Friday, March 19, 2021

MATERI BAHASA INDONESIA TENTANG KALIMAT EFEKTIF

Kalimat efektif adalah kalimat yang tersusun sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku dan memperhatikan penempatan tanda baca serta pemilihan kata yang tidak memiliki maksud yang rancu atau berbelit-belit.

Kalimat efektif termasuk dalam kalimat yang baik karena pembaca dapat memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis dengan jelas tanpa menimbulkan salah paham.

Kejelasan informasi menjadi tolak ukur sebuah kalimat efektif. Selain itu, pemilihan kata juga menentukan kalimat dapat tergolong sebagai kalimat efektif.

Kalimat efektif tidak menggunakan kata-kata yang tidak perlu agar tidak menimbulkan salah presepsi.

Ciri-ciri Kalimat Efektif

Kalimat yang tergolong sebagai kalimat efektif memiliki ciri-ciri khusus yaitu:

  • Menggunakan diksi atau pemilihan kata yang tepat.
  • Memiliki unsur utama sebuah kalimat (subjek dan predikat).
  • Menggunakan kaidah penulisan sesuai dengan EYD atau ejaan yang disempurnakan.
  • Memiliki penekanan gagasan pokok kalimat.
  • Tidak menggunakan kata-kata yang mubazir.
  • Memiliki bentuk bahasa yang konsisten.
  • Menggunakan variasi dalam struktur kalimat.
  • Memiliki kesetaraan antara struktur bahasa dengan gagasan penulis yang logis dan sistematis.
  • Bersifat kohern.
  • Memiliki kalimat yang paralel.
contoh kalimat efektif

Syarat Kalimat Efektif

Penyusunan kalimat harus memenuhi enam syarat Kesatuan, Kehematan, Keparalelan, Kelogisan, Kepaduan dan Ketepatan agar kalimat tersebut dapat tergolong sebagai kalimat efektif.

1. Kesatuan

Informasi yang disampaikan oleh sebuah kalimat harus memenuhi unsur penulisan yang utuh sehingga terbentuk sebuah kalimat yang padu antara satu dengan yang lain. Syarat kesatuan memiliki aspek diantara lain :

1. Memiliki subjek dan predikat yang jelas.


Kemarin Shopia pergi ke mall. (Benar)
Kemarin Shopia di mall. (Salah)

2. Tidak memiliki subjek ganda.

Saat mengecat tembok, Agung dibantu oleh Raihan. (Benar)
Pengecetan tembok itu Agung dibantu oleh Raihan. (Salah)

3. Tidak memiliki penghubung kata intrakalimat pada kalimat tunggal.

Kemarin dia tidak masuk kelas. Oleh karena itu dia tidak mengumpulkan tugas. (Benar)
Kemarin dia tidak masuk kelas oleh karena itu dia tidak mengumpulkan tugas. (Salah)

4. Predikat tidak didahului dengan kata “yang”.

Rendi lahir pada tahun 1999. (Benar)
Rendi yang lahir pada tahun 1999. (Salah)

2. Kehematan

Syarat kehematan suatu kalimat efektif memiliki arti bahwa kalimat tidak boleh menggunakan pemborosan kata atau kata yang diulang-ulang.

Meski demikian, kalimat tersebut harus mewakilkan maksud secara utuh sehingga gagasan penulis dapat tersampaikan oleh pembaca.

Rapat itu dihadiri oleh beberapa anggota. (Benar)
Rapat itu dihadiri oleh beberapa dari banyak anggota saja. (Salah)

3. Keparalelan

Kalimat yang memiliki imbuhan pada predikat lebih dari satu harus memiliki jenis imbuhan yang sesuai antara satu dengan yang lainnya.

Seorang siswa harus belajar dan berlatih. (Benar)
Seorang siswa harus mempelajari dan berlatih. (Salah)

4. Kelogisan

Kata-kata dalam sebuah kalimat harus memiliki makna yang logis sehingga gagasan penulis dapat diterima oleh nalar pembaca.

Agar tidak terlalu lama. (benar)
Agar tidak banyak memakan waktu. (salah)

5. Kepaduan

Kalimat yang tersusun memiliki kata yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kepaduan kalimat menjadikan pembaca tidak menyalahartikan informasi dari penulis.

Syihab membeli dua buah roti untuk adiknya. (Benar)
Syihab membeli dua buah roti adiknya. (Salah)

6. Ketepatan

Seorang penulis harus memperhatikan pemilihan kata yang tepat untuk menyampaikan gagasannya kepada orang lain.

Rani melupakan nama orang itu. (Benar)
Rani lupa dengan nama orang itu. (Salah)

Contoh Kalimat Efektif dan Tidak Efektif

Berikut ini contoh-contoh dari kalimat efektif dan tidak efektif

  • Diana anak tercantik di keluarganya (kalimat efektif)
    • Diana anak paling tercantik di keluarganya (kalimat tidak efektif)
  • Semut adalah serangga berkaki enam. (kalimat efektif)
    • Semut adalah merupakan serangga berkaki enam. (kalimat tidak efektif)
  • Nezha belajar untuk ujian. (kalimat efektif)
    • Nezha belajar demi untuk ujian. (kalimat tidak efektif)
  • Upacara tersebut dihadiri oleh semua siswa. (kalimat efektif)
    • Upacara tersebut dihadiri oleh semua siswa-siswa. (kalimat tidak efektif)
  • Warga dusun karang ijo saling membantu mengatasi bencana. (kalimat efektif)
    • Warga dusun karang ijo saling bantu-membantu mengatasi bencana. (kalimat tidak efektif)
  • Anak-anak perlu berhati-hati jika melewati sungai. (kalimat efektif)
    • Anak-anak perlu hati-hati jika melewati sungai. (kalimat tidak efektif)
  • Seluruh siswa SMA 3 Karangrejo diliburkan. (kalimat efektif)
    • Baik siswa kelas 1, kelas 2 maupun kelas 3 SMA 3 Karangrejo diliburkan. (kalimat tidak efektif)
  • Karena harga bbm naik, pengendara motor memilih naik angkot. (kalimat efektif)
    • Karena harga bbm naik maka pengendara motor memilih naik angkot. (kalimat tidak efektif)
  • Baik mahasiswa baru atau mahasiswa lama dikenakan peraturan yang sama. (kalimat tidak efektif)
    • Seluruh mahasiswa dikenakan peraturan yang sama. (kalimat efektif)
  • Karena harga terus melambung tinggi maka rakyat menderita kelaparan. (kalimat tidak efektif)
    • Karena harga terus melambung tinggi, rakyat menderita kelaparan. (kalimat efektif)
  • Menurut Kunjana menyatakan bahwa konteks di dalam linguistik tidak dapat disamakan dengan konteks dalam pragmatik (2009). (kalimat tidak efektif)
    • Kunjana  (2009) menyatakan bahwa konteks di dalam linguistik tidak dapat disamakan dengan konteks dalam pragmatik. (kalimat efektif)
    • Menurut Kunjana, konteks di dalam linguistik tidak dapat disamakan dengan konteks dalam pragmatik (2009). (kalimat efektif)
  • Dengan penelitian ini akan memberikan banyak manfaat bagi warga. (kalimat tidak efektif)
    • Penelitian ini akan memberi banyak manfaat bagi warga. (kalimat efektif)
  • Adalah merupakan tugas peneliti untuk menganalisis dan menyajikan hasil analisis data. (kalimat tidak efektif)
    • Tugas peneliti adalah menganalisis dan menyajikan hasil analisis data. (kalimat efektif)
  • Berbagai kendala penelitian harus dapat diselesaikan oleh kita. (kalimat tidak efektif)
    • Kita harus menyelesaikan berbagai kendala penelitian. (kalimat efektif)
  • Setiap hari Jum’at selalu berpramuka. (kalimat tidak efektif)
    • Setiap hari Jum’at anak-anak selalu berpramuka. (kalimat efektif)
  • Sesampainya di rumah nenek langsung berkebun dengan kakek. (kalimat tidak efektif)
    • Sesampainya di rumah nenek, Riko langsung berkebun dengan kakek. (kalimat efektif)
  • Pada siang ini merupakan siang yang cerah. (kalimat tidak efektif)
    • Siang ini merupakan siang yang cerah. (kalimat efektif)
  • Dalam rapat itu membahas cara memajukan pariwisata daerah. (kalimat tidak efektif)
    • Rapat itu membahas cara memajukan pariwisata daerah. (kalimat efektif)
  • Pada bulan itu bertepatan dengan bulan bahasa. (kalimat tidak efektif)
    • Bulan itu bertepatan dengan bulan bahasa. (kalimat efektif)
  • Pada hari Jum’at apel kepramukaan yang diikuti oleh seluruh siswa SMP Mandala mulai dari kelas VII sampai kelas IX. (kalimat tidak efektif)
    • Pada hari Jum’at apel kepramukaan diikuti oleh seluruh siswa SMP Mandala mulai dari kelas VII sampai kelas IX. (kalimat efektif)
  • Saat itu malam yang penuh bintang. (kalimat tidak efektif)
    • Saat itu malam penuh bintang. (kalimat efektif)
  • Yang menjadi sebab banjir adalah pembuangan sampah di hilir sungai. (kalimat tidak efektif)
    • Penyebab banjir adalah pembuangan sampah di hilir sungai. (kalimat efektif)
  • Kami membedah tentang buku itu. (kalimat tidak efektif)
    • Kami membedah buku itu. (kalimat efektif)
  • Mereka menyetujui daripada keputusan itu. (kalimat tidak efektif)
    • Mereka menyetujui keputusan itu. (kalimat efektif)
  • Film itu saya sudah tonton. (kalimat tidak efektif)
    • Film itu sudah saya tonton. (kalimat efektif)
  • Soal itu kita harus pecahkan. (kalimat tidak efektif)
    • Soal itu harus kita pecahkan. (kalimat efektif)
  • Dia bukan guru, tetapi pelayan. (kalimat tidak efektif)
    • Dia bukan guru, melainkan pelayan. (kalimat efektif)
  • Mereka tidak menggambar, melainkan melukis. (kalimat tidak efektif)
    • Mereka tidak menggambar, tetapi melukis. (kalimat efektif)
  • Sungai itu akan diperlebarkan. (kalimat tidak efektif)
    • Sungai itu akan diperlebar. (kalimat efektif)
    • Sungai itu akan dilebarkan. (kalimat efektif)
  • Dalam seminar itu membicarakan tentang pentingnya generasi bermoralitas tinggi. (kalimat tidak efektif)
    • Dalam seminar itu dibicarakan pentingnya generasi bermoralitas tinggi. (kalimat efektif)
    • Seminar itu membicarakan pentingnya generasi bermoralitas tinggi. (kalimat efektif)
    • Seminar itu berbicara tentang pentingnya generasi bermoralitas tinggi. (kalimat efektif)
  • Kepada pembicara disilakan. (kalimat tidak efektif)
    • Pembicara disilakan. (kalimat efektif)
  • Kepada pembicara waktu dan tempat dipersilakan. (kalimat tidak efektif)
    • Kepada pembicara waktu dan tempat disediakan. (kalimat efektif)
  • Mereka lari di halaman belakang sekolahan. (kalimat tidak efektif)
    • Mereka berlari di halaman belakang sekolahan. (kalimat efektif)
  • Meskipun demam, Anas tetap pergi kuliah. (kalimat tidak efektif)
    • Anas demam, namun tetap pergi kuliah. (kalimat efektif)
  • Walaupun lelah sekali, Ana tetap ikut bakti sosial. (kalimat tidak efektif)
    • Ana lelah sekali, tetapi tetap ikut bakti sosial. (kalimat efektif)
  • Jika bekerja dengan keras, kamu pasti berhasil. (kalimat tidak efektif)
    • Kamu bekerja dengan keras, maka kamu pasti berhasil. (kalimat efektif)
  • Karena kakaknya sakit, ia pergi ke rumah sakit. (kalimat tidak efektif)
    • Kakaknya sakit, maka ia pergi ke rumah sakit. (kalimat efektif)
  • Setelah memasak, ibu mencuci baju. (kalimat tidak efektif)
    • Ibu memasak, kemudian mencuci baju. (kalimat efektif)
  • Bunga ini merupakan bunga favoritnya. (kalimat tidak efektif)
    • Bunga ini adalah bunga favoritnya. (kalimat efektif)
  • Mereka bekerja demi mencukupi kebutuhan hidupnya. (kalimat tidak efektif)
    • Mereka bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. (kalimat efektif)

 

Friday, March 12, 2021

Taksonomi Bloom

Taksonomi untuk tujuan pendidikan adalah kategorisasi tujuan pendidikan yang digunakan untuk merumuskan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran.

Taksonomi Bloom merujuk kepada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali dirancang oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Menurut Bloom, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain dan setiap ranah atau domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam 3 domain, yaitu:
1. Kognitif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Afektif, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psikomotor, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro pun menggambarkan hal yang sama dalam ungkapan cipta, rasa, dan karsa. Atau ada juga yang menyebutnya dengan: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Taksonomi merupakan kriteria yang digunakan oleh Guru untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya. Dalam setiap aspek taksonomi terkandung kata kerja operasional yang menggambarkan bentuk perilaku yang ingin dicapai melalui suatu pembelajaran. Kata kerja operasional diperlukan oleh Guru saat menyusun silabus dan RPP.

Berikut ini adalah contoh kata kerja operasional dari masing-masing ranah.
Tabel kata operasional ini hasil dari In House Training Revisi Kurikulum.

Kata Kerja Operasional (Baru), Taksonomi Bloom untuk ranah Kognitif (Pengetahuan)
taksonomi bloom

taksonomi bloom2

Kata Kerja Operasional, Taksonomi Bloom untuk ranah Psikomotorik (Keterampilan)
Bloom-psikomotor

Kata Kerja Operasional, Taksonomi Bloom untuk ranah Afektif (Sikap)
Bloom-afektif

SEJARAH SUPERSEMAR

 


Surat Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.

Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

Surat Perintah Sebelas Maret ini adalah versi yang dikeluarkan dari Markas Besar Angkatan Darat (AD) yang juga tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa terdapat berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

Menurut versi resmi, awalnya keluarnya supersemar terjadi ketika pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengadakan sidang pelantikan Kabinet Dwikora yang disempurnakan yang dikenal dengan nama "kabinet 100 menteri". Pada saat sidang dimulai, Brigadir Jendral Sabur sebagai panglima pasukan pengawal presiden' Tjakrabirawa melaporkan bahwa banyak "pasukan liar" atau "pasukan tak dikenal" yang belakangan diketahui adalah Pasukan Kostrad dibawah pimpinan Mayor Jendral Kemal Idris yang bertugas menahan orang-orang yang berada di Kabinet yang diduga terlibat G-30-S di antaranya adalah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio.

Berdasarkan laporan tersebut, Presiden bersama Wakil perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh berangkat ke Bogor dengan helikopter yang sudah disiapkan. Sementara Sidang akhirnya ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr.J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.

Situasi ini dilaporkan kepada Mayor Jendral Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden menggantikan Soekarno) yang pada saat itu selaku Panglima Angkatan Darat menggantikan Letnan Jendral Ahmad Yani yang gugur akibat peristiwa G-30-S/PKI itu. Mayor Jendral (Mayjend) Soeharto saat itu tidak menghadiri sidang kabinet karena sakit. (Sebagian kalangan menilai ketidakhadiran Soeharto dalam sidang kabinet dianggap sebagai sekenario Soeharto untuk menunggu situasi. Sebab dianggap sebagai sebuah kejanggalan).

Mayor Jendral Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi (AD) ke Bogor untuk menemui Presiden Soekarno di Istana Bogor yakni Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir Jendral Amirmachmud dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat. Setibanya di Istana Bogor, pada malam hari, terjadi pembicaraan antara tiga perwira tinggi AD dengan Presiden Soekarno mengenai situasi yang terjadi dan ketiga perwira tersebut menyatakan bahwa Mayjend Soeharto mampu mengendalikan situasi dan memulihkan keamanan bila diberikan surat tugas atau surat kuasa yang memberikan kewenangan kepadanya untuk mengambil tindakan. Menurut Jendral (purn) M Jusuf, pembicaraan dengan Presiden Soekarno hingga pukul 20.30 malam.

Presiden Soekarno setuju untuk itu dan dibuatlah surat perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret yang populer dikenal sebagai Supersemar yang ditujukan kepada Mayjend Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Surat Supersemar tersebut tiba di Jakarta pada tanggal 12 Maret 1966 pukul 01.00 waktu setempat yang dibawa oleh Sekretaris Markas Besar AD Brigjen Budiono. Hal tersebut berdasarkan penuturan Sudharmono, di mana saat itu ia menerima telpon dari Mayjend Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 1966 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI disiapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopkamtib yang dijabat oleh Mayjend Soeharto. Bahkan Sudharmono sempat berdebat dengan Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut sampai Supersemar itu tiba.

1. Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD yang akhirnya menerima surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu dalam perjalanan kembali ke Jakarta, salah seorang perwira tinggi yang kemudian membacanya berkomentar "Lho ini kan perpindahan kekuasaan". Tidak jelas kemudian naskah asli Supersemar karena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini dinyatakan hilang dan tidak jelas hilangnya surat ini oleh siapa dan di mana karena pelaku sejarah peristiwa "lahirnya Supersemar" ini sudah meninggal dunia. Belakangan, keluarga M. Jusuf mengatakan bahwa naskah Supersemar itu ada pada dokumen pribadi M. Jusuf yang disimpan dalam sebuah bank.

2. Menurut kesaksian salah satu pengawal kepresidenan di Istana Bogor, Letnan Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito, ketika pengakuannya ditulis di berbagai media massa setelah Reformasi 1998 yang juga menandakan berakhirnya Orde Baru dan pemerintahan Presiden Soeharto. Dia menyatakan bahwa perwira tinggi yang hadir ke Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari waktu setempat bukan tiga perwira melainkan empat orang perwira yakni ikutnya Brigadir jendral (Brigjen) M. Panggabean. Bahkan pada saat peristiwa Supersemar Brigjen M. Jusuf membawa map berlogo Markas Besar AD berwarna merah jambu serta Brigjen M. Pangabean dan Brigjen Basuki Rahmat menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno dan memaksa agar Presiden Soekarno menandatangani surat itu yang menurutnya itulah Surat Perintah Sebelas Maret yang tidak jelas apa isinya. Lettu Sukardjo yang saat itu bertugas mengawal presiden, juga membalas menodongkan pistol ke arah para jenderal namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. Menurutnya, Presiden kemudian menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Presiden Soekarno berpesan kalau situasi sudah pulih, mandat itu harus segera dikembalikan. Pertemuan bubar dan ketika keempat perwira tinggi itu kembali ke Jakarta. Presiden Soekarno mengatakan kepada Soekardjo bahwa ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujarnya menirukan pesan Presiden Soekarno. Tidak lama kemudian (sekitar berselang 30 menit) Istana Bogor sudah diduduki pasukan dari RPKAD dan Kostrad, Lettu Sukardjo dan rekan-rekan pengawalnya dilucuti kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah Tahanan Militer dan diberhentikan dari dinas militer. Beberapa kalangan meragukan kesaksian Soekardjo Wilardjito itu, bahkan salah satu pelaku sejarah supersemar itu, Jendral (Purn) M. Jusuf, serta Jendral (purn) M Panggabean membantah peristiwa itu.

3. Menurut Kesaksian A.M. Hanafi dalam bukunya "A.M Hanafi Menggugat Kudeta Soeharto", seorang mantan duta besar Indonesia di Kuba yang dipecat secara tidak konstitusional oleh Soeharto. Dia membantah kesaksian Letnan Satu Sukardjo Wilardjito yang mengatakan bahwa adanya kehadiran Jendral M. Panggabean ke Istana Bogor bersama tiga jendral lainnya (Amirmachmud, M. Jusuf dan Basuki Rahmat) pada tanggal 11 Maret 1966 dinihari yang menodongkan senjata terhadap Presiden Soekarno. Menurutnya, pada saat itu, Presiden Soekarno menginap di Istana Merdeka, Jakarta untuk keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula semua menteri-menteri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap diistana untuk menghindari kalau datang baru besoknya, demonstrasi-demonstrasi yang sudah berjubel di Jakarta. A.M Hanafi Sendiri hadir pada sidang itu bersama Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Chaerul Saleh. Menurut tulisannya dalam bukunya tersebut, ketiga jendral itu tadi mereka inilah yang pergi ke Istana Bogor, menemui Presiden Soekarno yang berangkat kesana terlebih dahulu. Dan menurutnya mereka bertolak dari istana yang sebelumnya, dari istana merdeka Amir Machmud menelepon kepada Komisaris Besar Soemirat, pengawal pribadi Presiden Soekarno di Bogor, minta izin untuk datang ke Bogor. Dan semua itu ada saksinya-saksinya. Ketiga jendral ini rupanya sudah membawa satu teks, yang disebut sekarang Supersemar. Di sanalah Bung Karno, tetapi tidak ditodong, sebab mereka datang baik-baik. Tetapi di luar istana sudah di kelilingi demonstrasi-demonstrasi dan tank-tank ada di luar jalanan istana. Mengingat situasi yang sedemikian rupa, rupanya Bung Karno menandatangani surat itu. Jadi A.M Hanafi menyatakan, sepengetahuan dia, sebab dia tidak hadir di Bogor tetapi berada di Istana Merdeka bersama dengan menteri-menteri lain. Jadi yangdatang ke Istana Bogor tidak ada Jendral Panggabean. Bapak Panggabean, yang pada waktu itu menjabat sebagai Menhankam, tidak hadir.

4. Tentang pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut, masih tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu, antara lain Letkol (Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa.

5. Kesaksian yang disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Anderson, oleh seorang tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor. Tentara tersebut mengemukakan bahwa Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas besar Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan. Inilah yang menurut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja dihilangkan.

Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, ANRI telah berkali-kali meminta kepada Jendral (Purn) M. Jusuf, yang merupakan saksi terakhir hingga akhir hayatnya 8 September 2004, agar bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal. Lembaga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat Mensesneg, Jusuf Kalla, dan M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha ANRI itu tidak pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto. Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada 27 Januari 2008, membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.

Dengan kesimpangsiuran Supersemar itu, kalangan sejarawan dan hukum Indonesia mengatakan bahwa peristiwa G-30-S/PKI dan Supersemar adalah salah satu dari sekian sejarah Indonesia yang masih gelap.

Wednesday, March 3, 2021

PENILAIAN TENGAH SEMESTER 2 (DUA)

Silahkan kalian pilih soal sesuai dengan kelas kalian.

Jangan lupa sebelum mengerjakan soal berdoa dalam hari sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Tidak boleh mencontek dan utamakan kejujuran.
Berikut adalah link soal sesuai dengan kelasnya, kalian tinggal klik link tersebut !

Tetap jaga jarak dan patuhi imbauan pemerintah untuk 3 M (Menjaga jarak, Memakai masker, dan Mencuci tangan pakai sabun).

Tuesday, March 2, 2021

CERPEN MERTUA LANGKA


“Mah, ada nenek datang.” Suara anakku terdengar sampai ke dapur. 


“Mampus dah gue, mertua datang aku nggak punya apa-apa, beras habis, kulkas kosong, apa yang akan aku katakan padanya.”


Saat suamiku masih bekerja aku selalu mengiriminya uang pun saat suamiku dipecat saat pandemi aku tetap mengiriminya uang hasil aku jualan dagangan orang lain dan hasil ngojek suamiku, agar dia tidak tahu anaknya sedang susah. 


Biarlah ibu mertuaku tahunya kami hidup enak terus. 


“Eh ibu, mari masuk, Bu?” aku bawakan tasnya ke dalam kamar setelah aku salim. 


Anakku pun salim dan langsung mengajak neneknya bermain di depan. 


Sepertinya mertuaku akan menginap lama, karena tas yang dibawa agak banyak. 


“Sebentar ya, Bu, Nisa bikinin minum dulu.”

Saat itulah kesempatan aku lari ke warung.


“Teteh mau ngebon dulu ya, nanti saya bayar kalau mas Wawan udah pulang.”


“Iya, Mbak selow aja.”


Untung teteh warungnya orangnya baik banget. Aku ngebon  beras, minyak, gula, teh, kopi. 


“Teh, nanti yang ambil mas Wawan ya, saya nitip dulu.”


“Siap Mbak.”


Tak lupa aku kirim pesan ke mas Wawan. 


[Mas, nanti ambil belanjaan di warung Teh Murni, aku ngebon dulu, ibu kamu datang, sebelum pulang copot dulu jaket ngojek kamu ya, pura-pura kamu pulang kerja terus habis belanja juga]


[Ok]


Aku lalu pulang lewat pintu belakang dan membuat minum untumy ibu mertuaku, aku gorengin pisang kebetulan kemarin dikasih sama yang punya kontrakan. 


“Ayo, Bu diminum dulu sama goreng pisang mumpung anget.”


“Iya, gimana keadaan kalian? Ibu mau nginep di sini seminggu boleh ya? Lagi jenuh di rumah.”

“Iya boleh, Bu.”


Itu artinya aku sama mas Wawan harus acting selama seminggu. 


“Wawan belum pulang kerja?”


“Sebentar lagi, Bu, tuh dia.”


Mas Wawan pulang dengan membawa belanjaan yang tadi aku bon di warung, dia juga membeli soto ayam Sokaraja kesukaan ibu mertua dan tentunya pulang tanpa jaket ojek. 


Ibu mertua tampak bangga banget melihat anaknya pulang kerja membawa belanjaan. Sementara aku sibuk whatsApp teman untuk meminjam uang, karena seminggu di rumah artinya aku harus punya stok uang yang banyak. 


Alhamdulillah aku dapat pinjaman dari ibu kontrakan. Sebenarnya  bukan pinjaman tetapi aku mengambil lagi uang yang udah aku bayarkan untuk kontrakan sebulan separuh. Aku janji akan menggantinya setelah aku dapat komisi dagangan orang. 


Selama seminggu mas Wawan selalu berangkat dengan baju rapih dan pulang saat jam kantor juga pulang, agar ibu tidak curiga.


Aku pun masak makanan yang enak-enak agar ibu tahu anaknya tak susah di rantauan. 


“Enak nih kalau ada nenek, makannya enak-enak mulu!” ujar anakku polos. 


“Emang biasanya makannya nggak enak?”

Aku senggol anakku agar menengok lalu aku kedipin mataku. 


“Enak sih, tapi lebih enak kalau ada nenek,” jawab anakku setelah aku kedipin. 


Aku takut dia jujur bahwa selama pandemi makannya seadanya yang penting masih tiga kali sehari. 


“Wan, itu kasur kamu keras banget, ibu sakit badannya, beliin kasur inoac dong biar nyaman tidurnya.”


Aduh, uang dari mana buat beli kasur dadakan, padahal itu aku udah ngalah tidur di kasur lantai. Akhirnya aku mendatangi tukang kredit yang bisa kasih kasur dengan sistem arisan bulanan. 


Aku sama mas Wawan izin pergi bilang mau beli kasur padahal aku ambil di tukang kredit, yang penting ibu bisa tidur nyaman. 


“Asik kasur baru, aku tidur sama nenek lagi ya?” ujar anakku kegirangan. 


Ibu mertuaku terlihat bangga banget dengan anaknya yang bisa memenuhi keinginannya. 

Pagi-pagi sebelum mas Wawan berangkat. 


“Wan, ibu pengen banget makan steak yang kata orang-orang dagingnya empuk itu loh.”


“Iya, Bu nanti pulang kerja Wawan bawain.”

Mas Wawan bicara padaku tentang keinginannnya. Aku kasih persediaan uang yang aku punya. 


“Beliin aja, Mas, belum tentu besok-besok dia kepengin.”


Aku selalu menuruti apa pun keinginan mertuaku, bagaimana pun dia sudah melahirkan dan membesarkan mas Wawan, giliran anaknya sudah dewasa malah menghidupi aku yang jelas-jelas orang lain makanya aku merasa perlu membalas budi. 


Selama di kontrakan ibu sering aku tinggal pergi karena aku harus mengantar dagangan pesanan orang menggunakan sepeda. 


Ibu tidak keberatan karena ada anakku yang menemaninya. 


“Pokoknya ibu jangan ngapa-ngapain ya, jangan megang kerjaan apa pun, tunggu saya pulang ya bu, Nisa antar dagangan dulu.”


“Iya hati-hati, Nis.”


Saat malam hari kita lagi ngobrol-ngobrol. 

“Wan, besok kamu kan libur, ibu pengin jalan-jalan ke pantai sambil makan ikan bakar, enak banget kayanya.”


Aku dan mas Wawan saling pandang, harus ke mana lagi aku pinjam uang. 


“Iya, Bu besok kita jalan ya?” ujarku. Sekarang ibu istirahat ya biar besok seger, pantainya agak jauh soalnya,” lanjutku. 


Setelah ibu tidur aku dan mas Wawan sibuk mencari pinjaman, akhirnya aku gadaikan cincin lima gram mahar menikah dulu, nanti  aku tebus, yang penting saat ini aku dapat uang.

 

Esoknya aku pesan taxi online menuju pantai, melihat ibu bahagia rasanya aku dan mas Wawan pun ikut bahagia, belum tentu ketika kita banyak uang ada kesempatan menyenangkan beliau. 


Seminggu sudah ibu mertuaku di kontrakanku. Saatnya ibu pulang, aku membelikannya tiket untuk pulang dan tak lupa aku memberinya uang untuk pegangan. 


Aku dan mas Wawan mengantar sampai pool bis jurusan kota asal kami.

“Hati-hati ya bu, handphone jangan sampai nggak aktif, kabari kalau ada apa-apa, kalau sudah sampai juga kabari ya, Bu,” ujarku khawatir. 


Aku catat nomer Bis, takut ada apa-apa aku bisa melacaknya. 


Aku pulang dengan mas Wawan dan langsung berhitung hutang yang harus aku bayar dan jumlahnya tidak sedikit. 


“Maafkan ibu ya, Nis,” ucap mas Wawan merasa bersalah. 


“Ngapain minta maaf , Mas, ibumu ya ibuku juga, smoga Allah memberi kita jalan keluar untuk membayar hutang-hutang ini.”


Saat aku membersihkan kamar, aku melihat ada kertas di meja dan sebuah amplop. 


‘Untuk anakku dan menantuku yang tukang bohong’


Terima kasih sudah membahagiakan ibu selama tinggal di tempat kalian. Semoga Allah memberkahi hidup kalian. 


Tertanda

Ibu dan mertua kalian. 


Aku membacanya keras-keras membuat aku dan mas Wawan menahan tangis. 


Aku buka amplop di bawah kertas tadi. Ada uang lima juta di dalamnya. Seketika aku menangis. 


“Ibuuuu.... “


Mas Wawan pun menangis. 


“Maafkan Wawan, Bu.”


Aku segera menuju warung teh Murni mau membayar hutang sembako kemarin. 


“Loh sudah dibayar sama ibu mertua mu Mbak, kemarin beliau ke sini di antar sama Adi anakmu.”

“Ya Allah.”


Aku pun bergegas ke ibu kontrakan mau melunasi bayaran kontrakan. 


“Udah nggak usah, ibu mertuamu sudah melunasinya, malah itu kontrakanmu sudah dibayar setahun.”


Aku terduduk lemas. 


“Ya Allah ibu maafkan menantumu sempat mengeluhkan kedatanganmu.”


Aku pulang dan menceritakan kepada mas Wawan. Dia pun menangis dan berlari mengambil handphone. 


Segera dia telpon ibunya yang baru saja menuju pulang. 


Tetapi mas Wawan tak bisa bicara apa-apa dia hanya menangis di telfon. 


[Sudah jangan menangis, ibu nggak pernah mengajari anak ibu berbohong tetapi kali ini kebohongan anak dan menantu ibu sungguh membuat ibu bahagia]


[Makasih ya Bu]


🤔😥😭 

*Yg baca jgn ikut2an nangis ya pak/Bu.*