikhlas. Biasanya di rumah telah ditetapkan aturan dan tugas-tugas rumah. Misalnya ayah mencuci motor, ibu memasak, kamu mencuci piring dan adikmu menyapu rumah. Jika suatu saat adikmu tidak dapat melaksanakan tugas karena sakit, maka kamu harus siap menggantikan tugasnya dengan rela dan tulus ikhlas.
 
b.  Lingkungan sekolah 
Di lingkungan sekolah kita pun dapat mewujudkan sikap kepahlawan. Misalnya jika ada teman yang tertimpa musibah, seluruh siswa di kelas dengan suka rela mengumpulkan bantuan dana dan barang. Sikap kepahlawanan di sekolah juga bisa diwujudkan dengan berani mengakui kesalahan, jika memang berbuat salah.
 
c.  Lingkungan masyarakat 
Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan yang lebih luas. Sikap kepahlawanan dapat diwujudkan misalnya dengan ikut serta bekerja bakti membersihkan lingkungan. Jika memiliki suatu makanan tidak lupa memberikan kepada tetangga. Jika ada suatu daerah yang tertimpa musibah, kita bantu sesuai dengan kemampuan kita. Ini juga merupakan sikap kepahlawanan.

Contoh Sikap dan perilaku yang Meneladani Para Pahlawan
 Salah satu contoh sikap kepahlawanan adalah patriotisme. Sikap patriotisme tidak hanya dimiliki oleh para pahlawan bangsa. Sebagai warga negara yang baik kita pun harus memiliki sikap patriotisme. Siapa lagi yang mencintai bangsa ini kalau bukan kita, warga negara Indonesia? Perjuangan kita saat ini sudah bukanlah perjuangan melawan para penjajah. Setelah merdeka, justru tantangan semakin besar. Kita saat ini mesti berjuang melawan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
 

Sikap patriotisme dapat diwujudkan dalam banyak hal. Wujud sikap patriotisme antara lain sebagai berikut:
 

1.  Mencintai dan menggunakan produk dalam negeriMencintai dan menggunakan produk-produk dalam negeri merupakan bagian dari cinta tanah air. Dengan menggunakan produk dalam negeri berarti kita memberi keuntungan kepada warga Indonesia sendiri. Baik pembuatnya ataupun pedagangnya. Berarti juga memberi keuntungan kepada negara. Sebenarnya produk-produk dalam negeri tak takkalah dengan produk luar negeri. Bahkan banyak produk-produk asli buatan Indonesia yang ditiru orang luar negeri.
 

2.  Tidak merusak lingkungan hidupLingkungan hidup haruslah dijaga kelestariannya. Merusaknya berarti
kita tidak mencintai tanah air. Lingkungan hidup yang rusak akan merugikan manusia sendiri.
 

3.  Ikut serta memelihara fasilitas umumFasilitas umum merupakan sarana yang disediakan oleh pemerintah untuk kebutuhan masyarakat. Contohnya adalah telepon umum, jembatan, halte, kereta api dan lain-lainnya. Jika kita merusak fasilitas umum akan merugikan orang lain dan negara. Kita sendiri juga tidak dapat menggunakannya lagi.
 

4.  Ikut serta dalam pembangunan bangsaNegara kita harus terus membangun agar lebih maju dan kehidupan rakyatnya lebih baik. Bila kita ingin mencintai tanah air, maka kita harus ikut serta dalam pembangunan. Ikut serta dalam pembangunan bisa diwujudkan dengan taat membayar pajak, menjadi pegawai yang baik, dan sebagainya.
 

5.  Mentaati peraturan yang adaPeraturan dibuat agar masya-rakat tertib dan nyaman. Jika kita melanggar peraturan akan merugikan diri kita sendiri. Bahkan orang lain dan negara juga akan dirugikan. Berarti jika kita melanggar peraturan berarti kita tidak cinta tanah air.
 

6. Melestarikan budaya bangsaBudaya bangsa merupakan kekayaan bangsa. Menjaga keles-tarian budaya bangsa berarti mencintai bangsa dan tanah air. Kita harus bangga memiliki budaya bangsa yang beragam dan unik. Orang asing saja banyak yang mengagumi budaya bangsa kita. Termasuk melestarikan budaya bangsa adalah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
 
Contoh Perilaku Meneladani Sikap Para Pahlawan yang lain dapat dilihat dalam tabel berikut ini,

No.
Sikap
Definisi
1.Berani
Keberanian adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu/mengambil tindakan dengan tidak terlalu merisaukan hal-hal buruk.Contoh
  • Berani beramal dengan sifat-sifat terpuji, 
  • Berani menjauhi sifat-sifat yang buruk, 
  • Berani menghadapi kritikan, 
  • Berani memberi kritikan yang menyenangkan, 
  • Berani menghadapi kegagalan. 
2.Rela berkorban
Rela berkorban adalah sikap yang mencerminkan adanya kesediaan memberikan  sesuatu yang dimiliki untuk orang lain walaupun akan memberikan penderitaan bagi diri sendiri. Contoh
  • Ikut kerja bakti membersihkan jalan dan sekolah
  • Ikut berpartisipasi menjaga keamanan kampung
  • Menyingkirkan benda berbahaya ditengah jalan
  • Membantu mengantarkan adik yang mau belajar kelompaok
  • Membantu pekerjaan orang tua atau orang yang disekitarnya
3.Membela kebenaran dan Keadilan
Membela keadilan maksudnya tidak memihak kepada sesuatu yang telah diketahui salah. Contoh
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  •  Menghormati hak-hak orang lain.
  •  Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  •  Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  • Tidak bersifat boros.
  • Tidak bergaya hidup mewah.
  • Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  • Suka bekerja keras.
  • Menghargai hasil karya orang lain.
  • Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
4.Cinta Tanah Air
Cinta tanah air adalah suatu kasih sayang dan suatu rasa cinta terhadap tempat kelahiran atau tanah airnya. Contoh
  • Belajar dengan tekun hingga kita juga dapat ikut mengabdi dan membangun negera kita agar tidak ketinggalan dari bangsa lain.
  • Menjaga kelestarian lingkungan.
  • Tidak memilih-memilih teman.
  • Berbakti pada nusa dan bangsa
  • Berbakti pada orang tua (Ibu, Bapak, Guru)
  • Menggunakan barang produksi dalam negeri
5.KsatriaKesatria, maksudnya berani mengakui kesalahan bila salah, bertanggung jawab segala ucapan dan tindakan yang dilakukan. Contoh
  • Meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukan.
  • Cepat belajar dari kesalahan dan tidak terlalu lama berkubang dalam rasa penyesalan
  • Bekerja dengan tim terbaik untuk menunjukkan performa terbaik. 
  • Jangan menyalahkan pihak lain atau aturan. 
  • Tidak berputus asa, bahkan menjadikan kegagalan sebagai pemicu terhadap kesuksesan-kesuksesan di masa berikutnya. 

sumber :https://damaruta.blogspot.co.id/2015/02/halaman-122-perilaku-sehari-hari-dalam.html