Monday, April 27, 2015

PENALARAN INDUKTIF DAN MACAMNYA

PENALARAN INDUKTIF
Penalaran merupakan pemiikiran, logika, pemahaman. Penalaran adalah proses berpikir yang dapat menghasilkan pengertian atau kesimpulan. Penalaran berlawanan dengan panca indera karena, nalar didapat dengan cara berpikir sehingga dapat mengetahui suatu kebenaran.
Induktif merupakan hal yang dari khusus ke umum.Sehingga dapat dikatakan berpikir induktif adalah pola berpikir melalui hal-hal yang dari khusus lalu dihubungkan ke hal-hal yang umum.

Penalaran Induktif adalah Proses yang berpangkal dari peristiwa yang khusus yang dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan empirik dan mengjasilkan suatu kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat umum.
Contoh penalaran induktif :
kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. kelinci berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Panda berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

Pada Penalaran Induktif terdapat beberapa bentuk.

Bentuk-bentuk Penalaran Induktif: 

a.)Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh:
Andika Pratama adalah bintang film, dan ia berwajah tamapan.
Raffi Ahmad adalah bintang film, dan ia berwajah tampan.
Generalisasi: Semua bintang film berwajah tampan. Pernyataan “semua bintang film berwajah tampan” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Sapri juga bintang iklan, tetapi tidak berwajah tampan.


Macam-macam generalisasi :
1. Generalisasi sempurna: Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk

2. Generalisasi tidak sempurna: Generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantaloon.

Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna. Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.

b.) Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada.

Analogi dilakukan karena antara sesuatu yang diabandingkan dengan pembandingnya memiliki kesamaan fungsi atau peran. Melalui analogi, seseorang dapat menerangkan sesuatu yang abstrak atau rumit secara konkrit dan lebih mudah dicerna. Analogi yang dimaksud adalah anlogi induktif atau analogi logis.

Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran.


Jenis-jenis Analogi:

1. Analogi induktif :
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.

Contoh analogi induktif :
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.

2. Analogi deklaratif :
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.

contoh analogi deklaratif :
deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.

c) Hubungan kausal
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hubungan kausal (kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.

Macam hubungan kausal : 
1. Sebab- akibat. 
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor. 
2. Akibat – Sebab. 
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
3. Akibat – Akibat.
Contoh:Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya korban kecelakaan.


d.) Hipotesa dan Teori

Hipotese (hypo“di bawah“, tithenai“menempatkan“) adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu sebagai penentu dalam peneliti fakta-fakta tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta-fakta lain secara lebih lanjut. Sebaliknya teori sebenarnya merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese.

Contoh :

Tanzi & Davoodi (1998) membuktikan bahwa dampak korupsi pada pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan melalui empat hipotesis (semua dalam kondisi ceteris paribus) :
Hipotesis pertama: tingginya tingkat korupsi memiliki hubungan dengan tingginya investasi publik. Politisi yang korup akan meningkatkan anggaran untuk investasi publik. Sayangnya mereka melakukan itu bukan untuk memenuhi kepentingan publik, melainkan demi mencari kesempatan mengambil keuntungan dari proyek-proyek investasi tersebut. Oleh karena itu, walau dapat meningkatkan investasi publik, korupsi akan menurunkan produktivitas investasi publik tersebut. Dengan jalan ini korupsi dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Hipotesis kedua: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan rendahnya penerimaan negara. Hal ini terjadi bila korupsi berkontribusi pada penggelapan pajak, pembebasan pajak yang tidak sesuai aturan yang berlaku, dan lemahnya administrasi pajak. Akibatnya adalah penerimaan negara menjadi rendah dan pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat.
Hipotesis ketiga: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan rendahnya pengeluaran pemerintah untuk operasional dan maintenance. Seperti yang diuraikan pada hipotesis pertama, politisi yang korup akan memperjuangkan proyek-proyek investasi publik yang baru. Namun, karena yang diperjuangkan hanya proyek-proyek yang baru (demi mendapat kesempatan mencari keuntungan demi kepentingan pribadi) maka proyek-proyek lama yang sudah berjalan menjadi terbengkalai. Sebagai akibatnya pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat.
Hipotesis keempat: tingginya tingkat korupsi berhubungan dengan kualitas investasi publik. Masih seperti yang terdapat dalam hipotesis pertama, bahwa dengan adanya niat politisi untuk korupsi maka investasi publik akan meningkat, namun perlu digarisbawahi bahwa yang meningkat adalah kuantitasnya, bukan kualitas. Politisi yang korup hanya peduli pada apa-apa yang mudah dilihat, bahwa telah berdiri proyek-proyek publik yang baru, akan tetapi bukan pada kualitasnya. Sebagai contoh adalah pada proyek pembangunan jalan yang dana pembangunannya telah dikorupsi. Jalan-jalan tersebut akan dibangun secara tidak memenuhi persyaratan jalan yang baik. Infrastruktur yang buruk akan menurunkan produktivitas yang berakibat pada rendahnya pertumbuhan ekonomi.

Sumber :

  • http://storiangga.blogspot.com/2012/12/pengertian-penalaran-induktif.html
  • http://febrihidayatullah.wordpress.com/2013/03/29/penalaran-induktif/

Thursday, April 23, 2015

MEMBACA GRAFIK, TABEL, DAN BENTUK INFORMASI NONVERBAL LAINNYA

MEMBACA GRAFIK, TABEL, DAN BENTUK INFORMASI NONVERBAL LAINNYA

Informasi verbal adalah informasi yang disampaikan dengan kata-kata. Adapun informasi nonverbal adalah informasi yang disajikan dengan bentuk visual, seperti gambar, bagan, grafik, diagram, matriks, dan tabel.
Bagan merupakan gambar rancangan/skema/alat peraga grafis untuk menyajikan data agar memudahkan penafsiran.
1.     Grafik adalah lukisan pasang surut atau naik turunnya suatu keadaan. Macamnya ada grafik batang, grafik garis, grafik lingkaran.
2.     Diagram merupakan gambaran (buram, sketsa) untuk memperlihatkan atau menerangkan sesuatu.
3.     Tabel adalah daftar berisi ikhtisar sejumlah data atau  informasi.
4.     Matriks adalah tabel yang disusun dalam lajur dan jajaran sehingga butirbutir uraian yang diisikan dapat dibaca dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan.
5.     Bagan adalah gambaran secara analisis yang digunakan untuk membantu memperjelas proses kerja
6.     Peta adalah gambar yang menunjukkan letak suatu tempat

Contoh Grafik


Contoh Tabel










Contoh Diagram

Contoh Bagan









Contoh peta:


Berikut langkah-langkah membaca grafik, tabel, diagram, peta, dan
sebagainya.
1.     Bacalah judulnya, karena judul ini memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan.
2.     Bacalah informasi yang ada di atas, di bawah, atau di sisinya, karena informasi
      yang ada merupakan kunci penjelasan tentang materi yang disajikan.
3.     Ajukan pertanyaan tentang tujuan grafik, peta, tabel, atau digram tersebut.
4.     Membacanya secara menyeluruh, dapatkan keterangannya dalam informasi yang disajikan di sana.
CONTOH SOAL :
SOAL NO. 1

Jenis ekskrakurikuler yang paling banyak diminati siswa kelas I SMP Widya Guna adalah ….
A. PMI
B. Kesenian
C. Volly
D. Pramuka







Soal 2: Perhatikan tabel berikut!

    Pertanyaan yang jawabannya terdapat pada tabel tersebut adalah ...
    A. Bagaimana cara pedagang mendapatkan sarung dan baju koko?
   B. Berapa banyak sarung yang terjual di bulan Oktober dan November?
   C. Berapa banyak sarung dan baju koko yang terjual tiap tahunnya?
    D. Mengapa penjualan baju koko paling sedikit di bulan September?

Soal 3: Perhatikan bagan berikut!











Pernyataan yang sesuai dengan bagan tersebut adalah ...
a. Ketua OSIS bertanggung jawab langsung kepada anggota OSIS.
b. Pengurus OSIS bertanggung jawab kepada pembina OSIS.
c. Ketua OSIS membawahi seksi-seksi.
d. Bendahara membawahi seksi Olah Raga dan Keagamaan

Soal 4: Cermatilah grafik berikut!

Simpulan isi grafik tersebut yang tepat adalah …
a. Koperasi Siswa SMP Kartika tahun 2006 mengalami kenaikan.
b. Perkembangan koperasi SMP Kartika setiap tahun meningkat.
c. Koperasi siswa SMP Kartika mengalami kenaikan dari tahun 2002 s.d. 2003.
d. Koperasi siswa SMP Kartika mengalami kenaikan drastis pada tahun 2007.




Soal 5: Perhatikan tabel berikut

   Informasi yang sesuai dengan tabel tersebut adalah…
   A. Jumlah pasien rawat jalan selalu meningkat setiap tahun.
  B. Jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap cenderung meningkat.
   C. Setiap tahun jumlah pasien rawat inap cenderung menurun.
  D.Pasien rawat inap mendapat pelayanan yang baik.

Wednesday, April 22, 2015

Kata Kerja Transitif & Intransitif


Kata kerja transitif merupakan kata kerja yang memerlukan objek dalam kalimatnya. Adapun kata kerja intransitif  tidak dapat diubah menjadi bentuk pasif. Menurut KBBI kata kerja dapat didefinisikan sebagai sebuah kata yang menggambarkan tentang proses, perbuatan, atau keadaan. 

Verba  digolongikan menjadi 2, yaitu: verba transitif dan verba intransitif.

Verba / kata kerja Transitif
Verba transitif adalah verba yang membutuhkan objek (O). Kata kerja transitif dapat diubah menjadi bentuk pasif. Sedangkan kata kerja (verba) intransitif tidak dapat diubah ke bentuk pasif.

Barikut di bawah ini contoh kata kerja

1. Berakhiran “me-”, contoh: membawa, menolong.
Adik membawa roti
Kakak menolong ibu
  
2. “memper-“, Contoh: memperbesar
Bupati akan memperbesar taman kota
   
3. “memper-kan”, Contoh: mempersoalkan
Roni senang mempersoalkan sebuah masalah

4. “me-i”, Contoh:  mengurangi
Pemerintah mengurangi pasokan BBM bersubsidi.

5. “memper-i”, contoh:memperbaiki
 Kakak memperbaiki kursi

6. “me-kan”, contoh: mengerjakan
Toni mengerjakan tugas
  

Verba / kata kerja Intransitif

Verba (kata kerja) intransitif adalah kata kerja yang tidak membutuhkan objek (O). sehingga kalimat yang menangdung kata kerja intransitif tidak bisa dipasifkan.

1. Berupa verba dasar, contoh: tenggelam,
Kapal itu tenggelam.

2. “ber-“ Contoh: berpakaian
 Ani berpakaian dengan rapi.

3. “ber-kan”, Contoh: berdasarkan
Pilihan saya berdasarkan hati nurani

4. “ ter-“, tersenyum
Tono sedang tersenyum.

5. “ke-an”, contoh: kelaparan

PENGERTIAN FRASA


Adalah kelompok kata / gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan dan memiliki satu makna gramatikal.

Ciri-ciri Frasa
  1. terbentuk atas dua kata atau lebih dalam pembentukannya.
  2. menduduki fungsi gramatikal dalam kalimat.
  3. mengandung satu kesatuan makna gramatikal.
  4. bersifat nonpredikatif.

Contoh Frasa
  1. gunung tinggi
  2. guru bahasa Indonesia
  3. dengan tangan kiri
  4. tidak harus belajar
  5. membanting tulang
  6. ayah ibu
  7. kepada orang tua

KATEGORI FRASA

  1. Berdasarkan jenis/kelas kata frasa terbagi menjadi :
l  Frasa nominal, yaitu frasa yang unsur pembentukannya berinti kata benda.
                Dapat berfungsi menggantikan kata benda.
                Contoh :                   buku tulis
                                                lemari besi
                                                ibu bapak
l  Frasa verbal, yaitu frasa yang unsur pembentukannya berinti kata kerja.
                Dapat berfungsi menggantikan kedudukan kata kerja dalam kalimat.
               
    Contoh :                   sedang belajar
                                                akan datang
                                                belum muncul
                                                baru menyadari
                                                tidak mandi
l  Frasa ajektiva, yaitu frasa yang unsur pembentukannya berinti kata sifat.
               
    Contoh :                  cukup pintar
                                                tidak cantik
                                                hitam manis
                                                murah sekali
                                                agak jauh
l  Frasa preposisional, yaitu frasa yang unsur pembentukannya menggunakan kata depan.
               
     Contoh :                  di rumah
                                                dari Bandung
                                                ke pantai
                                                dengan tangan kiri
                                                oleh mereka
                                                kepada nenek

  1. Berdasarkan fungsi unsur pembentuknya frasa terbagi menjadi :
l  Frasa endosentris, yaitu frasa yang unsur-unsurnya berfungsi diterangkan dan menerangkan (DM) atau menerangkan dan diterangkan (MD).
                   contoh :                 kuda hitam (DM)
                                                anak ayam (DM)
                                                sudah datang (MD)
                                                dua orang (MD)

   l  Macam-macam frasa endosentris:
1)      Frasa atributif, yaitu frasa yang unsur pembentukannya menggunakan pola DM atau MD.
                   contoh :                ibu kandung (DM)
                                                rumah ibu (DM)
                                                tiga ekor (MD)
                                                seorang anak (MD)
                                                rumah bersejarah (MD)
2)      Frasa apositif, yaitu frasa yang salah satu unsurnya (pola menerangkan) dapat menggantikan kedudukan unsur intinya (pola diterangkan).
                   contoh :                Farahsi penari ular sangat cantik.
                                                   D                  M
                                                Yanto, anak Pak Lurah lulus ujian
                                                   D                               M
                                                SPMB.
3)      Frasa koordinatif, yaitu frasa yang unsur-unsur pembentuknya menduduki fungsi inti (setara).
               
       contoh :                ayah ibu
                                                susah senang
                                                warta berita
                                                sunyi sepi
                                                tua muda
4)      Frasa eksosentris, yaitu frasa yang salah satu unsur pembentuknya menggunakan kata tugas.
                    contoh :                dari Bandung
                                                kepada teman
                                                di kelurahan
                                                ke atap rumah
                                                pada malam hari

  1. Berdasarkan satuan makna yang dikandung / dimiliki unsur-unsur pembentuknya frasa terbagi menjadi :
l  Frasa biasa, yaitu frasa yang hasil pembentukannya memiliki makna sebenarnya (denotasi).
                contoh :     Ayah membeli kambing hitam.
                                Meja hijau itu milik adik.
l  Frasa idiomatik, yaitu frasa yang hasil pembentukannya menimbulkan/memiliki makna baru atau makna yang bukan sebenarnya (makna konotasi).
                Contoh :   Pak Aldin membanting tulang demi                        memenuhi kebutuhan keluarganya.
                                 Orang tua Lintang baru kembali dari                       Amerika.
l  Frasa idiomatik, yaitu frasa yang hasil pembentukannya menimbulkan/memiliki makna baru atau makna yang bukan sebenarnya (makna konotasi).
                Contoh :   Pak Aldin membanting tulang demi                        memenuhi kebutuhan keluarganya.
                                 Orang tua Lintang baru kembali dari                       Amerika.
l  Sebuah frasa dapat dibentuk oleh dua buah kata atau lebih yang dapat  disisipi kata lain.
                Contoh :    orang tua → orang yang tua
                                 meja hijau → meja yang hijau
l  Sebuah frasa dapat sebagai konstruksi sintaksis.
                Contoh :     Anak Pak Lurah / sangat cantik.
                                  Gadis yang berwajah ayu / baru                               datang / dari Jawa.


FRASA  AMBIGU
Frasa ambigu yaitu frasa yang menimbulkan makna ganda dalam pemakaian kalimat.