Thursday, June 16, 2011

ANALISIS AKAR MASALAH DALAM MERANCANG INOVASI PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan dunia dalam setengah abad terakhir ini dan dalam abad yang akan datang ditandai dengan kemajuan yang sangat pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan tersebut telah menumbuhkan dan mendorong inovasi baru, baik dalam perkembangan ilmu itu sendiri maupun dalam menciptakan dan mengembangkan teknologi, demikian juga dalam meningkatkan kerja.
Pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa keberhasilan mereka mencapai kemajuan tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan produktivitas rakyatnya, terutama pengetahuan dan produktivitas angkatan kerjanya. Mereka tidak henti-hentinya menciptakan inovasi di berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan.Kata inovasi seringkali dikaitkan dengan perubahan, tetapi tidak setiap perubahan dapat dikategorikan sebagai inovasi. Rogers (1983 : 11) memberikan batasan yang dimaksud dengan inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain. Kata "baru" bersifat sangat relatif, bisa karena seseorang baru mengetahui, atau bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu.
Lebih lanjut Rogers (1983 : 12-16) mengemukakan karakteristik yang dikandung oleh suatu inovasi mencakup :
a)      Adanya keunggulan relatif ; sejauh mana inovasi dianggap lebih baik dari gagasan sebelumnya. Biasanya tolok ukurnya adalah faktor ekonomi, sosial, kepuasan, dan kenyamanan.
b)      Kesesuaian ; merujuk kepada bagaimana suatu inovasi dipandang konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman yang lalu, dan sejauh mana dapat mengatasi kebutuhan calon penerima (adopter).
c)      Kompleksitas ; hal kompleksitas ini berkenaan dengan tingkat kesulitan suatu inovasi untuk dilaksanakan dibandingkan dengan kegunaannya. Apakah inovasi tersebut gagasannya sederhana atau sulit untuk dipahami, dan apakah tingkat kesulitan tersebut seimbang dengan kegunaannya.
d)     Trialabilitas ; aspek ini berkaitan dengan bagaimana tingkat ketercobaannya. Apakah inovasi tersebut mudah untuk diujicobakan.
e)      Observabilitas ; merujuk kepada bagaimana manfaat (hasil) inovasi dapat dilihat oleh masyarakat terutama masyarakat sasaran.
Pada dasarnya, inovasi diciptakan untuk memecahkan masalah. Dalam bidang pendidikan, inovasi diciptakan dengan tujuan untuk memecahkan berbagai masalah yang muncul di suatu instisuti pendidikan. Tanpa adanya inovasi, biasanya sebuah institusi pendidikan akan sulit mencapai kemajuan, terutama dalam mencapai target organiasasi yang telah dirancanga bersama.
Oleh karena itu, langkah awal dalam menciptakan sebuah inovasi aadalah mendeteksi akar permasalahan yang muncul di dunia pendidikan. Dengan analisis akar masalah, kita dapat menemukan inovasi apa yang paling tepat untuk diimplementasikan guna nenecahkan masalah tersebut.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana prosedur dalam menganalisis akar permasalahan dalam inovasi pendidikan? Dan apa fungsi dari analisa tersebut?

C. Tujuan Penulisan
Makalah ini menjelaskan tahapan-tahapan dalam melakukan sebuah analisa akar masalah dalam inovasi pendidikan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pihak-piohak yang berkepentingan dalam pendidikan, agar nantinya dapat merancang sebuah inovasi yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.

D. Manfaat Penulisan
Semoga makalah ini memberikan kontribusi yang berarti bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya, terutama para praktisi pendidikan yang akan menciptakan inovasi pendidikan guna meningkatkan mutu pendidikan dan tercapainya tujuan nasional pendidikan yakni mencetak insan-insan yang cerdas, kompetitif dan bermartabat.

     BAB II
PEMBAHASAN
A. Permasalahan Pendidikan
Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama dengan sebaik-baiknya.
Filsafat dalam pendidikan (filsafat pendidikan) digunakan untuk memecahkan problem hidup dan kehidupan manusia sepanjang perkembangannya dan digunakan untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.
Beberapa masalah pendidikan yang sering muncul, yaitu :
1)      Masalah pertama dan yang mendasar ialah tentang hakikat pendidikan.
Mengapa pendidikan itu harus ada pada manusia. Adalah merupakan hakikat hidup dan kehidupan. Apakah hakikat manusia itu dan bagaimana hubungan antara pendidikan dengan hidup dan kehidupan manusia?
2)      Apakah pendidikan itu berguna untuk membina kepribadian manusia?
Apakah potensi hereditas yang menentukan kepribadian manusia?
Apakah ada faktor yang dari luar dan lingkungan, tetapi tidak berkembang dengan baik?
3)      Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu? Apakah pendidikan itu untuk individu atau untuk kepentingan masyarakat? Apakah pembinaan itu untuk dan demi kehidupan riil dan material di dunia ataukah untuk kehidupan di akhirat kelak?
4)      Siapakah hakikatnya yang bertanggung jawab atas pendidikan?
Bagaimana hubungan tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan sekolah terhadap pendidikan?
5)      Apakah hakikat kepribadian manusia itu? Manakah yang lebih untuk dididik; akal, perasaan, atau kemauannya, pendidikan jasmani atau mentalnya, pendidikan skill ataukah intelektualnya atau kesemuanya itu?
6)      Apakah hakikat masyarakat dan bagaimana kedudukan individu dalam masyarakat? Apakah individu itu independen, ataukah dependen dalam masyarakat?
7)      Apakah isi kurikulum yang relevan dengan pendidikan yang ideal?
Apakah kurikulum itu mengutamakan pembinaan kepribadian?
8)      Bagaimana metoda pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan yang ideal? Bagaimana kepemimpinannya dan pengaturan aspek-aspek sosial paedagogis lainnya?
9)      Bagaimana asas penyelenggaraan pendidikan yang baik, apakah sentralisasi, desentralisasi, ataukah otonomi, apakah oleh Negara, ataukah swasta?
Permasalahan-permasalahan tersebut dapat dijawab dengan analisa filsafat sebagai berikut :
a)      Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk Allah yang dibekali dengan berbagai kelebihan, di antaranya kemampuan berfikir, kemampuan berperasaan, kemampuan mencari kebenaran, dan kemampuan lainnya. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak akan berkembang apabila manusia tidak mendapatkan pendidikan. Allah SWT dengan jelas memerintahkan kita untuk “IQRO” dalam surat Al-Alaq yang merupakan kalamullah pertama pada Rosulullah SAW. Iqro di sini tidak bisa diartikan secara sempit sebagai “bacalah”, tetapi dalam arti luas agar manusia menggunakan dan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah Allah SWT berikan sebagai khalifah fil ardl. Sehingga pendidikan merupakan sarana untuk melaksanakan dan perwujudan tugas manusia sebagai utusan Allah di bumi ini. Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.
b)      Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang. Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilangan pribadinya masing-masing. Sejak dahulu, disepakati bahwa dalam pribadi individu tumbuh atas dua kekuatan yaitu : kekuatan dari dalam (kemampuan-kemampuan dasar), Ki Hajar Dewantara menyebutnya dengan istilah “faktor dasar” dan kekuatan dari luar (faktor lingkungan), Ki Hajar Dewantara menyebutnya dengan istilah “faktor ajar”.
c)      Teori konvergensi yang berpendapat bahwa kemampuan dasar dan faktor dari luar saling memberi pengaruh, kedua kekuatan itu sebenarnya berpadu menjadi satu. Si pribadi terpengaruh lingkungan, dan lingkungan pun diubah oleh si pribadi. Faktor-faktor intern (dari dalam) berkembang dan hasil perkembangannya digunakan untuk mengembangkan pribadi di lingkungan. Faktor dari luar dan lingkungan kadang tidak berkembang dengan baik, misalnya ketika pribadi terpengaruh oleh hal-hal negatif yang timbul dari luar dirinya.
d)     Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.
e)      Secara sederhana Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa, “Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik dalam hal perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Tujuan Pendidikan Nasional adalah menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan tahun 2003, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi pada masa depan.
f)       Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagai tempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan. Pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pembentukan kepribadian anak. Keluarga yang menghadirkan anak ke dunia, secara kodrat bertugas mendidik anak. Kebiasaan-kebiasaan yang ada di keluarga akan sangat membekas dalam diri individu setelah individu makin tumbuh berkembang. Selanjutnya pengaruh dari sekolah dan masyarakat yang akan tertanam dalam diri anak.
g)      Kata kepribadian berasal dari kata personality (bahasa Inggris) yang berasal dari kata persona (bahasa Latin yang berarti kedok/ topeng) yang maksudnya menggambarkan perilaku, watak/ pribadi seseorang. Hal itu dilakukan oleh karena terdapat ciri-ciri yang khas yang dimiliki oleh seseorang tersebut baik dalam arti kepribadian yang baik ataupun yang kurang baik.
h)      Kurikulum yang relevan dengan pendidikan yang ideal adalah kurikulum yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman. Kurikulum menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal. Pembinaan kepribadian merupakan kajian utama kurikulum. Materi program berupa kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan self-esteem, motivasi berprestasi, kemampuan pemecahan masalah perumusan tujuan, perencanaan, efektifitas, hubungan antar pribadi, keterampilan berkomunikasi, keefektifan lintas budaya, dan perilaku yang bertanggung jawab.
i)        Metode pendidikan sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pendidikan yang ideal. Metode yang tepat jika mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam. Guru sebagai pendidik mempunyai tanggung jawab untuk memilih, menggunakan dan memberikan metode yang efektif dalam mencapai tujuan pendidikan yang tercantum dalam kurikulum. Kepemimpinan dan pengaturan aspek-aspek paedagogis harus dilakukan para pelaku pendidikan guna memperlancar proses tercapainya tujuan pendidikan yang ideal.

B. Inovasi Pendidikan
Inovasi didefinisikan sebagai suatu ide, praktek atau obyek yang dianggap sebagai sesuatu yang baru oleh seorang individu atau satu kelompok sosial. Inovasi dalam bidang pendidikan adalah sesuatu yang baru dalam bidang pendidikan yang diciptakan guna memecahkan masalah pendidikan.

C. Analisis Akar Masalah dalam Inovasi Pendidikan
Analisis akar masalah dalam bidang pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengidentifikasi dan investigasi yang efisien dalam menganalisa risiko yang timbul, untuk membantu manajemen mencari solusi perbaikan dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan.
Sebelum melakukan sebuah proyek inovasi, diperlukan analisa tentang situasi yang akan berkaitan dengan proyek tersebut. Masalah yang paling penting adalah melakukan identifikasi dengan analisis akar masalah, yang menjadi fokus utama dalam sebuah proyek inovasi. Sebelum memulai investigasi masalah, perlu dikumpulkan fakta-fakta untuk membatasi proyek.
Pembatasan
Perencana inovasi harus menentukan apa yang menjadi masalah, termasuk di dalam proyek inovasi dan apa saja yang termasuk didalamnya. Batasi proyek dan tetapkan analisis masalah untuk mengidentifikasi batasan agar memudahkan untuk mencari solusi yang lebih spesifik. Hasilnya, masalah spesifik akan dapat diselesaikan lebih efektif.
Rencanakan proyek inovasi dengan memasukkan definisi dan batasan waktu. Setelah itu, perencana dapat memulai mencari masalah yang ada pada populasi target di daerah yang spesifik. Batasan yang jelas akan proyek akan membuat proyek lebih konsisten, dan outcome dari proyek inovasi tersebut akan sesuai dengan identifikasi masalah diawal.
1.      Analisis Masalah
Analisis masalah adalah sesuatu yang terpenting dalam merencanakan proyek, sehingga dapat mengetahui intervensi apa yang dapat diterapkan. Ini merupakan dasar dari design proyek. Analisis masalah termasuk :
a)      Verifikasi analisis subjek;
b)      Identifikasi masalah yang terkait subjek;
c)      Membangun hirarki sebab akibat didalam masalah;
d)     Memvisualisasikan hubungan sebab akibat di dalam diagram.
Tiga tahap dalam proses analisis dalam metode analisis masalah adalah sebagai berikut.
a)      Analisis masalah terkait dengan subjek (gambaran sebenarnya)
b)      Analisis tujuan (gambaran masa depan, situasi yang diinginkan)
c)      Analisis strategi (perbandingan antar perbedaan kenyataan dengan tujuan)
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan analisis sebuah masalah adalah sebagai berikut.
Ø  Identifikasi masalah utama, berdasarkan informasi yang tersedia.
Tujuan dari langkah ini adalah untuk menjamin semua aspek proyek pada suatu daerah tidak sama dengan proyek yang baru. Alat untuk mengumpulkan data adalah brainstorming dengan para stakeholder, pemetaan komunitas, mengumpulkan komentar anggota organisasi pendidikan tentang fasilitas sebuah lembaga pendidikan.
Ø  Pilih salah satu masalah utama untuk dianalisis
Setelah mengidentifikasi seluruh masalah yang ada, tentukan masalah yang merupakan inti dari masalah yang menjadi target pada proyek inovasi, . yang dicoba diselesaikan dengan mengimplementasikan proyek. Pemilihan inti masalah harus dikomunikasikan dengan stakeholder pendidikan.
Ø  Identifikasi sebab langsung dari masalah utama dan menyusun pohon masalah
Memiliki identifikasi merupakan poin awal untuk menganalisis masalah, kita mengetahui inti untuk membangun pohon masalah. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui semua sebab langsung dari inti masalah pendidikan.
Ø  Identifikasi akibat langsung dari inti masalah dan buat dalam pohon masalah
Pada tahap ini, kita melihat akibat dari masalah timbul di sebuah lembaga pendidikan untuk dapat dicari solusinya.
Ø  Meninjau ulang pohon masalah
Langkah terakhir adalah meninjau kembali pohon masalah untuk memastikan sudah valid dan lengkap. Pohon tersebut harus terlihat dan memberikan logika dari hubungan sebab dan akibat.

2.      Analisis Pohon Masalah
Pohon masalah menunjukkan masalah serta akar dan akibatnya, yang berarti menunjukkan keadaan sebenarnya atau situasi yang tidak diharapkan. Analisis pohon masalah membantu untuk menemukan solusi dengan memetakan sebab dan akibat di sekitar masalah utama untuk membentuk pola pikir, tetapi dengan lebih terstruktur.
Analisis pohon masalah dalam bidang pendidikan sebaiknya dilakukan pada focus grup kecil sekitar 6 -8 orang dengan menggunakan kertas flipchart atau OHP. Langkah awal adalah mendiskusikan dan menyetujui masalah atau isu yang akan dianalisis. Masalah atau isu dituliskan ditengah flipchart dan menjadi inti masalah. Kata-kata yang menjadi inti masalah tidak panjang, yang penting dapat menjelaskan isu yang dimaksud kepada setiap orang dan semua menyetujuinya. Selanjutnya, grup melakukan identifikasi penyebab inti masalah (yang akan menjadi akar) dan mengidentifikasi akibat (yang akan menjadi cabang).
Inti dari latihan ini adalah diskusi, dialog dan debat untuk menemukan faktor-faktor yang berhubungan serta seringkali membentuk pembagian akar dan cabang lagi (seperti peta berfikir).

v  Beberapa keuntungannya :
­            Masalah dapat dipecah menjadi potongan-potongan yang lebih dapat diatur dan didefinisikan. Ini memungkinkan untuk membuat prioritas dan membantu objektif focus. Selain itu, dengan menganalisis pohon masalah, kita akan lebih mengerti masalah dan seringkali menghubungkan sebab-sebab yang berlawanan. Seringkali ini merupakan langkah awal untuk menemukan ide-ide baru dalam menciptakan sebuah inovasi pendidikan yang bermanfaat. Analisis pohon masalah pun berguna untuk mengidentifikasi isu dan pendapat yang mendukung, dan menolong orang yang berperan pada setiap tahap dan proses.
            Keuntungan lain dari analisis pohon masalah juga untuk membuat informasi selanjutnya, sumberdaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek atau membangun solusi yang meyakinkan. Analisis pohon masalah pun membantu kita untuk mengetahui isu saat ini, isu yang lampau, semuanya dapat teridentifikasi. Proses analisis pun seringkali membantu untuk membangun rasa berbagi dan saling pengertian dalam menentukan tujuan dan langkah selanjutnya.
Metode pohon masalah adalah metode perencanaan berdasarkan kebutuhan. Analisis pohon masalah diikuti dengan perencanaan proyek yang aktual.
v  Cara membuat analisis pohon masalah pendidikan.
            Berikut ini adalah cara membuat analisis pohon masalah dalam pendidikan.
a)      Identifikasi satu atau dua masalah inti yang mempengaruhi target populasi.
b)      Identifikasi masalah yang terkait dalam bidang pendidikan.
c)      Analisis dan identifikasi hubungan sebab dan akibat dan membuat pendahuluan dari pohon masalah.
d)     Mengecek hubungan kausal yang logis.

D. Analilis SWOT dalam Inovasi
Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat) adalah sebuah pendekatan analisis guna mendeteksi kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang klita miliki dalam menciptakan sebuah inovasi pendidikan.
Pada umumnya, langkah-langkah untuk menganalisis SWOT adalah sebagai berikut:
Langkah 1
Identifikasi kelemahan dan ancaman yang paling urgen untuk diatasi secara umum pada semua komponen pendidikan.
Langkah 2
Identifikasi kekuatan dan peluang yang diperkirakan cocok untuk upaya mengatasi kelemahan dan ancaman yang telah diidentifikasi lebih dahulu pada langkah pertama.
Langkah 3
Masukkan butir-butir hasil identifikasi (Langkah 1 dan Langkah 2) ke dalam Bagan Deskripsi SWOT. Langkah ini dapat dilakukan secara keseluruhan, atau jika terlalu banyak, dapat dipilah menjadi analisi SWOT untuk komponen masukan, proses, dan keluaran.
Langkah 4
Rumuskan strategi atau strategi-strategi yang direkomendasikan untuk menangani kelemahan dan ancaman, termasuk pemecahan masalah , perbaikan, dan pengembangan lebih lanjut.
Langkah 5:
Tentukan prioritas penanganan kelemahan dan ancaman itu, dan susunlah suatu rencana tindakan untuk melaksanakan program penanganan.

E. Gap Analysis
Dalam menciptakan sebuah inovasi pendidikan, kita pun bisa menggunakan Gap Analysis. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi perbedaan antara posisi organisasi saat ini dengan posisi organisasi yang diinginkan atau dicita-citakan pada masa depan.
Gap Analysis berakibat pada pengembangan strategi yang spesifik dan alokasi sumberdaya untuk menutup adanya gap (kesenjangan) tersebut. Dalam Gap Analysis perlu diperhatikan tuntutan minimum yang harus dipenuhi (minimum neccessary requirement atau MNR) untuk suatu institusi pendidikan. MNR dikenakan kepada setiap komponen (input-process-output-outcome-impact) evaluasi-diri untuk menjamin keberhasilan program studi. Keberhasilan program sangat dipengaruhi oleh NMR.
Dengan gap analysis sebelum menciptakan sebuah inovasi pendidikan, kita bisa menyusun beberapa pertanyaan mendasar seperti nerikut:
a)      Seberapa bagus apa yang kita kerjakan dibanding institusi lain ?
b)      Kita ingin menjadi seperti apa?
c)      Siapa yang saat ini kinerjanya terbaik ?
d)     Bagaimana mereka mencapai kinerja terbaik tersebut?
e)      Bagaimana kita mengadopsi inovasi apa yang mereka lakukan untuk institusi kita?
f)       Bagaimana kita bisa menunjukkan kita lebih baik dibanding mereka ?


     BAB III
KESIMPULAN

Pada hakikatnya, sebuah inovasi diciptakan untuk memecahkan masalah. Analisis akar masalah dalam inovasi pendidikan adalah upaya pendekatan yang digunakan untuk mendeteksi akar permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan.
Sebelum menciptakan sebuah inovasi, para perencana hendaknya menganalisis dulu akar masalah yang ada. Dengan begitu, nantinya keputusan yang diambil dalam menciptakan sebuah inovasi akan berjalan sesuai dengan kebutuhan anggota sistem sosial pendidikan.
Selain menganalisis akar masalah, para perencana pun seyogyanya menganalisis masalah dan pohon masalah. Setelah itu, para perencana hendaknya melakukan analisis SWOT dengan mengacu pada pohon masalah yang telah dibuat. Dengan menganalisis SWOT, kita bisa mengukur tingkat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki organisasi dalam melaksanakan sebuah inovasi.

Tuesday, May 17, 2011

Tradisi Buruk Pasca-UN

SEMPROT sana-semprot sini. Coret sana coret sini menjadi pemandangan biasa setiap ujian nasional (UN) berakhir. Budaya yang katanya menjadi kenang-kenangan ini ternyata bohong belaka. Buktinya baju seragam yang dicoret nyatanya berubah menjadi kain pembersih. Alih-alih dijadikan kenang-kenangan masa-masa SMA, baju bersejarah yang telah mengantarkan pemiliknya menjadi intelektual muda justru musna tanpa manfaat yang berarti.

Celakanya lagi, ketika semua pihak menyadari budaya ini merusak citra pendidikan, mereka justru tidak punya solusi handal meminimalisasi penyakit akhir tahun ajaran ini. Alhasil, setiap tahun tak terhitung berapa ratus ribu potong baju yang dicoret sia-sia oleh para pelajar di seluruh Indonesia.

Pertanyaan besarnya saat ini adalah benarkah tidak ada solusi untuk hal ini? Jawaban normatifnya adalah di mana ada kemauan di situ ada jalan. Dengan kata lain, andai institusi pendidikan kita benar-benar menganggap budaya ini sesuatu yang harus dikikis habis sejatinya mereka harus memikirkan dengan sungguh-sungguh solusi untuk masalah ini.

Namun, oleh karena pola pikir yang menempatkan guru tidak lagi bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan siswa pascakeluar dari sekolah, maka banyak sekolah lepas tangan untuk memikirkan tradisi corat coret ini. Bahkan institusi setingkat dinas pendidikan di daerah pun terkesan mengabaikan perilaku tak terpuji ini membudaya di kalangan pelajar Indonesia.

Bila kita bertanya, apakah upaya yang sudah dilakukan untuk mencegah terjadinya corat-coret baju seragam pascaUN? Dengan bangga kepala dinas pendidikan terkait akan menjawab, “Kami sudah surati semua sekolah untuk melarang siswa melakukan budaya buruk ini.”

Bayangkan saja, tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun ini ingin dihentikan dengan selembar surat dinas pendidikan. Surat yang hanya sebatas memerintahkan tanpa ada langkah konkret di lapangan. Sebagian sekolah lain melakukan ancaman bagi siswa yang melanggar. Tapi alih-alih memberi sanksi, pasca UN pelajar di maksud justru tidak punya hubungan sama sekali dengan sekolah selain menunggu pengumuman UN lulus atau tidak. Lagi pula akan sangat tidak manusiawi pula bila seorang siswa ditahan izajahnya atau didenda atau dipenjarakan hanya karena mencoret baju pascaUN.

Melihat akar permasalahannya ada pada mental para pelajar itu sendiri, maka perlu ada satu sistem yang memaksa para pelajar tidak melakukan lagi tradisi ini. Sistem itu tidak semata-mata sebatas mengingatkan dan menasehati tetapi perlu siasat jitu dari para stakeholder pendidikan kita sehingga budaya coret baju ini bisa dikikis habis.

Siasat jitu dimaksud bisa dilakukan melalui pemanfaatan teknologi yang ada saat ini. Tradisinya, para pelajar melakukan coret seragam sesaat setelah pengumuman UN. Oleh karena itu akan lebih baik bila pengumuman UN itu sendiri tidak dilakukan di sekolah dan tidak perlu dihadiri oleh orangtua dan siswa.

Pengumuman cukup dilakukan melalui situs resmi sekolah sehingga para pelajar cukup melihat pengumuman kelulusan itu melalui internet. Ini menjadi efektif karena sekolah tidak perlu disibukkan dengan pengamanan ekstra ketat dari aparat kepolisian atau menata ruangan serapi mungkin untuk menerima orangtua siswa saat pengumuman.

Pemanfaatan teknologi untuk menekan tindakan tidak terpuji corat coret seragam ini cukup efektif diberlakukan. Setidaknya itu telah terbukti di SMA 1 Mataram NTB, orangtua dan siswa dilarang datang ke sekolah saat pengumuman UN. Karena pihak sekolah mengumumkannya langsung melalui koran, radio, dan situs resmi sekolah. Di samping lebih mudah, metode ini juga semakin mengakrabkan siswa dengan IT. Semoga.

Buku dan Peradaban Bangsa

MUNGKIN sedikit orang yang mengetahui bahwa 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Menurut sejarah, tanggal itu dipilih bertepatan dengan didirikannya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta 31 tahun yang lalu, 17 Mei 1980.

Tidak bisa dimungkiri, buku merupakan sumber informasi dan sumber ilmu pengetahuan. Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk dan melalui buku pula peradaban suatu bangsa terbangun. Ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa jika ingin mengetahui seperti apa kepribadian seseorang 10 tahun mendatang, lihatlah teman-temannya saat ini dan buku apa yang ia baca saat ini.

Sejarah menceritakan salah satu penyebab kemunduran peradaban Islam di masa keemasannya adalah serangan bangsa Mongol yang memporak-porandakan kota Baghdad dengan melenyapkan buku-buku di perpustakaan. Ada yang dibakar, ada pula yang dibuang ke sungai.

Bangsa Jepang yang mencintai buku, menjadikannya sebagai bagian dari membudayakan aktivitas membaca di setiap saat, terbukti menjadi bangsa yang maju peradabannya. Peradaban suatu bangsa tidak akan pernah bisa lepas dengan bagaimana bangsa tersebut mencintai buku.

Budaya mencintai buku di Indonesia masih memprihatinkan. Menjadi hal yang ironis ketika menjamurnya jumlah penerbit buku akhir-akhir ini tidak diiringi dengan minat masyarakat terhadap buku.

Budaya Membaca

Berbicara tentang buku tidak akan pernah lepas dari dua aktivitas yaitu membaca dan menulis. Untuk memahami isi suatu buku mau tidak mau seseorang harus membaca buku. Dengan membaca, wawasan seseorang akan menjadi luas. Jika buku adalah jendela dunia, maka membaca adalah kuncinya.

Masyarakat Jepang sejak usia dini sudah diperkenalkan dengan membaca buku. Pantas jika Jepang dikenal sebagai bangsa yang gemar membaca. Sementara itu, masyarakat kita lebih menyukai budaya lisan dan visual daripada budaya membaca. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua, terlebih bagi pemerintah melalui kebijakannya agar budaya membaca bisa tertanam bagi masyarakat Indonesia.

Budaya Menulis


Tidak akan pernah ada buku tanpa adanya orang yang menulisnya. Budaya lisan menyebabkan masyarakat kita lebih suka berbicara daripada menulis. Padahal tanpa ditulis, suatu perkataan akan lebih cepat hilang dan dilupakan. Dengan menulis pula, kebermanfaatan kita bisa terus mengalir melebihi usia hidup kita.

Mengapa Kartini lebih dikenal orang daripada Dewi Sartika? Padahal kontribusi Dewi Sartika lebih besar dan lebih nyata bagi masyarakat. Jawabannya adalah karena Kartini menulis. Kita tidak akan mengenal ilmuwan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Isac Newton, dan Albert Enstein yang telah meninggal berabad-abad lampau jika mereka tidak mentransformasikan ilmunya dalam bahasa tulis.

Seoarang penyair masyhur asal Inggris bernama TS Eliot mengatakan “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca”. Melalui tulisan ini, penulis mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai buku dengan membudayakan membaca dan menulis sehingga peradaban Indonesia menjadi maju di masa mendatang.

Thursday, May 12, 2011

Hitam Putih Ujian Nasional

UJIAN Nasional (UN) merupakan ujian akhir sekolah yang menjadi syarat kelulusan seorang siswa untuk mengakhiri masa studinya. Euforia yang dirasakan dalam menghadapi ujian menjadi tantangan tersendiri bagi tiap siswa menghadapi tekanan yang ada. Tekanan yang dirasakan siswa ini menimbulkan berbagai respons berbeda, ada yang menilai bahwa UN sangat penting untuk menguji seberapa pantas mereka untuk lulus. Namun banyak juga yang menilai bahwa UN hanya membuat siswa tertekan.

Tujuan UN yang dicanangkan oleh pemerintah adalah untuk mengukur kualitas pendidikan Indonesia. Hanya saja, pada kenyataannya malah berakibat lain untuk psikologis siswa karena hasilnya sering tidak memuaskan. Banyak siswa yang tidak lulus dengan standar yang merata di setiap daerah. Padahal, kualitas pendidikan di daerah belum merata, ini mengakibatkan adanya ketidakadilan dalam pelaksanaan UN. Seharusnya pemerintah menyamakan terlebih dahulu kualitas pendidikan tiap daerah baru melaksanaakan suatu ujian yang serempak secara nasional dengan standar kelulusan yang sama

UN yang dilaksanakan beberapa tahun belakangan ini memiliki citra yang kurang baik, karena banyak pendapat bahwa UN merupakan sebuah syarat formalitas yang harus dilalui siswa. UN tidak bisa dijadikan parameter dalam menilai suatu kualitas pendidikan bangsa. UN dalam pelaksanaanya tidak bisa dijadikan tolok ukur kualitas seorang siswa, karena kenyataannya banyak terjadi kecurangan baik oleh siswa maupun oleh guru. Ini karena bukan hanya siswa yang takut dalam menghadapi UN, tetapi juga para para guru.

Lulus atau tidak seorang siswa dalam menempuh studinya hanya pihak sekolahlah yang tahu, bukan berdasarkan ujian akhir yang dirasa memberikan tekanan psikologis bagi siswa. Pihak sekolah punya hak penuh dalam menetapkan dan menentukan kelulusan siswanya, karena merekalah yang mengetahui kualitas anak didiknya. Untuk itu perlu ada sistem UN yang baru sesuai dengan kondisi pendidikan di Indonesia setiap daerahnya.

Jika pemerintah mau mengetahui tingkat kualitas pendidikan seharusnya dilakukan survei terhadap pengetahuan siswa dalam belajar di setiap daerah dan para pengajar. Dari survei tersebut akan terlihat kualitas pendidikan suatu bangsa berdasarkan daerahnya, karena tingkat pemahaman siswa di seluruh Indonesia pastinya berbeda.

Banyak hal tersamarkan dalam praktik pelaksanaan UN. Kondisi ini menggambarkan keadaan hitam putih UN yang dicanangkan pemerintah.

Wednesday, May 11, 2011

Why Analysis

Why Why Analysis (analisa kenapa kenapa) adalah suatu metode yang digunakan dalam root cause analysis dalam rangka untuk problem solving yaitu mencari akar suatu masalah atau penyebab dari defect supaya sampai ke akar penyebab masalah.
Istilah lain dari why why analysis adalah 5 whys analysis. Metoda root cause analysis ini dikembangkan oleh pendiri Toyota Motor Corporation yaitu Sakichi Toyoda yang menginginkan setiap individu dalam organisasi mulai level top management sampai shopfloor memiliki skill problem solving dan mampu menjadi problem solver di area masing-masing.
Why Analysis
Why Analysis - Simple Tools in Root Cause Analysis
Metoda yang digunakan oleh why why analysis adalah dengan menggunakan iterasi yaitu pertanyaan MENGAPA yang diulang beberapa kali sampai menemukan akar masalahnya. Contohnya sebagai berikut:
Masalah: Mesin Breakdown.
  1. Mengapa? Komponen automator tidak berfungsi
  2. Mengapa tidak berfungsi? Usia komponen sudah melebihi batas lifetime 12 bulan
  3. Mengapa tidak diganti? Tidak ada yang tahu
  4. Mengapa tidak ada yang tahu? Tidak ada jadwal rutin maintenance
  5. Mengapa tidak ada jadwal rutin? Inilah akar masalahnya
Terkadang untuk sampai pada akar masalah bisa pada pertanyaan kelima atau bahkan bisa lebih atau juga bisa bahkan kurang tergantung dari tipe masalahnya. Metoda root cause analysis ini cukup mudah dan bisa sampai pada akar masalahnya, bukan hanya di permukaan saja. Dan mencegah masalah tersebut terulang lagi.
Tahapan umum saat melakukan root cause analysis dengan why why analysis:
  1. Menentukan masalahnya dan area masalahnya
  2. Mengumpulkan team untuk brainstorming sehingga kita bisa memiliki berbagai pandangan, pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda terhadap masalah
  3. Melakukan gemba (turun ke lapangan) untuk melihat actual tempat, actual object, dan actual data
  4. Mulai bertanya menggunakan why why
  5. Setelah sampai pada akar masalah, ujilah setiap jawaban dari yang terbawah apakah jawaban tersebut akan berdampak pada akibat di level atasnya. Contoh: apakah kalau ada jadwal rutin maintenance maka akan mudah buat maintenance untuk melakukan penggantian komponen secara rutin. Apakah hal tersebut paling masuk akal dalam menyebabkan dampak di level atasnya. Apakah ada alternatif kemungkinan penyebab lainnya?
  6. Pada umumnya solusi tidak mengarah pada menyalahkan ke orang tapi bagaimana cara melakukan perbaikan sistem atau prosedur
  7. Jika akar penyebab sudah diketahui maka segera implementasikan solusinya
  8. Monitor terus performancenya untuk memastikan bahwa masalah tersebut tidak terulang lagi.

Wednesday, April 20, 2011

Pramuka Kini, Pramuka Pembaharuan


Tak terasa sebentar lagi 14 Agustus 2011 ini sudah 50 tahun Gerakan Pramuka Indonesia berdiri dan berkiprah sebagai salah satu wadah pendidikan dan pembinaan watak dan kepribadian serta kemandirian bagi generasi muda di negeri tercinta ini. Sejak disyahkan untuk pertama kalinya oleh Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno pada 14 Agustus 1961 silam, Gerakan Pramuka terus eksis berkegiatan sampai saat ini. Kontribusi yang diberikan gerakan pramuka bukan semata-mata hanya sebagai pelengkap kegiatan ekstrakulikuler para siswa atau peserta didik di setiap sekolah saja, melainkan menjadikannya sebagai cerminan dasar dalam membentuk pribadi mandiri dan berkarakter serta cinta tanah air yang dilandasi pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Perkembangan Gerakan Pramuka mulai dari orde lama, orde baru sampai orde reformasi saat ini, sangat dirasakan “tetap bertahan” seiring perjalanan waktu, apalagi dalam masa-masa dimana kondisi dan situasi ekonomi dan politik dalam negeri sering berubah-ubah.
Pramuka masa lalu yang sebelumnya bernama kepanduan, merupakan cikal bakal terbentuknya insan-insan nusantara yang patriotis cinta tanah air dan rela berkorban demi bangsa dan negara tercinta dalam rangka membebaskan diri dari semua belenggu penjajahan. Semangat juang yang ditumbuhkan para pejuang pada masa itu, bersamaan dengan diploklamirkannya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno - Hatta adalah upaya besar bersama seluruh elemen rakyat untuk segera keluar dari semua tekanan dan rongrongan kekuatan asing yang ingin terus menjajah bumi nusantara ini. Sejak saat itu, gerakan kepanduan tidak bisa dipandang sebelah mata oleh semua pihak. Keberadaanya, sangat membantu perjuangan bangsa dalam mengorbarkan spirit membela tanah air.
Kini, setelah semua pristiwa bersejarah itu berlalu, harapan memajukan gerakan pramuka terus diupayakan pemerintah terutama dalam hal kegiatannya. Tidak sedikit pula dana dari APBN dan APBD yang dikeluarkan pemerintah untuk mendukung pengembangan organisasi ini menjadi lebih maju dan berkualitas, semua kegiatan yang berbasis pendidikan dasar tidak pernah absen dilaksanakan mulai dari tingkat Gugus Depan sampai tingkat Kwartir Nasional (Kwarnas) di seluruh Indonesia.
Potensi yang dimiliki Gerakan Pramuka sangat besar sekali dalam membekali generasi muda untuk lebih berarti bagi negerinya. Program-program pendidikan dan pembinaan yang dikemas sedemikian rupa tidak lepas dari tujuan utamanya sebagai pembentuk manusia berkarakter yang mempunyai wawasan dan ilmu pengetahuan lengkap di segala bidang. Namun, hal tersebut, dalam kenyataannya tidak didukung sepenuhnya oleh pihak-pihak disekelilingnya khususnya kaum muda sendiri. Dimana mereka kini, cendrung memandang kegiatan kepramukaan sudah ketinggalan jaman. Oleh sebab itu, mereka lebih memilih berkegiatan lain yang lebih bervariatif dan menarik. Pengaruh globalisasi dewasa ini, berperan pula dalam memperbaharui setiap materi kegiatan yang disajikan. Partisipasi para pelatih dan Pembina dalam kapasitasnya sebagai pendidik dan pembimbing tidak hanya sebatas memberikan materi latihan yang telah ada. Tapi, berusaha lebih kreatif dalam menciptakan pola latihan yang baru dan inovatif sesuai perkembangan jaman.
Pramuka kini adalah pramuka pembaharuan, yang mana di dalamnya bukan hanya suka rela dalam menjalankan Satya dan Dasa Dharma Pramuka saja, tapi lebih kepada pengembangan sumber daya manusia sesuai bidang ilmu yang disukai dan dikuasai. Oleh sebab itu, program-program lanjutanpun harus terus diarahkan demi memajukan para anggota pramuka dalam menempuh masadepannya.
Kegiatan kepramukaan bukan hanya identik dengan outdoor saja. Tapi, penguasaan teknologi dan wirausaha harus juga jadi prioritas saat ini. Disamping kegiatan yang bersinergi langsung dengan kepentingan masyarakat atau istilah lainnya pengabdian masyarakat. Kondisi dan situasi negara yang masih tidak menentu ini, bukan menjadi halangan bagi Gerakan Pramuka dalam mewujudkan cita-citanya untuk membangun negeri melalui kegiatan kaum muda lebih baik lagi. Langkah kemitraan dengan semua pihak terkaitpun harus terus dilakukan disesuaikan dengan target yang ingin dicapai bersama.
Pramuka kini, harus lebih berperan dalam menata kehidupan baik secara individu maupun bagi kepentingan bersama bahkan kepentingan Negara. Konsep-kosep dasar kemandirian yang diajarkan Lord Baden Powell sebagai Bapak Pandu Dunia tidak salah bila diaplikasikan kembali untuk saat sekarang ini. Arti dan makna yang terkandung di semua ajarannya sangat relevan untuk di laksanakan kaum muda masa kini. Pramuka Indonesia harus menjadi leader generasi muda lainnya dalam meraih masa depan di negerinya sendiri. Semangat pantang menyerah dan sifat kegotong royongan adalah pangkal dasar berdirinya Pemuda dan pemudi Indonesia baru yang maju menggapai cita-cita dan harapan tanpa harus dirusak oleh pengaruh globalisasi. Oleh karena itu, dengan diperingatinya 49 tahun dan menjelang 50 tahun Pramuka Indonesia, diharapkan akan lebih terbuka dalam menjalin dan membina hubungan kerjasama dengan berbagai pihak yang peduli dan perhatian akan kemajuan anak-anak bangsa di kemudian hari. Selamat Hari Jadi Pramuka Indonesia “Satyaku Ku Dharmakan Dharmaku Ku Bhaktikan”.

Thursday, April 14, 2011

Peran Kepala Sekolah dalam Mengefektifkan Organisasi Sekolah

Secara teoritis, organisasi sekolah dalam menyelenggarakan programnya terlebih dahulu menyusun tujuan dengan baik yang penerapannya dilakukan secara efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar (PBM). Keefektifan organisasi sekolah tergantung pada rancangan organisasi dan pelaksanaan fiingsi komponen organisasi yang meliputi proses pengelolaan informasi, partisipasi, pelaksanaan tugas pokok organisasi, perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian.

Kepala sekolah memiliki peranan yang sangat kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.

Edmonds (dalam Sagala, 2005) tentang sekolah efektif menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sedemikian penting untuk menjadikan sebuah sekolah pada tingkatan yang efektif. Asumsinya adalah bahwa sekolah yang baik akan selalu memiliki kepala sekolah yang baik, artinya kemampuan profesional kepala sekolah dan kemauannya untuk bekerja keras dalam memberdayakan seluruh potensi sumber daya sekolah menjadi jaminan keberhasilan sebuah sekolah. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan pekerjaannya dan dapat mendayagunakan seluruh potensi sumber daya yang ada di sekolah maka kepala sekolah harus memahami perannya.

a) Kepala sekolah sebagai manajer
Supriyono (2000) mengatakan bahwa manajer adalah seseorang yang bertanggung jawab untuk mencapai hasil tertentu melalui tindakan orang lain yang berada dibawah tanggung jawabnya. Sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama atau kooperatif, memberikan kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah, (Mulyasa, 2005).

Sebagai manajer kepala sekolah harus mampu mengusahakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan. Merencanakan, dalam arti kepala sekolah harus benar-benar memikirkan dan merumuskan dalam suatu program tujuan dan tindakan yang harus dilakukan; Mengorganisasikan, berarti bahwa kepala sekolah harus mampu menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia dan sumber-sumber material sekolah sebab keberhasilan sekolah sangat bergantung pada kemampuan kepala sekolah dalam mengatur dan mendayagunakan berbagai sumber daya dalam mencapai tujuan; Memimpin, dalam arti bahwa kepala sekolah memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi seluruh sumber daya manusia untuk melakukan tugas-tugasnya yang esensial. Dengan menciptakan suasana yang tepat kepala sekolah dapat membantu sumber daya manusia untuk melakukan hal-hal yang paling baik.; Mengendalikan, dalam arti kepala sekolah memperoleh jaminan bahwa sekolah berjalan mencapai tujuan. Apabila terdapat kesalahan di antara bagian-bagian yang ada dari sekolah tersebut maka kepala sekolah harus memberikan petunjuk dan meluruskan.
Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai manajer mempunyai tugas antara lain (1) menyusun perencanaan, (2) mengorganisasikan kegiatan, (3) mengarahkan kegiatan, (4) mengkoordinasikan kegiatan, (5) melaksanakan kegiatan, (6) melakukan evaluasi terhadap kegiatan, (7) menentukan kebijaksanaan, (8) mengambil keputusan, (9) mengadakan rapat, (10) mengatur proses belajar mengajar, (11) mengatur administrasi, ketatausahaan, siswa, ketenagaan, sarana dan prasarana, keuangan sekolah/RAPBS, (12) mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi lain, dan (13) mengatur organisasi siswa intra sekolah.

Dari paparan di atas, bahwa peran kepala sekolah sebagai manajer dapat dilihat pada kemampuan penyusunan berbagai program sekolah, penyusunan personalia sekolah, pengoptimalan segenap sumber daya sekolah, dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi oleh guru dan staf.

b) Kepala sekolah sebagai administrator
Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Sebagai seorang administrator, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan mengembangkan semua fasilitas sekolah baik sarana maupun prasarana pendidikan.

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus mampu menerapkan kemampuannya dalam tugas-tugas operasionalnya yakni kemampuan pengelolaan kurikulum, pengelolaan administrasi peserta didik, pengelolaan personalia, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan administrasi kearsipan, dan pengelolaan administrasi keuangan.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa peran kepala sekolah sebagai administrator dapat dilihat pada kemampuan pengelolaan kurikulum, pengelolaan administrasi peserta didik, pengelolaan personalia, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan administrasi kearsipan, dan pengelolaan administrasi keuangan.

c) Kepala Sekolah sebagai supervisor
kepala sekolah mempunyai tugas sebagai supervisor. Kepala sekolah sebagai supervisor dimaksudkan untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap guru-guru dan personel lain untuk meningkatkan kinerja mereka. Kepala sekolah sebagai supervisor bertugas mengatur seluruh aspek kurikulum yang berlaku di sekolah agar dapat memberikan hasil yang sesuai dengan target yang telah ditentukan. Aspek-aspek kurikulum yang harus dikuasai oleh kepala sekolah sebagai supervisor adalah materi pelajaran, proses belajar mengajar, evaluasi kurikulum, pengelolaan kurikulum, dan pengembangan kurikulum.

Sergiovani dan Starrat (dalam Mulyasa, 2005) menyatakan bahwa “ Supervision is a process designed to help teacher and supervisor team more about their practice, to better able to use their knowledge and skills to better serve parents and schools and to make the school a more effective learning community".
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa peran utama kepala sekolah sebagai supervisor adalah menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya yang diwujudkan dalam, program supervisi kelas, kegiatan ekstra kurikuler, serta peningkatan kinerja tenaga kependidikan dalam upaya pengembangan sekolah.

d) Kepala sekolah sebagai leader
Wahjosumidjo (1999) mengatakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. Kepala sekolah sebagai leader memiliki visi dan mempunyai peranan dalam mengelola visi menjadi sebuah kenyataan. Untuk menjadi pemimpin yang efektif menggunakan analitis yang dikembangkan dengan baik dan kemampuan intelektual dalam membimbing para staf dalam proses mengidentifikasi masalah-masalah, keterampilan politik dan manajemen untuk menyelesaikan konflik dan mampu membuat berbagai rencana kerja.

Pendapat di atas dapat memberikan gambaran bahwa peran kepala sekolah sebagai leader harus memiliki kepribadian yang kuat, memahami kondisi guru dengan baik, memiliki visi dan misi sekolah, memiliki kemampuan mengambil keputusan yang partisipatif dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi.

Monday, April 4, 2011

Contoh Naskah Pidato


Pidato Acara HUT Kemerdekaan RI

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Yang terhormat Bapak Kepala Kelurahan ….
Yang terhormat Bapak Ketua RW ….
Yang terhormat Bapak Ketua RT ….
Dan hadirin sekalian yang kami muliakan!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, pada hari ini kita semua masih diberi kesempatan untuk ikut serta memeriahkan acara hari ulang tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke-65 dalam keadaan sehat wal-afiat.
Selanjutnya dengan memperingati hari ulang tahun kemerdekaan kita ini kami berharap, semoga kita lebih meningkatkan rasa cinta kita pada tanah air dan bangsa, lebih meningkatkan daya juang kita terhadap bangsa dan negara, lebih mempersatukan jiwa dan segenap raga kita untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Hadirin sekalian yang berbahagia, jika kita kenang perjuangan para pahlawan tahun 1945 maka terlintas jelas di benak kita bahwa semangat pertempuran yang bagaikan api yang tak kunjung padam itu begitu hebat menyatu pada jiwa para pahlawan pejuang 45 itu. Namun demikian tak kalah pentingnya dengan peran kita semua sekarang ini. Perjuangan belumlah selesai. Korban telah banyak berjatuhan maka marilah kita tingkatkan terus jiwa dan semangat 45, dengan mewujudkan jiwa pembangunan yang tangguh.
Kemakmuran berdasarkan keadilan dan Ketuhanan Yang Maha Esa belum kita capai. Untuk itu masih banyak yang harus kita perjuangkan. Kemerdekaan sebagai warisan para pahlawan kita ini hendaknya kita isi dengan jiwa pembangunan tanpa mengenal kepentingan pribadi terlebih dahulu.

Jiwa dan semangat 45 ialah jiwa dan semangat kebersamaan. Jiwa yang mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan. Untuk itu pula maka kita wajib menigkatkan rasa solidaritas berbangsa dan bernegara. Persatuan dan kesatuan nasional lebih di atas kepentingan kita secara pribadi dan golongan. Tumbuhkan terus semangat kebersamaan dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan.
Insya Allah harapan bangsa Indonesia mencapai kehidupan yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan ridla Allah Subhanahu wa Ta’ala tercapai dengan menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan nasional Indonesia. Amin, amin, yaa robbal ‘alamin.

Akhirul kata, selamat berjuang, selamat membangun bangsa dan negara kita tercinta ini.
Dirgahayu Indonesiaku! Merdeka!
Wassalamualikum warahmatullahi wabarakaatuh

Tuesday, March 22, 2011

Mencari Sosok Guru Ideal


Guru ideal adalah dambaan peserta didik. Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan. Ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis. Semakin diambil semakin jernih airnya. Mengalir bening dan menghilangkan rasa dahaga bagi siapa saja yang meminumnya.
Guru ideal adalah guru yang mengusai ilmunya dengan baik. Mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya. Disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami. Ilmunya mengalir deras dan terus bersemi di hati para anak didiknya. Benarkah sosok itu ada? Lalu seperti apakah sosok guru ideal yang diperlukan saat ini?
Guru ideal yang diperlukan saat ini adalah pertama, guru yang memahami benar akan profesinya. Profesi guru adala profesi yang mulia. Dia adalah sosok yang selalu memberi dengan tulus dan tak mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridho dari Tuhan pemilik bumi. Falsafah hidupnya adalah tangan di atas lebih mulia daripada tangan dibawah. Hanya memberi tak harap kembali. Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya. Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5S dalam kesehariannya (Salam, Sapa, Sopan, Senyum, dan Sabar)
Kedua, Guru yang ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. Pengalaman mengatakan, siapa yang rajin membaca, maka ia akan kaya akan ilmu. Namun, bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru yang rajin membaca otaknya seperti komputer atau ibarat mesin pencari di internet ysng bernama Google. Bila ada peserta didiknya yang bertanya, memori otaknya langsung bekerja mencari dan menjawab pertanyaan para anak didiknya dengan cepat dan benar. Akan terlihat wawasan guru yang rajin membaca, dari cara bicara dan menyampaikan pengajarannya. Guru yang ideal adalah guru yang juga rajin menulis. Bila guru malas membaca, maka sudah bisa dipastikan dia akan malas pula untuk menulis. Menulis dan membaca adalah kepingan mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Guru yang terbiasa membaca, maka ia akan terbiasa menulis, mengapa? Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri. Menulis itu ibarat pisau yang kalau tidak sering diasah, maka akan tumpul dan berkarat. Guru yang rajin menulis, akan mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau. Tulisannya sangat menyentuh hati, dan bermakna. Runut serta mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya.
Ketiga, Guru yang ideal adalah guru yang sensitif terhadap waktu. Orang Barat mengatakan bahwa waktu adalah uang, time is money. Bagi guru waktu lebih dari uang dan bahkan bagaikan sebilah pedang tajam yang dapat membunuh siapa saja termasuk pemiliknya. Pedang yang tajam bisa berguna untuk membantu guru menghadapi hidup ini, namun bisa juga sebagai pembunuh dirinya sendiri. Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak akan banyak prestasi yang ia raih dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang ia sia-siakan. Karena itu guru harus sensitif terhadap waktu. Detik demi detik waktunya teratur dan terjaga dari sesuatu yang kurang baik serta sangat berharga. Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu dengan baik.
Keempat, Guru yang ideal adalah guru yang tidak terjebak dengan rutinitas kerjanya. Kesibukan kerja setiap hari menjadi rutinitas yang tiada henti. Guru harus pandai mengatur rutinitas kerjanya. Jangan sampai guru terjebak sendiri dengan rutinitasnya yang justru tidak menghantarkan dia menjadi guru yang baik dan menjadi tauladan anak didiknya. Guru harus pandai mensiasati pembagian waktu kerjanya. Buatlah jadwal yang terencana. Buang kebiasan-kebiasaan yang membawa guru untuk tidak terjebak di dalam rutinitas kerja, misalnya : pandai mengatur waktu dengan baik, membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru, dan lain-lain. Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru terpola menjadi guru pasif bukan aktif. Hari-harinya diisi hanya untuk mengajar saja. Dia tidak mendidik dengan hati. Waktunya di sekolah hanya sebatas sebagai tugas rutin mengajar yang tidak punya nilai apa-apa. Guru hanya melakukan transfer of knowledge. Tidak mau tahu dengan lingkungan dan kondisi sekolah apalagi kondisi siswa. Dia mengganggap pekerjaan dia adalah karirnya, karena itu dia berusaha keras agar yang dilakukannya bagus di mata pimpinannya atau kepala sekolah. Tak ada upaya untuk keluar dari rutinitas kerjanya yang sudah membosankan. Bahkan sampai saatnya memasuki pensiun. Apakah ini yang disebut guru profesional?
Kelima, Guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif. Merasa sudah berpengalaman membuat guru menjadi kurang kreatif. Guru malas mencoba sesuatu yang baru dalam pembelajarannya. Dia merasa sudah cukup. Tidak ada upaya untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. Dari tahun ke tahun gaya mengajarnya itu-itu saja. Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang dibuatpun dari tahun ke tahun sama, hanya sekedar copy and paste tanggal dan tahun saja. Rencana Program pembelajaran tinggal menyalin dari kurikulum yang dibuat oleh pemerintah atau menyontek dari guru lainnya. Guru menjadi tidak kreatif. Proses kreatif menjadi tidak jalan. Untuk melakukan suatu proses kreatif dibutuhkan kemauan untuk melakukan inovasi yang terus menerus, tiada henti.Guru yang kreatif adalah guru yang selalu bertanya pada dirnya sendiri. Apakah dia sudah menjadi guru yang baik? Apakah dia sudah mendidik dengan benar? Apakah anak didiknya mengerti tentang apa yang dia sampaikan? Dia selalu memperbaiki diri. Dia selalu merasa kurang dalam proses pembelajarannya. Dia tidak pernah puas dengan apa yang dia lakukan. Selalu ada inovasi baru yang dia ciptakan dalam proses pembelajarannya. Dia selalu memperbaiki proses pembelajarannya melalui penelitian tindakan kelas. Dia selalu belajar sesuatu yang baru, dan merasa tertarik untuk membenahi cara mengajarnya. Dia belajar sepanjang hayat hidupnya.
Terakhir, Guru yang ideal adalah guru yang memiliki 5 kecerdasan. Kecerdasan yang dimiliki terpancar jelas dari karakter dan prilakunya sehari-hari. Baik ketika mengajar, ataupun dalam hidup ditengah-tengah masyarakat. Kelima kecerdasan itu adalah: kecerdasan intelektual, kecerdasan moral, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, kecerdasan motorik. Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan moral, Mengapa? Bila kecerdasan intelektual tidak diimbangi dengan kecerdasan moral akan menghasilkan peserta didik yang hanya mementingkan keberhasilan ketimbang proses, segala cara dianggap halal, yang penting target tercapai semaksimal mungkin. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita sehingga kasus korupsi merajalela di kalangan orang terdidik. Karena itu kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam situasi apapun. Jujur bukanlah kebijakan yang terbaik, tapi jujur adalah satu-satunya kebijakan. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan. Selain itu kecerdasan sosial juga harus dimilikin oleh guru ideal agar tidak egois, dan tidak memperdulikan orang lain. Dia harus mampu bekerjasama dengan karakter orang lain yang berbeda. Kecerdasan emosional harus ditumbuhkan agar guru tidak gampang marah, tersinggung, dan mudah melecehkan orang lain. Sedangkan kecerdasan motorik diperlukan agar guru mampu melakukan mobilitas tinggi sehingga mampu bersaing dalam memperoleh hasil yang maksimal.

Monday, March 7, 2011

Contoh Naskah Pidato Siswa Pada Acara Perpisahan Sekolah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat siang untuk semuanya.

Bapak Kepala Sekolah yang saya hormati, Bapak dan Ibu Guru yang saya hormati, Para orang tua murid Kelas VI yang saya hormati, Teman-Teman yang saya cintai.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. karena dengan rahmat dan hidayah-Nya kita diberi kesehatan untuk berkumpul bersama pada hari ini. Hari ini, kita berkumpul dalam rangka hari perpisahan sekaligus hari perayaan kelulusan siswa Kelas VI.

Guru-Guru dan Teman-Teman, sungguh tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah enam tahun kami belajar dan menimba ilmu di sekolah ini. Begitu banyak pelajaran dan pengetahuan yang kami dapatkan. Semuanya itu sangat berguna bagi kami.

Kini, akhirnya hari kelulusan itu tiba. Setelah enam tahun kami banyak belajar dari Bapak dan Ibu Guru, saya selaku perwakilan teman-teman Kelas VI mengucapkan terima kasih untuk guru-guru kami tercinta. Semua pelajaran dan nasihat yang kami dapatkan akan selalu kami ingat.

Kami juga menyampaikan permintaan maaf atas semua kesalahan dan kenakalan yang pernah kami perbuat selama kami bersekolah di sini. Kenanglah kami semua sebagai siswa-siswi yang pernah Bapak dan Ibu ajar.

Tidak lupa kami sampaikan juga terima kasih kepada orangtua kami tercinta yang juga hadir pada kesempatan ini. Para orang tua yang selalu memberikan kasih sayang dan dorongannya kepada kami hingga kami dapat lulus dan merayakannya pada hari ini.

Untuk Teman-Teman, semua peristiwa yang kita alami di sekolah ini, senang, sedih, dan bahagia akan selalu mengingatkan kita pada sekolah tercinta ini. Setelah lulus, hendaknya kita selalu terdorong untuk tetap rajin belajar untuk mencapai cita-cita.

Akhir kata, saya sebagai perwakilan teman-teman Kelas VI ingin mengucapkan selamat tinggal pada sekolah kami tercinta. Kami akan selalu mengingat sekolah ini. Sekian dari kami Terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Thursday, February 24, 2011

MANAJEMEN KURIKULUM DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN DI SEKOLAH

Sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang memiliki peran strategis dalam pembinaan kepribadian anak. Di dalam sekolah terjadi proses transformasi kebudayaan kepada anak. Tentu saja, transformasi kebudayaan tersebut berlangsung melalui pembelajaran sesuai kurikulum yang berisikan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Scotter (1989) menjelaskan fungsi pendidikan adalah sebagai institusi sosial yang menjamin kelangsungan hidup generasi muda suatu bangsa. Baik pendidikan di sekolah (formal), keluarga (informal) maupun di masyarakat (non-formal) pada intinya untuk mengalihkan, dan mengembangkan kebudayaan agar kehidupan masyarakat survive sesuai dengan cita-cita bangsanya.
Untuk menjamin kelangsungan transformasi kebudayaan bangsa Indonesia maka dilakukan pengaturan sistem pendidikan nasional sebagaimana undang-undang nomor 20/2003 tentang SISDIKNAS. Keberadaan madrasah sebagai sekolah umum berciri khas agama Islam, dituntut untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia.
Kelancaran pelaksanaan pendidikan di madrasah sangat tergantung pada berfungsi tidaknya manajemen madrasah. Kegiatan manajemen menjadi tanggung jawab utama kepala madrasah, di samping kepemimpinan kepala untuk mencapai sekolah yang berkualitas.
Tampaknya dewasa ini, banyak pimpinan sekolah yang kurang mampu mengarahkan perubahan di sekolahnya sesuai tuntutan masyarakat. Padahal berbagai perubahan perlu direspon setiap sekolah dengan berdasarkan pada perubahan kebijakan bidang pendidikan, baik kurikulum, pembinaan keprofesionalan guru, personil pegawai, sarana dan prasarana, pembinaan siswa. Bagaimanapun, kebutuhan masyarakat sebagai pelanggan, serta faktor luar perkembangan ekonomi, ilmu dan teknologi harus benar-benar direspon madrasah.
Kepala sekolah sebagai manajer dituntut menunjukkan keterampilan mengelola sekolah agar semua programnya dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Kepala sekolah yang visioner dan kredibel sangat diperlukan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara memuaskan para pihak terkait (Stakeholders).
Ansyar berpendapat bahwa dalam bidang pendidikan agar tercapai kebutuhan pelanggan hari ini dan mendatang maka diperlukan pengembangan kurikulum secara terus menerus berdasarkan suara hati dari pasar yang telah diteliti. Tentu di dalamnya rencana pemasaran lulusan, kejelasan spesifikasi lulusan harus dibangun dari rencana sumber daya yang ada. Hal ini terkait dengan apa sebenarnya pelanggan dan apa produk dalam manajemen mutu terpadu.
Kebanyakan sekolah telah mengembangkan berbagai program unggulan dalam menyahuti tuntutan kualitas yang diharapkan para orang tua dan masyarakat dari setiap sekolah. Karena para kepala sekolah sebagai manajer harus memahami strategi perubahan sekolah dalam memperjuangkan pencapaian keunggulan mutu sebagai tujuan sekolah. Adanya program peningkatan mutu, melibatkan semua pihak terkait, membagi tugas dan tanggung jawab dan standar mutu yang akan dicapai merupakan ciri utama manajemen yang dijalankan oleh kepala sekolah untuk mencapai keungulan mutu lulusan. Dengan manajemen peningkatan mutu yang efektif, maka kualitas unggul lulusan madrasah akan tercapai. Dalam konteks ini, diperlukan strategi manajemen yang .memungkinkan program pengajaran berjalan dengan baik, sehingga berbasis pada kompetensi dari bermuara kepada kualitas pelayanan dan kualitas lulusan madrasah.
Ada beberapa persoalan yang selama ini dihadapi guru dalam pendidikan dan pembelajaran di sekolah di antaranya: (1) Kurikulum yang ada di sekolah hanya dianggap sebagai rambu-rambu mengajar; (2) Guru menggunakan kurikulum “taken for granted” (langsung jadi), sehingga kurikulum bukan kreativitas guru untuk memberikan proses pembelajaran yang terbaik kepada siswa, tetapi sebagai tetib administrasi semata; (3) Kepala sekolah tidak memahami kurikulum, sehingga saat ada perubahan dari kurikulum KBK menuju KTSP tidak perubahan yang signifikan. Yang disebabkan tidak adanya kemandirian sekolah dan diperparah oleh lemahnya sumberdaya manusia.
Padahal tujuan dari KTSP adalah adanya kemandirian guru. (Mulyasa, 2007: 224) guru merupakan pengembang kurikulum bagi kelasnya, yang akan menterjemahkan, menjabarkan, dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum kepada peserta didik. Dalam hal ini, tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) akan tetapi lebih dari itu, yaitu membelajarkan anak supaya dapat berfikir integral dan komprehensif, untuk membentuk kompetensi dan mencapai makna tertinggi. Kegiatan tersebut bukan hanya berwujud pembelajaran di kelas tetapi dapat berwujud kepada kegiatan lain, seperti bimbingan belajar kepada peserta didik. Pengembangan rencana pembelajaran dan pelaksanaan bimbingan, karena isi kurikulum bukan yang hanya dalam matapelajaran saja, tetapi menjadi tanggung jawab sekolah untuk diberikan kepada peserta didik, seperti kerja keras, disiplin, kebiasaan belajar yang baik, dan jujur dalam belajar.
Bagaimanapun, persoalan pengembangan pengajaran merupakan Inti dari fungsi madrasah, sehingga fungsi manajemen peningkatan mutu merupakan hal krusial dalam meningkatkan kualitas pengajaran yang bermuara pada kualitas lulusan.
Pengajaran sangat berhubungan dengan kemampuan seorang guru, peran guru di sekolah lebih khusus lagi di kelas tidak dapat digantikan dengan media apapun. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh KH. Abdullah Syukri (2005: 133) bahwa:
“اَلطَّرِيْقَةُ أَهَمُّ مِنَ الْمَدَّةِ, وَلَكِنَّ الْمُدَرِّسَ اَهّمُّ مِنَ الطَّرِيْقَةِ, وَرُوْحُ الْمُدَرِّسُ اَهَمُّ مِنَ المُدَرِّسُ. (metode itu lebih penting daripada materi, tetapi guru lebih penting dari metode, dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri). Dari pendapat tersebut di atas, dapat kita simpulkan bahwa peran guru sebagai pengajar harus disertai dengan perannya sebagai pendidik pula di sekolah. Oleh karena itu, berkaitan dengan manajemen peningkatan mutu pengajaran maka peran guru sangat penting untuk dikaji secara lebih mendalam.

INOVASI MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN

Pengajar, desain pembelajaran, dan peserta didik adalah 3 (tiga) hal yang selalu disebut saat kita ingin berbicara tentang proses pembelajaran. Mengapa demikian ? karena sesungguhnya 3 (tiga) hal tersebutlah yang menjadi motor dalam pergerakan sebuah roda pembelajaran.
Pengajar disini dapat diartikan secara luas, apalagi dalam era internetisasi saat ini. Salah satu dampak yang ditimbulkannya pada dunia pendidikan adalah munculnya metode-metode pembelajaran secara elektronik (elearning atau online learning). Hal tersebut akhirnya berimbas pada cara guru dalam menyampaikan atau membahasakan materi di kelas, dari yang sebelumnya bertutur atau lisan menjadi tulisan. Namun demikian, peran guru atau pengajar di kelas tidak dapat tergantikan karena tidak semua peserta didik mampu belajar dan memahami materi secara mandiri. Untuk mengatasinya adalah dengan cara memblend antara metode klasikal dan elektronik (adanya hybrid instruction).
Menurut Gagne, Briggs, & Wager (dalam Prawiradilaga, 2007) desain pembelajaran membantu proses belajar seseorang, dimana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Tapi menurut Kemp, Morrison, & Ross (dalam Prawiradilaga, 2007) esensi disain pembelajaran mengacu pada keempat komponen inti, yaitu siswa, tujuan pembelajaran, metode, dan penilaian.
Peserta didik adalah semua individu yang menjadi audiens dalam suatu lingkup pembelajaran. Biasanya penyebutan peserta didik ini mengikuti skup/ruang lingkup dimana pembelajaran dilaksanakan, diantaranya : siswa untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa untuk jenjang pendidikan tinggi, dan peserta pelatihan untuk diklat.
Peserta didik adalah masukan mentah (raw input) dalam sebuah proses pembelajaran yang harus dithreat agar output dan outcomesnya sesuai dengan yang dicanangkan institusi (khususnya) dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya. Agar keluarannya dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman, maka sudah sepatutnya materi dan cara pembelajarannyapun disesuaikan dengan dunia nyata juga. Hal tersebut biasa dikenal dengan model pembelajaran inovatif.
Penilaianpun juga sudah melakukan terobosan atau inovasi. Terbukti, saat ini paper and pen bukanlah satu-satunya cara untuk menilai keberhasilan belajar peserta didik. Asesmen portofolio, autentik, dan lain-lain adalah sedikit dari banyak inovasi cara menilai keberhasilan peserta didik yang lebih menitikberatkan pada proses.