Wednesday, February 23, 2011

Ambil Jurusan Apa di Kampus?


“AMBIL JURUSAN APA DI KAMPUS ?” INILAH BASA-BASI YANG UMUM DITANYAKAN PARA ORANG TUA KEPADA PARA ANAK-ANAKNYA SAAT SEBELUM MEMASUKI BANGKU KULIAH.
Ada sebagian orang yang sudah menentukan saat masih di bangku SMA, tapi tidak sedikit yang mendapatkan wahyu di hari terakhir pendaftaran. Namun, kebanyakan yang terjadi sebetulnya tidak terbayang jurusan apa yang akan ditempuh karena walaupun masih jauh jalan menuju pekerjaan, tetapi dampaknya mungkin bisa mengakibatkan karier yang berantakan.
Memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat memang susah. Ini bisa dimaklumi, mengingat jurusan yang akan diambil merupakan langkah awal yang menentukan arah kamu nantinya. Nyatanya, hal ini tidak dibuat mudah dengan banyaknya jurusan yang ditawarkan oleh universitas dan perguruan tinggi.
Intinya adalah bagaimana kita tahu mengenai suatu jurusan sebelum kita menyelaminya? Beberapa pertanyaan yang biasanya terlintas adalah, kemana kita bisa berkonsultasi tentang jurusan yang sesuai dengan dengan keahlian dan kemampuan kita? Apa sih beda jurusan-jurusan seperti Fisiologi, Biokimia, Farmasi, Bahasa Indonesia, Teknik Komputer, Tekink Mesin? Jelas merupakan hal yang terlalu rumit untuk bisa dipahami tanpa disertai berbagai macam pendapat dan masukan dari para ahli?
Pada akhirnya, jurusan yang kamu pilih nanti akan jadi sumber pendidikan dan pengetahuan yang penting buat bekal mas depan kamu. Kampus juga akan menjadi tempat kamu bertemu mahasiswa lain, berteman, belajar untuk berkomunikasi dan bergaul juga belajar bersama. So, memilih jurusan dan universitas adalah langkah awal yang esensial untuk seorang calon mahasiswa agar persiapan dalam meraih masa depan yang cerah bisa terjamin.

Tuesday, February 15, 2011

Efektifitas E-learning Bagi Mutu Pembelajaran Sekolah


Apabila dibandingkan pendidikan konvensional, dalam  prosesnya e-learning sebagai media distance learning menciptakan paradigma baru, yakni peran guru yang lebih bersifat “fasilitator” dan siswa sebagai “peserta aktif” dalam proses belajar-mengajar. Karena itu, guru dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan bahan ajar yang menarik, sementara siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar. Namun dalam banyak kenyataan, jarang sekali ditemui distance learning yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilaksanakan dengan e-learning atau online learning. E-learning hanyalah sebagai media penunjang pendidikan dan bukan sebagai media pengganti pendidikan.
Seringkali pendidikan jarak jauh dihubungi mengenai kolaborasi terhadap membuat situs e-learning, seringkali pula e-learning dihubung-hubungkan dengan pembelajaran berbasis TIK. Padahal e-learning bukanlah satu-satunya solusi untuk pembelajaran distance learning ataupun pembelajaran berbasiskan TIK. E-learning hanyalah salah satu teknologi dari sekian banyak teknologi pendidikan. Sebagai salah satu teknologi pendidikan, maka mutu akhirnya 100% tergantung mutu konten dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalaupun berhasil atau gagal tergantung konten dan proses pengajaran, bukan teknologinya (Philip R. : 2007).
Untuk membangun e-learning di sekolah maka sekolah tersebut haruslah memiliki jaringan listrik dan telepon, memiliki ruangan, komputer yang dapat diakseskan dengan internet, serta dibutuhkan sumber daya pendidik yang mampu menjalankan komputer dan mengerti tentang teknologi informasi dan komunikasi. Dalam kenyataannya Indonesia dihadapkan pada beberapa kendala yang diantaranya; minimnya dana bagi sekolah yang miskin untuk pengadaan perangkat dan ruangan tersebut, bahkan dikenyataan lapangan disinyalir masih banyaknya sekolah-sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan, kendala selanjutnya minimnya tenaga ahli sebagai sumber daya manusia, dan bahkan sungguh ironis sekali karena di Indonesia masih terdapatnya daerah terpencil yang belum tersentuh oleh jaringan listrik dan telepon.
Secara umum penulis menyimpulkan bahwa terdapat 3 faktor yang menjadi kendala bagi tercapainya fasilitas e-learning di lembaga Sekolah di Indonesia:

  1. Faktor Dana, seperti ketidak sanggupan membeli perangkat-perangkat komputer dll.
  2. Faktor SDM, seperti masih minimnya kemampuan manusia yang menguasai ICT (Information Comunication and technology) atau TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan khususnya pengetahuan membangun e-learning.
  3. Faktor Lain, seperti keamanan Sekolah untuk menyediakan perangkat e-learning, sulitnya transportasi, lingkungan dll.

Realitas E-Learning Bagi Mutu Pendidikan
Menurut data statistik tahun 2000 dalam Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi P3TIE-BPPT, pengguna internet di Indonesia berdasarkan usia sekolah mencapai 43% yakni sekitar 41% SLTA dan 2% SD/SLTP. Dari data tersebut diperoleh kesimpulkan bahwa keberadaan e-learning sebagai situs web di internet cukup menjanjikan untuk peningkatan mutu pendidikan, mengingat secara kuantitas menyebutkan pengguna internet usia sekolah adalah pengguna terbanyak sebanding dengan pengguna berlatar pendidikan sarjana (mahasiswa). Walaupun mungkin secara kualitas belum dapat dibuktikan, karena seperti kita ketahui, kebanyakan pengguna usia sekolah menggunakan internet bukan hanya untuk mencari ilmu atau pendidikan, melainkan sebagian besar sebagai sarana hiburan, seperti facebook, friendster, chating, online games dll. Masih kurangnya kesadaran siswa usia sekolah terhadap pendidikan harus ditanggapi secara bijak.
Melihat kenyataan diatas penulis berkesimpulan, telah nyatalah bahwa peningkatan bagi mutu pendidikan di Indonesia sesungguhnya bukan terdapat dari sejauh mana dan secanggih mana penerapan teknologi didalamnya, termasuk e-learning sebagai salah satu media dari penerapan teknologi informasi dan komunikasi, akan tetapi tergantung kepada kualitas para pengajarnya dan pihak yang berkecimpung didalamnya (misalnya instruktur, pemerintah), konten (isi & materi pelajaran) dan  metode sebagai strategi pengajaran, murid sebagai peserta didik, serta proses dan lingkungan pengajaran itu sendiri.
Mengutip perkataan seorang bijak Aristoteles yang lahir tahun 384 SM atau jauh berabad-abad yang lalu “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya”. Maka dunia pendidikan memang tidak selayaknya menjadi tanggung jawab seorang pendidik terhadap anak didiknya saja, akan tetapi juga pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama. Dibutuhkan peranan dari seluruh kalangan terutama pemerintah sebagai pemberi kebijakan, serta peranan-peranan lainnya seperti masyarakat, lingkungan, murid dsb.
Menurut penulis faktor teknologi dalam pendidikan bukanlah satu-satunya jalan untuk meningkatkan mutu pendidikan, sebagai contoh banyak saudara-saudara kita yang berada di sekolah-sekolah miskin dan terpencil ternyata berkat kekuatan tekad, kesadaran dan keinginan yang kuat ternyata memiliki mutu dan kualitas pendidikan yang lebih baik dibandingkan sekolah yang mampu menerapakan ICT (information comunication and technology) atau TIK di sekolahnya.
Perlu digaris bawahi, adalah sebuah kesalahan besar apabila dalam sebuah lembaga sekolah memfokuskan pengadaan TIK melebihi cara meningkatkan mutu manusianya sebagai pengguna teknologi itu sendiri untuk diterapkan di lembaga pendidikan tersebut. Karena esensi peningkatan mutu pendidikan bukan terletak pada kecanggihan teknologinya tapi kecanggihan pendidik dan peserta didiknya dalam melaksanakan proses pendidikannya.
E-learning tidak dapat meningkatkan mutu pendidikan, tetapi e-learning dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan. Maka diharapkan dengan adanya e-learning sebagai salah satu media pendidikan jarak jauh (Distance Learning) akan menjadi sebuah solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak sekolah di Indonesia, bukan menjadi faktor penghambat dan jurang pemisah pemerataan mutu pendidikan tersebut. Sesuai pengalaman negara lain yang menerapkan distance learning menunjukkan sukses yang signifikan, antara lain; Mampu meningkatkan pemerataan pendidikan, meningkatkan prestasi belajar, mengatasi kekurangan tenaga pendidikan, meningkatkan efisiensi dsb.
Lantas mampukah Indonesia menyukseskan peningkatan mutu pendidikan?. Tentunya semua itu tergantung atas kesadaran dan keinginan yang kuat dari individu manusia Indonesia itu sendiri. “Mulailah dari diri sendiri”, tanpa adanya kebaikan moral dan kebulatan tekad dari kita sebagai seorang individu itu sendiri, maka ketercapaian sesuatu yang lebih baik untuk bangsa ini, khusunya peningkatan mutu pendidikan mustahil akan dapat terjadi.
Akhir kata, majulah pendidikan Indonesia. Hidup Pendidikan Indonesia !!!

Belajar Tanpa Batas di Kampus Digital


Percayakah kamu, kalau kini kamu bisa menjadi mahasiswa di Inggris atau Amerika Serikat walaupun kamu adalah siswa SMU atau pekerja di Indonesia? Maksud saya bukan menjadi mahasiswa dengan program kuliah jarak jauh di mana kita mendapatkan gelar pada akhirnya, tapi lebih pada mengikuti proses belajar yang benar – benar terjadi di ruang kelas Universitas – universitas top dunia. Kalau jawabanmu tidak, kamu perlu simak lebih jauh perkembangan dunia pendidikan di internet. Kini, berbagai universitas terkemuka telah membuka pada dunia bagaimana proses belajar mengajar sebenarnya terjadi di ruang kelas mereka.
Coba saja tengok University of California at Berkeley (UC Berkeley). Sejak tahun 2001, kampusnya sudah rutin merekam kuliah berbagai fakultasnya tiap semester dan mempublikasikannya di internet dengan rutin. Perekamannya ada yang dilakukan dengan audio saja, tapi ada juga yang dengan video. Cara publikasi rutin konten audio / video seperti ini disebut podcast. Khusus untuk UC Berkeley, mereka menamainya webcast.berkeley. Kamu – kamu yang berminat bisa langsung menuju ke home page-nya dan mendownload kuliah yang kamu mau. Tawaran mata kuliahnya rata – rata hanya pada semester awal saja, namun subjek yang ada cukup bervariasi: biologi molekuler, politik, ilmu komunikasi, fisika, bahkan filosofi. Saya sendiri sejauh ini baru mendengarkan kuliah biologi, namun profesornya pantas diacungi jempol. Mereka bisa menyampaikan materi kuliah dengan padat dan jelas dalam waktu rata – rata satu jam, dan beberapa bahkan ada yang bisa menyampaikannya dengan beberapa guyonan yang menghibur. Kalau kamu menggunakan iTunes atau program lain yang dapat mendownload podcast langsung, kamu bisa mendaftar ke RSS feed dari mata kuliah bersangkutan dan konten baru akan langsung didownload begitu mereka dipublikasikan.
Ruang Kelas Digital?
UC Berkeley bukan satu – satunya universitas yang membuka isi ruang kelasnya ke seluruh dunia. Massachussets Institute of Technology (MIT) juga melakukannya dengan program OpenCourseWare (OCW). Namun berbeda dengan webcast.berkeley di mana kita seperti ikut ada dalam ruang kuliah, konsep OCW adalah publikasi materi – materi yang digunakan untuk kuliah di MIT. Beberapa mata kuliah menyediakan rekaman kuliah secara audio dan video, namun kebanyakan hanya menyediakan silabus, topik tiap pertemuan, dan jadwal aktivitas selama kuliah berlangsung saja. Ini tetap informatif karena kamu – kamu yang penasaran apa saja yang digunakan di dalam ruang kelas salah satu universitas terbaik di dunia kini bisa tahu.
Masih ingin belajar lagi? Kamu juga bisa melakukannya di program iTunes U yang dijalankan oleh Apple. Jika webcast.berkeley dan OCW dijalankan oleh universitasnya masing – masing, maka iTunes U merupakan kumpulan berbagai materi edukasi gratis, seperti kuliah dosen atau seminar dengan pembicara tamu, dari berbagai universitas yang dilakukan oleh Apple. Di sini pilihan universitasnya jauh lebih beragam: dari Stanford, Yale, sampai Cambridge University. Begitu pula pilihan mata kuliahnya: dari arsitektur, teknik, sampai studi mengenai film dan huruf kanji Jepang. Untuk browsing mata kuliah yang tersedia, kamu perlu menjalankan iTunes di komputermu dan membuka link ini. Kumpulan berbagai kuliah dari berbagai universitas juga dapat ditemukan di Academic Earth. Yang membuatnya berbeda dari yang lain adalah semua materi yang ada di situs tersebut merupakan video dan bisa ditonton langsung secara streaming. Pilihan yang ada memang jauh lebih sedikit dibanding iTunes U. Namun, jika kamu lebih suka menonton kuliah daripada mendengarkannya saja, inilah salah satu alternatif situs yang bisa kamu kunjungi.
“Ah, Lebih Enak Baca Wikipedia”
Kamu mungkin bertanya, apa untungnya semua ini untuk saya? Google dan Wikipedia sudah cukup untuk menjawab rasa penasaran saya. Memang, untuk informasi yang singkat dan cepat kamu bisa mengandalkan kedua situs itu. Kamu mungkin bisa tahu apa itu genom, apa itu mesoderm, atau bagaimana sirkuit CPU bekerja. Tapi apakah kamu tahu pentingnya meneliti genom? Apa pentingnya mempelajari mesoderm? Atau teori fisika apa saja yang mendasari pembuatan CPU? Kamu bisa mencarinya lagi tentu, di Google dan Wikipedia, namun pada akhirnya yang kamu dapatkan adalah sekumpulan fakta – fakta yang terkadang sulit dirangkai menjadi satu cerita utuh. Inilah keunggulan mengikuti kuliah – kuliah tersebut: konteks cerita yang utuh. Untuk memahami satu isu, kamu perlu memahaminya secara keseluruhan, bukan cuma sepotong atau dua potong faktanya saja. Dengan mendengarkan ahli – ahli di bidang bersangkutan menyampaikan kuliah, kamu bisa mendapatkan konteks cerita itu dengan lebih mudah. Coba saja bandingkan, kamu mem-browse internet selama satu jam mencari informasi tentang kontrol ekspresi gen prokariot atau kamu mendengarkan kuliah dengan topik yang sama selama satu jam.
Selain itu, kamu juga memiliki kebebasan lebih banyak dengan adanya cara belajar seperti ini. Kalau kamu punya portable audio atau video player, kamu bisa membawa kuliah – kuliah di atas ke manapun kamu pergi. Mirip seperti membawa buku, namun kamu tidak perlu kawatir barang bawaan menjadi berat. Kamu bisa mendengarkannya di mobil ketika jalan macet, atau ketika kamu di kampus menunggu temanmu datang. Mudah bukan?
Nah, tunggu apa lagi. Jangan mau kalah dengan orang lain dan tunjukkan bahwa kamu juga mampu belajar sendiri. Lagipula, semua materi itu gratis. Yang kamu butuhkan hanya kemauan (dan koneksi internet yang memadai tentunya).

Saturday, January 15, 2011

Kerangka Diagram Tulang Ikan (Fishbone)


SISTEM KENDALI MUTU
Kaoru Ishikawa, seorang pakar kendali mutu terkemuka di dunia yang berasal dari Jepang mendefinisikan kendali mutu sebagai berikut , “Melaksanakan kendali mutu adalah mengembangkan, merancang, memproduksi dan memberikan jasa produk bermutu yang paling ekonomis, paling berguna, dan selalu memuaskan bagi konsumen”. Berdasarkan definisi ini kendali mutu selalu berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan dalam hal pendidikan berarti pelayanan yang dapat memuaskan para peserta didik. Ishikawa  percaya  bahwa  inisiatif  untuk  mencapai peningkatan kualitas yang berkesinambungan haruslah berasal dari organisasi secara keseluruhan.
Buku Ishikawa yang berjudul Guide to Quality Control (1982) dianggap klasik karena menjelaskan secara mendalam mengenai quality tools serta ilmu statistik yang terkait. Beberapa tool yang diperkenalkannya adalah user friendly control, Fishbone cause and effect diagram, emphasised the ‘internal customer’. Ishikawa juga yang pertama memperkenalkan 7 (seven) quality tools: control chart, run chart, histogram, scatter diagram, pareto chart, and flowchart yang sering juga disebut dengan “7 alat pengendali mutu/kualitas” (quality control seven tools).
Tool Ishikawa  yang  menjadi  sangat  populer  serta digunakan di seluruh dunia adalah diagram sebab akibat (Ishikawa Cause and Effect Diagram). Sering kali disebut sebagai fishbone diagram dikarenakan bentuknya yang menyerupai tulang ikan. Dalam penerapannya diagram ini digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap faktor yang menjadi penyebab masalah. Fishbone diagram tergolong praktis dan memandu setiap tim untuk terus berpikir menemukan penyebab utama suatu permasalahan.
Fishbone Picture 1
Penggunaannya dapat dilihat pada gambar di atas. Misalnya, ada masalah utama berupa peningkatan produksi (bagian kepala). Kemudian ada beberapa faktor masalah yang dapat diidentifikasikan sebagai tulang besar, yaitu manajemen, material/bahan baku, sumber daya manusia (manpower), mesin dan metode. Selanjutnya, berdasarkan faktor masalah pada tulang besar itu dicari penyebab-penyebab (tulang kecil) yang mempengaruhi peningkatan produksi (kepala) dari masing-masing sisi (tulang besar). Secara ringkas, hasilnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Fishbone Picture 2
Dengan menerapkan diagram Fishbone ini dapat menolong kita untuk dapat menemukan akar “penyebab” terjadinya masalah, khususnya di industri manufaktur  atau organisasi pendidikan dimana prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan. Apabila “masalah” dan “penyebab” sudah diketahui secara pasti, maka tindakan dan langkah perbaikan akan lebih mudah dilakukan. Dengan diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan memungkinkan kita untuk dapat melihat semua kemungkinan “penyebab” dan mencari “akar” permasalahan sebenarnya. Melalui diagram ini Ishikawa mengajarkan kita untuk melihat “ke dalam” dengan bertanya tentang permasalahan yang sedang terjadi dan menemukan solusinya dari dalam juga.
Penyelesaian masalah melalui fishbone dapat dilakukan secara individu top manajemen maupun dengan kerja tim. Seperti dengan cara mengumpulkan beberapa orang yang mempunyai pengalaman dan keahlian memadai menyangkut problem yang terjadi. Semua anggota tim memberikan pandangan dan pendapat dalam mengidentifikasi semua pertimbangan mengapa masalah tersebut terjadi. Kebersamaan sangat diperlukan di sini, juga kebebasan memberikan pendapat dan pandangan setiap individu. Ini tentu bisa dimaklumi, manusia mempunyai keterbatasan dan untuk mencapai hasil maksimal diperlukan kerjasama kelompok yang tangguh.
Solusi instan yang hanya mampu memandang sampai tingkat gejala, tidak akan efektif. Masalah mungkin akan teratasi sesaat, namun cepat atau lambat akan datang kembali. Kaoru Ishikawa yang juga penggagas konsep implementation of quality circles ini sangat percaya pentingnya dukungan dan kepemimpinan dari manajemen puncak (top management) dalam suatu organisasi/perusahaan didukung oleh kerjasama tim (teamwork) yang solid sangat berperan dalam pembuatan produk unggul dan berkualitas.
PENUTUP
Total Quality Management semakin marak diterapkan berbagai macam tipe organisasi, baik dalam dunia industri maupun dunia pendidikan. Bagi Kaoru Ishikawa, Top Manajemen merupakan unsur terpenting dalam keberlangsungan organisasi. Diagram fishbone yang diperkenalkannya dapat membantu para manajer dalam melaksanakan tugasnya sebagai pimpinan organisasi. Sebagai tokoh TQM di Jepang, ia memiliki falsafah, “utamakan membangun manusianya, baru kemudian membuat barang”.
REFERENSI
Fattah, Nanang.1999. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://wikipedia.com
Ishikawa, Kaoru. 1992. Pengendalian Mutu Terpadu. Diterjemahkan oleh Budi Santoso. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Quality Management Center Newsletter. Edisi 16/V/Februari/2009. Jakarta: Universitas Bina Nusantara.

Sunday, January 9, 2011

Pendidikan dan Investasi Nilai Manusia dalam Kehidupan


Semua kita pasti setuju dan meyakini bahwa pendidikan merupakan gerakan untuk membangkitkan bangsa dan Negara supaya mampu berdiri tegak, kokoh, maju dan terpandang dalam pergaulan bangsa-bangsa dan dunia internasional. Pendidikan sebagai praksis pembangunan bangsa, meskipun terkesan klise, tapi tetap menarik dan penuh makna.
Untuk membangun bangsa tentunya harus memiliki sumber manusia yang produktif, bermutu, disiplin dan bermartabat (human dignity). Manusia adalah objek pendidikan, sebagai makhluk yang dapat didik dan yang harus mendapatkan pendidikan. Sehingga dengan pendidikan yang diperoleh dapat mengembangkan potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh bangsa atau negara ini. Tentunya dengan cara manusia terdidik, mempunyai kemampuan  pengetahuan. Sehingga dengan tanpa merusak esensial alam itu sendiri, keakraban dan kelestarian lingkungan harus terjaga. Cara- cara seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh manusia yang terdidik melakukan aktivitasnya.
Dalam hal ini diperlukan usaha untuk menjadikan manusia itu bermakna sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang “spesial” dari makhluk lain. Disebut special karena pada manusia itu mempunyai akal yang bisa membawa manusia jauh lebih terhormat dan dihormati sebagai manusia.
Esensial manusia dilahirkan kedunia dengan membawa potensi fitrah, maka fitrah tersebut harus mendapat tempat dan perhatian serta pengaruh dari faktor eksogen manusia (environment) untuk mengembangkan dan melestarikan potensinya yang positif dan sebagai penangkal manusia itu dari penguasaan nafsu amarahnya.
Cara yang tepat untuk mengembangkan dan memelihara fitrah manusia itu adalah dengan pendidikan, karena pendidikan (al-tarbiyah) manusia itu bisa dibentuk dan membentuk diri. Dengan pendidikan juga telah mencakup semua dimensi untuk memanusiakan manusia sebagaimana utuhnya. Pendidikan juga merupakan sebagai upaya untuk mengembangkan bakat dan kemampuan individual, sehingga potensi-potensi kejiwaaan itu dapat diaktualisasikan secara sempurna, karena potensi-potensi itu sesungguhnya merupakan kekayaan dalam diri manusia yang amat berharga.(Amin, 1992). Pendidikan juga merupakan pondasi bagi manusia dalam posisi baik sebagai khalifah maupun sebagai ‘abd (hamba Allah).
Tujuan Pendidikan
Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika, menurut Jonh Dewey sistem pendidikan sekolah harus diubah. Sains, menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-buku, melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Artinya pembagian yang tepat antara teori dan praktek learning by doing.
Dalam masyarakat industri, sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur komunitas. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Akhirnya, pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan, tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental, sedangkan pendidikan yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah, dan tidak ada alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput.
Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara bebas dan maksimal. Dengan pendidikan dan semua manusia bisa memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan, sehingga bakat dan kemampuan manusia itu bisa berpotensial. Manusia yang mempunyai masa proses pengembangan diri, tentunya juga mendapatkan tahapan-tahapan penyesuaian dalam mendapatkan pendidikan, dalam hal ini tentunya pendidik. Tugas seorang pendidiklah untuk membantu manusia (yang dididik) itu dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya. Disamping itu pendidik juga berkewajiban untuk membantu menemukan kesulitan-kesulitan yang menghambat perkembangan potensinya, serta membantu menghilangkan hambatan itu untuk mencapai tujuan menjadi manusia mandiri.
Tata susunan masyarakat yang dapat menampung individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas kebebasan, asas saling menghormati kepentingan bersama, dan asas ini merupakan sarana kontrol social, yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial.
Dalam Undang-Undang System Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, pendidikan diharapkan dapat berfungsi mengembangkan kemampuan dan  membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,  dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Sehingga terbentuknya  masyarakat madani yang demokratis, rukun dan  damai  dalam kesatuan bangsa yang toleran dan menghormati sesame suku, agama, ras dan adat istiadat dan budaya.
Konsep tujuan pendidikan kita sangat ideal dan baik, namun belum maksimal dalam mencapai output nilai manusianya, sehingga hal ini jauh bertolak belakang dengan tujuan pendidikan itu.ya. Keadaan ini bisa dilihat, diamati, dalam aktifitas kehidupan . terjadinya tindakan seperti; Kekerasan dan “Mafia” dalam dunia pendidikan, terror bom, korupsi, pungutan pajak yang tidak dibenarkan secara undang-undang (pajak liar) yang masih berlangsung, (dan hal ini juga katanya yang menjadi penghambat para investor dalam melakukan investasi, sehingga menggangu proses percepatan pembangunan bangsa/daerah ini) Trafficking, pelaku eksploitasi sumber daya alam yang merusak kehidupan, para abdi Negara yang lalai terhadap tugas dan tenggaungjawab yang diberikan, seperti; PNS yang molor dan suka nongkrong di warung/di luaran pada saat jam kerja, dan banyak praktek tindakan-tindakan a moral lainnya yang terjadi dan pelakunya kaum terdidik dan mereka yang berpendidikan.
Persoalan ini, juga tidak bisa semata disalahkan konstitusi pendidikan, karena pendidikan adalah tanggungjawab setiap warga negara yang tak bisa dipungkiri.
Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk manivestasi pendidikan  manusia; pertama, Pengembangan terhadap yang teoritis dengan praktis harus sejalan. Pengembangan teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif, sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan. Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis manusia, sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi, tidak memiliki konsekuansi praktis. Kedua, kesadaran individu, dari segi paedagogis manusia sebagai Homo Educandum harus mampu untuk tidak membiasakan mengerjakan hal yang buruk, selama ini sebagai hamba Allah kita masih berlagak sebagai manusia suci, dan tidak jujur pada diri sendiri, sebagai contoh; setiap waktu kita mengerjakan kewajiban seperti shalat lima waktu tapi justru shalat itu, belum mampu membendung tingkah laku seseorang untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan a moral atau perbuatan yang melanggar aturan Tuhan. Sehingga nilai shalat tadi yang dikerjakan tidak lebih dari praktek ritual semata. Prilaku manusia yang berakal hilang dengan pengaruh nafsu, nafsu lebih  menguasai akal manusia, yang seharusnya akal mengontrol nafsu itu. Ketiga, meningkatkan peran dukungan dari keluarga dan lingkungan masyarakat selama ini ada kesalahan paradigma berpikir dalam masyarakat, bahwa kalau urusan pendidikan semata-mata adalah tanggungjawab pemerintah semata atau konstitusi pendidikan saja. Sehingga fungsi control sebagai orang tua dan masyarakat perannya sangat lemah. Hal ini juga dampak dari ketidak tau-an dan beberapa pengaruh lain bagi mereka, seperti; factor rendahnya pendidikan orang tua, factor ekonomi keluarga, pekerjaan, dan alasan lain sebagainya yang pada prinsipnya mereka juga belum bisa memanusiakan dirinya sendiri sebagai orang tua atau keluarga.
Ketiga, adalah system dan kebijakan pendidikan serta profesionalisme tenaga kependidikan kita, system pendidikan yang mengutamakan pencapaian nilai, dimana ukuran keberhasilan diukur dari kemampuan menjawab soal-soal, sedangkan persoalan prilaku masih kurang tersentuh, aplikasi bagaimana pemahaman dan penerapan ilmu agak di nomor duakan. Ruang desentralisai pendidikan yang diberikan kedaerah masih terkekang dan belum mampu mengubah system pendidikan secara keseluruhan. Mengamati system RENSTRA pendidikikan Aceh, yang menginginkan pendidikan berbasis islami. Untuk mengimplementasikan rencana ini maka harus ditunjang tindakan-tindakan kongrit. Bisa saja dengan memperhatikan kembali kurikulum pendidikannya,  dimana harus memuat prinsip-prinsip islam yang lebih mengedepankan dasar religi. Sehingga nilai islaminya tidak berkesan simbolis semata. Diakui banyak pihak menilai pendidikan kita sudah bagus, tapi bagus, belum keproses berhasil membentuk manusianya. Sebagai contoh, mendapat nobel atau gelar pendidikan, tapi tanpa proses sekolah, cukup dengan punya kekuasaan dan uang gelar itu bisa dibeli. Didisi lain dengan meninggkatnya dana pendidikan dan kesejahteraan tenaga kependidikan diharapkan para tenaga kependidikan ini lebih profesional dan ulet. Disamping itu juga kesetaraan pelayanan dan sarana prasarana kebutuhan pendidikan yang diberlakukan harus tetap sama antara kota dan desa tidak menganak tiri, kandungkan. Sehingga akses pendidikan itu mudah di dapatkan.
Pengaruh perkembangan dan perubahan dunia globalisasi merupakan tantangan bagi pendidikan dalam “memanusiakan” manusia maka pendidikanpun harus terarah hendaknya. Ada sebuah pesan dari Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan; “ Didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu, sebab mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu”. Pesan yang sama juga diungkapkan oleh futurology, Arifin Tofler, yang menyatakan, “Pendidikan harus selalu mengacu pada masa depan”. Oleh karena itu, pendidikan dipandang berperan penting dalam keberlangsungan hidup manusia, untuk mengakomodasi kebutuhan  dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dalam amanat UUD 1945  juga ditegaskan, pendidikan harus menjadi wahana dan sarana meningkatkan kecerdasan bangsa secara berkelanjutan dalam kerangka pendidikan sepanjang hayat (life long education). Kecerdasan yang dimaksud disini adalah kecerdasan manusianya, hanya dengan ilmu dan kemampuan skilnya (capacity bulding), manusia bisa mengangkat derajatnya. Manusia yang berpendidikan adalah ibarat pohon yang kokoh, rindang dan juga berbuah lebat yang bisa bermamfaat bagi kehidupan. Dan tentunya diposisikan semata-mata untuk beribadah kepadaNYA.sehingga tidak menguragi esensi nilai manusia sebagai ‘abd dan khalifah dimuka bumi.