Saturday, March 3, 2012

Dimensi dan Indikator Kualitas Pelayanan





 
Berdasarkan pendapat Zeithaml et.al (1990:42) yang mengatakan Kualitas servequal mengandung Tangibles; tercermin pada fasilitas fisik, peralatan, personil dan bahan komunikasi; Reliability; kemampuan memenuhi pelayanan yang dijanjikan secara terpercaya, tepat; Responsiveness; kemauan untuk membantu pelanggan dan menyediakan pelayanan yang tepat; Assurance; pengetahuan dari para pegawai dan kemampuan mereka untuk menerima kepercayaan dan kerahasian; dan Emphaty; perhatian individual diberikan oleh perusahaan kepada para pelanggan.

Dengan pendapat di atas, maka definisi konseptual variabel tergantung Kualitas Pelayanan adalah karakteristik pelayanan public yang terungkap dari tangible, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty.

Dari definisi konseptual tersebut, variabel Kualitas Pelayanan dijabarkan menjadi 5 dimensi sebagai berikut:
  1. Dimensi tangible,
  2. Dimensi reliability,
  3. Dimensi responsiveness,
  4. Dimensi assurance, dan
  5. Dimensi emphaty.
Dimensi tangible dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator : (1) Ruang tunggu pelayanan, (2) Loket pelayanan, dan (3) Penampilan Petugas Pelayanan. Dimensi reliability dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator : (4) Keandalan petugas dalam memberikan informasi pelayanan, (5) Keadalan petugas dalam melancarkan prosedur pelayanan, dan (6) Keadalanan petugas dalam memudahkan teknis pelayanan. Dimensi responsiveness dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator : (7) Respon petugas pelayanan terhadap keluhan warga, (8) Respon petugas pelayanan terhadap saran warga, dan (9) Respon petugas pelayanan terhadap kritikan warga. Dimensi assurance dijabarkan menjadi indikator-indikator : (10) Kemampuan administrasi petugas pelayanan, (11) Kemampuan teknis petugas pelayanan, (12) Kemampuan sosial petugas pelayanan. Dimensi emphaty dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator : (13) Perhatian petugas pelayanan, (14) Kepedulian Petugas, (15) Keramahan petugas pelayanan.

Program SBI

Pengertian SBI
SBI adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didik berbasis Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia berkualitas Internasional dan lulusannya berdaya saing Internasional.
Karakteristik SBI
  1. Menerapkan KTSP yang dikembangkan dari standart isi, standart kompetensi kelulusan dan kompetensi dasar yang diperkaya dengan muatan Internasional.
  2. Menerapkan proses pembelajaran dalam Bahasa Inggris, minimal untuk mata pelajaran MIPA dan Bahasa Inggris.
  3. Mengadopsi buku teks yang dipakai SBI (negara maju).
  4. Menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang ada di dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).
  5. Sarana/prasarana memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP).
  6. Penilaian memenuhi standar nasional dan Internasional.
Visi dan Misi SBI
Visi  SBI dirancang agar memnuhi tiga indikator,yaitu:
  1. Mencirikan wawasan kebangsaan,
  2. Memberdayakan seluruh potensi kecerdasan (multiple inteligencies)
  3. Meningkatkan daya saing global
Misi SBI merupakan jabaran visi SBI yang dirancang untuk dijadikan referensi dalam menyusun/mengembangkan rencana program kegiatan, indikator untuk menuyun misi  ini terangkum pada akronim SMART:
  1. Specific
  2. Measurable (terukur)
  3. Achievable (dapat dicapai)
  4. Realistis
  5. Time Bound (jelas jangkauan waktunya)
LAYANAN EDU untuk SBI & RSBI
Pendidikan merupakan salah satu penentu daya saing bangsa, dengan demikian, perlu peningkatan mutu yang berk elanjutan. Salah satunya dengan konsep peningkatan status sekolah secara bertahap ke arah SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Hal ini searah dengan perubahan paradigma dalam pembelajaran menuju masyarakat berbasis pengetahuan, yang menempatkan ICT atau TIK sebagai pendukung utama

Dari penjelasan di atas, pengenalan TIK (Teknologi Informasi & Komunikasi) beserta aplikasinya harus dimulai sedini mungkin, tanpa diskriminasi yang dilakukan secara bertahap mulai dari sekolah dasar sampai pendidikan tinggi
Berangkat dari hal tersebut di atas, kami dari PT. Edu Media Nusantara menawarkan solusi praktis penerapan ICT untuk mendukung layanan pendidikan khusus di Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) terbagi dalam program:
PELATIHAN Pengembangan SDM sebagai percepatan optimalisasi TIK dalam pembelajaran:
Kompetensi Guru
  1. Paket Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Berbasis ICT level Dasar
  2. Paket Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Berbasis ICT level Menengah
  3. Paket Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Berbasis ICT level Lanjut
  4. Program Pelatihan Spesifik Produk:
    - Pelatihan Pembuatan Storyboard Bahan Ajar Multimedia
    - Pelatihan Pembuatan VCD/DVD Pembelajaran

    - Pelatihan Pembuatan Media Belajar Mandiri
    - Pelatihan Pembuatan Animasi Pembelajaran
    - Pelatihan Pembuatan Media Ajar berbasis Web
    - Pelatihan Pembuatan Mobile Book
    - Pelatihan Pembuatan Evaluasi On-line
    - Pelatihan Pembuatan E-Book, dan AudioBook
  5. Paket Pelatihan Pengembangan E-Learning Sekolah
  6. Paket Pelatihan Berbasis ICT lain sesuai kebutuhan pengguna)
Kompetensi Tenaga Kependidikan Non Guru
Paket Pelatihan Pengenalan & Optimalisasi Perangkat ICT Penunjang Proses Belajar Mengajar
Paket Pelatihan Aplikasi Administrasi & Manajemen berbasis ICT
Paket Pelatihan Aplikasi Pengelolaan Konten Pembelajaran
Siswa terkait ICT
Paket Pelatihan Pengenalan & Optimalisasi Perangkat ICT Penunjang Proses Belajar Mengajar

Untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan khususnya pada SBI, Edu Media menyediakan beberapa layanan diantaranya sebagai berikut:
  1. Penyusunan bahan ajar/modul multimedia (bilingual)
  2. Pengembangan partnership dan manajemen berbasis ICT
  3. Peningkatan  SDM  tenaga  pendidik  dan  tenaga  kependidikan  di bidang ICT
  4. Promosi dan pemasaran sekolah bertaraf internasional
  5. Pengadaan sarana prasarana ICT:
    - Pengadaan laboratorium komputer multimedia
    - Pengadaan LCD Projektor
    - Pengadaan Printer dan scanner

    - Pengadaan CD-CD pembelajaran
    - Pengadaan jaringan internet
    - Pengadaan Control - Monitor Class
    - Pengembangan workshop/pelatihan ICT
    - Pengajaran dan pembelajaran berbasis ICT (e-learning)
    - Pengembangan ICT
Pengembangan Kurikulum & Konten Pembelajaran
  1. Produksi materi penunjang Mobile Learning
    Belajar kini bisa dimana saja tanpa harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Ponsel pun bisa menjadi sarana penting dalam proses belajar mengajar ini. Ringkasan materi atau soal latihan dapat dijadikan aplikasi pembelajaran yang dapat dijalankan pada ponsel.
  2. Aplikasi Pengelolaan Konten Pembelajaran (Pengembangan dari Aplikasi Digital Library)
    Aplikasi untuk mengelola pengetahuan/konten multimedia pembelajaran yang dapat diakses seluruh warga sekolah, memfasilitasi penyediaan referensi ilmu pengetahuan terkini (internet based content) sekaligus memfasilitasi pertukaran konten dan atau pakar dengan sekolah lain
  3. Penyediaan Multimedia Based Content untuk materi lokal
    Penyediaan konten multimedia pembelajaran yang materinya telah disusun oleh guru. Jenis multimedia based content yang dapat ditangani antara lain:
    - Animasi peristiwa (proses peristiwa nyata atau rekaan) berdasarkan teori tertentu dalam bentuk CD atau media lain.
    - Simulasi kasus (representasi tiruan fungsional suatu system) aplikasi menghasilkan output yang berbeda untuk input yang bereda. Bersifat multimedia dalam bentuk CD atau media lain.
    - Visual Multimedia (gambaran visual 2/3D tentang keterkaitan antar komponen dalam system) bersifat multimedia dalam bentuk CD atau media lain.
    - Media belajar mandiri (berisi konten pembelajaran yang digunakan siswa untuk belajar mandiri)
    - E-Test/Latihan mata pelajaran (berisi soal-soal latihan suatu mata pelajaran yang disajikan secara interaktif)
    - E-Book/Aplikasi buku/modul digital (bentuk penyajian buku dalam format digital)
    - E-AudioBook/Aplikasi buku/modul digital (bentuk penyajian buku dalam format digital yang disertai audio
  4. Unit Produksi Pengembangan Konten Pembelajaran dan Evaluasi
    Layanan kerja sama dalam membentuk dan mengembangkan unit produksi konten pembelajaran yang terdiri dari praktisi, guru dan murid. Fungsi Unit Produksi ini untuk membantu warga sekolah dalam mewujudkan konten multimedia pembelajaran bermutu.
Pengembangan Fasilitas/Sarana & Prasarana TIK
Smart Class Monitoring System
Smart Class Monitoring Sistem merupakan sistem pemanfaatan perangkat TIK salah satunya CCTV  yang berfungi untuk memantau proses belajar mengajar guna mendukung layanan pendidikan bermutu secara modern dan terpadu.
Proses pemantauan ini dapat dilakukan dari sebuah ruang kontrol secara langsung ke semua kelas, baik oleh kepala sekolah, guru, atau pihak yang terkait. Dari pemantauan ini, sekolah dapat mengevaluasi, merumuskan, menilai dan merancang strategi-strategi pengembangan metode pembelajaran ke arah yang lebih baik.
Perangkat/Media Publikasi sekolah
  1. Website Instansi Sekolah + Learning Activity
    Website ini bermanfaat untuk mengenalkan sekolah secara lebih rinci dan profesional melalui internet, bertujuan memberikan pengetahuan/informasi tentang sekolah, mulai dari profil, guru dan staff, siswa, kegiatan ekstra kurikuler sekolah, fitur halaman guru dan siswa. Selain itu fasilitas PLUS website ini sudah dilengkapi dengan fasilitas database yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar secara online. (misalnya: media komunikasi guru & siswa, sarana upload/download media pembelajaran, latihan/evaluasi online)
  2. Profil Interaktif & Videografi
    Profil interaktif ini bermanfaat untuk mengenalkan tentang manajemen, sistem dan situasi pada sebuah institusi pendidikan kepada khalayak umum melalui teknologi multimedia. Keuntungan yang diperoleh: muatan isi lebih banyak, lengkap, berisi berbagai macam tipe informasi: teks, gambar/foto, suara/musik, video, memudahkan institusi dalam pengembangan promo sekolah. Produk berupa cd multimedia interaktif dan VCD/DVD
Administrasi & Manajemen Sekolah
  1. Software Sistem Informasi Manajemen Akademik Sekolah (SIMAS)
    Merupakan perangkat lunak berbasis web, terdiri dari berbagai macam aplikasi yang membentuk fungsi guna membantu pelayanan administrasi dan manajemen sekolah. Dengan SIMAS, sekolah dapat mengevaluasi, merumuskan, menilai, merancang strategi-strategi pengembangan akademik siswa ke arah yang lebih baik. Aplikasi tersebut antara lain:
    - Aplikasi penerimaan siswa baru
    - Aplikasi data personal siswa
    - Aplikasi pengelolaan hasil proses pembelajaran siswa
    - Aplikasi pengelolaan proses keuangan
    - Aplikasi pengelolaan data guru dan karyawan
    - Aplikasi pengelolaan asset dan perlengkapan
    - Aplikasi publikasi informasi
    - Aplikasi konsolidasi laporan periodik pendidikan
    - Aplikasi pengelolaan ruang belajar
    - Aplikasi pengelolaan jadwal pengajaran
    - Aplikasi pengelolaan jadwal guru mengajar
    - Aplikasi pengelolaan kegiatan ektrakurikuler
  2. Aplikasi Digital Library
    Adalah program aplikasi pengelolaan perpustakaan dengan melibatkan pengelolaan database informasi pada perpustakaan. Dengan program ini akan memudahkan petugas/pengelola dalam  menjalankan aktivitasnya yang ada hubungannya dengan layanan perpustakaan serta pengguna/anggota perpustakaan  untuk menjelajahi segala isi dan fasilitas perpustakaan seperti mencari informasi tentang buku, ebook, katalog buku,  download, dan menyalin buku.
  3. Aplikasi Pengelolaan Koperasi Sekolah
    Adalah program aplikasi sistem akuntansi  untuk mengelola koperasi sekolah. Program ini dilengkapi dengan fitur entry data, processing data, dan report guna memudahkan pengelola koperasi dalam menjalankan layanannya serta terdapat aplikasi unit simpan pinjam lengkap laporan keuangannya.
Dari  paparan  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  pemanfaatan ICT dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah karena dalam  rancangan pembelajaran dengan bantuan ICT selalu ada stimulus  yang  menyenangkan.  Sistem  ICT  dapat  mendiagnosis kesulitan-kesulitan  siswa  dalam  belajar  dan  memberikan  bantuan  untuk memecahkan  masalah  yang  dihadapi.

Thursday, March 1, 2012

PERMASALAHAN DALAM IMPLEMENTASI KTSP DI SEKOLAH


        Saat ini KTSP sudah berjalan dan diimplementasikan di sekolah, dengan demikian ketentuan perundangan sudah dilaksanakan dengan baik. Namun juga tidak dapat dipungkiri adanya beberapa kekurangan dalam pelaksanaannya, yaitu dalam hal keterlibatan guru dalam penyusunan KTSP, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Selain itu satu hal yang perlu dilihat ulang, karena sampai saat ini sekolah ternyata masih sangat tergantung dengan model kurikulum dari Pusat Kurikulum ataupun dari Direktorat Pembinaan TK/SD/ SMP/SMA/SMK. Harusnya dikembalikan ke jiwa semula bahwa yang ditentukan oleh pusat (BSNP) adalah Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian, selain tentu saja standar-standar yang lain. Namun pada kenyataannya KTSP di sekolah hanyalah modifikasi dari model yang dikembangkan oleh direktorat terkait, dan yang menyedihkan adalah pihak sekolah takut mengembangkan lebih lanjut walaupun sudah memenuhi standar-standar dari BSNP, seharusnya pihak sekolah didorong untuk mengembangkan KTSP sejauh memenuhi pedoman dan standar-standar yang telah ditetapkan. Masalah modelnya, sekolah harusnya diberi kebebasan untuk mengembangkan model yang sesuai bagi sekolahnya. Apabila hal ini dapat dilaksanakan maka filosofi KTSP akan dapat diimplementasikan.
       Khusus untuk SMK acuan untuk program produktif mengambil dari SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Dengan demikian sekolah seharusnya boleh mengembangkan KTSP sejauh mengambil SKKNI tersebut. Tetapi dengan adanya ketentuan spektrum SMK dengan standar kompetensi yang harus diambil maka sebenarnya menjadikan ketidakbebasan sekolah untuk mengambil standar kompetensi apa yang akan diajarkan kepada siswa. Untuk ke depan maka KTSP harus dikembalikan kepada filosofi dan semangat semula tentang otonomi pendidikan.   
       Saat ini yang perlu dilatihkan kepada guru di sekolah adalah bagaimana mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan dan dapat mencapai standar kompetensi yang ditentukan dan bagaimana mengembangkan soal/instrumen penilaian yang akurat mengukur pencapaian kompetensi oleh siswa. dari beberapa pelatihan yang penulis lakukan, terlihat kompetensi sebagian guru masih kurang dalam mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dan menyusun soal yang tepat. Untuk mengatasi hal ini sekolah harus terus mendorong guru untuk belajar dengan cara mendatangkan narasumber maupun memanfaatkan guru yang telah memiliki kompetensi mumpuni dalam pengembangan pembelajaran dan penyusunan instrumen penilaian proses dan hasil belajar.
PENGEMBANGAN SILABUS
A.    Pengertian Silabus
Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai "Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran" (Salim, 1987: 98). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai SK dan KD. Seperti diketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan SK yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian SK. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan (1) Apa yang akan diajarkan (SK, KD, dan Materi Pembelajaran); (2) Bagaimana cara  melaksanakan kegiatan pembelajaran, metode, media); (3) Bagaimana dapat diketahui bahwa SK dan KD telah tercapai (indikator dan penilaian). Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengem­bangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual. Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus.
B.    Prinsip Pengembangan Silabus
Untuk memperoleh silabus yang baik, dalam penyusunan silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1.     Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.
2.     Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.  Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran,  strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran. 
3.     Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media,  serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.
4.     Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta  teknik dan  instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini,  pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.
5.     Memadai
Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD.  Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis.
6.     Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena  dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran.  Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.
7.     Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
8.     Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya serta dapat secara optimal melatih kecakapan hidup (life skill).
C.    Unit Waktu Silabus
1. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk setiap mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2. Penyusunan silabus suatu mata pelajaran memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan SK dan KD untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.
D.    Pengembangan Silabus
Pengembangan silabus  dilakukan oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada satu sekolah atau beberapa sekolah pada kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
1. Disusun secara mandiri oleh kelompok guru mata pelajaran sejenis pada setiap sekolah apabila guru-guru di sekolah yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/ madrasah dan lingkungannya.
2. Sekolah/madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah/madrasah lain melalui forum MGMP untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP setempat. Dapat pula mengadaptasi atau mengadopsi contoh model yang dikeluarkan oleh BSNP.
E.     Komponen Silabus
Silabus merupakan salah satu bentuk penjabaran kurikulum. Produk pengembangan kurikulum ini memuat pokok-pokok pikiran yang memberikan          rambu-rambu dalam menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam pembelajaran, yakni (1) kompetensi apa yang hendak dikuasai peserta didik, (2) bagaimana memfasilitasi peserta didik untuk menguasai kompetensi itu, dan (3) bagaimana mengetahui tingkat pencapaian kompetensi oleh peserta didik. Dari sini jelas bahwa silabus memuat pokok-pokok kompetensi dan materi, pokok-pokok strategi pembelajaran dan pokok-pokok penilaian.
Pertanyaan mengenai kompetensi yang hendaknya dikuasai peserta didik dapat terjawab dengan menampilkan secara sistematis, mulai dari SK, KD dan indikator pencapaian kompetensi serta hasil identifikasi materi pembelajaran yang digunakan.  Pertanyaan mengenai bagaimana memfasilitasi peserta didik agar mencapai kompetensi, dijabarkan dengan mengungkapkan strategi, pendekatan dan metode yang akan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran.  Pertanyaan mengenai bagaimana mengetahui ketercaiapan kompetensi dapat dijawab dengan menjabarkan teknik dan instrumen penilaian.  Di samping itu, perlu pila diidentifikasi ketersediaan sumber belajar sebagai pendukung pencapaian kompetensi. 
Berikut disajikan ikhtisar tentang komponen pokok dari silabus yang lazim digunakan:
1. Komponen yang berkaitan dengan kompetensi yang hendak dikuasai, meliputi :
  • a. SK
  • b. KD
  • c. Indikator
  • d. Materi Pembelajaran
2. Komponen yang berkaitan dengan cara menguasai kompetensi, memuat pokok pokok kegiatan dalam pembelajaran.
3. Komponen yang berkaitan dengan cara mengetahui pencapaian kompetensi, mencakup
  • a. Teknik Penilaian : Jenis Penilaian dan Bentuk Penilaian
  • b. Instumen Penilaian
4. Komponen Pendukung, terdiri dari :
  • a. Alokasi waktu
  • b. Sumber belajar.

Tuesday, February 28, 2012

Perubahan


Assalammualaikum…

Perubahan..kata-kata itu yang slalu aku lakukan dengan tiba-tiba. Dulu ketika aku berubah dari wanita yang cuek dan rada tomboy yang kemudian menjadi feminim dengan tiba-tiba, walau keinginan berubah itu sudah ada sebelumnya cuma menunggu waktu terhadap perubahan itu dan aku berubah tidak setengah-setengah dalam melakukan perubahan.

Dan sekarang ini, aku mencoba untuk menjadi muslimah yang benar-benar muslimah, memakai tutup kepala alias Jilbab. Niat itu sudah lama ada tetapi entahlah mungkin menunggu moment ato apa. Tapi Hidayah itu telah datang padaku dan itu Alhamdulillah. Aku sudah merasakan sejak lama mendapatkan tanda-tanda yang mungkin itulah yang menjadi Hidayah ku itu. Pernah suatu ketika aku bermimpi, roh ku dicabut dan aku menangis karena aku belum melakukan banyak hal di Dunia ini, juga belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku, kemudian aku berkata “Jangan cabut dulu roh dari tubuhku ini sebelum aku bisa melakukan banyak hal untuk orang tuaku dan juga untuk orang lain, aku belum banyak berguna untuk orang lain, aku belum melakukan apa yang menjadi kewajibanku sebagai seorang muslimah”.

Dan entahlah semenjak itu aku selalu teringat dengan mimpi itu walau orang bilang mimpi adalah bunga tidur tapi bagi aku itu adalah petunjuk bagi aku untuk segera mungkin untuk memakai Jilbab dan ya sekarang itu sudah aku lakukan, aku memakai Jilbab bukan karena orang yang menyuruhku ato karena fashion tapi karena keinginan ku sendiri. Sekarang aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dan membuat hidupku benar-benar berarti untuk orang banyak, sebelum waktuku itu tiba, Insya Allah..Amin.

Wise Word

Dr.H.Abdul Karim Amrullah:
”Rinduilah Tuhan, melebihi rindumu kepada segala kekasih. Sebab kekasih yang lain akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita. Tetapi Tuhan sebagai kekasih, dialah yang akan kita tuju”

Nabi bersabda:
”Mimpi yang benar merupakan seperempat puluh kenabian”

Kung Fu Tse:
“Yang dicari orang besar ada dalam dirinya sendiri, yang dicari orang kecil ada dalam diri orang lain”

”Anda berjalan seorang diri, mati seorang diri, dan dibangkitkan nanti sebatang kara”

Theodore Roosevelt:
“Faktor terpenting bagi perkembangan watak ialah memutuskan sesuatu dengan tegas”

“Rupaya kalau kita membenci sesuatu, sesuatu itu justru mendatangi kita, kalau kita mengiklaskan segala sesuatu, maka yang terbaiklah yang datang kepada kita”

Kahlil Gibran:
“Benci adalah cinta yang disakiti”

Jack Demsey:
“Saya tak akan hidup lagi dimasa lampau dan saya tidak akan menangisi susu yang tumpah. Saya harus menerima segala pukulan sebagai kenyataan dan harus bisa menanggungnya, tetapi saya tidak mau binasa karenanya”

“Tak ada keputusan tanpa diiringi dengan pengorbanan”

”Langkah hari ini akan menentukan apakah kelak kita jadi ’pemain’ ataukah jadi ’bola’ yang bergulir”

Hakikat Cinta:
”Engkau cintai apa yang dicintai Allah, engkau benci apa yang dibenci Allah, engkau memohon Ridha-Nya, engkau tolak sekalian yang akan merintangi engkau menuju Dia. Jangan takut akan kebencian orang yang yang membenci, jangan mementingkan diri dan melihatnya karena dinding yang sangat tebal untuk melihatNya ialah lantaran melihat diri sendiri”

”Orang yang terbelenggu adalah orang yang dibelenggu oleh hawa nafsunya, dan orang yang tertawan adalah yang ditawan setan iblis”

”Banyak orang yang tidak menyediakan ruang bagi orang lain, karena dirinya dipenuhi oleh dirinya sendiri. Ia sekedar perabot yang tidak bisa ditempati oleh perabot, dan justru hidup untuk merebut ruang bagi dirinya sendiri belaka”

”Memang, mempertahankan apa yang sudah diraih itu lebih susah dari pada usaha untuk meraih sesuatu”

Thursday, February 23, 2012

Standar Kepala Sekolah Yang Dominan Tetapi Tidak Mendominasi

Pemimpin berfungsi menggerakkan orang-orang. Pemimpin  adalah yang menyebabkan organisasi berkembang. Manajer adalah administrator, mengurusi anggaran, memonitor kegiatan yang sedang berproses, dan mengukur hasil yang dicapai.
Manajer adalah orang yang melaksanakan fungsi kerja sama dengan orang-orang, sementara pemimpin menghubungkan antara yang memimpin dengan bawahan sehingga membuat organisasi berkembang dan bersinergi (Michael, Macooby. 2009).
Kepala sekolah adalah pemimpin sekaligus berfungsi sebagai manajer. Ukuran kinerjanya ditentukan oleh tingkat kepiawaiaannya menguasai ilmu pengetahuan dalam memotivasi orang-orang, menggerakan orang-orang untuk mengembangkan dirinya dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Sebagai manajer kepala sekolah mengembangkan perencanaan agar sekolah dapat mewujudkan keunggulan sekoah sehingga dapat beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi sesuai dengan kebutuhan pengembangan mutu sumber daya manusia. Poros utama pekerjaannya adalah memfasilitasi siswa belajar melalui peningkatan efektivitas guru mengajar.
Apakah Kompetensi Kepala Sekolah
Kompetensi adalah kemampuan yang ditunjukkan dengan didasari ilmu pengetahuan, kemampuan, atau keahlian dalam area subyek tertentu yang kriterianya ditetapkan (http://searchcio-midmarket.techtarget.com.)  Kepala sekolah harus menunjukkan kemampuan memimpin dan mengelola sekolah,  menjadi orang paling menentukan  keunggalan sekolah. Hasil studi mengenai efektivitas sekolah menyatakan bahwa penentu utama kemajuan sekolah adalah kepala sekolah. Jika sekolah itu gagal, maka itu adalah kegagalan kepala sekolah. Namun demikian, kepala sekolah yang efektif selalu karena adannya dukungan staf yang efektif pula.
Masalah Dalam Menerapkan Standar Kompetensi
Dalam menerapan standar nasional pendidikan, salah satu komponen yang perlu ditetapkan standarnya adalah kepala sekolah sebagai bagian dari tenaga kependidikan. Bagaimana kepala sekolah menerapkan standar dalam mengembangkan kompetensi kepemimpinannya pada tingkat satuan pendidikan? Karena kepala sekolah sebagai pimpinan, maka ia harus berperan untuk menetapkan standar pada dirinya sendiri dengan menggunakan rujukan standar nasional pendidikan atau menetapkan standar yang lebih tinggi dari itu.
Standar Kompetensi Kepala Sekolah
Kompetensi  minimal yang  wajib kepala sekolah miliki menurut Permendiknas Nomor 13  tahun  2007 terhimpun pada dalam lima kompetensi (1)  kepribadian, (2)  manajerial, inovatif,   bekerja keras, dan (3) kewirausahaan, (4) supervisi dalam rangka meningkatkan mutu profesi pendidik, dan memiliki kompetensi (5) sosial.
Kepribadian berindikator berakhlak mulia, menjadi teladan, berkepribadian  sebagai pemimpin, memiki keinginan kuat mengembangkan diri, terbuka, mengendalikan diri dalam menghadapi masalah, dan memiliki bakat sebagai pemimpin pendidikan.
Kepala sekolah memiliki kecakapan manajerial memiliki  berbagai indikator cakap membuat  rencana, mengembangkan sekolah sesuai kebutuhan, memanfaatkan sumber daya secara optimal, mengelola perubahan untuk mendukung pembelajaran efektif, mengembangkan sekolah yang kondusif dan inovatif, memanfaatkan sumber daya manusia dan sarana secara optimal, membangun hubungan , mengelola peserta didik, mengembangkan kurikulum yang akuntabel, transparan, dan efisien, mengelola sistem informasi dengan manfaatkan teknologi, melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan.
Kepala sekolah menciptakan inovasi dan bekerja keras sebagai kompetensi kewirausahaan. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses, mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala, Dan, memiliki naluri kewirausahaan dalam mengembangkan kegiatan produksi atau jasa.
Kepala sekolah berkompeten dalam melaksanakan supervisi akademik dan manajerial. Menggunakan  teknik dan pendekatan yang tepat dalam rangka meningkatkan mutu profesi pendidik.
Memiliki kompetensi sosial meliputi mampu bekerja sama, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan memiliki kepekaan terahdap orang atau kelompok lain.
Indikator  Kepemimpinan Kepala Sekolah Efektif
David Conley dan  Paul Goldman (1994) sebagaimana dikutif Lasway (1995)  bahwa kepala sekolah yang efektif adalah yang berperan sebagai pemimpin fasilitif. Yang mengembangkan kecakapan kolektif dalam meningkatkan daya adaptasi sekolah, memecahkan masalah, dan meningkatkan kinerja.  Kata kuncinya ada pada kata memeranakan kepemimpinan kolektif dan berperan sebagai teladan pada seluruh level kegiatan. Conley and Goldman mengingatkan bahwa kepala sekolah harus berkomunikasi dengan jelas, penuh perhatian, dan berhati-hati dalam menetapkan target kinerja.
Stephen R. Covey dalam The Seven Habits of Highly Effective People (1989)  mengingatkan kita agar  memulai dengan akhir sesuatu dengan pengertian dan tujuan  yang jelas. Ini berarti mengetahui hendak ke mana, lebih memahami di mana berada. Kepala sekolah perlu mengidentifikasi  tujuan dan sasaran dan menentukan strategi yang tepat agar sumber daya manusia, sarana, dana, dan waktu dapat digunakan secara efektif dan efisien.
Hasil identifikasi Colleen Seremet (2007) Departemen Pendidikan Maryland, USA, terdapat 5 keterampilan kepala sekolah yang menentukan keberhasilan memfasilitasi siswa berprestasi, yaitu:
  • Meningkatkan kerja sama dalam  pemecahan masalah dan berkomunikasi secara terbuka.
  • Mengumpulkan, menganalisis, dan menggunakan data dalam mengidentifikasi kebutuhan sekolah
  • Menggunakan data untuk mengidentifikasi dan merencanakan perubahan yang dibutuhkan dalam pengembangan program peningkatan mutu pengajaran
  • Melaksanakan dan memantau rencana perbaikan sekolah
  • Berpikir sistematis dalam menetapkan fokus yang jelas untuk meraih prestasi siswa sebagai tujuan sekolah.
Keberhasilan menerapkan keterampilannya perlu didukung dengan keyakinan yang mendasari  pikirannya harus memiliki sejumlah keyakinan yang menguatkan komitmen untuk  melaksanakan tugas dengan baik. Pada prinsipnya kepala sekolah yakin bahwa:
  • Siswa belajar adalah tujuan fundamental sekolah.
  • Seluruh siswa dapat meraih prestasi belajar dengan standar yang tinggi.
  • Pemecahaan masalah efektif jika berkolaborasi dengan seluruh staf dan pemangku kepentingan lainnya.
  • Mengoleksi dan menganalisis data secara berkesinambungan.
  • Pengambilan kuputusan berbasis data
  • Belajar seumur hidup adalah prinsip untuk dirinya sendiri maupun bagi yang lain.
  • Fokus dan memastikan seluruh tindakan mengarah pada pencapaian tujuan.
  • Menetapkan mutu sumber daya manusia dan mutu kinerja sekolah pada level dengan kriteria yang tinggi.
Berbekal keyakinan saja tidak cukup. Kepala sekolah memerlukan pengetahuan. Maryland menetapkan pengetahuan minimal yang kepala sekolah kuasai adalah ;
  • Hubungan antara penilaian siswa untuk meningkatkan mutu hasil belajar dengan peningkatan mutu mengajar.
  • Sumber informasi, pengumpulan data, dan analisis data strategis
  • Perbaikan proses perencanaan sekolah.
  • Standar isi, inti tujuan pembelajaran, dan hasil pelajar
  • Panduan pengembangan kurikulum
  • Evaluasi dan strageti penilaian.
  • Strategi memonitor pendidik dalam meningkatan pemahaman dan kemajuan belajar siswa.
  • Melakukan penelitian berbasis praktik pelaksanaan tugas terbaik.
  • Prinsip-prinsip  Dimensi Belajar, Konstruktivisme, dan Multiple Kecerdasan
  • Kolaborasi memecahkan masalah dan membangun konsensus
  • Memahari standar bangunan
  • Menguasai penerapan sistem berpikir
  • Memahami proses perubahan sistem, organisasi, dan individu.
  • Strategi berkomunikasi dengan efektif
  • Menguasai teknologi sebagai alat mengorganisir dan menganalisis data dalam memantau kemajuan atau kinerja.
Indikator Kinerja Kepemimpinan Kepala Sekolah
Merujuk pada sejumlah keterampilan sebagaimana dikemukakan oleh  Colleen Seremet maupun Lasway, maka terdapat sejumlah indikator mutu kepala sekolah
Kinerja 1: Meningkatkan kerja sama dalam  pemecahan masalah dan berkomunikasi secara terbuka
  • Mengembangkan kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan perbaikan sekolah.
  • Mengkomunikasikan data prestasi siswa kepada seluruh pemangku kepentingan.
  • Menyediakan waktu untuk memecahkan masalah secara kolaboratif.
  • Menunjukkan proses kerja sama kelompok yang efektif
  • Menunjukkan keterampilan membangun konsensus dalam upaya perbaikan sekolah
  • Mengkomunikasikan visi, misi, dan tujuan sekolah secara berkelanjutan kepada seluruh pemangku kepentingan.
  • Menghargai dan merayakan kontribusi dari warga sekolah pada peningkatan mutu perbaikan sekolah.
  • Memelihara dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
  • Mengevaluasi keterampilan kolaboratif dengan staf dan mendukung kebutuhdasar pengembangan staf.
Kinerja 2: Mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan data dalam mengidentifikasi kebutuhan sekolah
Dalam proses mengumpulkan, menganalisis  dan menggunakan data untuk memberi instruksi atau menetapkan keputusan. Kepala sekolah memerlukan  masukan dari konstituen utama (guru, administrator, orangtua, dan siswa) untuk memastikan bahwa semua persepsi dan sikap terwakili dalam proses ini.
Indikator kinerja utama yang menunjukkan kepemimpinan yang efektif dalam hal ini ialah; Kepala sekolah …
  • memastikan bahwa data yang dikumpulkan berguna untuk menilai kinerja belajar siswa.
  • melibatkan seluruh staf dalam menganalisis data prestasi siswa.
  • mengidentifikasi proses  dan hasil yang diinginkan.
  • melibatkan staf dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan dan memperjelas masalah.
  • memfasilitasi identifikasi prioritas kebutuhan berdasarkan hasil analisis data.
  • menggunakan model penetapan  keputusan berbasis data.
  • meminta staf mengindentifikasi data yang aka digunakan dalam pengembilan keputusan.
  • mengevaluasi perkembangan kompetensi guru.
  • mengembangkan staf.
  • menggunakan teknologi dalam mengelola dan menganalisis data.
Kinerja 3: Menggunakan data untuk mengidentifikasi dan merencanakan perubahan yang dibutuhkan dalam pengembangan program peningkatan mutu pengajaran.
Pada ranah ini terdapat indikator kinerja utama yang menunjukkan kepemimpinan yang efektif, yaitu kepala sekolah;
  • memastikan bahwa rencana perbaikan sekolah didasarkan pada analisis data dan klarifikasi masalah.
  • memfasilitasi pengembangan rencana perbaikan dengan tujuan, bukti pencapaian, dan strategi yang jelas.
  • mengidentifikasi dengan staf pengetahuan dan keterampilan yang pendidik yang diperlukan untuk peningatan dan berbaikan mutu pengajaran.
  • memastikan bahwa rencana perbaikan sekolah berdasarkan hasil identifikasi sehingga kepala sekolah menetapkan strategi sebagai tonggak meraih kemajuan menuju sasaran
  • mengembangkan staf untuk mendukung kebutuhan mewujudkan tujuan setiap langkah pelaksanaan.
  • memastikan pengawasan kurikulum, pengajaran, penilaian  terstruktur secara sistematis.
  • memberikan kesempatan kepada staf untuk belajar memperbaiki strategi berbasis penelitian
  • memberikan kesempatan kepada menerapkan strategi  berbasis data.
Kinerja 4: Melaksanakan dan memantau  rencana perbaikan sekolah

Indikator kinerja utama yang menunjukkan kepemimpinan yang efektif, kepala sekolah;
  • memfasilitasi pengembangan kalender pendidikan sebagai basis pengaturan waktu dan perbaikan sekolah sehingga dapat memastikan kalender pendidikan dapat ditinjau ulang secara berkala.
  • mengevaluasi secara teratur untuk mempelajari dampak dari proses terhadap perbaikan prestasi siswa.
  • memonitor sistematis pengumpulan dan analisis data oleh staf untuk menilai apakah kemajuan yang terwujud sesuai dengan tujuan yaitu member peluang belajar kepada seluruh siswa.
  • mengumpulkan dan menggunakan data sebagai  bahan pengambilan keputusan perbaikan mutu pembelajaran sehingga dapat mengintervensi perubahan bidang akademik untuk individu dan kelompok siswa secara berkelanjutan.
  • menggunakan berbagai alat termasuk teknologi untuk memantau pencapaian program.
  • mengenali indikator kunci keberhasilan
  • memfasilitasi penggunaan data untuk terus mengevaluasi dan merevisi rencana perbaikan sekolah
  • memanfaatkan seluruh  sumber daya keuangan, manusia, waktu, sarana, dan peluang pengembangan staf untuk perbaikan mutu sekolah.
  • mengelola waktu secara efektif dengan sistem penjadwalan untuk kegiatan rapat staf, evaluasi penggunaan waktu, melakukan pelatihan dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan perbaikan sekolah.
  • mendukung staf dalam membuat melaksanakan perbaikan pembelajaran yang dalam mendukung upaya perbaikan sekolah
Kinerja 5: Menggunakan sistem pemikiran untuk menetapkan fokus yang jelas pada prestasi siswa mencapai tujuan

Sekolah yang efektif memiliki skala prioritas sehingga dapat mengelola kalender pendidikan, mengevaluasi,  dan melakukan perbaikan dalam penggunaan waktu. Indikator kinerja utama yang menunjukkan kepemimpinan yang efektif, kepala sekolah dapat….
  • mengelola sumber daya untuk mendukung program prioritas perbaikan sekolah.
  • mengelola  sumber daya untuk meningkatkan perbaikan kinerja sekolah, pengelolaan kelas, dan siswa belajar.
  • mengidentifikasi proses kunci utama yang mempengaruhi mutu produk belajar siswa.
  • mengidentifikasi tolok ukur kinerja dan indikator yang menghubungkan proses instruksional kunci untuk tujuan-tujuan pembelajaran.
  • berkomunikasi dengan para pengambil keputusan di luar sekolah
  • memastikan bahwa tujuan sekolah diselaraskan ke sekolah tujuan distrik
  • membantu menginformasikan perencanaan kabupaten/kota dengan mengidentifikasi kebutuhan sekolah
Evaluasi Efektivitas Kinerja Kepala Sekolah

Banyaknya indikator kinerja memerlukan sistem pemantauan mutu, masalah selanjutnya adalah apa yang sebaiknya menjadi prioritas dalam evaluasi kinerja. Leithwood merekomendasikan agar evaluasi kinerja kepala sekolah meliputi (1) perencanaan (merumuskann  prosedur, kebijakan, dan tujuan); (2) bagaimana kepala sekolah menghimpun data dan menggunakan data (3) melaksanakan kegiatan dan  tindak lanjut dari hasil analisis umpan balik untuk melakukan perbaikan pada rencana berikutnya.
William Harrison dan Kent Peterson (1986) seperti yang dikemukan oleh David Peterson (1981) memperoleh data bahwa hanya 58% kepala sekolah yang yakin bahwa mereka telah menetapkan target kinerja sebelum evaluasi dilaksanakan pada tiap tahun.
David Peterson juga mengutip catatan hasil penelitian Ronald Lindahl (1986) yang mendapatkan data bahwa sesungguhnya pada kepala sekolah yang memiliki reputasi yang baik dalam melaksanakan tugasnya resisten atau kurang suka terhadap evaluasi terhadap kinerjanya, mereka khawatir proses evaluasi akan menurunkan reputasi yang telah diraihnya.
Hasil studi tersebut  menunjukkan bahwa tidak banyak kepala sekolah yang mentapkan  target mutu sekali pun mereka memahami bahwa hal tersebut penting. Mereka juga kurang suka dievaluasi karena khawatir mendapatkan nilai hasil evaluasi yang kurang baik. Kepala sekolah yang  telah menyandang reputasi baik, pada dasarnya tidak suka dievaluasi.
Kesimpulan
Kepala sekolah yang efektif sekurang-kurangnya memiliki 5 kompetensi utama. Kesempurnaanya ditentukan oleh tingkat penguasaan ilmu dan keterampilan untuk mempraktekan dalam pelaksanaan tugas di sekolah. Menerapkan keterampilannya dalam merumuskan  tujuan, mendefiniskan peningkatan mutu, dan  menetapkan indikator dan kriteria kinerjanya. Keterampilan utama dalam menerapkan standar yang harus kepala sekolah kuasai adalah mengevaluasi proses pelaksanaan tugas dan hasil yang dicapainya. Hasil evaluasi itu diolah dan direflesikan dalam bentuk data. Dengan data kepala sekolah dapat memastikan seberapa tingkat kesesuaian antara yang dapat ia wujudkan dengan kriteria standar yang ditetapkannya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa  kepala sekolah tidak selalu siap memenuhi kriteria mutu yang ditetapkan dalam standar dan  tidak menyukai dievaluasi.
Kondisi nyata itu memberi pelajaran bahwa kendala utama dalam menerapkan standar kepala sekolah adalah sebagian kepala sekolah tidak mempersiapkan dirinya memenuhi standar. Pengalaman menyatakan bahwa sebagian kepala sekolah tidak begitu suka dievaluasi apalagi harus mengevaluasi dirinya sendiri.
Hambatan psikologis ini sesungguhnya menjadi kendala yang umum dalam  upaya meningkatkan mutu kinerja melalui penerapan standar.
Referensi:
Collin Seremet, 2009, Indicator For Effective Principal Leadership In Improving Student Achievement, http://mdk12.org/process/leading/p_indicators.html
Lashway, Larry , 1995. What is Facilitative Leadership? http://www.ericdigests.org/1996-1/leadership.htm
Leithwood, Kenneth; Paul T. Begley; and J. Bradley Cousins. 1994. Developing Expert Leadership for Future Schools. London: Falmer Press.
Michael Maccoby, 2009. http://maccoby. com/Articles/UtdbMal.shtml, 2009)
Peterson, David, 1991. http://www.ericdigests.org/pre-9219/principals.htm
Stephen R. Covey, 1989. The 7 Habits Of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change, Franklin Covey. Co

Tuesday, February 21, 2012

Keterampilan Menyimak


Menyimak selalu digunakan dalam kehidupan manusia karena manusia selalu dituntut untuk menyimak, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam keluarga, manusia selalu dituntut untuk menyimak. Pemerolehan bahasa seorang anak juga berawal dari menyimak ujaran di lingkungan keluarga.
Peran penting penguasaan keterampilan menyimak sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan guru. Keberhasilan siswa dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan menyimak yang baik. Berdasarkan hal–hal tersebut keterampilan menyimak perlu dikuasai secara baik.
1)      Pengertian Menyimak         
            Menyimak merupakan suatu keterampilan berbahasa yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia sehari-hari, baik di lingkungan formal maupun informal. Dengan bahasa orang dapat melakukan komunikasi dengan orang lain tentang berbagai hal yang kita temukan dalam kehidupan dengan orang lain tentang berbagai hal yang kita temukan dalam kehidupan.
            Pengertian menyimak menurut Tarigan (1987:28) adalah sebagai berikut.
Menyimak adalah proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Pengertian menyimak menurut Akhadiah (dalam Sutari, 1998:19) ialah “suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya”. Menyimak mempunyai arti yang sama dengan mendengarkan. Mendengarkan menurut Subyantoro dan Hartono (2003:1-2) adalah memberikan pengertian bahwa “mendengarkan adalah kegiatan mendengar yang dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian terhadap apa yang didengar”. Dari beberapa pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan menyimak adalah proses kegiatan menangkap, memahami makna lisan, sehingga dapat merespon dengan baik.
2)      Menyimak Sebagai Suatu Aspek Keterampilan Berbahasa
            Menyimak merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa itu sendiri mencakup empat aspek, yaitu:
1)      Keterampilan menyimak (listening skills)
2)      Ketrampilan berbicara (speaking skills)
3)      Keterampilan membaca (reading skills)
4)      Keterampilan menulis (writing skills)
Menurut Dawson (dalam Tarigan, 1987:20), "Keempat keterampilan berbahasa pada dasarnya merupakan satu kesatuan atau merupakan catur tunggal".
3)      Tujuan Menyimak
            Meyimak mempuyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tarigan (1994:56) menyebutkan, “tujuan umum menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan”.
Tujuan khusus menyimak oleh Tarigan (1994:56) mengemukakan sebagai berikut: 1) menyimak untuk belajar; 2) menyimak untuk memperoleh keindahan audial; 3) menyimak untuk mengevaluasi; 4) menyimak untuk mengapresiasi simakan; 5) menyimak untuk mengkomunikasikan ide-idenya sendiri; 6) menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi; 7) menyimak untuk memecahkan masalah secara secara kreatif dan analisis; 8) menyimak untuk meyakinkan.
Berikut ini penulis mendeskripsikan tujuan-tujuan menyimak sebagaimana telah dikemukana sebelumnya.
1)      Ada orang yang menyimak dengan tujuan utama agar dia dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara; dengan perkataan lain, disebut menyimak untuk belajar.
2)      Ada orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan atau dipagelarkan (terutama sekali dalam bidang seni); disebut menyimak untuk menikmati keindahan audial.
3)      Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai apa-apa yang dia simak itu (baik-buruknya); disebut menyimak untuk mengevaluasi.
4)      Ada orang yang menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu (misalnya: pembacaan cerita, pembecaan puisi, diskusi, panel); disebut menyimak untuk mengapresiasi simakan.
5)      Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan kepada orang lain dengan lancar dan tepat; disebut menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide.
6)      Ada pula orang yang menyimak dengan maksud dan tujuan agar dia dapat membedakan bunyi-bunyi denga tepat. Mana bunyi yang membedakan arti,  mana bunyi yang tidak membedakan arti; biasanya ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicaraan asli; disebut menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi.
7)      Ada lagi orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analis, sebab dari sang pembicara dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga; disebut menyimak untuk memecahkan masalah.
8)       Ada orang yang tekun menyimak sang pembicara untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini dia ragukan; disebut menyimak untuk meyakinkan.  
Berdasarkan tujuan-tujuan menyimak tersebut, maka menyimak yang dilaksanakan dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dari materi yang diperdengarkan. Selain itu, bertujuan untuk mengkomunikasikan ide-idenya sendiri.
4)      Proses Menyimak
Keterampilan menyimak tidak hanya bersifat menerima saja, tetapi juga menyeleksi, mengevaluasi, merespon bahan simakan. Loban (dalam Tarigan, 1987:59) membagi proses menyimak ke dalam lima tahap yaitu: 1) tahap mendengar; 2) tahap memahami; 3) tahap menginterpretasi; 4) tahap mengevaluasi; 5) tahap menanggapi.
Berikut ini penulis mendeskripsikan proses menyimak sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.
1)      Tahap mendengar (hearing). Dalam tahap ini penyimak baru menangkap gelombang bunyi yang tanpa makna.
2)      Tahap memahami (understanding). Pada tahap ini penyimak sudah mampu memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara.
3)      Tahap menginterpretasi (interpretating). Dalam tahap ini penyimak tidak berkutat pada tataran mendengar dan memahami saja, akan tetapi mulai menginterpretasikan makna yang tersurat maupun yang tersirat.
4)      Tahap mengevaluasi (evaluating). Pada tahap ini penyimak mulai melakukan penilaian terhadap pesan yang di sampaikan oleh pembicara.
5)      Tahap menanggapi (responding). Pada tahap ini penyimak menerima gagasan yang disampaikan pembicara melalui proses menyerap, dan menerima gagasan atau ide yang disampaikan oleh pembicara.
6)      Ragam Menyimak
Tujuan menyimak adalah untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang hendak disampaikan sang pembicara melalui ujaran. Inilah yang merupakan tujuan umum. Di samping tujuan umum, terdapat pula berbagai tujuan khusus, yang menyebabkan adanya aneka ragam menyimak. Seperti yang diutarakan oleh Tarigan (1994:35-46 ) adalah sebagai berikut.
Ø  Menyimak Ekstensif
Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu dibawah bimbingan langsung dari seorang guru. Jenis-jenis menyimak ekstensif yaitu: 1) menyimak sosial (social listening);  2) menyimak sekunder (secondary listening); 3) menyimak estetik (aesthetik listening); 4) menyimak pasif  (Tarigan, 1994:35).
Berikut ini penjelasan masing-masing jenis menyimak ekstensif sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.
1)      Menyimak sosial (social listening) biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang.
2)      Menyimak sekunder (secondary listening) adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening).
3)      Menyimak estetik (aesthetik listening) ataupun yang disebut menyimak apresiatif (appreciation listening) adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif.
4)      Menyimak pasif adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan kurang teliti.
Ø  Menyimak Intensif
Jika menyimak ekstensif lebih diarahkan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu dibawah bimbingan langsung para guru, maka menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Jenis-jenis menyimak intensif menurut Tarigan (1994:40) yaitu: 1) menyimak kritis (critikal listening); 2) menyimak konsentratif (concebtrative listening); 3) menyimak kreatif (creative listening); 4) menyimak eksploratif; 5)  menyimak interogatif (interrogative listening).
Berikut ini penjelasan masing-masing jenis menyimak intensif sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.
1)      Menyimak kritis adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupa untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara, dengan alasan-alasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat.
2)      Menyimak konsentratif adalah sejenis menyimak telaah.
3)      Menyimak kreatif adalah sejenis kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan.
4)      Menyimak eksploratif, adalah menyimak yang bersifat menyelidiki adalah sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit.
5)      Menyimak interogatif adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara, karena sang penyimak akan mengajukan sebanyak pertanyaan.
Ragam menyimak diklasifikasikan berdasarkan berbagai faktor. Dalam penelitian ini ragam menyimak yang diterapkan adalah: a) berdasarkan sumber suara yang disimak maka menyimak berita yang dilakukan termasuk menyimak antar pribadi; b) berdasarkan taraf aktivitas menyimak maka termasuk menyimak aktif; c) berdasarkan taraf hasil simakan termasuk menyimak kreatif dan berdasarkan tujuan menyimak termasuk menyimak informatif (Tarigan, 1994: 46).