Thursday, November 12, 2015

Contoh Soal Uji Kompetensi Guru (UKG) Online Semua Tingkatan

SD/TK

SMP

SMA

SMK

Wednesday, November 11, 2015

JADWAL LENGKAP PERTANDINGAN PIALA PRESIDEN 2015

Berikut Jadwal Lengkap Jam Tayang Fase Grup Piala Jenderal Sudirman:

Grup A
  • Arema Cronus Vs Persegres, Selasa (10/11/2015) pukul 17.30 WIB
  • Arema Cronus Vs PBR, Senin (16/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Sriwijaya FC Vs Persegres, Kamis (19/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Persija Vs PBR, Kamis (19/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Persegres Vs PBR, Minggu (22/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Arema Cronus Vs Sriwijaya FC, Minggu (22/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Sriwijaya FC Vs Persija, Rabu (25/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • PBR Vs Sriwijaya FC, Sabtu (28/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Arema Cronus Vs Persija, Sabtu (28/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Persija Vs Persegres, Selasa (1/12/2015) pukul 19.00 WIB

Grup B
  • Mitra Kukar Vs PSM, Sabtu (14/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Bali United Vs Persipura, Sabtu (14/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Semen Padang FC Vs Persipura, Selasa (17/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Semen Padang FC Vs PSM, Jumat (20/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Bali United Vs Mitra Kukar, Jumat (20/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Semen Padang FC Vs Mitra Kukar, Senin (23/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Persipura Vs PSM, Senin Senin (23/11/2015) pukul 17.30 WIB
  • Bali United Vs Semen Padang FC, Kamis (26/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Bali United Vs PSM, Minggu (29/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Persipura Vs Mitra Kukar, Minggu (29/11/2015) pukul 19.00 WIB

Grup C
  • Surabaya United Vs PS TNI, Minggu (15/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Persela Vs Persib, Minggu (15/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Pusamania Borneo FC Vs PS TNI, Rabu (18/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Persela Vs Pusamania Borneo FC, Sabtu (21/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Surabaya United Vs Persib, Sabtu (21/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Persela Vs PS TNI, Selasa (24/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Surabaya United Vs Persela, Jumat (27/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Persib Vs Pusamania Borneo FC, Jumat (27/11/2015) pukul 19.00 WIB
  • Surabaya United Vs Pusamania Borneo FC, Senin (30/11/2015) pukul 14.30 WIB
  • Persib Vs PS TNI, Senin (30/11/2015) pukul 19.00 WIB

Majemuk, Idiom, dan Frasa: Konsep dan Perbedaannya

1. Pendahuluan
Penggabungan kata atau pemajemukan (compounding) merupakan salah satu proses pembentuk kata. Pembentukan kata itu merupakan proses yang produktif dalam hampir semua bahasa. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, terdapat bentuk kaki yang berarti anggota badan yang menopang tubuh dan dipakai untuk berjalan, (dari pangkal paha ke bawah) dan meja berarti perkakas (perabot) rumah yang mempunyai bidang datar sebagai daun mejanya dan berkaki sebagai penyangganya (KBBI, 2009).  Untuk mewadahi konsep bagian bawah meja, penopang, atau penyangga meja digunakan proses penggabungan kata kaki dengan meja menjadi kaki meja dengan analogi kaki manusia yang berarti bagian bawah meja.
            Ada beberapa istilah untuk menyebut hasil penggabungan kata itu. Misalnya, Alisjahbana (1953) menggunakan istilah kata majemuk yang merujuk pada gabungan dua buah kata atau lebih yang memiliki makna baru. Definisi itu merupakan identitas idiom (lihat Katamba 1994:291). Fokker (1951) menggunakan istilah kelompok kata yang dibedakan menjadi kelompok erat  untuk menyebut idiom dan kelompok longgar untuk bukan majemuk. C.A. Mees (1957) menggunakan istilah kata majemuk dan aneksi. Istilah pertama untuk idiom dan terakhir untuk yang nonidiomatis. Kridalaksana (1989) menggunakan istilah paduan leksem atau kompositum. Sama dengan Alisjahbana, Alwi (1998) dan Moeliono menyebut penggabungan kata dengan majemuk.
            Dari beberapa pendapat di atas diketahui bahwa istilah majemuk lebih banyak digunakan untuk merujuk pada gabungan dua atau lebih leksem atau ata. Para ahli hanya berbeda pendapat dalam memberi istilah untuk tiap-tiap gabungan kata yang memiliki makna idiomatis dengan yang tidak.  Oleh karena itu, sering muncul pertanyaan “apakah majemuk itu berbeda atau sama dengan idiom atau bahkan dengan frasa?”

2. Analisis
  1. Majemuk (Compounds)
Untuk menampung konsep yang belum terwadahi dalam sebuah kata, digunakan gabungan kata atau leksem yang dikenal dengan mejemuk, kompositum, atau perpaduan—yang dalam bahasa Inggris disebut dengan compounds. Kata kunci dari majemuk adalah gabungan kata atau leksem. Menurut Bauer (1988), majemuk adalah leksem baru hasil dari gabungan dua leksem atau lebih. Katamba (1994:291) mengatakan bahwa majemuk adalah kata yang terdiri atas, minimal, dua dasar yang tiap-tiap dasar dapat berdiri sendiri. Kridalaksana (2008) menyebutnya sebagai gabungan leksem dengan leksem yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang memiliki pola fonologis, gramatikal, dan semantis yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan.
Untuk mengidentifikasi antara majemuk dan bukan majemuk,  Kridalaksana (2007) merumuskan tiga hal berikut.
  1. Ketaktersisipan. Di antara komponennya tidak dapat disisipi apa pun. Misalnya, angkat bicara merupakan majemuk karena tidak dapat disisipi apa pun. Bandingkan dengan alat negara yang merupakan frasa karena dapat disisipi dari.
  2. Ketakterluasan. Komponennya tidak dapat diafiksasi dan dimodifikasi,  kecuali keseluruhan. Misalnya, kereta api tidak biasa dibentuk menjadi perkerataan api. Bentuk itu hanya dapat diperluas semua komponennya menjadi perkerataapian.
  3. Ketakterbalikan. Komponennya tidak dapat dipertukarkan. Misalnya naik daun tidak dapat dibalik menjadi daun naik tanpa mengubah maknanya.
  1. Idiom (Idioms)
Idiom adalah entitas leksikal yang lebih berfungsi sebagai sebuah kata, walapun terdiri atas beberapa kata (Katamba, 1994:291). Kridalaksana (2007) mendefinisikan idiom sebagai konstruksi yang maknanya tidak sama dengan makna komponennya. Kridalaksana juga membedakan idiom dari semiidiom. Semiidiom menurutnya adalah konstruksi yang salah satu komponennya mengandung makna khas yang ada dalam konstruksi itu saja, misalnya mata kaki  dan harga diri.
Di Scullio dan Williams (dalam Katamba, 1994) menyebut idiom dengan istilah listemes karena kata tersebut harus listed  dalam leksikon yang kekhasan maknanya tidak tunduk pada kaidah umum dan harus dihafalkan. Idiom seperti musang berbulu ayam atau tertangkap basah  tidak dapat diketahui artinya melalui kata pembentuknya. Bentuk tersebut harus didaftar tersendiri dalam kamus dan dihafalkan maknanya. Kridalaksana memasukkan idiom ke dalam bentuk majemuk atau kompositum karena bentuknya yang selalu merupakan gabungan kata atau leksem.
  1. Pembagian Bentuk Majemuk
Setiap majemuk, baik yang terdiri atas dua kata, tiga kata, dan seterusnya selalu memiliki dua bagian, yaitu kepala (head) dan pewatas (modifier). Misalnya, bentuk majemuk rumah sakit yang terdiri atas rumah sebagai kepala dan sakit sebagai pewatasnya. Dalam bentuk majemuk kepala rumah sakit, kepala sebagai kepala (head) dan rumah sakit menjadi pewatasnya. Semakin panjang  atau banyak elemen pembentuk majemuk semakin sempit artinya.
Berdasarkan status komponennya, majemuk dibagi atas dua kelompok besar, yaitu (1) apakah mejemuk tersebut memiliki kepala: (a) kiri dan (b) kanan; (2) kelas kata kepalanya (Katamba, 1994: 304). Untuk kelompok pertama, yang berdasarkan keberadaan kepala majemuk dan letaknya di sebelah kiri atau kanan terbagi atas tiga..
Pertama, majemuk berkepala.  Majemuk itu terdiri atas:
  1. majemuk berkepala di kanan (the right-hand head rule) atau endosentris, yaitu majemuk yang kepalanya berada pada konstituen atau elemen di sebelah kanan.  Sebagian besar majemuk dalam bahasa Inggris adalah endosentris (Katamba,1994), misalnya bird watch; sugar daddy;
  2. majemuk berkepala di kiri (left-headed compounds), yaitu majemuk yang kepalanya berada pada konstituen atau elemen di sebelah kiri. Bahasa Italia, contohnya, kepala majemuknya berada di sebelah kiri (Scalise, 1984: 125). Bahasa Indonesia dan sebagian bahasa di Asia juga berkepala majemuk di sebelah kiri, misalnya rumah makan dan burung unta.
Majemuk berkepala atau endosentris merupakan subkelas dari salah satu elemennya. Dengan kata lain, secara keseluruhan, majemuk tersebut adalah hiponim dari kepala majemuknya (Bauer, 1988:35). Katamba (1994) lebih jauh menerangkan ciri-ciri  majemuk endosentris, yaitu (1) memiliki kepala, (2) properti sintaksis kepala memengaruhi keseluruhan majemuk, (3) kepala terletak di kanan, dan (4) biasanya terdapat hubungan semantis antara majemuk dan kepala.
Kedua, majemuk takberkepala (headless compound). Majemuk itu terbagi menjadi dua. Pertama, majemuk bahuvrihi atau eksosentris, yaitu majemuk yang tiap-tiap elemennya bukan merupakan kepala dari elemen lainnya, dengan kata lain, majemuk itu bukan merupakan subkelas dari elemennya atau bukan merupakan hiponim elemennya (Bauer, 1988:35). Nama manusia, binatang, dan tumbuhan sering kali berbentuk majemuk eksosentris, misalnya red skin (orang Indian Amerika) dan lidah mertua (nama tumbuhan). Kedua,  majemuk kopulatif atau majemuk dvandva. Majemuk kopulatif ialah majemuk yang memiliki dua kata yang merupakan pasangan yang secara semantis memiliki  status yang sama dan tidak ada elemen yang mendominasi majemuk tersebut, misalnya:
    utara-selatan (kedua arah mata angin tersebut sama-sama penting);
    Sony-Ericsson (dua perusahaan melakukan merger untuk membentuk perusahaan  
    baru yang berstatus sama).
Bauer (1988:36) menamakan majemuk jenis itu majemuk akar atau majemuk primer (root compounds atau primary compounds), sedangkan Kridalaksana (2007) menamai kedua majemuk ini dengan istilah majemuk sederajat atau koordinatif.
Selain yang ada pada pembagian di atas, terdapat  dua jenis majemuk lain. Pertama, cranberry words, yaitu majemuk yang salah satu elemennya unik, tidak terdapat dalam gabungan kata lain. Dalam bahasa Inggris fenomena itu dikenal dengan nama cranberry (Katamba, 1994: 322), misalnya leksem cran dan huckle yang hanya muncul dalam majemuk cranberry dan huckleberry.  
Kedua, majemuk neoklasik (neo-classic compounds). Majemuk itu disebut demikian karena sebagian besar elemennya adalah serapan dari bahasa Yunani atau Latin. Adams (1973) dan Bauer (1983) menamainya demikian.  Kridalaksana menyebut gejala neoklasik dengan istilah majemuk sintesis karena keduanya merupakan paduan dari bentuk terikat dan bentuk bebas atau bentuk terikat dengan bentuk terikat. Majemuk itu berasal dari bahasa asing dan sebagian besar merupakan kosakata ilmu pengetahuan (Kridalaksana, 2007: 151).
Untuk kelompok kedua, yang berdasarkan kelas kata kepalanya,  majemuk itu terbagi menjadi tiga jenis.  Pertama, majemuk nomina yang terdiri atas (1) nomina dengan nomina, misalnya kereta api; (2) nomina dengan adjektiva, misalnya orang asing, (3) nomina dengan verba, misalnya pesawat tempur; dan (4) preposisi dengan nomina, misalnya  overdosis.
Kedua, majemuk adjektiva yang terdiri atas gabungan (1) nomina dengan adjektiva, (2) adjektiva dengan adjektiva, misalnya murah meriah, dan (3) preposisi dengan adjektiva, misalnya overaktif.
Ketiga, majemuk verba, yaitu verba dengan nomina: (meng)hukum mati. Majemuk verba itu mempunyai ciri-ciri (1) kepala kata adalah adjektiva atau nomina yang berasal dari verba, (2) anggota majemuk ditafsirkan sebagai argumen sintaktis dari kepala nomina deverbal atau adjektiva, (3) nonkepala berfungsi sebagai agen, pasien, dan sebagainya, dan (4) makna majemuk transparan. Bauer (1988: 36) menyebut majemuk itu dengan majemuk sintetis atau majemuk inti (nexus compounds).
  1. Majemuk dan Frasa
Majemuk juga berbeda dengan frasa. Untuk membedakan antara majemuk dan frasa, perlu dirumuskan suatu kaidah tersendiri. Misalnya, untuk membedakan frasa dengan bentuk lain, arti sebuah frasa dapat diketahui dengan mengetahui arti  kata yang membentuknya dan frasa itu tunduk pada kaidah umum. Usaha untuk membedakan antara majemuk dan frasa, dapat dilihat dalam beberapa bahasa.  Bahasa Inggris, misalnya, menyiasati hal tersebut dengan cara menghilangkan spasi antarelemen (breakfast) atau menggunakan tanda hubung (hyphen), misalnya ice-cream; eye-catching. Bahasa Arab menuliskan majemuk secara terpisah dan elemen keduanya selalu diakhiri oleh kasrah (tanda bunyi [i]).
            Dalam bahasa Indonesia, bentuk majemuk ditulis terpisah, kecuali kata tersebut berpotensi menimbulkan salah pengertian. Agar terhindar dari salah pengertian, digunakan tanda hubung, misalnya buku-sejarah baru; ibu bapak-kami.  Bentuk majemuk yang mendapat awalan atau akhiran sekaligus ditulis tergabung dan yang mendapat awalan atau akhiran saja ditulis terpisah, misalnya bertepuk tangan, sebar luaskan, pertanggungjawaban, dan  menggarisbawahi. Adapun bentuk majemuk atau gabungan kata yang sudah padu selalu ditulis serangkai.  
Contoh:
acapkali
bilamana
  darmabakti
  dukacita
kasatmata
matahari
olahraga
saripati
segitiga
sukacita
sukarela
wiraswata

3. Penutup
Pemajemukan atau compounding adalah salah satu proses pembentuk kata baru yang produktif. Proses itu terdapat dalam hampir semua bahasa, bahkan dalam banyak bahasa, majemuk merupakan tipe utama dari leksem atau kata baru (Bauer,1988:33). Majemuk juga mencakup idiom yang memiliki makna yang tetap dan tidak dapat diprediksi.
            Para ahli sependapat atas sebagian besar fenomena majemuk. Mereka hanya berbeda pendapat pada sebagian kecil, misalnya, istilah majemuk sintetis yang diungkapkan Bauer dengan yang diajukan Kridalaksana kemudian. Perbedaan tersebut, mungkin, disebabkan oleh sifat bahasa yang menjadi data yang tidak hanya universal, tetapi sekaligus unik.

Daftar Pustaka
Bauer, Laurie. 1988. Introducing Linguostic Morphology. Edinburgh:
    Edinburgh University Press.
Katamba, Francis. 1994. Morphology. London: Macmillan Press LTD.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
     Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
------------. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1997. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Departemen   Pendidikan  dan Kebudayaan.
Pusat Pembinaan dan Pengembanagan Bahasa. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tuesday, October 27, 2015

MATERI PERKULIAHAN KURIKULUM PAUD MINGGU, 01 NOPEMBER 2015

Aspek Perkembangan Anak Usia Dini.
Terdapat 6 aspek perkembangan yang membentuk focus sentral dari pengembangan kurikulum bermain kreatif pada anak usia dini,diantaranya :
1.       Kesadaran Personal : Permainan yang kreatif memungkinkan perkembangan kesadaran personal. Bermain mendukung anak untuk tumbuh secara mandiri dan memiliki control atas lingkungannya. Melalui bermain anak dapat menemukan hal yang baru,bereksplorasi,meniru,dan mempraktikkan kehidaupan sehari-hari sebagai sebuah langkah dalam membangun keterampilan menolong dirinya sendiri,keterampilan ini membuat anak merasa kompeten.
2.       Pengembangan Emosi : Melalui bermain anak dapat belajar menerima,berekspresi,dan mengatasi masalah dengan cara yang positif. Bermain juga memberikan kesempatan pada anak untuk mengenal diri mereka sendiridan untuk mengembangkan pola prilaku yang memuaskan dalam hidup.
3.       Membangun Sosialisasi : Bermain memberikan jalan bagi perkembangan social anak ketika berbagi dengan anak lain. Bermain adalah sarana yang paling utama bagi pengembangan kemampuan bersosialisasi dan memperluas empati terhadap orang lain serta mengurangi sikap egosentrisme.
4.       Pengembangan Komunikasi : Bermain merupakan alat  yang paling kuat untuk membelajarkan  kemampuan berbahasa anak. Melalui komunikasi inilah anak dapat memperluas kosakata dan mengembangkan daya penerimaan serta pengekspresian kemampuan berbahasa mereka melalui interaksi dengan anak-anak lain dan orang dewasa pada situasi bermain spontan.
5.       Pengembangan Kognitif : Bermain dapat memenuhi kebutuhan anak untuk secara aktif terlibat dengan lingkungan,untuk bermain dan bekerja dalam menghasilkan suatu karya,serta untuk memenuhi tugas-tugas perkembangan kognitif lainnya. Bermain menyediakan kerangka kerja untuk anak untuk mengembangkan pemahaman tentang diri mereka sendiri,orang lain,dan lingkungan. Bermain adalah awalan dari semua fungsi kognitif selanjutnya,oleh karenanya kognitif(pemikiran anak) sangat diperlukan dalam kehidupan anak-anak.
6.       Pengembangan Kemampuan Motorik : Kesempatan yang luas untuk bergerak,pengalaman belajar untuk menemukan, aktivitas sensor motor yang meliputi penggunaan otot-otot besar dan kecil memungkinkan anak untuk memenuhi perkembangan perceptual motorik. Bermain dapat memacu perkembangan perceptual motorik pada beberapa area,yaitu:
a.      Koordinasi mata-tangan atau mata-kaki
b.      Kemampuan motorik kasar
c.       Kemampuan bukan motorik kasar
d.      Manajemen tubuh dan control.

D.   Pola Perkembangan Anak
Ada beberapa pola perkembangan anak,yaitu sebagai berikut :
1)     Perkembangan Fisik : Perkembangan fisik berlangsung secara teratur,tidak secara acak. Perkembangan bayi ditandai dengan adanya perubahab dari aktivitas yang tidak terkendali menjadi suatu aktivitas yang terkendali. Perkembangan fisik pada masa bayi berjalan dengan cepat. Bayi belajar untuk mengendalikan kepala,menggapai sebuah objek,dan barang kali berdiri dan berjalan ditahun pertama tersebut. Ketika anak-anak tumbuh,perkembangan dari keterampilan motor mereka tidaklah samacepatnya dengan seperti pada masa kanak-kanak, tetapihal tersebut berlangsung terus sepanjang masa kanak-kanak. Beberapa hal dapat membantu kita dalam mengembangkan keadaan fisik dari anak-anak lewat kegiatan-kegiatan :
·         Menyediakan permainan diluar ruangan. Permainan yang ada sebaiknya merupakan permainan yang dapat mengembangkan keterampilan memanjat,berlari,melompat,dan seterusnya.
·         Meyakinkan anak-anak bahwa mereka memiliki suatu kesempatan untuk berada di dalam suatu area permainan yang berisi matras,bola karet dan target,dan bahan-bahan lain yang dapat mendukung perkembangan anak.
2)     Perkembangan Sosial : Perkembangan social dan emosional bayi juga tidak dapat dibedakan,pada respons yang diberikan terhadap suatu stimuli seperti lapar atau dingin maka akan menimbulkan tangisan yang tidak dikhususkan bagi stimuli tersebut. Ketika anank berusia tiga tahun,anak mulai membangun suatu hubungan dengan keluarga mereka dan juga dengan orang lain yang bukan merupakan anggota keluarga mereka. Mereka juga mencoba untuk membuat sebuah strategi untuk menyatakan keinginan mereka dan beberapa ide tentang identifikasi terhadap peran seks.
·         Perkembangan Kepribadian,guru yang berfikir tentang prilaku anak-anak akan merencanakan program yang menyediakan banyak peluang untuk anak-anak untuk membangun kepercayaan dan untuk membuat berbagai pilihan serta merasakan sukses dari pilihan yang mereka buat sendiri.
·         Perkembangan Konsep Diri,konsep diri dikembangkan secara bertahap; anak mengembangkan konsep dirinya sebagai seorang individu yang terpisah dari orang lain selama beberapa tahun. Melalui interaksi pertama anak dengan orang tua dan keluarga dan kemudian dengan orang lain di luar keluarga tersebut,anak secara berangsur-angsur mulai mengembangkan suatu konsep mengenaiseperti apa mereka dan siapa mereka.
·         Peran Dari Permainan,pengalaman bermain sangat penting di dalam perkembangan social dan emosional dari anak-anak. Anak-anak dapat memainkan berbagai peran dan prilaku serta mendapatkan umpan balik tentang kecocokkan dari prilaku dalam bermain. Anak-anak yang lebih muda sering memainkan peran anggota keluarga, dan seiring dengan pengalaman yang mereka miliki maka mereka juga mulai mencoba untuk memainkan peran di luar peran keluarga tersebut.
·         Agresi,aspek yang lain tentang pembangunan social yang patut mendapat perhatian adalah agresi. Para guru dan orangtua mempunyai kaitan dengan prilaku yang agresif pada anak-anak. Hasil dari studi menunjukan bahwa prilaku yang agresif di kelas dapat dikurangi dengan menyediakan bahan-bahan,ruang yang cukup sedemikian hingga anak-anak tidak mempunyai alasan untuk bersaing antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.
·         Identifikasi Peran Seks,sebelum anak yang berusia tiga tahun mulai untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai anak laki-laki atau anak perempuan, maka pada usia ini mereka sudah dapat mengidentifikasi orang lain sebagai anak laki-laki atau perempuan. Selanjutnya mereka mulai mengembangkan konsep identitas seksual dan sikap mereka tentang peran yang sesuai bagi pria dan wanita.
3)     Perkembangan Emosional : Perkembangan emosional seperti perkembangan fisik dan social,mengikuti tahapan  perkembangan  yang dapat diramalkan tentang pertumbuhan. Bayi bereaksi terhadap emosi apapun dengan mengeluarkan suara tangisan yang tidak dibedakan. Anak kecil memiliki perilaku yang sangat memaksa. Meraka hanya memiliki sedikit kendali dari dorongan hati mereka dan mudah merasa putuh asa. Bagi anak yang berada di bangku Taman Kanak –kanak dan kelas satu,sudah dapat menyatakan dan melabelkan suatu emosi yang luas. Mereka dapat menguraikan rasa sedih yang mereka alami,rasa marah,atau perasaan senang dan juga menguraikan suatu situasi yang merupakan emosi yang dihasilkan oleh anak-anak yang lain.
4)     Perkembangan Intelektual : Perkembangan kognisi mengacu pada perkembangan anak dalam berfikir dan kemampuan untuk member alas an. Perkembangan kognitif dari anak-anak yang lebih muda diuraikan dalam beberapa teori yang berbedadi daam kurun waktu yang berbeda. Para pendukung teori behavior memiliki segi pandang bahwa anak-anak tumbuh dengan mengumpulkan informasi yang semakin bayak dari hari ke hari. Piaget dalam Nixon dan Gould menguraikan perkembangan kognitif dari anak-anak dalam beberapa langkah,yang mencangkup tahap sensorimotor,pra operational,dan tahap konkret operasional. Tahapan-tahapan ini mengembngkan anak untuk bertumbuh kearah kedewasaan dan juga pengalaman.

A.     Pengertian Pendidikan dan Komponen-komponen Pendidikan
Dalam arti luas pendidikan adalah segala bentuk pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mengembangkan kemampuan seoptimal mungkin sejak lahir sampai akhir hayat. Dalam arti sempit, pendidikan identik dengan persekolahan di mana pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang terprogram dan terencana secara formal.
Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dan saling berhubungan satu sama lain. Komponen-komponen tersebut meliputi: 1) tujuan pendidikan, 2) peserta didik, 3) pendidik, 4) kurikulum, 5) fasilitas pendidikan, dan 6) interaksi edukatif.
Para ahli pendidikan anak berpendapat bahwa pendidikan TK merupakan pendidikan yang dapat membantu menumbuhkembangkan anak dan pendidikan dapat membantu perkembangan anak secara wajar. Pada hakikatnya pendidikan TK/usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan menyediakan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak. Pendidikan anak usia dini pada hakikatnya adalah upaya untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak.

B.     Hakikat Pembelajaran di Taman Kanak-kanak
Pada hakikatnya anak itu unik, mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan, bersifat aktif dan energik, egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, antusias terhadap banyak hal, bersifat eksploratif dan berjiwa petualang, kaya dengan fantasi, mudah frustrasi, dan memiliki daya perhatian yang pendek. Masa anak merupakan masa belajar yang potensial.
Kurikulum untuk anak usia dini/TK harus benar-benar memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangan dan harus dirancang untuk membuat anak mengembangkan potensi secara utuh. Baik Kurikulum TK 1994 maupun Kurikulum TK 2004 pada dasarnya sama memuat aspek-aspek perkembangan yang dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh yang mencakup bidang pengembangan perilaku melalui pembiasaan dan bidang kemampuan dasar.
Pembelajaran anak usia dini/TK pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi bermain (belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar), pembelajaran yang berorientasi perkembangan yang lebih banyak memberi kesempatan kepada anak untuk dapat belajar dengan cara-cara yang tepat. Pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat pada anak

4.    KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK USIA TK
A.   Hakikat Perkembangan
Perkembangan dan pertumbuhan merupakan satu proses dalam kehidupan manusia yang berlangsung secara terus-menerus sejak masa konsepsi sampai akhir hayat. Perkembangan juga diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik itu menyangkut aspek fisik maupun psikis. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian-bagian organisme. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis). Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara bertahap dan berurutan.
Perkembangan memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut. 1) Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. 2) Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi. 3) Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. 4) Perkembangan terjadi pada tempat yang berlainan. 5) Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. 6) Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan.
Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda tentang pembabakan atau periodisasi perkembangan ini. Pendapat-pendapat tersebut secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu berdasarkan analisis biologis, didaktis, dan psikologis.

B.   Karakteristik Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak
Perkembangan anak usia TK yang terentang antara usia empat sampai dengan enam tahun merupakan bagian dari perkembangan manusia secara keseluruhan. Perkembangan pada usia ini mencakup perkembangan fisik dan motorik, kognitif, sosial emosional, serta bahasa. Ketika anak mencapai tahapan usia TK (3 sampai 6 tahun), terdapat ciri yang sangat berbeda dengan usia bayi. Perbedaannya terletak pada penampilan, proporsi tubuh, berat dan panjang badan, serta keterampilan yang mereka miliki.
Dilihat dari tahapan menurut Piaget, anak usia TK berada pada tahapan praoperasional, yaitu tahapan di mana anak belum menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan menggunakan sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol-simbol. Melalui kemampuan tersebut anak mampu berimajinasi atau berfantasi tentang berbagai hal. Perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi, anak cenderung mengekspresikan emosi dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering mereka perlihatkan dan sering berebut perhatian guru.
Perkembangan sosial adalah perkembangan perilaku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Perkembangan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekedar hasil dari kematangan. Perkembangan sosial diperoleh anak melalui kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respons terhadap dirinya. Bagi anak prasekolah, kegiatan bermain menjadikan fungsi sosial anak semakin berkembang.
Anak prasekolah biasanya telah mampu mengembangkan keterampilan bicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara seperti bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga dapat menambah perbendaharaan kata.

5.    PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PERKEMBANGAN
A.   Prinsip-prinsip Perkembangan Anak
Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak menuntut pendidik yang memiliki kemampuan profesional, sosial dan pribadi yang baik. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru Taman Kanak-kanak adalah memahami perkembangan anak. Pemahaman tentang karakteristik perkembangan anak memberikan kontribusi terhadap pendidik untuk merancang kegiatan, menata lingkungan belajar, mengimplementasikan pembelajaran serta mengevaluasi perkembangan dan belajar anak.
Prinsip-prinsip perkembangan anak meliputi: (1) anak berkembang secara holistik, (2) perkembangan terjadi dalam urutan yang teratur, (3) perkembangan anak berlangsung pada tingkat yang beragam di dalam dan di antara anak, (4) perkembangan baru didasarkan pada perkembangan sebelumnya, (5) perkembangan mempunyai pengaruh yang bersifat kumulatif.
Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut memberikan implikasi bagi pendidik dalam menentukan tujuan, memilih bahan ajar, menentukan strategi, memilih dan menggunakan media, serta mengevaluasi perkembangan dan mendukung belajar anak secara optimal.

B.   Dasar Pemikiran dan Pengertian Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan
                Ada beberapa hal yang mendasari munculnya praktik pembelajaran yang berorientasi perkembangan, antara lain meningkatnya praktik pembelajaran yang bersifat formal di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini, kuatnya tuntutan dan tekanan orang tua dan masyarakat terhadap pengajaran yang lebih bersifat akademik, kesalahpahaman masyarakat tentang konsep pendidikan anak usia dini. Pembelajaran yang berorientasi perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu (1) berorientasi pada usia, (2) berorientasi pada anak secara individual, dan (3) berorientasi pada konteks sosial budaya anak.
                Praktik pembelajaran yang berorientasi perkembangan menekankan pada hal-hal sebagai berikut: (1) anak secara holistik, (2) program pendidikan yang bersifat individual, (3) pentingnya kegiatan yang diprakarsai anak, (4) fleksibel, lingkungan kelas menstimulasi anak, (5) pentingnya bermain sebagai wahana belajar, (6) kurikulum terpadu, (7) belajar melalui bekerja, (8) memberikan pilihan kepada anak tentang apa dan bagaimana caranya belajar, (9) penilaian bersifat kontinu, dan (10) bermitra dengan orang tua untuk mendukung perkembangan dan belajar anak.

C.    Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan Untuk Anak Usia Taman Kanak-kanak
                Prinisp-prinsip pembelajaran yang berorientasi perkembangan dapat diidentifikasi dari beberapa dimensi, sebagai berikut.
  1. Menciptakan iklim yang positif dan kondusif untuk belajar.
  2. Membantu keeratan kelompok dan memenuhi kebutuhan individu.
  3. Lingkungan dan jadwal hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil inisiatif, melakukan eksplorasi terhadap objek dan lingkungannya.
  4. Pengalaman belajar hendaknya dirancang secara konkret dan memberi kesempatan kepada anak untuk memilih kegiatannya sendiri.
  5. Mendorong anak-anak untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa secara menyeluruh yang meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dini.
  6. Strategi pembelajaran dirancang agar anak dapat berinteraksi dengan anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil.
  7. Motivasi dan bimbingan diberikan agar anak mengenal lingkungannya, mengembangkan keterampilan sosial, pengendalian dan disiplin diri.
  8. Kurikulum diorganisasikan secara terpadu untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik motorik, sosial emosi, kognitif, bahasa, dan seni.
  9. Penilaian terhadap anak dilakukan secara kontinu, melalui observasi.
  10. Mencatat dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan anak dan cara melakukan kegiatan tersebut. 
6.    PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A.   Pengertian dan Komponen-komponen Pembelajaran
                Perencanaan pembelajaran adalah rencana yang dibuat oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan anak agar tujuan dapat tercapai.
Perencanaan pembelajaran mengandung komponen-komponen yang ditata secara sistematis dimana komponen-komponen tersebut saling berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain.
Komponen-komponen perencanaan pembelajaran meliputi:
  1. Tujuan merupakan komponen pertama dalam perencanaan pembelajaran merupakan proyeksi tentang hasil belajar atau kemampuan yang harus dicapai anak setelah belajar.
  2. Materi adalah bahan yang akan diajarkan agar tujuan tercapai.
  3. Kegiatan belajar mengajar adalah proyeksi kegiatan belajar yang harus dilakukan anak agar tujuan tercapai.
  4. Media dan sumber belajar merupakan salah satu komponen yang memberi dukungan terhadap proses belajar.
  5. Evaluasi merupakan suatu proses memilih, mengumpulkan informasi untuk membuat keputusan. Evaluasi sebagai alat untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan.
  6. Prosedur Penyusunan Perencanaan Pembelajaran
  7. Salah satu tugas guru adalah membuat perencanaan pembelajaran.
  8. Jenis-jenis perencanaan di TK meliputi Perencanaan Tahunan, Perencanaan Semester, Perencanaan Mingguan (SKM), Perencanaan Harian (SKH).
  9. Perencanaan Tahunan, memuat keterampilan, kemampuan, pembiasaan-pembiasaan dan tema-tema yang sesuai dengan minat anak dan dekat dengan lingkungan anak.
  10. Perencanaan semester merupakan penjabaran dari perencanaan tahunan yang dibagi ke dalam dua semester.
  11. Perencanaan Mingguan berisi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai kemampuan yang telah direncanakan dalam satu minggu sesuai dengan tema pada minggu itu.
  12. Perencanaan Harian (SKH) merupakan perencanaan operasional yang disusun oleh guru dan merupakan acuan dalam melaksanakan pembelajaran. SKH dijabarkan dari SKM.

Tuesday, October 13, 2015

BAHASA INDONESIA BERPELUANG MENJADI BAHASA UTAMA ASEAN

Bahasa Indonesia berpeluang menjadi bahasa utama ASEAN karena mempunyai beberapa faktor berikut:
Pertama, bahasa Indonesia mempunyai struktur yang sederhana. Oleh karena itu, bahasa Indonesia sangat mudah dipelajari. Di samping itu, bahasa Indonesia juga mempunyai daya serap kosakata yang kuat.
Kedua, bahasa Indonesia mempunyai jumlah penutur yang paling banyak di ASEAN, yaitu 200 juta jiwa lebih, dan pada masa depan diperkirakan semakin bertambah. Jumlah penuturnya tersebar di dalam negeri dan di luar negeri. Penutur di luar negeri, seperti tenaga kerja Indonesia, pelajar Indonesia, dan wisatawan Indonesia, dapat menjadi duta dalam mengenalkan bahasa Indonesia kepada bangsa-bangsa lain.
Ketiga, bahasa Indonesia mempunyai penyebaran geografis yang luas. Sebagaimana diketahui, bahasa Melayu, yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia, telah dituturkan di hampir seluruh kawasan ASEAN. Bahkan bahasa Melayu tercatat menjadi bahasa nasional di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura. Sementara itu, di beberapa negara lain, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina, bahasa Melayu menjadi bahasa kedua dan ketiga. Karena struktur bahasa melayu mirip dengan bahasa Indonesia, besar kemungkinan bahasa Indonesia dapat diterima di negara-negara itu.
Keempat, sektor ekonomi makro di Indonesia yang berkembang pesat menjanjikan lahan investasi bagi investor asing. Itulah pintu gerbang untuk mengenalkan bahasa Indonesia kepada dunia.
Kelima, produk sosial dan budaya Indonesia yang tersebar di negara-negara ASEAN dapat menjadi media mengenalkan bahasa Indonesia. Sebagai contoh, di Malaysia film, program televisi, dan musik dari Indonesia banyak digemari dan itu membuka peluang bagi persebaran bahasa Indonesia.
Keberadaan Bahasa Indonesia di dunia Internasional
Kita tahu bahwa bahasa internasional yang saat ini digunakan adalah bahasa Inggris, dari semua penjuru dunia semua memakai bahasa inggris untuk berkomunikasi antar negara. Bahasa inggris telah diakui oleh dunia sebagai bahasa internasional, siapapun yang ingin mengikuti arus global harus menguasai bahasa inggris. Yang menjadi pertanyaan kenapa tidak bahasa Indonesia yang menjadi bahasa internasional? Apakah bahasa Indonesia tidak memenuhi standar bahasa internasional?
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik, yang memiliki cirri khas tertentu bila dibandingkan dengan bahasa lain. Kita ketahui, pembentukan bahasa Indonesia dari keesepakatan bersama yaitu kesepakatan para pemuda Indonesia yang dikenal dengan sumpah pemuda yang dideklarasikan pada tanggal 28 oktober 1928, salah satunya berbunyi “Berbahasa satu bahasa persatuan Indonesia”. Keunikan bahasa indonesia inilah yang menjadi keunggulan mengapa bahasa indonesia layak menjadi bahasa internasional. Selain keunggulan secara historis bahasa Indonesia memiliki keunggulain yang lain. Secara politik bahasa Indonesia memiliki peluang strategis karena dalam konferensi Liga univesitas Islam sedunia yang diselegarakan di ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Gontor pada tanggal 9-11 Januari 2011 melahirkan beberapa rekomendasi salah satunya adalah mengusulkan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa internasional di negara-negara Islam selain bahasa Arab karena perkembangan bahasa Indonesia di timur tengah cukup maju. Beberapa universitas di negara timur tengah sudah membuka jurusan Bahasa Indonesia, misalnya di Mesir dan Syiria. Keunggulan Bahasa Indonesia yang lain yaitu banyaknya jumlah penutur. Jumlah penutur bahasa Indonesia sekitar 200 juta penutur dan belum ditambah dengan peunggunaan bahasa melayu di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Dari jumlah penutur bahasa Indonesia kalah dengan penutur bahasa Mandarin, tetapi jumlah sekitar 200 juta jiwa ini mampu mengalahkan penutur bahasa internasional yang lain yaitu bahasa Rusia dan Perancis. Tren orang asing menggunakan bahasa Indonesia memang makin tinggi. Hal ini didukung juga dengan upaya pemerintah memperkenalkan bahasa Indonesia pada dunia. Saat ini Indonesia memiliki 150 pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di 48 negara. Tokoh penting di dunia juga ada yang bisa berbahasa Indonesia, salah satunya presiden Amerika Serikat Barack Obama. Hal itu juga turut mengkampanyekan bahasa Indonesia di seluruh dunia. Dari kosa kata bahasa Indonesia juga lebih mudah dihafal karena di dalam bahasa Indonesia banyak menyerap kosa kata asing misalnya dari bahasa Inggris dan latin. Bahasa Indonesia relatif mudah beradaptasi dengan istilah-istilah asing dengan melakukan penyerapan, termasuk istilah Inggris yang seiring waktu kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia . Sehingga bagi orang asing yang belajar bahasa Indonesia tidak perlu repot-repot menghafal kosa kata tertentu.