Wednesday, July 31, 2013

FILSAFAT MANUSIA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Segala sesuatu yang diciptakan Allah bukanlah dengan percuma saja, tetapi dengan maksud-maksud tertentu yang dinginkan Allah. Demikianlah di antar seluruh makhluk ciptaan Allah, terdapat makhluk pilihanNya yaitu makhluk manusia. Dan diantara makhluk pilihan itu, maka para Nabi dan Rasul memperoleh tempat tertinggi sebagai manusia pilihan Allah.
Siapakah manusia itu dan bagaimanakah kedudulannya dalam realitas atau jagad raya ini. Demikianlah pertanyaanyang meliputi seluruh pikiran para filsuf, termasuk filsuf Max Scheler. Pertanyaan itu adalah pertanyaan abadi karena pada dasarnya terkandung dalam hati setiap insane sepanjang masa. Bagaimakah sebenarnya tempat manusia itu di dalam jagad raya ini, dalam keseluruhan yang ada ini, dalam keseluruhan dunia ini terhadap Tuhannya.
Selanjutnya manusia itu karena unsur kejasmaniannya ia bersifat potensial, ia merupakan bakat. Manusia itu supaya menjadi manusia betul-betul haruslah memanusiakan dirinya. Dan itu harus dijalankan dengan dan dalam mengalami kesatuannya dengan alam jasmani. Dalam kenyataannya kita melihat dan mengalami sendiri bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa hubungannya dengan alam jasmani. Dalam rangka pikiran ini, kita dapat juga berkata, bahwa manusia itu pribadi, akan tetapi harus mempribadikan diri dan bahwa ia hanya dapat mempribadikan diri, dengan menjalankan kesatuannya dengan alam jasmani, untuk mempribadikan diri kita itu disebut ‘membudaya’. Selanjutnya dunia jasmani dalam membudaya itu kita angkat dan kita jadikan satu dengan diri kita sendiri itu kita sebutkan ‘kebudayaan’. Hanya dalam dan dengan membudayakan alam jasmani, manusia bisa membudayakan dirinya sendiri. Dan di dalam kesibukan manusia yang kita sebut membudayakan itu termuatlah unsure-unsur seperti: teknik, ekonomi, peradapan, bahasa, sosial, kesenian, sejarah dan filsafat.

B. Rumusan Masalah
1)            Bagaimanakah pengertian dan ruang lingkup filsafat manusia?
2)            Apa manfaat mempelajari filsafat manusia?
3)            Bagaimanakah hakikat pribadi manusia itu?
4)            Bagaimanakah Eksistensi manusia itu?

C. Tujuan Pembuatan Makalah
1)      Untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat sebagai nilai UTS
2)      Agar dapat memahami pengertian dan ruang lingkup filsafat
3)      Dan agar dapat memahami hakikat pribadi manusia
4)      Serta agar dapat memahami eksistensi manusia itu seperti apa

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT MANUSIA
Filsafat manusia atau antropologi filsafati adalah bagian integral dari system filsafat, yang secar spsesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Sebagai bagian dari system filsafat, secara metodis ia mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistimologi, filsafat sosial, dan estetika. Tetapi secara ontologism (berdasarkan pada objek kajiannya), ia mempunyai kedudukan yang relative lebih penting, karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian filsafat manusia.
Dibandingkan dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat manusia mempunyai kedudukan yang kurang lebih “sejajar” juga, terutama kalau dilihat dari objek materialnya. Objek material filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya antropologi dan psikologi) adalah gejala manusia. Baik filsafat manusia maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia. Ini berarti bahwa gejala atau ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian untuk filsafat manusia maupun untuk ilmu-ilmu tentang manusia.
Akan tetapi, ditinjau dari objek formal atau metodenya, kedua jenis “ilmu” tersebut memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Secara umumdapat dikatakan, bahwa setiap cabang ilmu-ilmu tentang manusia mendasarkan penyelidikannya pada gejala empiris, yang bersifat “objektif’ dan bisa diukur dan gejala itu kemudian diselidiki dengan menggunakan metode yang bersifat observasional dan/atau eksperimental. Sebaliknya, filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala empris. Bentuk atau jenis gejala apapun pada manusia, sejauh bisa dipikirkan, dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisa menjadi bahan kajian filsfat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spiritual, dan universal dari manusia, yang tidak bisa diobservasi dan diukur melalui metode-metode keilmuan, bisa mnejdai bahan kajian terpenting bagi filsafat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai tersebut merupakan sesuatu yang hendak dipikirkan, dipahami, dan diungkap maknanya oleh filsafat manusia.

B. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT MANUSIA
Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif. Dan memiliki cirri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Kalau betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa ke dalam suatu panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam, dan kritis, yang menggambarkan esensi manusia. Panorama pengetahuan seperti itu paling tidak, mempunyai manfaat ganda, yakni manfaat praktis dan teoretis.
Secara paktis filsafat manusia bukan saja berguna untuk mengetahui apa dan siapa manusia secara menyeluruh, melainkan juga untuk mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusia yang menyeluruh itu. Pemahaman yang pada gilirannya akan memudahkan kita dalam mengambil keputusan-keputusan praktis atau dalam menjalankan berbagai aktivitas hidup sehari-hari, dalam mengambil makna dan arti dari setiap peristiwa yang setiap saat kita jalani, dalam menentukan arah dan tujuan hidup kita, yang selalu saja tidak gampang untuk kita tentukan secara pasti, dan seterusnya. Sedangkan, secara teoretis filsafat manusia mampu memberikan kepada kita pemahaman yang esensial tentang manusia, hingga pada gilirannya kita bisa meninjau secar kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik teori-teori yang terdapat di dalam ilmu-ilmu filsafat.
Manfaat lainnya mempelajari filsafat manusia adalah mencari dn menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu. Akan tetapi, seperti telah disinggung di muka, filsafat manusia tidak menawarkan jawaban yang tuntas (final) dan seraragam tentang manusia. Kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak filsuf memiliki pendapat yang berbeda tentang apa atau siapa sebetulnya manusia. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara berbeda dan menjwab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara berbeda pula. Oleh sebab itulah, setelah kita mempelajari filsafat manusia, maka paling tidak kita akan dapatkan sebuah pelajaran berharga tentang kompleksitas manusia, yang tidak pernah habis-habisnya dipertanyakan apa makna dan hakikatnya.

C. HAKIKAT PRIBADI MANUSIA
Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, berdiri pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonic jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat.
  1. Sebagai makhluk yang Otonom.
Manusia lahir dalam keadaan serba misterius. Artinya, sangat sulit untuk diketahui mengapa. Bagaimana, dan untuk apa kelahirannya itu. Yang pasti diketahuinya adalah manusia dilahirkan oleh sebutlah Tuhan melalui manusia lain (orang tua), sadar akan hidup dan kehidupannya, dan sadar pula akan tujuan hidupnya (kembali pada Tuhan).
Antara ketergantungan (dependansi) dan otonomi (indepedensi) adalah dua unsure potensi kontadiktif yang ada di dalam kesatuan dinamis, keberadaannya yang demikian ini justru memberikan makna jelas kepada dirii pribadi manusia sebagai makhluk Sang Pencipta. Analogikanlah dengan sebuah rumah batu yang kuat, kekuatannya itu adalah warisan kodrat dari batu sebagai benda yang memang kuat.

  1. Sebagai Makhluk yang Berjiwa Raga
Unsur jiwa dan raga manusia itu bukan hal yang berdiri sendiri. Keduanya berada di dalam satu struktur yang menyatu menjadi “diri-pribadi”. Sehingga diri pribadi manusia adalah “jiwa yang meraga” dan “raga yang menjiwa”. Artinya, jiwa menyatu dengan raganya, dan raga menjadi satu dengan jiwanya. Kejiwaan seseorang seharusnya terlihat dari tingkah laku badannya dan badan seseorang itu seharusnya mencerminkan jiwanya.
“Jiwa yang meraga”. Jiwa yang menjadi satu dengan raga, yaitu jiwa yang mewujud dalam bentuk raga. Jiwa adalah suatu yang maujud, tidak berbentuk dan tidak berbobot. Ia dapat dipahami dari kecenderungan-kecenderungan badan. Lihatlah, jika jiwa seseorang dalam keadaan menderita, maka badannya lemah, mukanya muram dan gelap. Tetapi, jika bahagia, maka badannya ringan, enerjik dan muka berseri-seri. Adapun dalam jiwa, ada unsur-unsur yang sering kita kenal sebagai “Tripotensi Kejiwaan” yaitu cipta, rasa dan karsa.
“Raga yang menjiwa”. Raga yang menjadi satu dengan jiwa adalah suatu kecenderungan fenomena badan yang menjadi bersifat kejiwaan. Raga adalah sesuatu yang maujud, berbentuk dan berbobot (berukuran).
Diri pribadi manusia yang berbentuk atas jiwa yang meraga dan raga yang menjiwa ini sebenarnya dapat terjadi karena suatu sebab, yaitu dominasi jiwa atas badannya. Jiwa manusia itu tidak sama dengan jiwa hewan. Jiwa manusia adalah berkesadaran. Sadar aka nasal-mula dan tujuannya. Kesadarn jiwa ini selanjtnya membentuk perbedaan badan manusia, dengan segal gerak-geriknya, dengan badan-badan hewan.
Menurut posisinya, jiwa manusia itu bertabiat di dalam badan. Artinya jiwa mempunyai kekuasaan atas badan. Jiwa yang sehat, pasti akan membuat badan menjadi sehat, tetapi badan yang sehat belum tentu bisa membuat bisa membuat jiwa munjadi sehat.

  1. Sebagai Makhluk Individu yang Memasyarakat.
Seperti hubungan antara “jiwa dan raga”, kedudukannya sebagai individu dan anggota masyarakat juga berada didalam suatu struktur kesatuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia adalah makhluk individu yang memasyarakat dan sekaligus makhluk social yang mengindividu.Mentalitas seseorang dapat menjadi sumber yang berpengaruh kuat terhadap perkembangan mentalitas masyarakatnya dan masyarakat sendiri dapat memberikan kontrol terhadap dinamika mentalitas seseorang.

  1. Individu yang memasyarakat
Dalam kenyataannya yang kongkretnya, kelahiran manusia adalah satu persatu, orang seorang, karena itu, ia lahir secara individual sebagai suatu diri pribadi yang berbeda dan terpisah dengan yang lain diantara sesamanya, termasuk ibu (orang tua) yang melahirkannya.
Akan tetapi, manusia lahir dengan segala keadaan yang serba lemah keberadaan dan hidupnya hanya bisa bergantung pada pihak lain, ibunya, bapaknya, saudara-saudaranya, tetangganya dan jika sudah mulai dewasa semakin terlihat dengan orang lain seluas-luasnya. Ini adalah realitas tidak bisa dihindari sama sekali. Memang harus begitu, karena memang sudah merupakan, hukum alam.
Tetapi sebagai individu yang berdiri pribadi, ia memiliki otonomi dan kebebasan (jiwa yang bebas). Ia mempunyai hak untuk berbuat atau tidak berbuat.

  1. Masyarakat yang mengindividu.
Kalimat ini mengandung arti bahwa masyarakat menciptakan individu-individunya dalam berbagai hal, seperti sifat mentalitas, karakteristik dan sikap pribadi. Lihatlah pada tingkat yang paling inti orang tua pada umumnya ingin anak-anaknya berkembang sesuai dengan imajinasinya.
Orang tua cendrung mendidik anak-anaknya dengan mendikte-kan apa saja, karena ia merasa memiliki mereka. Orang tua membentuk sifat-sifat dan sikap moral anak-anaknya dengan kurang memperhatikan potensi kodrat mereka masing-masing.
Oleh sebab itu, ideal jika masyarakat adalah taraf perkembangan individu dalam menyelenggarakan hidup dan mengembangkan kehidupannya jadi yang real adalah individu, bukan masyarakat; yang berkuasa adalah individu, bukan masyarakat; yang berdiri sebagai subjek adalah individu, bukan masyarakat; dan masyarakat adalah suatu kesadaran tertentu, demi keteraturan kehidupan bersama sedemikian rupa sehingga setiap individu mendapatkan kesempatan untuk memerankan dirinya sebagai manusia yang otonom dan bebas. Masyarakat itu sebenarnya hanya ada didalam angan-angan setiap orang (kesadaran), dan yang ada didalam kenyataan konkret adalah individu-individu dengan segala macam tingkah lakunya. Maka jenis, bentuk, dan sifat tingkah laku seseorang itu menunjukkan “suatu sosialitas”.

D. Eksistensi Manusia
Manusia dalam eksistensinya yang konkrit atau caranya berada, maka nampaklah bahwa dia bukan lah “monade “ atau barang yang terpisah, tanpa hubungan dengan apapun juga. Seperti yang pernah diajarkan oleh Filsuf G.W. Leibnitz. Kita tidak mengerti siapakah manusia itu, kecuali sebagai serba terhubung dengan segala sesuatu. Kita tidak bisa berbicara tentang manusia, kecuali dengan mengakui kesatuannya dengan segala sesuatu. Masing-masing dari kita tidak bisa memiliki keterangan dan pengertian yang lebih jelas tentang diri kita sendiri, tetapi dengan menunjuk hubungannya dengan alam semesta.
Dalam hubungan penguraian ini, yang terdahulu dikemukakan adalah hubungan manusia dengan alam jasmani. Hal ini tidaklah berarti bahwa hubungan itu terlebih dahulu dari pada hubungan kita dengan sesama manusia. Demikianlah manusia itu mengerti, mengalami dan merasakan alam jasmani. Dengan demikian ia memasuki alam jasmani. Dan hanya dengan demikian itu ia menjadi sadar akan dirinya sendiri.
Jadi dengan hanya “ke luar” dari dirinya sendiri ia memasuki dirinya sendiri. Mahusia itu adalah sesuatu yang dengan mengasing dirinya sendiri, dari dirinya sendiri, menemukan dirinya sendiri, dalam dirinya sendiri.
Dengan meminjam filsafat modern dewasa ini dari tokoh Eksistensialisme Gabriel Marcel, maka caranya manusia berada itu kita sebut: ‘etre-au-monde’ (ada di dunia), ‘etre in-carne’ (ada yang mendaging), ‘geist-in-welt’ (ruh di dunia), atau dengan meminjam istilah Fredich Hegel orang bisa juga berkata bahwa manusia itu ‘berdialektik’.
Eksistensialisme ialah suatu aliran fil asat di abad XX ini berseru kepada aliran Materialisme, bahwa manusia itu bukanlah hanya obyek belaka dan seterusnya berseru kepada aliran Idealisme, bahwa manusia itu bukanlah hanya kesadaran belaka.
Manusia itu adalah eksistensi . Apakah artinya itu?
Untuk mengerti hal ini, pandanglah manusia didunia ini . ia mengakui dirinya dan menyebut dirinya “aku”. Hal ini Nampak dalam semua perbuatan manusia sebab tiap perbuatan manusia disebut perbuatanku. Selanjutnya manusia itu menentukan situasinya, memilih perbuatannya, mengadakan aksi-reaksi. Ia berjuang dan melawan, ia menyelenggarakan hidupnya. Dengan kata lain ia adalah ia sendiri, ia mengalami diri sendiri sebagai pribadi. Disamping itu manusia tidak hanya sibuk dengan diri sendiri, tetapi ia juga sibuk dengan dunia luar, ia mengerjakan dunia luar dan dengan berbuat itu ia mempergunakan barang-barang, ia seolah mencurahkan dirinya kedunia luar. Justru dengan demikian ia bisa berkata: aku sedang ini atau itu (misalnya mencangkul sawah). Dengan keluar dari dirinya sendiri itu, manusia sampai kedirinya sendiri, menemukan dirinya sendiri berarti mengakui, mengalami adanya,berdirinya. Itulah yang oleh kaum ‘Eksistensialis’ disebut ‘eksistensi’. Eks berarti keluar, sistensia berarti berdiri. Jadi eksistensi berarti : berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran seperti ini dalam kalangan bangsa Jerman diterangkan dengan istilah : Dasein. Filsuf Heidegger berkata: “Das Wesen des Daseins Lieght in seiner Esistenz’, yang artinya : De sein tersusun dari Dad an sein.
Dan berarti disana. Sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti: da atau disana, disuatu tempat. Tak mungkin ada manusia tampa bertempat. Bertempat berarti terlihat dan bersatu dalam alam jasmani. Manusia itu sadar akan tempatnya, sadar akan dirinya, yang berbeda dengan bertempat dari batu atau pepohonan. Jadi dengan meng-eks atau keluar dan hanya dengan demikian manusia sampai kepada kesadaran diri sendiri, berdiri sebagai AKU atau pribadi. Nampaklah persamaan antara Desein dan Eksistensi, Eksistensi lebih menunjuk pangkalannya, sedangkan Dasein lebih memperhatikan kehadirannya.
Dalam hubungan kesaran manusia tentang eksistensinya, terdapat3 (tiga) buah jenis eksistensi manusia yaitu :
1)      Eksistensi Kultural adalah kesadaran manusia bahwa untuk tetap lestari dalam hidup dan kehidupan ini manusia haruslah berusaha menguasai dan menaklukkan alam ini. Kesadaran inilah yang merupakan landasan pokok terciptanya kebudayaan manusia.
2)      Eksistensi sosial adalah kesadaran manusia, bahwa dalam hidup dan kehidupannya didunia ini manusia serba terhubung dengan manusia lain. Manusia saling tergantung dengan sesamanya manusia . kesadaran inilah yang merupakan dasar hakiki timbulnya masyarakat.
3)      Eksistensi religius adalah kesadaran manusia tentang keterhubungannya sebagai makhluk dengan khaliknya atau penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa . kesadaran inilah sebagai sumber adanya agama.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Filsafat manusia atau antropologi filsafati adalah bagian integral dari system filsafat, yang secar spsesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Sebagai bagian dari system filsafat, secara metodis ia mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistimologi, filsafat sosial, dan estetika. Tetapi secara ontologism (berdasarkan pada objek kajiannya), ia mempunyai kedudukan yang relative lebih penting, karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian filsafat manusia.
Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif. Dan memiliki cirri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Kalau betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa ke dalam suatu panorama pengetahuan yang sangat luas, dalam, dan kritis, yang menggambarkan esensi manusia. Panorama pengetahuan seperti itu paling tidak, mempunyai manfaat ganda, yakni manfaat praktis dan teoretis.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang otonom, berdiri pribadi yang tersusun atas kesatuan harmonic jiwa raga dan eksis sebagai individu yang memasyarakat.
Manusia dalam eksistensinya yang konkrit atau caranya berada, maka nampaklah bahwa dia bukan lah “monade “ atau barang yang terpisah, tanpa hubungan dengan apapun juga. Seperti yang pernah diajarkan oleh Filsuf G.W. Leibnitz. Kita tidak mengerti siapakah manusia itu, kecuali sebagai serba terhubung dengan segala sesuatu. Kita tidak bisa berbicara tentang manusia, kecuali dengan mengakui kesatuannya dengan segala sesuatu. Masing-masing dari kita tidak bisa memiliki keterangan dan pengertian yang lebih jelas tentang diri kita sendiri, tetapi dengan menunjuk hubungannya dengan alam semesta.

DAFTAR PUSTAKA

Abiding, Zainal.______.Filsafat Manusia.______
Burhanudin, Salam. 1988. Filsafat Manusia Antropologi Metafisika. Jakarta : Bina Aksara
Leahy, Louis. 1993. Manusia, Sebuah Misteri. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Ricoeour, Paul. 1982. Hermeneutics and Human sciences. London : Cambridge University Press

Sudarsomo. 1993. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Suparlan, Suharto. , 2005. Dasar Filsafat Manusia. Jogjakarta : Ar.Ruzz Media


JADWAL LIGA INGGRIS TAHUN 2013-2014


Jadwal liga inggris sudah dirilis oleh pihak panitia BPL, jadwal pertandingan liga inggris minggu ini tetap akan diudate setiap minggunya. Jadwal siaran liga inggris 2013-2014 ini mendapatkan tempat teristimewa di Indosiar, SCTV, orange tv, net tv, dan nexmedia tv kabel berlangganan.
Jadwal siaran BPL atau kepanjangan dari Barclays Premier League, siaran bola hari ini kembali diupdatenya jadwal siaran liga Inggris. Jadwal Liga Inggris adalah salah satu liga sepakbola terbesar dan terkenal seantero dunia, liga english terbaru ini juga sangat diminati oleh jutaan masyarakat tak terkecuali masyarakat Indonesia yang suka juga terhadap ISL sebagai liga lokalnya.
Jadwal Liga Inggris 2013-2014 siaran tv terbaru hari ini
Yap untuk jadwal terbaru untuk siaran tv pertandingan liga Inggris 2013-2014 kembali diupdate setiap minggu dan matchday nya.
Siaran liga inggris terbaru yaitu dipegang oleh SCTV dan Indosiar sebagai hak siar liga inggris 2013-2014. Berikut ini jadwal liga inggris hari ini untuk nanti malam:

Jadwal liga Inggris

Sabtu, 17 Augustus 2013
22:00 Arsenal v Aston Villa – Emirates Stadium
22:00 Chelsea v Hull – Stamford Bridge
22:00 Crystal Palace v Tottenham – Selhurst Park
22:00 Liverpool v Stoke – Anfield
22:00 Man City v Newcastle – Etihad Stadium
22:00 Norwich v Everton – Carrow Road
22:00 Sunderland v Fulham – Stadium of Light
22:00 Swansea v Man Utd – Liberty Stadium
22:00 West Brom v Southampton – The Hawthorns
22:00 West Ham v Cardiff – Boleyn Ground
Sabtu, 24 Augustus 2013
22:00 Aston Villa v Liverpool – Villa Park
22:00 Cardiff v Man City – Cardiff City Stadium
22:00 Everton v West Brom – Goodison Park
22:00 Fulham v Arsenal – Craven Cottage
22:00 Hull v Norwich – The KC Stadium
22:00 Man Utd v Chelsea – Old Trafford
22:00 Newcastle v West Ham – St James’ Park
22:00 Southampton v Sunderland – St. Mary’s Stadium
22:00 Stoke v Crystal Palace – Britannia Stadium
22:00 Tottenham v Swansea – White Hart Lane
Sabtu, 31 Augustus 2013
22:00 Arsenal v Tottenham – Emirates Stadium
22:00 Cardiff v Everton – Cardiff City Stadium
22:00 Chelsea v Aston Villa – Stamford Bridge
22:00 Crystal Palace v Sunderland – Selhurst Park
22:00 Liverpool v Man Utd – Anfield
22:00 Man City v Hull – Etihad Stadium
22:00 Newcastle v Fulham – St James’ Park
22:00 Norwich v Southampton – Carrow Road
22:00 West Brom v Swansea – The Hawthorns
22:00 West Ham v Stoke – Boleyn Ground

Unduh jadwal BPL

Jadwal liga inggris dari makelarberita.com. Untuk yang suka melihat tayangan jadwal liga inggris pdf format, anda yang ingin mengunduh jadwal liga inggris musim 2013-2014, anda dapat mengunduhnya di sini

Berita liga inggris 2013-2014

“Kami akan menayangkan 76 pertandingan BPL, FA Cup semifinal dan final, One Capital semifinal dan final di Indosiar, SCTV dan Nexmedia,” lanjut Tanto.
Hadir juga dalam jumpa media Darius Sinathriya yang akan menjadi presenter BPL dan komentator Binder Singh.
source: okezone
Jadwal dapat berubah-ubah menurut ketentuan panitia. Di atas jadwal BPL terupdate hingga 31 Agustus 2013, akan kembali diupdate terkini pada siaran jadwal liga inggris terkini selanjutnya.
Sekian info olahraga dari kami, semoga bermanfaat – Jadwal liga Inggris 2013-2014 terbaru siaran SCTV Indosiar hari ini

PENDIDIKAN NILAI


Penanaman nilai-nilai kehidupan yang layak dengan martabat manusia sebagai makhluk yang “mulia”, ciptaan Tuhan umum dan komprehensip adalah bagaimana mendidik manusia, untuk memanusiakan manusia, menjadi manusia yang memiliki bahasa akal yang didampingi bahasa nurani dan kesadararsebut n jiwa yang religius. Untuk ini diperlukan substansi materi pendidikan nilai yang tercakup dalam agama, ideologi, dan budaya.
            Dalam hidup manusia, membutuhkan adanya tiga hal tersebut dalam mengisi dan mendidik hati nuraninya. Yang dipertahankan nilai luhurnya dalam menghadapi tantangan lawanna nilai etika yaitu kebenaran berhadapan dengan kesalahan, nilai estetika keindahan dihadapkan dengan keburukan dan nilai logika kelurusan dihadapkan dengan kekacauan akal.
            Teori dari arti, wujud dan jenis nilai dapat dipelajari secara singkat sebagai berikut :
Apa itu nilai? Secara etimologis, nilai (value = velare) diartikan sebagai harga, sebenarnya tidak ada ukuran pasti untuk menentukan; angka kepandaian, banyak sedikitnya isi; sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan; serta sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.
            Persoalan-persoalan tentang nilai dibahas dan dipelajari dalam salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai (axiology, theory of value), karena nilai merupakan salah satu bidang kajian filsafat. Filsafat sering juga diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai di dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjukkan kata benda abstrak yang artinya keberhargaan atau kebaikan. Selain itu, istilah nilai juga untuk menunjukkan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian. Di dalam Dictionary of Sociology and Related Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai ada dan melekat pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Oleh karenanya, maka secara sederhana nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang dianggap berharga dan berguna bagi kehidupan manusia serta dinggap baik.
            Shaver dan Strong, 1982 (dalam Al Rasyidin (2005:34), memandang nilai sebagai sejumlah ukuran dan prinsip-prinsip yang kita gunakan untuk menentukan keberhargaan sesuatu. Standar dan prinsip-prinsip tersebut digunakan untuk menilai segala sesuatu (baik itu orang, objek, gagasan, tindakan, maupun situasi) sehingga hal-hal tersebut bisa dikatakan baik, berharga, dan layak atau tidak baik, tidak berguna dan hina, atau segala sesuatu yang berada diantara titik ekstrim keduanya.
            Senada dengan pendapat diatas, Winecoff, 1995 (dalam Al Rasyidin (2005:34) memaknai nilai sebagai serangkaian sikap yang menimbulkan atau menyebabkan pertimbangan yang harus dibuat untuk menghasilkan suatu standar atau serangkaian prinsip dengan mana suatu aktivitas dapat diukur. Standar-standar nilai yang dihasilkan adaah standar tentang sesuatu yang dianggap lebih baik, sebagaimana dikemukakan oleh Soekanto (1983:161) bahwa nilai berkaitan dengan standar-standar tentang sesuatu yang lebih baik, yang mencakup tentang baik atau buruk, cantik atau jelek, menyenangkan atau tidak menyenangkan, sesuai atau tidak sesuai.
            Senada dengan pendapat diatas Fraenkel (1977:6-7) merumuskan nilai (value) adalah “ide atau konsep tentang segala sesuatu yang berharga dalam kehidupan” atau :
            A value is an idea, a concept about what someone thinks as important in life. When a person values something, he or she seems it worth while – worth having, worth doing, or worth trying to obtain. The study values usually is divided into the areas of aesthetics and ethics. Aesthetics refers to the study and justification of what human being consider beautiful – what they enjoy. Ethics refers to the study and justification of conduct – how people behave. At the base study of ethics is the question of morals – the reflective consideration of what is right and wrong.
            Theodorson sebagaimna dikemukakan oleh Felly (1994:101) mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Menurut Rokeach (1973) (yang ditulis kembali oleh Poespadibrata (1993:53) menyatakan bahwa : “ … konsep nilai merupakan konsep inti yang berlaku dalam disiplin ilmu social”.
            Berkaitan dengan definisi “nilai” tersebut, Poespadibrata (1993:56-59) mengelompokkan nilai menurut suatu klasifikasi tertentu sebagai berikut:

1.       Definisi yang bersumber pada filsafat, dirumuskan oleh Spranger (1982) :
            “Values are defined as the constellation of likes, dislikes, viewpoints, should, inner inclinations, rational and irrational judgement, prejudices, and association patterns that determine a person’s view of the world”.
Nilai didefinisikan sebagai rangkaian rasa suka, tidak suka, pertimbangan keharusan, keinginan batin, keputusan baik rasional dan yang tidak rasional, pasangka, dan sekumpulan pola yang menentukan pandangan seseorang tentang kehidupannya.
Nilai sebagai suatu pandangan hidup atau posisi filosofis yang dianut seseorang. Seperti yang diungkapkan oleh Redfield (1953) : “A value is definited as a world view”; dan Yoder (1976:29): “values represent the philosophical position and preferences of individuals”.
2.      Nilai sebagai suatu konsepsi yang bersifat eksplisit dan implisit, yang bersifat khas pribadi atau yang menjadi ciri khas suatu kelompok, mengenai yang sepatutnya diingini yang mempengaruhi atau relevan dengan pemilihan cara, sarana dan tujuan tindakan. Termasuk ke dalam kelompok pandangan ini adalah sebagai berikut :
Kluckhohn (1951) : “A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of individual or characteristic of a group, of a desirable which influences the selection from available modes, means and ends of action.”
Smith (1963): “… personal conception of the desirable that are relevant to selective behavior”.
Zavalloni (1980): “… a nation of the desirable that influences behavior”.
3.      Nilai merupakan suatu kepercayaan (belief) atau berkeyakinan yang relatif tahan lama tentang  apa yang sepatutnya atau seharusnya diingini, baik yang berhubungan dengan cara bertindak maupun keadaan akhir eksistensi yang secara pribadi atau social lebih disukai. Kepercayaan ini menjadi dasar untuk bertindak. Termasuk ke dalam kelompok ini antara lain :
Krech et al, (1962): Nilai merupakan “Belief about what is desirable or a ‘good’ and what is an undesirable or a ‘bad’.
Allport (1963): “A value is a belief upon which a man acts by preferences”.
Rokeach (1973): “Value is enduring belief that a specific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence”.
4.      Definisi nilai yang menekankan kedua fungsi psikis manusia, baik aspek kognitif maupun afektif dikemukakan oleh Jones & Gerard (1967:17): ”A value expresses a relationship between a person’s emotional feeling and particular cognitive categoriesí”.
Triandis (1972): “values are relationship among abstract categories that have a strong affective component, and also as cultural patterns of preferences for certain outcomes (consequences).
5.      Nilai sebagai standar atau kriteria mengenai yang sepatutnya atau seharusnya diingini dan sekaligus berfungsi sebagai suatu panduan untuk memilih tindakan, tujuan, dan perkembangan serta pemeliharaan sikap seseorang.
Kohn (1969) : “Values are standars or desirability or criteria of preference”.
Raven & Rubin (1976:519): “A value is a basic standard or criterion that serve as a guide to action and to the development and maintenance of attitudes toward events, people and objects”.
6.      Nilai sebagai preferensi, yang dikemukakan oleh Kohn (1969), Yoder (1976), Allport (1963), Triandis (1972), Hofstede (1980) yang merumuskan nilai “Value is a broad tendency to prefer certain state of affairs over others”.
7.      Nilai sesuai dengan tingkah laku atau keadaan, yang dikemukakan oleh Gordon (1975): “Values are constructs representing generalized behaviors or state of affairs that are considered by the individual to be important”.
Klasifikasi nilai diatas memberikan kesimpulan bahwa ‘nilai’ merupakan suatu konsep baik berupa konsep-dalil-teori hokum maupun suatu kepercayaan yaitu semangat, jiwa, harga, makna, pesan, fungsi, yang berkaitan dengan hal-hal yang dianggap penting dan seharusnya atau sepatutnya diingini yang memiliki sifat imperative serta lebih disukai, bersifat relative tetap, eksplisit dan implisit.
            Dari pemaparan tentang arti nilai secara terminologis dari beberapa tokoh diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
·         Nilai merupakan seperangkat keyakinan, ide atau konsep, standar atau prinsip dan harga yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang yang bersifat abstrak yang dijadikan pedoman dalam bertindak dan bertingkah laku, dan karena sifatnya yang abstrak, nilai hanya dapat dilihat  melalui indikator-indikatornya.
·         Nilai bukanlah keinginan, tetapi apa yang diinginkan. Atinya, nilai itu bukan hanya diharapkan tetapi diusahakan sebagi suatu yang pantas dan benar bagi diri sendiri dan orang lain. Ukuan-ukuran yang dipakai untuk mengatasi kemauan pada saat dan situasi tertentu itulah yang dimaksud dengan nilai.
·         Nilai merupakan suatu bentuk perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan atau tidak diinginkan yang mempengaruhi perilaku social dari orang yang memiliki nilai itu.
·         Nilai bukanlah soal benar atau salah, tetapi soal dikehendaki atau tidak, disenangi atau tidak.
·         Nilai merupakan kumpulan sikap dan perasaan-perasaan yang selalu diperlihatkan melalui perilaku oleh manusia.
Jadi nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.
                       

IMPLEMENTASI KTSP DI LAPANGAN


A.    PENDAHULUAN
Dalam era globalisasi, seluruh aspek kehidupan bangsa terguncang dahsyat hingga daya adaptif kita sebagai suatu bangsa dalam suatu sistem sangat terpengaruh oleh perubahan, perubahan sangat cepat. Dalam dunia pendidikan, proses akulturasi dan perubahan perilaku bangsa mau tidak mau kita menjadi terdorong masyarakat yang memasuki complex adaptive system yang.
Era reformasi dalam konteks nasional terasa getarannya  seperti perubahan radikal, terasa pula ada penjungkir balikkan nilai-nilai yang telah kita miliki, menjadi porak poranda, dan hampir tercabut sampai ke akar-akarnya. Hal ini kita rasakan sejak tahun 1998, dan kita bertanya apakah ini demokrasi atau reformasi, kita bergumam bahwa ini bukan demokrasi, dan bukan reformasi.
Kita merasakan krisis multidimensional  melanda kita, dibidang politik, ekonomi, hukum, nilai kesatuan dan keakraban bangsa menjadi longgar, nilai-nilai agama, budaya dan ideologi terasa kurang diperhatikan, terasa pula pembangunan material dan spiritual bangsa tersendat, discontinue, unlinier dan unpredictable.
Dalam keadaan seperti sekarang ini sering tampak perilaku masyarakat menjadi lebih korup bagi yang punya kesempatan, bagi rakyat awam dan rapuh tampak beringas dan mendemostrasikan sikap anti sosial, anti kemapanan dan kontra produktif serta goyah dalam keseimbangan ratio dan emosinya.
Bagi kita bangsa yang masih sadar, sabar dan tawakal perlu melaksanakan diagnosis terhadap sikap dan perilaku yang menyimpang dari norma dan moral  yang kurang terkendali ini. Perlu dipola terapi  yang tepat melalui senyum karakter bangsa dan pendekatan keakraban nasional, mengikuti ungkapan seorang negarawan Amerika Serikat (Edward Kennedy) ” We are one nation in a sorrow”. Mari dalam rasa keprihatinan nasional  sekarang ini kita bersatu padu agar derita dari segala bencana yang menimpa bangsa Indonesia baik fisik maupun mental  terutama dalam kesulitan himpitan ekonomi.


B.     TERAPI MENTAL BANGSA DENGAN JIWA OPTIMIS
Langkah dan upaya penyembuhan dari penyimpangan perilaku fisik  dan mental psikologis bangsa ini kita mulai dengan pendekatan agama, pendidikan dan kesejahteraan material dan spiritual. Yang utama memerlukan perhatian adalah membangkitkan kesadaran jiwa untuk menggairahkan peran hati nurani kita sebagai mahluk Tuhan, sebagai pribadi dan sebagai bangsa Indonesia. Kemudian perbaiki manajemen pendidikan nasional, semua harus sepakat mau dibawa kemana bangsa ini dengan pendidikan, semua berhemat dengan biaya pendidikan. Semua harus jadi pendidik, jadi guru dan sekaligus jadi murid. Inilah revolusi pembelajaran yang inovatif yang dapat mendorong anak didik untuk belajar yang menyenangkan aktif dan produktif.
Dengan demikian diperlukan paradigma baru dalam manajemen pendidikan, mengembangkan interaksi edukatif antara keluarga, sekolah dan masyarakat agar terbina proses pembinaan pendidikan bagi anak didik dalam tanggung jawab bersama. Kesan nilai edukatif pada jiwa dan intelek anak didik harus yang menjadi kebutuhan dalam menata cita-cita kehidupan yang bermanfaat lahir batin, karena mereka memiliki kesan nilai dan moral kehidupan yang disebut ”The Golden Rules” (Lawrence Kohlberg, 1976).
Paradigma pendidikan masa sekarang yang sangat kita butuhkan adalah keseimbangan antara pembinaan intelek, emosi dan spirit. Kalau seluruh bangsa berkehendak untuk mengembalikan suasana persatuan dan kesatuan bangsa yang kondusif dan patriotik, maka sangatlah urgen untuk menata kembali politik pendidikan nasional. Tingkatkan dan kembangkan kembali pendidikan politik bangsa yang patriotis, agamis, ideologis dan berjiwa optimis.
Sebagai sumbangan pemikiran bagi pelaksanaan paradigma tersebut, paper ini ingin merekomendasikan untuk mengembangkan : 1. Pendidikan Nilai (Agama, ideologi, dan budaya) bangsa, 2.  Pendidikan Karakter, 3. Menyempurnakan Model penyempurnaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dalam pelaksanaannya dalam program pembelajaran, dipercayakan kepada sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) untuk mencoba setiap mata pelajaran berbasis nilai (value based).

C.    INOVASI PEMBELAJARAN DENGAN MATERI, METODE, MEDIA DAN KURIKULUM
Tiga cara pengayaan
Bagi keseimbangan manfaat dari hasil pembelajaran yang dimiliki peserta didik, maka pengembangan pengayaan materi sangat diharapkan dari peran dan inisiatif kepala sekolah dan guru. Langkah ini merupakan isyarat dan keniscayaan untuk dikembangkan dalam implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); terutama melalui :
1.      Pendidikan Nilai
a.       Dengan kepiawaian guru sebagai the hidden curriculum nilai dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran, apakah nilai keagamaan, nilai ideologi atau nilai budaya.
b.      Dengan kepiawaian guru pula, maka setiap penjelasan, contoh, pemahaman dan tindakan perilaku baik yang berhubungan dengan pelajaran maupun dalam kehidupan tidak bebas nilai (value free).
c.       Dalam keteladanan orang dewasa dihadapan peserta didik, selalu harus memiliki nilai wibawa yang dapat melahirkan nilai etika sebagai sosok anutan yang memiliki ego ideal yang mengesankan anak didik.
Mengenai materi yang bersumber dari agama, ideologi dan budaya ini dapat dikembangkan menjadi alat perekat batin bangsa, melalui hubungan personal, interpersonal dan komunikasi sosial.
Persoalan-persoalan tentang nilai dibahas dan dipelajari dalam salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai (axiologi, theory of value), karena nilai merupakan salah satu bidang kajian filsafat. Filsafat sering juga diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai di dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjukkan kata benda abstrak yang artinya keberhargaan atau kebaikan. Oleh karenanya, maka secara sederhana nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang dianggap berharga dan berguna bagi kehidupan manusia serta dianggap baik.
Shaver dan Strong, 1982 (dalam Al Rasyidin (2005:34), memandang nilai sebagai sejumlah ukuran dan prinsip-prinsip yang kita gunakan utnuk menentukan keberhargaan sesuatu. Standar dan prinsip-prinsip tersebut digunakan untuk menilai  segala sesuatu (baik itu orang, objek, gagasan, tindakan, amupun situasi) sehingga hal-hal tersebut bisa dikatakan baik, berharga, dan layak atau tidak baik, baik berguna dan hina, atau segala sesuatu yang berada di antara titik ekstrim keduanya.
Standar-standar nilai yang dihasilkan adalah standar tentang sesuatu yang dianggap lebih baik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Soekanto (1983:161) bahwa nilai berkaitan dengan standar-standar tentang sesuatu yang lebih baik yang mencakup tentang baik atau buruk, cantik atau jelek, menyenangkan atau tidak menyenangkan, sesuai atau tidak sesuai.

2.      Pendidikan Karakter
Menurut Bambang Nurokhim (artikel Cakrawala TNI AL, 2007:3), tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Pembentukan  dan pendidikan karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.
Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. Sebagaimana disarankan Philips, keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah). Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan, tetapi lebih dari itu, yang diutamakan adalah penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character base education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter, seperti: pelajaran Agama, Sejarah, Moral Pancasila dan sebagainya.
Nilai-Nilai yang Diajarkan dalam Pendidikan Karakter
Dalam pendidikan karakter Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan.
Moral Knowing. Terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu : 1) moral awareness, 2) knowing moral values, 3) perspective taking, 4) moral reasoning, 5) decision making, dan 6) self knowledge.
Moral feeling. Terdapat enam hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia yang berkarakter yakni :           1) conscience, 2) self esteem, 3) emphaty, 4) loving the good, 5) self control, dan 6) humility.
Moral Action. Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu: Terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu : 1)  kompetensi (competence), 2) keinginan (will), 3) kebiasaan (habit).
Untuk itu dalam deklarasi Aspen dihasilkan enam nilai etik utama (core ethical values) yang disepakati untuk diajarkan dalam sistem pendidikan karakter di Amerika yang meliputi :
1)      dapat dipercaya (trustworthy) meliputi sifat jujur (honesty) dan integritas (integrity),
2)      memperlakukan orang lain dengan hormat (treats people with respect),
3)      bertanggungjawab (responsible),
4)      adil (fair),
5)      kasih sayang (caring) dan
6)      warganegara yang baik (good citizen)
Tentang pendidikan karakter inipun, dengan kepiawaian guru dapat dijadikan rujukan untuk bahan pengayaan dalam proses pembelajaran setiap mata pelajaran dan perilaku serta keteladanan orang dewasa, karena pendidikan karakter lebih mendalam tentang pendidikan moral.

3.      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Kurikulum ini disebut juga kurikulum 2006 untuk persekolahan, kurikulum ini bersifat terbuka, demokratis, jelas dan mudah dipahami dan dikemangkan oleh guru.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sebagai Paradigma Baru
Dasar hukum munculnya KTSP adalah Permendiknas No. 22, 23 dan 24 Tahun 2006. Permendiknas No. 22 adalah tentang SKL (Standar Kompetensi Lulusan) sedangkan No. 23 adalah Standar isi. Permendiknas No. 24 adalah bagaimana cara menjalankan Permendiknas No. 22 dan 23. Dilihat dari konteksnya, KTSP adalah penyempurnaan dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) maupun kurikulum 1994. Dikatakan ”penyempurnaan” dikarenakan :
a.         Pada kurikulum 1994, pemerintah pusat sangat dominan dalam menentukan kebijakan-kebijakannya, seperti urutan-urutan materi pelajaran beserta dengan lamanya tatap muka, semuanya ditentukan oleh pemerintah sehingga terjadi kerancuan-kerancuan dalam pelaksanaannya. Kompetensi manusia disamaratakan, seperti halnya pada pedoman kenaikan kelas, rata-rata nilai minimal siswa harus 6,0, padahal Allah SWT menciptakan manusia dengan kompetensi yang berbeda-beda (Waladzi Qodaro Fahada), sehingga muncullah angka-angka 6,0 yang dipaksakan.
b.        Pada kurikulum 2004, KBK, mulai dimunculkan SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal) yang nota bene benar adanya bahwa kompetensi manusia itu diciptakan Allah berbeda-beda. Hanya sayang dalam kurikulum 2004 (KBK) ini masih memunculkan INDIKATOR yang nota bene INDIKATOR tersebut mesti dicapai karena merupakan penjabaran dari SPM (Standar Pelayanan Minimal) sehingga tidak terpikirkan apabila di suatu sekolah yang sarana dan prasarananya belum ada, maka INDIKATOR tersebut tidak mungkin dapat tercapai.
c.         Pada kurikulum 2006, (KTSP) lebih terlihat lagi penyempurnaannya, karena semua komponen diatur/diserahkan kepada guru kecuali untuk STANDAR KOMPETENSI & KOMPETENSI DASAR. Guru diberikan kewenangan membuat urutan-urutan materi pelajaran dan waktu pembelajarannya oleh diri mereka sendiri. SKBM yang muncul di Kurikulum 2004 (KBK) diganti menjadi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan dengan tiga kriteria yakni:
1)        Intake (nilai masukan siswa)
2)        Kompleksitas Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
3)        Sarana pendukung.
             KTSP dibagi ke dalam dua dokumen:
1)        Dokumen satu, terdiri dari landasan, kerangka dan struktur yang dibuat oleh Kepala sekolah dan para Wakasek.
2)        Dokumen dua, terdiri dari silabus dan RPP yang harus dibuat oleh semua guru.